Wednesday, November 5, 2014

Masyarakat Gumunan

0 comments
Setelah cukup lama tidak nulis di blog ini, sepertinya kok ada dorongan "nuliso neng nglengkong..." dan setelah berdiam diri cukup lama memikirkan apa yang harus ditulis di blog ini, akhirnya saya menemukan sebuah topik yang nampaknya sedikit menjadi tren dan sering muncul di berita-berita. Masih seputar masyarakat Indonesia, yang perlahan saya rasakan sudah bertransformasi menjadi "masyarakat gumunan" beberapa waktu terakhir.
Pada dasarnya, manusia memang suka melihat sesuatu yang indah, yang sedap dipandang karena Tuhan juga menyukai segala sesuatu yang indah, jadi ya tidak bisa seratus persen salah. Saya juga seperti itu. Dan seolah memenuhi hal itu, media-media baik media massa atau elektronik sering menampilkan sosok cantik atau ganteng yang judulnya hampir selalu sama; "Komuter Ganteng Bikin Geger Dunia Maya", atau "Atlet Voli Cantik Gegerkan Dunia Maya", dan yang terbaru "Ini Dia Sosok Pilot Cantik yang Bikin Heboh."

Tidak ada yang salah, tetapi saya jadi teringat dengan pitutur jadul "dadi manungso ojo gumunan", jadi manusia itu janganlah gampang merasa kagum. Jadilah masyarakat yang waspada, karena yang selalu waspada akan selamat. Rahayu rahayu rahayu...kuat kuat kuat..salam asah asih asuh...


Read more ►

Sunday, October 27, 2013

Apakah Tokoh-Tokoh Pewayangan Hidup di Tanah Jawa?

82 comments
Kebudayaan Jawa, sering disebut-sebut sebagai turunan dari kebudayaan yang lebih tua dari India, terutama dari segi kebahasaan, dimana Bahasa Jawa merupakan turunan dari Bahasa Dewanagari yang ada di India. Bahkan bukan hanya Bahasa Jawa, beberapa bahasa di Nusantara juga merupakan turunan dari Bahasa Dewanagari yang sama. Benarkah?
Tentu saja saya tidak mampu menjawab itu. Tetapi mungkin dengan menggunakan objek lain yang masih berhubungan dengan hal itu, kita bisa mengambil kesimpulan mengenai hal ini. India dan Jawa mempunyai persamaan, diantaranya adalah kesamaan adanya tokoh-tokoh besar yang menjadi karakter utama dalam dunia pewayangan. Perbedaannya mungkin dalam penyebutan, seperti tokoh Yudhistira di India yang sering disebut Puntadewa di Jawa, Arjuna yang sama dengan Janaka, Bima yang sama dengan Werkudara, dll. 
Tokoh-tokoh itu dikenal terutama karena dua kisah epos klasik Ramayana dan Mahabarata, yang dikenal sebagai karya sastra dari India. Maka kemudian juga tokoh-tokoh dalam kedua kisah tersebut hidup di India, benarkah? Lantas mengapa tokoh-tokoh dalam karya sastra klasik India lebih dekat secara kultural dengan masyarakat Jawa? Bahkan di India tidak ada Panakawan, sementara di Jawa lebih lengkap dengan adanya Panakawan. 
Lagi-lagi saya harus mengatakan tidak bisa menjawab itu, tetapi dengan pertanyaan tersebut muncul kemungkinan yang bisa jadi mengejutkan kita semua, yaitu bahwa tokoh-tokoh pewayangan yang juga tokoh-tokoh dalam kitab Mahabarata dan Ramayana itu adalah tokoh-tokoh yang pernah hidup di tanah Jawa. Lagi-lagi yang saya gunakan adalah kedekatan emosional dan kedekatan kultural, yang tentu saja tidak akan diterima di dalam metode penelitian ilmiah manapun. Tetapi tentu saja tak masalah, karena tujuan dari tulisan ini adalah membangkitkan rasa penasaran pembaca mengenai sejarah Jawa di masa lalu.
Mari kita tutup tulisan ini dengan pertanyaan, "Apakah mungkin orang India menulis Ramayana dan Mahabarata atas permintaan dari penguasa di Jawa, yaitu tokoh-tokoh pewayangan itu sendiri?"
Read more ►

Monday, July 1, 2013

Gending Ketawang Puspawarna Sebagai Karya Tertinggi Peradaban Manusia

0 comments
piringan emas yang berisi komposisi dunia
Mendengar nama KGPAA Mangkunegara IV, yang pertama terlintas di sebagian besar masyarakat mungkin adalah Serat Wedhatama. Hal tersebut memang wajar karena serat tersebut merupakan salah satu masterpiece Mangkunegara IV. Raja sekaligus pujangga tersebut memang sangat produktif dalam membuat karya-karya besar monumental yang abadi. Tetapi mungkin tidak banyak orang yang tahu bahwa salah satu karya beliau yang berupa gending ternyata telah diputar di luar angkasa yaitu di bulan. Komposisi musik asli Jawa tersebut dibawa ke luar angkasa oleh pesawat Voyager milik Amerika pada tahun 1977. 

Sebenarnya ada sekitar 26 komposisi lainnya dari seluruh dunia, ditambah Gending Ketawang Puspawarna menjadi 27 karya musik. Seorang profesor di bidang etnomusikologi Robert Brown dan astronom carl Sagan adalah orang-orang yang memilih karya-karya tersebut untuk diputar di luar angkasa. Selanjutnya, gending ini disebut-sebut sebagai karya musik dengan harmonisasi terbaik yang pernah diciptakan sekaligus pencapaian tertinggi dalam sejarah musik manusia.

Terlepas dari karya ini yang memang begitu megah, mungkin perlu dicermati dan diteliti mengenai tujuan NASA memutar musik di luar angkasa dengan memilih karya-karya terbaik dari seluruh dunia. Khusus Gending Puspawarna ini sendiri, menurut para penghayat spiritualitas, memiliki aura dan energi dalam suara yang dikeluarkannya. Bahkan juga disebutkan bahwa suara dari gending ini sinergis dengan gelombang suara-suara natural dari jagat raya ini. Ada juga yang menyebutkan karya-karya ini digunakan untuk menemukan keberadaan makhluk asing di luar angkasa. 

Tapi apapun alasannya, sudah saatnya bayi-bayi yang lahir ke Nusantara saat ini ataupun di masa yang akan datang tumbuh dengan diiringi Gending Puspawarna ini ketimbang musik-musik klasik dari peradaban barat. 
Read more ►

Tuesday, February 19, 2013

Makna Simbolisasi Tumpeng

6 comments
Masyarakat Jawa sangat mengenal tumpeng sebagai salah satu ubarampe atau media yang digunakan dalam berbagai keperluan, misalnya sebagai sesaji. Tumpeng yang secara umum dikenal dengan bentuk kerucut, dengan berbagai aneka makanan di sekelilingnya, ternyata bukan sembarang makanan yang hanya bagus dalam penampilannya. Banyak makna yang terkandung di dalamnya, yang bisa dijadikan sebagai refleksi bagi para pembuatnya yaitu manusia. 
Pertama, bentuk kerucut seperti itu bukan tanpa tujuan. Bentuk-bentuk seperti kerucut, piramid, kubah, atau stupa merupakan bentuk-bentuk bangunan yang bisa menangkap energi alam dengan sempurna, itulah mengapa bangunan-bangunan masa lalu atau bangunan tempat ibadah menggunakan bentuk-bentuk seperti itu. Kerucut, yang lebar di bagian bawah kemudian meruncing pada puncaknya mirip seperti gunung, salah satu tempat yang keramat bagi masyarakat Jawa. 
Kemudian, aneka makanan di sekeliling tumpeng yang sering disebut jajanan pasar, merupakan simbolisasi bahwa manusia hidup akan mengalami berbagai peristiwa baik manis, pahit, pedas, ataupun yang lain-lainnya, tetapi semua peristiwa itu membawa manusia kepada puncak tumpeng, yaitu Tuhan Yang Maha Esa.
Yang terakhir adalah, nama "tumpeng" sendiri merupakan salah satu ragam bahasa jawa yang disebut jarwo dhosok, yang artinya "Tumindak Lempeng" atau perbuatan terpuji. Ketika manusia mampu menguasai peristiwa manis getir kehidupan, maka itu merupakan sebuah langkah untuk menuju puncak, yang harus didaki dengan tumindak lempeng, atau perbuatan-perbuatan yang terpuji. Baik secara fisik maupun mental.
Itulah mengapa masyarakat Jawa masih sering menggunakan tumpeng ketika memperingati momen yang dianggap penting, seperti ulang tahun. Dengan mengetahui makna tumpeng, diharapkan nantinya manusia akan lebih berusaha untuk berbuat terpuji untuk mencapai puncak tumpeng, atau menuju Tuhan Yang Maha Esa.
Read more ►

Saturday, January 19, 2013

Menelusuri Mangir Sebagai Daerah Perdikan

0 comments
Di dalam pengetahuan masyarakat Jawa, daerah perdikan merupakan daerah yang termasuk wilayah kerajaan, tetapi bebas dari pajak. Itulah yang selama ini terbayang jika mendengar istilah “daerah perdikan”. Terma “perdikan” memang dekat baik secara lisan maupun tertulis dengan kata “merdika” yang kemudian diserap ke dalam Bahasa Indonesia, “merdeka”.
Akan tetapi pada kenyataannya tidaklah seperti itu. Daerah perdikan yang dahulu disebut sebagai “sima” masih mempunyai tanggung jawab terhadap penguasa, meskipun tidak seperti daerah-daerah lain. Bisa dibilang daerah perdikan merupakan “daerah istimewa” di masa lalu. Dan penetapan suatu daerah menjadi daerah perdikan bukan semudah yang dipikirkan, karena terdapat upacara-upacara yang dilakukan khusus di daerah yang akan ditetapkan menjadi daerah perdikan tersebut. Kemudian, daerah tersebut mendapat semacam “piagam” berupa prasasti pengukuhan kepada daerah tersebut yang diletakkan di suatu tempat di daerah itu.
Di dalam buku tentang Mangir yang diterbitkan Pemkab. Kabupaten Bantul beberapa tahun lalu, disebutkan bahwa Mangir merupakan daerah perdikan sejak jaman Majapahit. Jika demikian, bolehlah kiranya salah satu sumber sejarah tentang daerah ini menjadi salah satu sumber penelitian, yaitu Babad Mangir. Babad Mangir yang anonim alias tidak diketahui pengarangnya merupakan kisah berbentuk tembang yang memang lazim digunakan pada era peralihan Hindu-Islam, atau era pascamajapahit untuk menjelaskan tentang suatu daerah atau tokoh tertentu.
Disebutkan dalam Babad Mangir bahwa Raden Alembumisani, leluhur Ki Ageng Mangir Wanabaya IV, yang merupakan putra Prabu Brawijaya V memilih menyingkir dari Majapahit dan mempunyai seorang putra yang diberi nama Dyan Wanabaya, di daerah Dander, yang berada di Ardi Kidul (ardi: gunung, ardi kidul: gunung kidul - ?). Kemudian Dyan Wanabaya yang menjadi Raden Wanabaya menyepi di Gua Langse. Di dalam gua itulah, Raden Wanabaya mendapat bisikan supaya pergi ke arah ngalor ngulon (barat laut) ke sebuah daerah bernama Mangir yang berada di pinggir Sungai Progo.
Berdasarkan penelitian dari berbagai prasasti yang menyatakan bahwa sebuah daerah perdikan ditetapkan dengan upacara dan piagam penetapan berupa prasasti, maka Mangir kemungkinan besar juga mempunyai prasasti yang menjadi piagam tersebut. Penetapan suatu daerah di masa lalu menjadi sebuah daerah perdikan juga mempunyai kriteria, diantaranya adalah daerah tersebut pernah berjasa kepada kerajaan sehingga kerajaan memberi imbalan kepada rakyat di daerah tersebut berupa “sima” atau perdikan (Boechari, Tracing Indonesian History Trough Inscriptions, 2012).
Dengan demikian, apakah di masa lalu pernah Mangir berjasa kepada Majapahit sehingga mendapat hadiah menjadi daerah perdikan? Tentunya di daerah tersebut sudah ada tokoh yang menonjol sebelum kedatangan Raden Wanabaya ke Mangir. Siapakah tokoh itu jika memang benar-benar ada? Dan yang paling penting, dimanakah piagam penetapan jika mengacu pada penelitian di atas (penemuan naskah Babad Mangir ada di lokasi yang cukup jauh dengan pusat pemerintahan, sekitar 2 atau 3 km ke arah timur, di daerah sekitar Jl. Samas, Bantul). Bukan tidak mungkin prasasti itu berada di lokasi yang juga jauh dari pusat pemerintahan, karena di masa lalu daerah Mangir cukup luas, berbeda dengan Mangir sekarang yang hanya terdiri dari tiga pedukuhan, Mangir Lor, Tengah, dan Kidul.
Perhatian lebih mungkin bisa ditujukan kepada seseorang yang disebut dalam Babad Mangir, bernama Ki Paker yang akhirnya menjadi ayah mertua Ki Ageng Mangir IV. Mungkin ia adalah tokoh yang menonjol di Mangir sebelum kedatangan Raden Wanabaya dari Gunungkidul ke Mangir.

Read more ►

Monday, December 3, 2012

Alternative Tourism Objects in Yogyakarta, Indonesia part 1

5 comments
We know that Yogyakarta has many famous tourism objects, such as Malioboro, The Palace of Ngayogyakarta, Parangtritis Beach, Merapi, etc. But, Yogyakarta has many hidden tourism objects, spread in almost area of Yogyakarta; Bantul, Sleman, Kulon Progo, and Gunung Kidul. That objects have different feel with the existed tourism objects. Even, some of them are the wild area, which only inhabitants knew about them, sometime the mystical theme surrounding them. So, people guard them for many years, to respect the ancestors in that place.
But it is different now. The objects are opened, or the inhabitants are welcoming the tourists, as long as the tourists keep their attitude. Below are the alternative tourism objects in Yogyakarta where you can visit when you come to Yogyakarta:

The Menoreh Mountain Range
This is recommended for you that like adventure and challenge. Menoreh Mountain Range has the highest spot in Yogyakarta where you can see Borobudur Temple in Magelang, Central Java, Hindia Ocean, the twin mountain Merapi and Merbabu and also Sindoro and Sumbing in Central Java. Morning time is the finest if you want to see the best view. Menoreh Mountain Range has many good places such as Kiskendo Cave, which is the home of Subali and Sugriwa, the legendary Monkey King. It also has Sendang Widodaren, where the legend said that you can keep your youth if you clean your face with the water from that place. it also become the place for angels (widodari – Javanese word means angel) take a bath. So, this place will give you different experience and feel of Yogyakarta.
Menorah Mountain Range is easy to find. It located on west side from the center of Yogyakarta about a hundred kilometers. The way is good and you can go there by any vehicle, by bus or another. No entrance needed, but it is hard to find public services. But the latest information this objects has been increased for tourism.
In brief, this is very recommended tourism object when you come to Yogyakarta. Here some the picture of the place.









The Palace of Mangir
People know The Palace of Ngayogyakarta Hadiningrat and Puro Pakualaman as the top tourism object in historical range. But, in the side of Yogyakarta, in the little village by a riverside named Mangir, there is an old palace called The Palace of Mangir (Kraton Mangir). Let me tell a little trivia for you: try to ask a guardian in the Yogyakarta’s Palace about Mangir and see the expression. This related to the history of two palaces, Mataram and Mangir. Mangir was ruled by Ki Ageng Mangir IV, one of the ancestries of Brawijaya V, the last king of Majapahit.
The legend of this story is very famous in the Yogyakarta’s people, because this is very heroic and epic story. Mataram is the symbol of majority and Mangir is the symbol of minority. And what the finally happen is the biggest ending, bigger than Romeo and Juliet sad ending. In short, if you have read Beowulf, it same with Beowulf.
To find this object is easy. Bus, motorcycle, or private car can be used to find this place. The village is located on southwest side from Yogyakarta, and about 35 kilometers. You will meet the very kind people, the characteristic of a villager. They will always smile at you. Here are some pictures of the palace. 





to be continue..


Read more ►

Saturday, November 17, 2012

Hewan-hewan yang Dianggap Sakral oleh Masyarakat Jawa

42 comments
Masyarakat umum saat ini mengenal nama Kiai Slamet sebagai hewan yang dikeramatkan di Kraton Surakarta. Kiai Slamet yang berwujud kerbau bule merupakan hewan piaraan Kraton Surakarta. Setiap pergantian tahun jawa, kerbau itu (saat ini hanya keturunan-keturunan dari Kiai Slamet) diarak mengelilingi Kota Solo.
Terlepas dari hal tersebut, penggunaan kata “sakral” pada judul tersebut bukan berarti bahwa hewan tersebut dihormati sebegitu rupa seperti masyarakat India menghormati sapi atau monyet. Sakral di sini bermakna lebih dari itu. Banyak yang meyakini jika memelihara diantara hewan-hewan ini, maka rejeki akan lebih lancar. Hewan-hewan tersebut juga dipercaya mampu menolak bala, santet, atau ilmu sihir. Terlepas dari kontroversi musrik atau tidaknya, hal tersebut adalah salah satu wujud kearifan lokal yang, bagi masyarakat Indonesia khususnya Jawa, akan tetap ada betapapun majunya perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan.
Hewan-hewan tersebut dianggap sakral karena mempunyai perbedaan dari hewan-hewan lain yang sejenis. Sebagai contoh, masyarakat Jawa gemar memlihara burung perkutut, karena konon membawa kebahagiaan dan keberuntungan. Apalagi yang berbulu putih, karena perkutut putih sangat langka dan jarang ditemui. Selengkapnya:

Burung Perkutut
Cobalah sesekali mengamati rumah-rumah asli Jawa, pasti di salah satu sudut rumah terdapat burung perkutut. Entah itu digantung di langit-langit, atau ditempatkan pada kandang di luar ruangan. Burung perkutut dipercaya mampu memberi kebahagiaan dan keberuntungan pada pemiliknya. Burung Perkutut Putih, yang sulit ditemui konon mempunyai kemampuan sebagai penolak bala.

Ayam Jago
Sama seperti burung perkutut, ayam jago juga menjadi salah satu hewan klangenan (kesayangan) orang-orang Jawa. Bahkan, ayam-ayam tertentu mempunyai kegunaan yang berbeda-beda. Ayam-ayam jago tersebut dibedakan berdasarkan katuranggan (tampilan fisik) yang bermacam-macam dengan sebutan yang beberapa cukup menakutkan: Suro Petir, Suro Pengantin, Cemani, Putih Seta, Ubed, Ubed Jalu, Suro Wilis, Naga Tumurun, Batu Lapak, dll.
Ayam-ayam jago dengan sebutan di atas mempunyai reputasi yang cukup menakutkan, beberapa diantaranya karena sulit dikalahkan di dalam arena pertarungan. Sementara, ayam cemani, meskipun jarang dipakai sebagai aduan, mempunyai reputasi yang menakutkan karena ayam ini sering digunakan dalam ritual-ritual adat Jawa. Ayam-ayam di atas sulit dijumpai, karena memang mempunyai ciri-ciri yang sedikit unik, sebagai contoh ayam dengan sebutan Suro Petir mempunyai keunikan pada sisik jari kaki tengahnya yang bercabang. Kemudian Suro Pengantin, yang mempunyai dua helai ekor yang “keluar” dan lebih panjang dari bulu-bulu ekor lainnya. Putih Seta, sesuai namanya merupakan ayam berwarna putih, dari bulu, hingga kaki. Bahkan matanya pun agak pucat. Begitu pula dengan ayam-ayam lainnya yang mempunyai keunikan berbeda-beda. Mengenai katuranggan ayam jago ini juga dapat dibaca dalam Kitab Primbon Bental Jemur Adammakna, yang merupakan Kitab Primbon terlengkap.

Banyak (Angsa)
Banyak atau angsa banyak dipelihara sebagai penjaga rumah, karena indranya yang tajam. Bahkan konon suara angsa ini mampu mengusir makhluk gaib yang mendiami rumah.

Harimau
Mungkin untuk yang satu ini bukan untuk dipelihara, tetapi hewan ini di kalangan masyarakat jawa mempunyai sebutan “Eyang”. Sebagai contoh, ketika di hutan berjumpa dengan harimau, maka sebaiknya berkata, “Permisi, Eyang.” Sekali lagi hal tersebut juga merupakan wujud kearifan lokal, yaitu bentuk saling menghormati sesama makhluk hidup.

Ular
Hampir sama dengan harimau, ular juga mendapat tempat tersendiri di dalam masyarakat Jawa. Bahkan beberapa makhluk gaib legendaris di nusantara mewujudkan dirinya sebagai ular. Untuk ular liar, orang-orang Jawa sering meyebutnya dengan sebutan “oyot” atau akar. Jika bertemu ular di hutan, yang diucapkan adalah, “Ono oyot” atau “Ada akar”.

Burung Culi
Burung yang satu ini sangat misterius, karena wujud dari burung ini tidak jelas. Maksudnya tidak jelas karena burung ini keluar pada saat senja dan subuh menjelang fajar, hanya terlihat seperti bayangan hitam, dan biasanya terbang berpasangan sambil berkicau “culi” berkali-kali. Yang menjadikan burung ini misterius selain wujudnya adalah konon burung ini merupakan perwujudan dari pocong yang belum dilepas talinya sehingga berubah menjadi burung dan berkicau “culi” (dalam bahasa jawa culi berarti lepas). Bahkan jika burung itu hinggap di atas rumah seseorang, maka salah satu orang yang tinggal di rumah itu akan meninggal. Cukup mengerikan memang, tetapi jika ingin melihat burung ini secara sekilas cobalah keluar pada saat senja sesaat sebelum adzan maghrib berkumandang. Biasanya suara burung ini terdengar dari kejauhan, dan burung ini akan muncul terbang cukup rendah berpasangan.

Sebenarnya beberapa hewan lain juga sering dianggap sakral, seperti buaya atau burung gagak. Namun rasanya yang sangat mencolok adalah hewan-hewan yang disebutkan di atas. Sekali lagi terlepas dari pendapat musrik atau sirik, hal itu adalah kearifan lokal yang memang telah ada sejak masa lampau, sebagai wujud penghormatan kepada sesama makhluk hidup di dunia ini, karena manusia tidak hidup sendiri, melainkan hidup berdampingan bersama makhluk-makhluk lain ciptaan Tuhan.

Read more ►

Friday, November 2, 2012

Memilih Keris Berdasarkan Bentuk Tubuh

1 comments
Keris, merupakan senjata tradisional asli Indonesia yang memang telah diakui oleh dunia sebagai warisan budaya. Meskipun telah terjadi pergeseran fungsi antara keris di masa lalu dengan keris pada masa sekarang, tidak bisa dipungkiri bahwa keris tidak lagi digunakan sebagai sipat kandel. Saat ini keris lebih berfungsi sebagai pelengkap pakaian adat, dalam sebuah acara-acara seperti pernikahan, misalnya.
Masalahnya, ketika keris hanya digunakan sebagai pelengkap pakaian adat, keris tersebut dibuat hanya seadanya, sekadarnya, tanpa memandang keindahan dan kecocokan antara keris dan pemakai. Karena bagaimanapun juga  wujud keris harus seimbang dengan pemakai. Pelengkap seharusnya menjadikan apa yang dilengkapinya menjadi lebih baik, bukan malah terlihat berantakan. Maka, dalam pemilihan keris untuk pelengkap busana, ada baiknya mempertimbangkan beberapa penggolongan keris berdasarkan wujudnya (tangguh keris).

Taman Pakubuwanan
Yang pertama, keris yang termasuk dalam Taman Pakubuwanan merupakan keris yang cocok dipakai oleh orang-orang yang berperawakan tinggi dan gagah. Hal ini diumpamakan dengan wujud Kanjeng Sunan Pakubuwana I yang berperawakan tinggi, besar dan gagah. Dalam dunia pewayangan bisa disamakan dengan Werkudara (Bima).

Taman Ngabean
Keris yang tergolong Taman Ngabean cocok dipakai oleh orang yang berperawakan sedang, tidak tinggi dan tidak pendek. Kira-kira seperti perawakan Kanjeng Sunan Pakubuwana VII atau Pangeran Hangabehi I (putra Sultan Hamengkubuwana I). Dalam dunia pewayangan, perawakan sedang bisa diambil contoh Prabu Salya.

Taman Mangkurat
Orang yang berperawakan cenderung kecil cocok memakai keris Taman Mangkurat. Disebut Taman Mangkurat karena merujuk pada Sinuhun Amangkurat Jawi yang berperawakan kecil, mirip Prabu Kresna dalam dunia pewayangan.

Sebenarnya masih ada tangguh keris yang lain, namun ketiga tangguh tersebut sudah bisa mewakili untuk memenuhi daya estetika dalam pemakaian keris untuk perlengkapan busana. Maka, dalam menggunakan keris sebagai pelengkap, hendaknya diperhatika wujud keris itu apakah cocok dengan perawakan si pemakai. Juga diperhatikan pula cara pemakaian, lokasi penempatan, jangan sampai terbalik atau salah posisi karena keris penuh dengan simbol. Jika salah penempatan akan berbeda pula makna keris itu sendiri. Mengenai makna penempatan keris akan saya bagi di lain waktu.
Read more ►

Thursday, October 11, 2012

Dasa Darma Narendra: Sepuluh Kebajikan Bagi Pemimpin

0 comments


Pemimpin bukanlah orang sembarangan, atau sembarang orang. Pemimpin harus mampu menjadi sosok yang bisa dijadikan teladan bagi rakyatnya ataupun keluarganya. Maka, dalam sejarah perkembangan Jawa, sosok pemimpin tidak hanya dipilih oleh manusia, tetapi juga merupakan pilihan leluhur-leluhur yang berupa pangestu, ataupun wahyu (bukan wahyu yang sama seperti yang diterima oleh Nabi dan Rosul). Dengan demikian, orang tersebut pastilah telah lulus ujian yang diberikan oleh manusia, dan tentunya ujian Tuhan dengan perantara leluhur-leluhur masa lalu. Hal ini berarti dua sisi kemanusiaannya, spiritual dan jasmaninya telah lulus dari serangkaian uji coba atau serangkaian ujian.
Dengan begitu, pemimpin tersebut akan mampu bertindak sesuai dengan porsinya, seimbang antara spiritual dan ragawi, sehingga tindakannya senantiasa adil. Banyak sekali standar pemimpin yang baik yang dikenal oleh masyarakat Jawa, seperti Panca Dasa Parateming Prabu, ataupun juga sifat kepemimpinan Gajah Mada, dll. Di bawah ini merupakan sifat pemimpin yang baik (Dr. Purwadi, dalam tulisannya yang berjudul “Pemikiran Futurologis Kejawen Dalam Jangka Jayabaya” - Jurnal Kejawen Edisi III tahun II/September 2007 – Yogyakarta: UNY):

Paricaga (Rela Berkorban)
Sifat ini sangat penting sehingga tidak salah jika dijadikan pembuka dari keseluruhan sifat-sifat pemimpin. Pemimpin harus rela berkorban bagi rakyatnya, yang sayangnya sulit dijumpai pada pemimpin pada masa sekarang.
Ajava (Berhati Tulus)
Sifat ini sulit sekali ditemui karena hampir tidak ada manusia yang melakukan sesuatu tanpa pamrih. Pada masa modern saat ini yang bisa berkorban tanpa pamrih adalah para ibu yang berjuang melahirkan putra-putrinya dengan taruhan nyawa. Ibu, Ibu, Ibu.
Dana (Beramal)
Dana disini bukan berarti uang, karena dana disini bukan sebuah kata dalam bahasa Indonesia. Dana disini lebih ditekankan kepada beramal. Pemimpin harus rela berkorban secara tulus untuk beramal, entah itu berupa uang ataupun bantuan yang lainnya.
Tapa (Sederhana)
Nah, ini mungkin yang sulit dilakukan oleh kebanyakan manusia modern di Indonesia saat ini. Adaptasi budaya asing yang sangat konsumtif dan gumunan, menjadikan masyarakat Indonesia sulit sekali untuk menjadi orang yang sederhana. Perilaku bermewah-mewahan sangat jelas terlihat dari masyarakat Indonesia, hampir seluruh golongan masyarakat.
Susila (Memiliki moralitas yang tinggi)
Seorang pemimpin harus bermoral baik, berakhlak luhur. Pemimpin tidak boleh berbicara sembarangan, karena akan didengarkan oleh rakyatnya.
Madava (Berperilaku baik)
Pemimpin harus memberi contoh berbuat baik, sehingga rakyatnya akan meniru. Pemimpin yang berperilaku sewenang-wenang tidak akan disukai rakyatnya, kecuali orang-orang yang berperilaku sama dengannya.
Akodha (Tidak mudah marah)
Pemimpin harus sabar, tidak mudah marah apalagi pendendam. Pemimpin pasti mendapat banyak cobaan salah satunya dibenci oleh orang-orang tertentu. Maka pemimpin harus sabar tidak, tidak boleh terpancing emosinya.
Khanti (Sabar)
Sabar tidak hanya dalam hal menahan emosi, tetapi juga dalam melakukan sesuatu. Pemimpin harus tahu kapan waktu yang tepat untuk memutuskan sesuatu permasalahan. Maka dalam hal ini kesabaran sangat diperlukan.
Avirodhana (Tidak suka permusuhan)
Pemimpin pasti bekerja dengan banyak orang, yang tidak semuanya menyukainya. Maka pemimpin harus bisa menahan emosi untuk tidak membuka atau mempunyai permusuhan dengan siapapun.
Avihimsa (Berhati lembut)
Pemimpin pasti pernah menghadapi sebuah permasalahan, atau menghadapi sekelompok rakyat yang tidak suka dengan kepemimpinannya. Maka dalam menghadapi hal tersebut pemimpin diharapkan mempunyai hati lembut, tidak kejam pada rakyat yang kurang menyukai kepemimpinannya. Cari tahu permasalahannya kemudian putuskan seadil-adilnya.

Itulah sepuluh Dasa Darma Narendra atau sepuluh kebajikan bagi pemimpin. Seseorang yang nantinya menjadi pemimpin di Negeri ini hendaknya memperhatikan dengan benar bagaimana seharusnya sifat-sifat pemimpin yang baik. Bagaimana caranya? Buka kembali sejarah. Sejarah bangsa ini ibarat sebuah kisah yang sangat penuh dengan makna dan pembelajaran. Dari sejarah kelam hingga kejayaan pernah ada di bumi ini. Sekarang, para pemimpin dari tingkat paling rendah, mulai dari setiap orang yang hidup di Nusantara hingga presiden, marilah pelajari bagaimana menjadi pemimpin bagi diri kita sendiri, bagi keluarga, bagi orang lain, bagi rakyat, bagi negara dan bangsa, bagi alam, dan bagi jagat raya, karena itu semua akan menjadi tanggung jawab manusia kepada Gusti Ingkang Maha Agung.
Read more ►

Saturday, July 7, 2012

Edisi Aksara Jawa: Makna Huruf “Ra”

6 comments
Sesuai dengan urutannya, huruf selanjutnya setelah “Na” dan “Ca” adalah “Ra”. Jika sebelumnya aksara “Na” dan “Ca” bermakna nur atau cahaya, maka “Ra” bermakna “Ruh”, atau “Rah”. Seperti yang telah diketahui, ruh adalah faktor kenapa manusia bisa hidup. Ruh masuk ke dalam jasad manusia ditiupkan oleh Tuhan pada saat manusia masih dalam kandungan. Sementara “Ra” bisa juga bermakna “Rah”, yang berarti darah. Jika aksara sebelumnya, “Na” dan “Ca” mempunyai satu makna yang sama, maka aksara “Ra” mempunyai dua arti yang berbeda. Kenapa aksara “Ra” bisa berarti darah, karena manusia terlahir dari segumpal darah (Al-Alaq). Darah mempunyai peran penting, bahkan kata “sirah” atau kepala merupakan jarwo dhosok yang berasal dari kata, “isine rah”, atau jika dialihbahasakan ke bahasa Indonesia berarti “isinya darah”. Terlepas dari dua makna yang berbeda, pada dasarnya dua makna tersebut mempunyai satu kesamaan, yaitu berasal dari Tuhan.
Sama seperti aksara-aksara sebelumnya, aksara “Ra” juga mempunyai makna yang lebih kompleks daripada sekedar “Ruh” atau “Rah”. Aksara “Ra” bisa bermakna “Rasaingsun handulusih”, yang berarti “rasa cinta sejati muncul dari  cinta kasih nurani”. Cinta merupakan sebuah perasaan yang cukup unik. Cinta bisa berasal dari seorang pria kepada wanita, atau sebaliknya. Cinta juga bisa berasal dari orangtua untuk anaknya, atau sebaliknya. Akan tetapi cinta di sini adalah cinta sejati, sejatining rasa, yaitu cinta hamba kepada Tuhan.
Seperti makna di atas, “rasa cinta sejati muncul dari  cinta kasih nurani”, maka cinta kepada Tuhan dapat diwujudkan terlebih dahulu dengan mencintai sesama manusia, dan mencintai sesama makhluk hidup ciptaan-Nya. Cinta seperti ini tidak bisa dipaksakan. Nurani, dimana letak hati nurani? Mungkin seseorang akan menunjuk perut kiri agak ke atas untuk menunjukkan letak hati di dalam tubuhnya. Tapi itu adalah hati dalam arti sebenarnya, yaitu organ tubuh yang berfungsi menyaring racun yang masuk ke dalam tubuh manusia. Akan tetapi, ketika seseorang diminta menunjukkan letak hati nurani, sulit untuk dideteksi. Bisa dirasakan, tetapi sulit dijelaskan. Ada yang mengatakan bahwa ketika seseorang mengalami kebimbangan, kemudian ia mendengar suara-suara yang mengajak untuk berbuat hal yang baik-baik, maka itulah kata hati nurani. Nurani tidak pernah berbohong dan tidak pernah mengajak untuk berbuat dosa.
Begitu pula dengan cinta kasih nurani, adalah rasa cinta yang timbul bukan hanya faktor-faktor fisik semata, tetapi ia telah mengetahui apa yang ada di balik rasa cinta, esensi mencintai. Inilah yang sulit, mencintai tanpa pamrih. Akan tetapi jika seseorang telah mampu menemukan rahasia di balik rasa cinta, maka ia telah menemukan rasa cinta sejati.

Read more ►

Thursday, June 7, 2012

Perawatan Tubuh Ala Putri Kraton

5 comments
Kecantikan ala Putri Kraton boleh dibilang menjadi impian setiap wanita. Kecantikan alami yang terpancar seolah-olah mampu memberikan “sesuatu” yang tidak bisa dibuat dengan ramuan (baca: make up) modern yang membanjiri pasaran. Rumah-rumah kecantikan pun melihat peluang ini dan kemudian membuka program perawatan ala Putri Kraton. Namun tentu saja perawatan metode tersebut membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Bagi kalangan berpunya mungkin tidak masalah, namun bagi masyarakat yang masih menempatkan perawatan secara rutin di rumah-rumah kecantikan sebagai kebutuhan yang kesekian, mungkin hal itu menjadi cukup memberatkan.
Perawatan tubuh ala Putri Kraton sebenarnya merupakan relaksasi yang mencakup seluruh indra yang ada di tubuh. Indra-indra tersebut “diistirahatkan” dari aktivitas-aktivitas yang dilakukan sehari-hari. Maka, untuk melakukan perawatan tubuh ala Putri Kraton sebenarnya bukan hal yang sulit, karena jika telah mengetahui kuncinya, perawatan tubuh ala Putri Kraton bisa dilakukan di rumah.
Untuk mempermudah, langkah-langkah di bawah ini mungkin bisa membantu. Ulasan ini diambil dari sebuah artikel di Harian Tribun Jogja, dengan perubahan-perubahan yang disesuaikan.
1.       Asmaraswara
Merupakan tahapan pertama, dimana pada tahap ini diawali dengan siraman, dengan air rendaman bunga sedap malam, atau bunga-bunga yang biasanya digunakan dalam tradisi siraman. Saat siraman ini dilakukan, secara bersamaan pula gendhing-gendhing klasik diperdengarkan untuk memberi relaksasi pada indra pendengaran. Gendhing-gendhing jawa klasik konon mampu membuat pikiran rileks, maka alunan gendhing jawa lebih menenangkan daripada musik klasik dari barat.
2.       Asmarasutra
Setelah selesai siraman, balut tubuh dengan kain sutra yang telah didinginkan di dalam wadah yang terbuat dari tanah. Kain sutra yang lembut akan memanjakan indra peraba. Langkah selanjutnya untuk memberi kenyaman pada indra peraba, adalah dengan melakukan pijatan relaksasi atau dioles dengan minyak aromaterapi.
3.       Asmaraarum
Parutan kelapa biasanya hanya digunakan untuk memasak atau menjadi pemanis kue-kue tradisional. Tetapi parutan kelapa dapat digunakan sebagai krim untuk mengangkat sel kulit-kulit mati hingga menghilangkan bau badan. Pada tahap ini, gunakan wewangian tradisional untuk memberi kenyamanan pada indra penciuman. Dupa ratus, bunga melati, atau bagi yang suka dengan aroma kemenyan juga bisa dipakai untuk membuat ruangan menjadi wangi.
4.       Asmarawara
Yang terakhir, jangan sampai melupakan untuk meminum ramuan yang telah diolah khusus untuk memaksimalkan proses dari dalam tubuh. Jamu, tidak bisa dipisahkan dari tradisi jawa, baik di Kraton maupun di luar tembok Kraton. Jamu telah diakui secara luas mempunyai khasiat yang bermacam-macam dan tidak mempunyai efek samping. Tahap ini adalah untuk memberi kenikmatan pada indra pencecap.
Read more ►

Wednesday, May 23, 2012

Kidung Rumekso ing Wengi: Tembang Sekaligus Doa

2 comments
Kidung Rumekso ing Wengi merupakan salah satu dari sekian banyak warisan yang ditinggalkan oleh Sunan Kalijaga yang masih lestari sampai saat ini. Kidung ini terdiri dari lima bait, berbentuk tembang Macapat berjenis Dhandhanggula. Rumekso ing Wengi, yang jika diterjemahkan secara bebas dalam Bahasa Indonesia menjadi “Perlindungan di Malam Hari.” Jika diamati, syair tembang ini memang menyiratkan bahwa tembang ini bisa juga berfungsi sebagai doa. Bagi orang muslim mungkin doa selalu dilafalkan dalam Bahasa Arab, tapi bagi orang muslim yang kurang memahami Bahasa Arab, berdoa dengan menggunakan Bahasa Arab akan sedikit merasa kesulitan. Bukankan Tuhan mengetahui apa saja, termasuk semua bahasa di dunia ini?
Sebagai salah satu wali, Sunan Kalijaga memahami hal itu. Maka dalam dakwahnya Sunan Kalijaga menggunakan tradisi asli yang dimodifikasi sedemikian rupa sehingga bisa menyatu dengan agama Islam. Dengan kata lain, Islam menyempurnakan apa yang sudah ada di Jawa. Tembang terkenal seperti Ilir-ilir contohnya.
Kidung Rumekso ing Wengi ini konon mampu menjadi tolak bala, baik yang berasal dari manusia ataupun serangan-serangan yang bersifat gaib. Bisa diamati pada syairnya yang menunjukkan hal tersebut. Memang sedikit sulit dipahami, tapi sebenarnya hal ini hampir mirip dengan doa-doa yang biasa dilafalkan, bedanya hanya menggunakan Bahasa Jawa. Berikut adalah syair Kidung Rumekso ing Wengi, yang terdiri dari lima bait berbentuk tembang Macapat Dhandhanggula.

Pupuh 1
Ana kidung rumekso ing wengi| Teguh ayu luputa ing lara| Luput ing bilahi kabeh| Jin setan datan purun| Paneluhan tan ana wani| Miwah panggawe ala| Gunane wong luput| Geni atemahan tirta| Maling arda tan ana ngarah mring kami| Tuju nduduk pan sirna|
Pupuh 2
Sakehing lara pan samya bali| Sakeh ngama pan sami miruda| Welas asih pandulune| Sakehing braja luput| Kadi kapuk tiba neng wesi| Sakehing wisa tawa| Sato galak tutut| Kayu aeng lemah sangar| Songing landhak guwaning wong neng lemah miring| Myang pakiponing merak|
Pupuh 3
Pagupakaning warak sakalir| Nadyan arca myang segara asat| Temahan rahayu kabeh| Apan sarira ayu| Ingideran kang widadari| Rineksa malaekat| Lan sagung para Rasul| Pinayungan ing Hyang Suksma| Ati Adam utekku Bagindha Esis| Pangucapku ya Musa|
Pupuh 4
Napasku Nabi Ngisa linuwih| Nabi Yakub pamiyarsaningwang| Dawud swaraku mangke| Nabi Brahim nyawaku| Nabi Sleman kasekten mami| Nabi Yusup rupengwang| Edris ing rambutku| Bagindha Ngali kulitingwang| Abubakar getih daging Ngumar singgih| Balung Bagindha Ngusman|
Pupuh 5
Sungsumingsun Patimah linuwih| Siti Aminah bayuning angga| Ayup ing ususku mangke| Nabi Nuh ing jejantung| Nabi Yunus ing otot mami| Netraku ya Muhammad| Pamuluku Rasul| Pinayungan Adam Kawa| Sampu pepak sakathahe para Nabi| Dadya sarira tunggal|
Read more ►

Wednesday, May 16, 2012

Stand Up Comedy Indonesia: Baru atau Mengulang?

2 comments
Sejak beberapa waktu terakhir komedi tunggal yang sering disebut stand-up comedy mendapat tempat istimewa di hati para penikmat komedi Indonesia. Stand-up comedy dianggap sebagai acara komedi yang cerdas, dan menawarkan hal yang berbeda dari komedi-komedi yang selama ini laris di Indonesia: grup lawak dengan bintang tamu artis yang menjual cemoohan tentang penampilan fisik sebagai bahan candaan. Berbeda dengan itu, stand-up comedy mengangkat tema-tema sederhana sampai tema sulit yang kemudian dikemas dalam pertunjukkan tunggal satu orang. Kesulitannya tentu saja comic (sebutan bagi para pelaku stand-up comedy), harus mampu mengolah tema menjadi materi yang menghibur.
Konon, stand-up comedy ini bermula dari daratan Amerika (seperti berbagai hal lain yang mengikuti tren dari Amerika), yang kemudian menjadi sebuah tren di Indonesia, yang berawal dari kafe-kafe. Di Amerika, materi-materi yang digunakan untuk stand-up comedy sangat bebas, mulai dari hal yang ringan, sampai permasalahan suku, agama, dan ras. Berbeda dengan di Indonesia yang (masih) menghargai perbedaan hal-hal tersebut.

Jika diamati, sebenarnya stand-up comedy bisa dibilang telah ada sejak lama. Para penikmat komedi, khususnya Dagelan Mataram, pasti mengenal komedi yang bisa dibilang mirip dengan stand-up comedy. Pentolan Dagelan Mataram, almarhum Basiyo adalah salah satu maestro di dunia perkomedian Indonesia. Guyonannya sangat khas, sangat berbeda dengan komedi sekarang yang seperti dituliskan di atas, menggunakan kekurangan fisik sebagai jualan utama. Kelompok Dagelan Mataram dipimpin oleh Basiyo, Panggung, Ngabdul, dll. Ngabdul sampai saat ini masih meneruskan dagelan model Mataraman ini di acara Pangkur Jenggleng TVRI Yogyakarta.
Biasanya, sebelum memasuki jalan cerita, ada seseorang yang berbicara sendirian yang menceritakan sekilas tentang cerita yang akan ditampilkan. Hal ini mirip dengan stand-up comedy yang mempunyai metode yang sama dalam menyampaikan sebuah tema. Bedanya, dalam stand-up comedy, penonton sering diajak berinteraksi sementara dalam Dagelan Mataram tidak. Keunggulan Basiyo dalam setiap penampilannya adalah karena; menggunakan tata-krama berbahasa, tidak ada kata-kata kotor dan kekerasan, dan tertib menurut plot (Prabowo, 2007: 37). Selain itu, Dagelan Mataram juga menggunakan guyonan-guyonan khas daerah sebagai penguat jalan cerita.
Metode ini sempat diteruskan oleh Srimulat yang sempat sukses, tetapi akhirnya kalah dengan komedi-komedi modern seperti sekarang ini. Seorang pelawak muncul seorang diri di awal pertunjukkan, biasanya nggrundel (menggerutu), atau ngrasani (membicarakan orang lain, biasanya majikan, atau orangtua). Biasanya omongan pelawak seorang diri itu memancing tawa penonton, dan itu mirip dengan konsep stand-up comedy yang berdiri seorang diri kemudian berbicara tentang apa saja selama masih dalam tema.
Melihat hal itu, akan lebih membanggakan jika misalnya, disebutkan stand-up comedy Indonesia berawal dari Dagelan Mataram daripada menyebutkan stand-up comedy terinspirasi dari Amerika. Apapun itu, stand-up comedy memang menawarkan sesuatu yang berbeda dengan acara komedi-komedi yang telah terkenal sebelumnya di Indonesia. 
Read more ►

Saturday, March 24, 2012

Edisi Aksara Jawa: Makna Huruf “Ha”

2 comments
Suku Jawa adalah salah satu suku bangsa yang mempunyai aksara yang digunakan sebagai bahasa tulis sebelum aksara latin (ABCD, dst) masuk ke Indonesia. Aksara Jawa yang menurut legenda diciptakan oleh Prabu Ajisaka dari Medang Kamulan (sementara bukti sejarah yang otentik tentang awal mula aksara jawa masih simpang siur) ini berjumlah duapuluh, yang ditulis empat baris dengan lima aksara di tiap barisnya. Terlepas dari cerita-cerita yang meyelimutinya, aksara jawa sesungguhnya mempunyai nilai yang sangat tinggi, baik itu nilai secara estetis (sastra) maupun nilai spiritual sebagai ajaran budi pekerti luhur pada manusia.
Nilai-nilai tersebut bukan hanya ketika aksara-aksara tersebut telah tersusun menjadi sebuah kalimat yang utuh, akan tetapi, aksara jawa telah mempunyai makna bahkan sejak masih berupa aksara tunggal (belum bergabung dengan aksara lain dan membentuk suatu kata, atau kalimat). Sebagai contoh, “Ha Na Ca Ra Ka” sering diartikan sebagai “Ada sebuah cerita”, dan seterusnya. Itu hanyalah segelintir contoh betapa Aksara ini mempunyai dua makna sekaligus seperti yang telah disebutkan di atas, yaitu nilai sastra (estetis) dan spiritual.
Ulasan mengenai nilai-nilai aksara jawa ini akan dikupas secara bersambung, dimulai dari ulasan pertama ini yang akan membahas aksara jawa yang pertama, yaitu “Ha”. Sebenarnya artikel mengenai makna aksara jawa per huruf telah banyak tersebar di berbagai blog ataupun website, sehingga ulasan ini mungkin bisa dikatakan sebagai pelengkap dari apa yang sudah ada, dengan perbedaa-perbedaan dari apa yang sudah ada sebelumnya.
Aksara Jawa dimulai dengan aksara yang berbunyi “Ha”. Aksara “Ha” berarti “Hurip” (baca: urip) yang berarti “Hidup”. Hal ini secara tidak langsung mengingatkan pada manusia mengenai hakikat hidup, dari siapa manusia hidup dan untuk apa manusia hidup. Manusia hidup karena adanya Tuhan, orang jawa menyebut Gusti Kang Murbeng Dumadi atau Sang Pencipta. Sang Pencipta kehidupan, pencipta “Hurip”. BRM Panji Anom Resiningrum dalam sebuah artikel menarik berjudul “Nasihat Dari Aksara Jawa” yang dimuat di sebuah blog yang bagus http://alangalangkumitir.wordpress.com/, menuliskan “..hidup itu ada, karena ada yang menghidupi atau yang memberi hidup.”
Makna di atas bisa dikatakan sebagai nilai spiritual, karena mengandung hubungan manusia dengan sang Pencipta. Sementara aksara “Ha” dapat dipanjangkan menjadi sebuah kalimat yang mengadung unsur estetika sekaligus unsur spiritual, yaitu “Hana hurip wening suci”. Kalimat tersebut bisa diterjemahkan bebas dalam bahasa Indonesia menjadi, “Ada kehidupan yang tulus dan suci”. Jika diamati, kalimat tersebut mempunyai pengucapan yang sesuai, luwes dan terkesan tidak dipaksakan. Secara keseluruhan, kalimat “Hana hurip wening suci” menggambarkan bahwa kehidupan yang tulus dan suci adalah kehidupan yang seharusnya ada di dunia ini, bukan kehidupan yang penuh dengan rasa was-was, kebohongan, tipu muslihat, dan apa yang ada di negeri ini sekarang.
Apabila dibongkar lagi, kalimat itu bisa merupakan kombinasi dari berbagai kata yang mempunyai makna yang berbeda, meskipun tidak semua kata. Sebagai contoh, kata “wening” bisa jadi merupakan gabungan dari kata “welas” dan “hening”. Akan tetapi, karena unsur estetika, kedua kata tersebut akhirnya digabungkan menjadi “wening”. Kasus ini sama dengan kata “ningrum”, yang merupakan kombinasi dari “wening” dan “harum”. Jadi, kata “wening” di sini mempunyai beberapa arti, disamping arti sebenarnya.
Jadi, inti dari huruf “Ha”, adalah bagaimana manusia menyadari tentang kehidupan. Bahwa kehidupan itu nyata, dan kehidupan itu ada karena ada yang memberi hidup, yaitu Sang Pencipta. Dengan menyadari itu, manusia bisa bertingkah laku yang baik, tulus, dan berusaha menjadi manusia yang wening dan suci, karena pada awalnya, manusia dihidupkan oleh Tuhan dalam keadaan suci, maka manusia harus menjadi suci ketika seba ke hadapan Sang Pemberi Hidup.
Read more ►

Monday, February 20, 2012

Gugon Tuhon: Larangan dan Etika Jawa dalam Legenda, Mitos, dan Tembang Jawa

3 comments
Gugon tuhon, atau yang disebut juga dengan pamali, merupakan semacam larangan (pepali) yang beredar di kalangan masyarakat Jawa. Umumnya, (istilah) gugon tuhon ini beredar dari orangtua ke anak-anak mereka, atau oleh guru ke muridnya. Gugon tuhon adalah perilaku-perilaku yang kurang pantas dilakukan, dan dipercaya akan mendatangkan kesialan jika dilakukan. Maka, anak-anak diajarkan beberapa hal yang lebih baik tidak dilakukan, meski kadang-kadang sulit diterima akal sehat.
Read more ►

Friday, May 20, 2011

Mengenai Priyayi, Santri, dan Abangan

0 comments
Bagi masyarakat Jawa, tiga hal di atas (mungkin) terdengar akrab. Tiga hal itu mungkin menyebabkan Islam di Jawa menjadi sedikit berbeda dengan Islam di daerah lain. Dengan masa peralihan dari era Hindu-Budha ke era Islam, tentunya berbagai hal yang dulu pernah akrab dengan masyarakat sedikit demi sedikit mulai ditata, oleh Dewan Wali sebagai ujung tombak. Hasilnya Islam mencapai kemajuan yang pesat. Dengan pusat penyebaran di Demak, para Wali menyebar ke seluruh penjuru tanah Jawa untuk meyebarkan Islam.
Snouck Hungronje, seorang pendeta Kristen yang mengetahui seluk beluk agama Islam dengan detail menyebut bahwa Islam di Indonesia (Jawa) terbagi atas tiga jenis: (1) Islam birokrat (2) Islam tradisional, dan (3) Islam murni. Apakah tiga macam Islam yang dikemukakan oleh Hungronje tersebut sama dengan pembagian Priyayi, Santri, dan Abangan?
Nata (2001: 182) dalam bukunya menyatakan bahwa Islam priyayi adalah paham ke-Islam-an yang dianut oleh para aristokrat. Sedangkan Islam santri adalah mereka yang benar-benar menjalankan agama dengan taat (sembahyang). Mengenai abangan, konon berasal dari pengikut ajaran Syekh Siti Jenar atau Syekh Lemah Abang. Dari kata “abang” itulah muncul kata Abangan. Islam jenis ini menurut Nata (2001: 181) adalah mereka yang kurang begitu paham dengan Islam, dan masih terpesona dengan upacara-upacara. Mayoritas golongan ini tinggal di pedesaan.
Akan tetapi apakah penggolongan itu benar-benar dari umat Islam sendiri, atau hanya upaya untuk memecah belah? Seperti diungkap di atas bahwa seorang pendeta mengklasifikasikan Islam di Indonesia menjadi tiga. Islam birokrat, mempunyai kesamaan dengan Islam priyayi. Islam yang condong ke aspek budaya, mirip dengan Abangan. Sedangkan Islam murni lebih dekat dengan Islam santri. Jika menilik penjajah yang sukses dengan taktik mengadu domba, bukan tidak mungkin bahwa mereka masuk ke ranah agama, kemudian berusaha menggerogoti dari dalam. Membuat rakyat curiga kepada pemimpinnya. Membuat para santri menjadi kelompok yang esklusif.
Guyub. Itulah yang ditakuti penjajah dari masyarakat Jawa.
Referensi: Nata, Abuddin. 2001. Peta Keragaman Pemikiran Islam di Indonesia. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Read more ►

Thursday, May 19, 2011

Lagu-lagu Militer Jawa

1 comments
Orang Jawa zaman dahulu konon pandai bersyair. Terbukti dengan banyaknya serat, kisah ataupun babad yang menggunakan syair berirama, atau yang lebih populer dengan sebutan Macapat. Pun ketika berada dalam medan pertempuran. Lagu-lagu militer mengiringi derap kaki kuda, pedang yang beradu, panji-panji yang berkibar, luka yang menganga, darah yang mengalir, bersama dengan teriakan-teriakan pengobar semangat sang Manggala Yudha.
Berikut ini beberapa lagu-lagu militer jawa (Hendri, 2008: 71-73):
1.      1. Lancaran Mahesa Kurda
Kalamun cinandra pan yayah mahesa kurda
Bendhe umyung tengara bidhale wadya
Kang tinata carub wor dadi sajuga
Sang panganjur aba-aba nabuh tambur
Teteg ajeg suling peling mut wirama

2.      2. Lancaran Gambuh
Enjing bidhal gumuruh
Tambur suling gung maguru ngungkung
Binarung ing krapyak
Myang watang agathik
Kang kapyarsa swaranipun
Lir ombaking samudra rob

3.      3. Lancaran Singa Nebak
Sigra mangsah lumampah anut wirama
Getar tambur bendhene munya angungkung
Suling sesauran selompret tetep mindhiki

4. Suluk Budhalan
Enjing bidhal gumuruh
Saking jroning praja
Gunging kang bala kuswa
Aba busananira lir surya wedalira
Saking jaladri arsa madangi jagad
Duk mungup-mungup aneng
Sakpucaking wukir
Marbabak bang sumirat
Keneng soroting surya
Mega lan gunung-gunung (Hendri, Dimas. 2008. Serat Tripama – Tuntunan Abdi Negara. Yogyakarta: Pilar Media)



                 
Read more ►
 

Copyright © nglengkong Design by O Pregador | Blogger Theme by Blogger Template de luxo | Powered by Blogger