Friday, February 4, 2011

Nabi Khidir yang Misterius, Samar dan Hijau

3 comments
Sangat sulit untuk menemukan literatur atau artikel yang membahas secara khusus mengenai Nabi Khidir, baik di majalah-majalah ataupun di dunia maya. Satu-satunya sumber otentik adalah kisahnya mengenai Nabi Musa yang menjadi murid Nabi Khidir, yang tertulis di dalam Kitab Suci Al-Qur’an. Dikisahkan bahwa kemudian Nabi Musa tidak sanggup menerima ajaran Nabi Khidir yang sulit dipahami oleh akal sehat, seperti ketika Nabi Khidir membunuh seorang bocah, melubangi sebuah kapal sehingga tenggelam, dll.
Di dalam masyarakat Jawa, ada sebuah kepercayaan bahwa Nabi Khidir masih hidup hingga saat ini, bahkan ada yang pernah mengaku bertemu dengan beliau (hanya Allah yang tahu), salah satunya menurut cerita, Sunan Kalijogo juga pernah bertemu dengan Nabi Khidir. Setelah beberapa waktu mencari, lewat sebuah buku kecil yang tidak mengisahkan tentang nabi ataupun rasul, saya menemukan sebuah tulisan singkat mengenai Nabi Khidir. Tulisan ini mengenai riwayatnya yang seadanya, dan kunjungannya ke rumah Nabi Muhammad SAW, tidak lama setelah Nabi Muhammad SAW meninggal dunia.
Diceritakan bahwa Nabi Khidir lahir sebagai keturunan bangsawan, pada masa Nabi Zulkarnain AS. Ia lahir dengan sendok perak di mulutnya (dua kemungkinan: (1)hal ini seperti sebuah perumpamaan, karena beliau seorang bangsawan, maka secara otomatis dalam hal makanan ia tercukupi, atau (2)beliau benar-benar lahir dengan sendok perak di mulutnya), dan singgasana megah yang juga dari emas. Namun seperti nabi-nabi lain yang gelisah, Nabi Khidir juga mulai merasakan sesuatu yang tak beres, yang mengakibatkannya memulai sebuah pencarian. Pencarian tersebut akhirnya berujung pada Tuhan, sama seperti Nabi Ibrahim AS pada awalnya, yang mencari Tuhan. Nabi Khidir pertama kali ‘melihat’ Tuhan pada makhluk-makhluk ciptaan-Nya: langit dan bumi beserta isinya.
Dengan izin Allah, akhirnya Nabi Khidir pun mendapat ilmu pengetahuan langsung dari sisi Allah SWT, yang mampu menahannya dari kematian hingga hari ini. Beliau pun dapat sesuka hati pergi kemanapun beliau suka, menembus ruang dan waktu. Sekilas kisahnya memang seperti film-film fiksi buatan Hollywood, namun itu semua bukanlah fiksi, tapi kenyataan dari seorang utusan Allah SWT. Nabi Khidir adalah nabi yang diutus untuk menguji nabi lainnya. Tercatat Nabi Zulkarnain AS dan Nabi Musa AS, dua orang rasul yang diuji oleh seorang Nabi Khidir.
Akan tetapi, kisahnya bersama Nabi Zulkarnain sangat sulit ditemukan, sesulit mencari dimana rumahnya, dimana ia berada saat ini, bagaimana wujudnya, atau rahasia-rahasia lainnya. Yang mudah diketahui dari Nabi Khidir adalah hijau (khidir=hijau), dimana hijau seringkali digunakan untuk melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan.
Kemudian seperti yang tertulis di awal, bahwa terakhir kali muncul di depan rumah Nabi Muhammad SAW sesaat setelah beliau meninggal (bayangkan jarak waktu antara Nabi Musa AS dan Nabi Zulkarnain AS dan Nabi Muhammad SAW), dan mengucapkan bela sungkawa pada keluarga Nabi SAW; Ali, Fatimah, Hasan dan Husein. Tercatat bahwa Nabi Khidir AS mengucapkan sesuatu yang berbunyi,
“Salam atas kalian, wahai Ahlul Bait Nabi ….Sungguh, Allah memberikan pengganti dari setiap yang meninggal, pelipur lara dari setiap musibah, dan susulan dari setiap yang hilang. Maka, berserah dirilah kalian kepada-Nya dan percayalah sepenuhnya kepada-Nya. Semoga kalian sudi memohonkan ampunan untukku.”
Tidak hanya itu, Ali, sahabat sekaligus menantu Nabi SAW juga mewariskan sebuah do’a dari Nabi Khidir. Ali mengajarkannya kepada muridnya, Kumail bin Ziyad, yang kemudian do’a ini konon menjadi do’a wajib bagi tentara Hizbullah. Kekuatan do’a ini sungguh besar. Hizbullah bukanlah tentara yang terlatih untuk perang, mereka hanyalah orang-orang yang ingin mempertahankan tanah airnya, namun mereka sanggup memenangkan pertempuran dengan Israel pada tahun 2006. Do’a ini kemudian dikenal dengan Do’a Kumail, yang juga membuat seorang filsuf kenamaan Prancis menangis ketika membaca do’a ini (dari buku “Menyerap Energi Ketuhanan” karangan Musa Kazhim dan Alfian Hamzah, dengan sedikit modifikasi).
Read more ►

Thursday, February 3, 2011

Good Behavior and Language Levels

1 comments
Indonesia is a country that built by many cultures, and all of the cultures have their own characteristics. With all the cultures, Indonesia becomes the country with the most various cultures. But it will be useless if the government forget, because all of those cultures are the gates to keep Indonesia, to keep Pancasila.
Language, as the one of the culture, has important part to build the feel of proud, about this country. In Indonesia, the first language commonly known as mother tongue (Javanese, Sundanese, Bataknese, etc), the second language is Indonesian language, and the third (or foreign language – bahasa asing) is English. Javanese language learnt by anyone who lives in Java (some parts in West Java, Middle Java, Yogyakarta, and East Java) with all the varieties and dialects (dialect in Javanese is about six dialects). Sundanese learnt by anyone who lives in Sunda (some parts in West Java), etc.
One of the exclusive things of the mother language is, when people learn their mother tongue, at the same time they will learn about attitude, good attitude. One example, Javanese language is famous because it has three levels and one special language (use in Kraton). The first is known as Ngoko, then the second is Madya, and the third is Krama Inggil. If there is a Javanese that want to talk with his/her friends which has same age, he/she will use Ngoko, to show the close relationship. When he/she talks with his husband/wife, he/she will use Madya, because it shows the close relationship and also respect. When he/she talks with the older people (their parents, teachers), he/she must use Kromo Inggil to show the high respect for them.
Not only Javanese that have the language levels, but also Bataknese. Bataknese has five language levels, but the point is same as in the Javanese language levels, to show respect to other people that older than the speakers.
The fact that English is more recognized by Indonesian young generations than their mother tongue (or Indonesian language) is true, and it must be accepted. The long term effect of the phenomenon is Indonesia will lose the identity, real identity, and people will forget about Pancasila. The spirit “unity in diversity” (I use Obama’s term), will disappear if young generations forget about who they are, and where they are from.
The good way to block the penetration of English (or any west cultures), is introduce them (children) into their mother tongue. Make them friendly with mother tongue, by teach them. Automatically, they will learn about good attitude. If they teach English while they are child, their behavior will be English. One experience, there was a kid that school in SBI (Sekolah Berstandar Internasional). She talks English well, and one day she talks to her grandfather, “I hate Indonesian, because Indonesian language is bad.”
Then the question is, how if all elementary schools in Indonesia are SBI?
Local wisdom is needed. Teach Indonesian young generations their mother tongue, because their attitude will be Indonesian attitude. Indonesia will ‘dissapear’ from the map, if the west culture still more-like than its own culture.
Read more ►
 

Copyright © nglengkong Design by O Pregador | Blogger Theme by Blogger Template de luxo | Powered by Blogger