Saturday, November 17, 2012

Hewan-hewan yang Dianggap Sakral oleh Masyarakat Jawa

Masyarakat umum saat ini mengenal nama Kiai Slamet sebagai hewan yang dikeramatkan di Kraton Surakarta. Kiai Slamet yang berwujud kerbau bule merupakan hewan piaraan Kraton Surakarta. Setiap pergantian tahun jawa, kerbau itu (saat ini hanya keturunan-keturunan dari Kiai Slamet) diarak mengelilingi Kota Solo.
Terlepas dari hal tersebut, penggunaan kata “sakral” pada judul tersebut bukan berarti bahwa hewan tersebut dihormati sebegitu rupa seperti masyarakat India menghormati sapi atau monyet. Sakral di sini bermakna lebih dari itu. Banyak yang meyakini jika memelihara diantara hewan-hewan ini, maka rejeki akan lebih lancar. Hewan-hewan tersebut juga dipercaya mampu menolak bala, santet, atau ilmu sihir. Terlepas dari kontroversi musrik atau tidaknya, hal tersebut adalah salah satu wujud kearifan lokal yang, bagi masyarakat Indonesia khususnya Jawa, akan tetap ada betapapun majunya perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan.
Hewan-hewan tersebut dianggap sakral karena mempunyai perbedaan dari hewan-hewan lain yang sejenis. Sebagai contoh, masyarakat Jawa gemar memlihara burung perkutut, karena konon membawa kebahagiaan dan keberuntungan. Apalagi yang berbulu putih, karena perkutut putih sangat langka dan jarang ditemui. Selengkapnya:

Burung Perkutut
Cobalah sesekali mengamati rumah-rumah asli Jawa, pasti di salah satu sudut rumah terdapat burung perkutut. Entah itu digantung di langit-langit, atau ditempatkan pada kandang di luar ruangan. Burung perkutut dipercaya mampu memberi kebahagiaan dan keberuntungan pada pemiliknya. Burung Perkutut Putih, yang sulit ditemui konon mempunyai kemampuan sebagai penolak bala.

Ayam Jago
Sama seperti burung perkutut, ayam jago juga menjadi salah satu hewan klangenan (kesayangan) orang-orang Jawa. Bahkan, ayam-ayam tertentu mempunyai kegunaan yang berbeda-beda. Ayam-ayam jago tersebut dibedakan berdasarkan katuranggan (tampilan fisik) yang bermacam-macam dengan sebutan yang beberapa cukup menakutkan: Suro Petir, Suro Pengantin, Cemani, Putih Seta, Ubed, Ubed Jalu, Suro Wilis, Naga Tumurun, Batu Lapak, dll.
Ayam-ayam jago dengan sebutan di atas mempunyai reputasi yang cukup menakutkan, beberapa diantaranya karena sulit dikalahkan di dalam arena pertarungan. Sementara, ayam cemani, meskipun jarang dipakai sebagai aduan, mempunyai reputasi yang menakutkan karena ayam ini sering digunakan dalam ritual-ritual adat Jawa. Ayam-ayam di atas sulit dijumpai, karena memang mempunyai ciri-ciri yang sedikit unik, sebagai contoh ayam dengan sebutan Suro Petir mempunyai keunikan pada sisik jari kaki tengahnya yang bercabang. Kemudian Suro Pengantin, yang mempunyai dua helai ekor yang “keluar” dan lebih panjang dari bulu-bulu ekor lainnya. Putih Seta, sesuai namanya merupakan ayam berwarna putih, dari bulu, hingga kaki. Bahkan matanya pun agak pucat. Begitu pula dengan ayam-ayam lainnya yang mempunyai keunikan berbeda-beda. Mengenai katuranggan ayam jago ini juga dapat dibaca dalam Kitab Primbon Bental Jemur Adammakna, yang merupakan Kitab Primbon terlengkap.

Banyak (Angsa)
Banyak atau angsa banyak dipelihara sebagai penjaga rumah, karena indranya yang tajam. Bahkan konon suara angsa ini mampu mengusir makhluk gaib yang mendiami rumah.

Harimau
Mungkin untuk yang satu ini bukan untuk dipelihara, tetapi hewan ini di kalangan masyarakat jawa mempunyai sebutan “Eyang”. Sebagai contoh, ketika di hutan berjumpa dengan harimau, maka sebaiknya berkata, “Permisi, Eyang.” Sekali lagi hal tersebut juga merupakan wujud kearifan lokal, yaitu bentuk saling menghormati sesama makhluk hidup.

Ular
Hampir sama dengan harimau, ular juga mendapat tempat tersendiri di dalam masyarakat Jawa. Bahkan beberapa makhluk gaib legendaris di nusantara mewujudkan dirinya sebagai ular. Untuk ular liar, orang-orang Jawa sering meyebutnya dengan sebutan “oyot” atau akar. Jika bertemu ular di hutan, yang diucapkan adalah, “Ono oyot” atau “Ada akar”.

Burung Culi
Burung yang satu ini sangat misterius, karena wujud dari burung ini tidak jelas. Maksudnya tidak jelas karena burung ini keluar pada saat senja dan subuh menjelang fajar, hanya terlihat seperti bayangan hitam, dan biasanya terbang berpasangan sambil berkicau “culi” berkali-kali. Yang menjadikan burung ini misterius selain wujudnya adalah konon burung ini merupakan perwujudan dari pocong yang belum dilepas talinya sehingga berubah menjadi burung dan berkicau “culi” (dalam bahasa jawa culi berarti lepas). Bahkan jika burung itu hinggap di atas rumah seseorang, maka salah satu orang yang tinggal di rumah itu akan meninggal. Cukup mengerikan memang, tetapi jika ingin melihat burung ini secara sekilas cobalah keluar pada saat senja sesaat sebelum adzan maghrib berkumandang. Biasanya suara burung ini terdengar dari kejauhan, dan burung ini akan muncul terbang cukup rendah berpasangan.

Sebenarnya beberapa hewan lain juga sering dianggap sakral, seperti buaya atau burung gagak. Namun rasanya yang sangat mencolok adalah hewan-hewan yang disebutkan di atas. Sekali lagi terlepas dari pendapat musrik atau sirik, hal itu adalah kearifan lokal yang memang telah ada sejak masa lampau, sebagai wujud penghormatan kepada sesama makhluk hidup di dunia ini, karena manusia tidak hidup sendiri, melainkan hidup berdampingan bersama makhluk-makhluk lain ciptaan Tuhan.

1 comments:

  1. Berbagi Kisah, Informasi dan Foto

    Tentang Indahnya INDONESIA

    www.jelajah-nesia.blogspot.com

    ReplyDelete

 

Copyright © nglengkong Design by O Pregador | Blogger Theme by Blogger Template de luxo | Powered by Blogger