Monday, August 29, 2016

Mukidi vs Markesot

0 comments
Mukidi, nama itu belakangan menjadi populer. Menariknya, nama itu bukanlah merupakan nama seseorang yang nyata (meski tentu saja banyak di luar sana orang-orang yang bernama Mukidi), melainkan sebuah nama tokoh yang sering muncul di dunia maya. Dan Mukidi telah memenangkan internet. Orang-orang ramai membicarakannya, karena kelucuannya, kekonyolannya, dan berbagai perilakunya.
 
Mukidi, bukanlah tokoh yang pasti. Maksudnya, suatu hari ia bisa menjadi seorang siswa, di lain kesempatan ia menjadi orang-orang kebanyakan, dan peran-peran lainnya. Formula ini, telah muncul bertahun-tahun lalu, dimana seseorang yang juga fiktif (meski menurut penciptanya berdasarkan tokoh nyata), menjadi tokoh utama berbagai peristiwa.
 
Markesot. Sama seperti Mukidi, ia merupakan tokoh multidunia. Di suatu kesempatan ia menjadi aktifis mahasiswa yang vokal. Di lain kesempatan ia dianggap sebagai seorang penyembuh tradisional yang ampuh. Tak jarang juga ia menjadi gembel, berkelana dari satu tempat ke tempat lain. Bahkan kadang juga menjadi ahli mistik. Bedanya, meskipun saat ini Mukidi (mungkin) lebih terkenal daripada Markesot, Markesot telah muncul dalam dua seri buku, berjudul "Markesot Bertutur" dan "Markesot Bertutur Lagi."
 
Petualangan Markesot pun beragam, karena dalam berbagai kisah Markesot tidak hanya sendirian. Ia memiliki kawan-kawan yang juga 'unik', diantaranya Markedet, Markempo, Markembloh, Markadal, Markedut, dll. Mereka semua pun memiliki sebuah tempat berkumpul berupa rumah kontrakan yang disebut KPMb atau singkatan dari Konsorsium Para Mbambung. Mbambung, merupakan sebuah kata bahasa jawa yang bisa diartikan secara bebas sebagai "Bandel."
 
Jujur, saya baru sekali membaca kisah Mukidi, dalam sebuah postingan komentar dalam sebuah status di Facebook. Pada awalnya saya mengira itu adalah semacam spam (menggunakan kolom komentar sebagai tempat memposting kisah yang panjangnya minta ampun), namun ternyata beberapa hari kemudian saya menemukan bahwa Mas Mukidi ini sangat populer. Dan hingga saya menulis tulisan ini saya belum membaca kisah Mukidi yang lain.
 
Kenapa kisah-kisah semacam Mukidi, yang memiliki perilaku konyol sangat gampang menjadi populer? Sementara tokoh-tokoh konyol nan cerdas dan legendaris macam Nasrudin Hoja atau Abu Nawas tak pernah sampai sepopuler itu. Sementara di negeri kita, Markesot, yang muncul pertama kali pada tahun 1989 dan telah dikumpulkan menjadi buku, bahkan diterbitkan kembali, juga tak sepopuler itu.
 
Tetapi mungkin Mas Mukidi ini memiliki daya tarik misterius yang mampu menarik masyarakat untuk membaca kisahnya, yang membuatnya menjadi lebih populer daripada beberapa tokoh-tokoh lainnya. Meski begitu, Markesot memberikan lebih banyak inspirasi dan kelucuan, meskipun kadang perlu lebih dari sekali baca untuk memahami inti terdalam dari kisah Markesot. Hal ini bisa dimaklumi, karena pencipta Markesot adalah budayawan kondang Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun.
Read more ►

Wednesday, February 3, 2016

Apa Jadinya Mahesa Jenar Tanpa Sasra Birawa?

0 comments
Secara pribadi, saya menjadikan kisah ini menjadi salah satu kisah terfavorit, dan tokoh utama kisah ini, Mahesa Jenar, juga menjadi salah satu tokoh fiksi terfavorit. Mudah saja, kisah ini terasa sangat dekat, dalam berbagai hal. Kemudian, kisah ini selalu menarik untuk dibicarakan, terlepas dari perdebatan mengenai keyakinan beberapa kalangan yang menganggap Mahesa Jenar adalah tokoh nyata yang benar-benar ada di masa lalu.
Membicarakan Mahesa Jenar, tak bisa dilepaskan dari aji-ajinya yang dinamakan Sasra Birawa. Entah kenapa, meski ada orang lain yang juga menguasai aji-aji ini seperti tentu saja gurunya Pangeran Handayaningrat atau Ki Ageng Pengging Sepuh, dan Kebo Kanigoro, putra tertua Ki Ageng Pengging Sepuh, Mahesa Jenar dengan Sasra Birawa-nya terkesan lebih familiar. Mungkin karena Mahesa Jenar ini adalah tokoh utama.
Tetapi, ada yang menarik ketika ternyata Sasra Birawa milik Mahesa Jenar yang dahsyat tersebut belum mencapai tingkat tertinggi. Dalam pengembaraannya, ketika Mahesa Jenar bertemu dengan tokoh-tokoh dunia hitam golongan tua yang setingkat gurunya, secara tak sengaja Mahesa Jenar bertemu dengan Kebo Kanigoro yang memberinya petunjuk-petunjuk bagaimana mengembangkan aji-ajinya tersebut meski tanpa bimbingan gurunya.
Adegan ini mengingatkan pada kisah pewayangan, ketika Karna yang ditolak menjadi murid Durna, membuat patung yang mirip dengan Durna dan kemudian seolah-olah berlatih dengan Durna. Hasilnya, kemampuan memanah Karna bisa mencapai tingkatan sempurna sama seperti Janaka yang diajari langsung oleh Durna. Di dalam gua, Mahesa Jenar melihat sebuah batu, yang di sela-sela batu terselip bunga kantil, salah satu ciri khas gurunya, Ki Ageng Pengging Sepuh. Mahesa Jenar pun menggunakan ciri-ciri tersebut, menyelipkan dua buah bunga kantil di atas telinganya. Di dalam gua tersebut Mahesa Jenar berhasil mencapai kesempurnaan ilmunya, setelah menggembleng jiwa raga baik mental dan spiritual.
Nah, jika Sasra Birawa yang belum sempurna itu saja bisa sangat identik dengan sosok prajurit yang selalu mengenakan pakaian hijau tersebut, maka setelah ilmunya sempurna bisa dibilang bahwa Mahesa Jenar adalah Sasra Birawa, dan begitu pula sebaliknya.
Dalam berbagai pertarungan, Mahesa Jenar selalu menahan diri untuk tidak menggunakan aji-ajinya ini, kecuali berhadapan dengan musuh-musuh utamanya dari golongan hitam. Di tengah pertarungan, musuh-musuhnya akan berkeringat dingin ketika Mahesa Jenar bersiap dengan kuda-kuda aji-ajinya yang fenomenal; tangan kanan diangkat tinggi-tinggi, tangan kiri disilangkan ke dada, kaki kiri ditekuk ke atas. Itulah kuda-kuda aji Sasra Birawa yang sangat terkenal.
Lantas, bagaimana jika Mahesa Jenar beraksi tanpa Sasra Birawa? Bagaimana jadinya jika aji-aji milik Mahesa Jenar bukan Sasra Birawa, tetapi Cundhamanik, atau Lebur Sakethi, atau bahkan mungkin Rog Rog Asem, atau Gelap Ngampar? Mari kita bayangkan, seandainya Mahesa Jenar menggunakan aji-aji Lebur Sakethi. Dalam sebuah adegan pertarungan, “Mahesa Jenar bersiap dengan kuda-kuda aji-ajinya, Ia merentangkan kedua tangan lebar-lebar, mencondongkan tubuh ke depan dan menekuk kaki kanannya ke depan kemudian menggempurkan kedua tangannya ke arah musuhnya.”
Atau, “Mahesa Jenar bersiap dengan aji Gelap Ngamparnya yang dahsyat. Ia mulai tertawa-tawa dengan suara yang dilambari tenaga dalam dahsyat, sehingga siapapun yang mendengar tawanya itu akan langsung rontok seluruh isi dadanya.”
Satu kata; aneh.
Jadi singakatnya, Mahesa Jenar memang sudah identik dengan Sasra Birawa. Dan begitu pula sebaliknya, aji Sasra Birawa adalah Mahesa Jenar. Akan sangat aneh jika kemudian ada kisah lain menampilkan tokoh yang bisa menggunakan aji Sasra Birawa. Namun tak begitu dengan aji-aji yang lain, karena Rog-Rog Asem, Gelap Ngampar konon adalah aji-aji milik Raden Rangga, putra Panembahan Senopati.
Sementara saya mendapat kesimpulan bahwa Mahesa Jenar adalah Sasra Birawa, dan Sasra Birawa adalah Mahesa Jenar, pertanyaan lebih menggelitik menghampiri saya, “Bagaimana jadinya Mahesa Jenar tanpa Rara Wilis?”
 
Read more ►

Thursday, December 31, 2015

Selamat Tinggal 2015 yang Mengharu Biru, Selamat Datang 2016 yang Penuh Do'a

0 comments
Menurut tanggalan hari ini adalah tanggal 31 Desember 2015, yang berarti besok adalah tanggal 1 Januari 2016. Tahun baru, kata orang-orang. Berhubung malam tahun baru tahun ini jatuh di hari baik, yaitu malam Jum'at Kliwon, semoga tahun depan segalanya berjalan dengan baik. Tentang resolusi, cukup diri kita sendiri dan Tuhan saja yang tahu.
Tapi sial, rencana pengin nonton acara televisi yang tentunya bakal keren-keren, malah dapet undangan sosialisasi apalah di kampung. Mau gimana lagi, ya harus datang. Memenuhi undangan wajib kan hukumnya. Apalagi demi tempat dimana aku tumbuh besar. Meskipun harus bolos...

Bukan apa-apa, aku mempunyai semacam ritual yang harus dikerjakan pada saat-saat seperti ini. Sebelum waktu melewati tengah malam, aku harus melakukan itu. Ada beberapa yang harus dikerjakan, salah satunya ya ini. Oh ya, jam sengaja aku tulis WIK alias Waktu Indonesia Kamijoro, heuheuheu...

Jadi ingat buku "Indonesia Bagian dari Desa Saya."

11:18 WIK - Masih cukup lama menuju tengah malam. Untungnya masih sempat melakukan ritual meskipun harus bolos. Maaf Pak Lurah, Pak Dukuh, aku harus bolos...

11:23 WIK - Kok kayanya susah ya nulis model ginian...Hmm...

11:25 WIK - Tapi terkait dengan cuaca panas di musim penghujan, kemarin di suatu tempat aku ketemu simbah-simbah. Saat itu aku bersama kawan-kawan sedang beristirahat di bawah pohon talok. Simbah-simbah itu menghampiri dan berbicara panjang x lebar x tinggi. Tahulah orang tua...

Nah, singkat cerita bahwa hujan akan turun lagi setelah ulat-ulat ganas pemangsa daun pohon jati mulai berubah menjadi kepompong, alias "ngungkrung." Nah, itu adalah semacam "ngelmu titen" yang biasanya memang dipahami oleh para orang-orang tua zaman dahulu...

11:31 WIK - Untungnya aku bukan pemangsa segala, jadi ulat-ulat itu aman...

11:34 WIK - Masih lama. Samar-samar terdengar suara musik...

11:39 WIK - "Why do I miss someone I never met, with bated breath I lay? Sea winds brought her to me, a butterfly..."

Ngomong opooo...

11:43 WIK - Hmm...

11:46 WIK - Tetapi tahun 2015 ini benar-benar mengharu biru. Dari inilah, itulah, hingga entahlah..

Dan yang harus aku katakan adalah "I'm not running away, I'm movin' on!"

11:49 WIK - Tapi jangan tanya move on dari apa karena pasti aku ndak akan jawab itu. Terkadang kenangan itu terlihat jelas ketika aku menutup mata, tetapi ndak apa-apa. Bukankah "jangan sekali-kali melupakan sejarah?" Heuheuheuheu...

11:51 WIK - Di timeline Facebook beberapa kawan sudah mengucapkan selamat menempuh hari baru. Aku sih belum, karena aku menggunakan waktu WIK, yang mana mempunyai selisih sekitar lima menit dengan WIB...

"Bukan merayakan, tetapi mensyukuri karena masih diberi kesempatan menikmati tahun yang baru." Tulis seorang teman di Wall-nya...

11:54 WIK - Ao..ndak sengaja menggaruk jerawat di pundak. Ini juga kurang kerjaan, jerawat kok ya sampe pundak. Apa di wajah sudah ndak nyaman; banjir kalau musim hujan, gersang kalau musim kemarau... Atau khawatir akan rusak karena bakal dipencet-pencet sama para maniak selfie? Heuheuheu...

11:57 WIK - Terdengar suara dar der dor...

11:58 WIK - Lapar... Kenapa arem-arem tadi ndak aku bawa pulang saja? Hmm...

12:00 WIK - Semoga segala sesuatu berjalan dengan baik, apa-apa yang kita harapkan di tahun 2016 ini bisa tercapai. Semoga kita bisa mengurangi atau bahkan menghilangkan sifat iri dengki kepada diri kita sendiri, keluarga, tetangga, kawan-kawan, dan para pemimpin kita. Semoga kita bisa memenuhi apa-apa yang menjadi kewajiban kita, kewajiban kepada diri kita sendiri, kepada orang tua, kepada keluarga, kepada sesama manusia, kepada sesama makhluk Tuhan, kepada alam semesta, dan kepada Tuhan Yang Maha Esa..

Selamat berjuang untuk kawan-kawanku semuanya, serta kepada diriku sendiri..

Salam asah asih asuh
Rahayu Rahayu Rahayu...

Kamijoro - 31 Desember 2015 - 1 Januari 2016


Read more ►

Monday, November 2, 2015

Tren Pamer Hewan Buruan di Media Sosial

0 comments
Bahwa akhir-akhir ini sering dijumpai foto-foto selfie bersama hewan buruan di berbagai media sosial populer, perlu diperhatikan lebih serius. Namanya juga selfie; mereka memasang tampang imut, keren, atau gestur-gestur lain yang menunjukkan ketangguhan mereka. Sementara, di sampingnya, hewan buruan yang notabene hewan langka yang telah terbujur kaku masih tetap ‘dipaksa’ untuk berpose selfie.
Dalam kasus ini, terlihat bagaimana sifat alamiah manusia yang cenderung perusak, meski dikatakan bahwa manusia diutus ke bumi adalah sebagai khalifah. Tidak main-main, daya penghancur yang ada pada makhluk bernama manusia ini sangatlah tinggi. Bahkan, segala cara akan ditempuh untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Contoh paling mudah, masih ingatkah film Avatar buatan James Cameron yang rilis beberapa tahun lalu? Dalam film itu ditunjukkan bahwa betapa daya penghancur manusia sangatlah mengerikan.
Eksploitasi alam. Penambangan sumber daya alam yang masif, perburuan hewan serta pembukaan lahan produktif yang tak terkontrol seakan menjadi berita sehari-hari. Sebagai wilayah hijau yang (dulu) merupakan paru-paru dunia, Indonesia mempunyai semua itu; sumber daya alam berlimpah, baik di permukaan atau di dalam perut bumi.
Hanya sekedar berbagi kisah. Konon di suatu tempat hidup seorang yang pandai. Cukup disegani oleh masyarakat. Tetapi orang pandai itu mempunyai hobi yang merusak, yaitu mencari ikan dengan cara menyetrum. Bukan apa-apa, hanya saja bagaimana mungkin seorang yang pandai serta berwawasan bisa melakukan hal itu? Dan hampir setiap hari ia melakukan itu. Jika sungai adalah suatu negara, dan ikan-ikan di dalamnya adalah rakyat, maka bukankah sama saja orang itu melakukan genosida? Pembunuhan massal yang terencana dan sistematis untuk menghilangkan suatu ras (lebih tepatnya suatu spesies) dari bumi.
Apa sih yang sebenarnya dicari oleh orang-orang semacam itu? Kepuasan? Atau apa? Jika mencari kepuasan, kepuasan macam apa itu, yang puas setelah membunuh. Bahkan memamerkan ke orang lain dengan bangganya.
Dengan melihat segala tanda-tanda yang ada di sekitar, meski ada kemajuan di bidang-bidang tertentu, tidak bisa dipungkiri bahwa secara mental spriritual manusia secara umum mengalami kemunduran. Keliru jika menyebut bahwa peradaban lampau lebih primitif dibandingkan dengan peradaban modern saat ini; manusia yang hidup di masa silam berburu sesuai dengan kebutuhan, mereka juga berusaha untuk membuat sesuatu yang bisa digunakan untuk menutupi tubuh mereka. Sementara, pemandangan yang cukup kontras tersaji di era milenium; perburuan untuk memuaskan nafsu, dan semakin banyak orang-orang yang hanya mengenakan pakaian seadanya di muka umum sementara ada pakaian yang lebih pantas. Kemunduran.
Kemunduran juga dialami manusia modern terkait dengan kemampuannya untuk membaca tanda-tanda alam atau sasmita. Terlihat di sini bahwa kemajuan teknologi yang pesat malah menghilangkan kemampuan manusia untuk membaca alam. Padahal, nenek moyang Indonesia adalah orang-orang tangguh yang bisa membaca tanda-tanda alam yang bisa digunakan sebagai pemandu sebelum melakukan sesuatu.
Maka yang perlu diingat adalah nasihat dari simbah-simbah kita dulu, bahwa manusia hidup di dunia ini harus selalu eling lan waspada, serta ojo dumeh.
Nadyan sira pinunjul | Nanging aja sira njur keladuk | ngelingana wong urip anggendhong lali | Den elingo urip iku | Prayoga ingkang prasaja ||
Tembang macapat Gambuh tersebut harap selalu diingat. Bahwa meski manusia itu adalah makhluk unggul dan diciptakan lebih baik dari seluruh makhluk Tuhan di dunia, janganlah kemudian menjadi sombong, angkuh, atau tamak karena sebenarnya manusia itu selalu membawa sifat ‘lupa’ di dalam dirinya. Ingatlah bahwa hidup sederhana itu lebih baik.
Read more ►

Sunday, October 25, 2015

Edisi Aksara Jawa: Makna Aksara “Ka”

1 comments
Dalam urutan aksara Jawa, setelah “ra” adalah aksara “ka”. Sama seperti aksara-aksara sebelumnya, aksara “ka” juga mempunyai maknanya sendiri. Aksara “ka” secara sederhana mempunyai makna “berkumpul.” Di sini, makna “berkumpul” bisa diartikan bahwa pada setiap manusia mempunyai sifat-sifat ke-ilahi-an, disamping juga sifat-sifat buruk. Maka, berkumpulnya kedua sifat tersebut di dalam diri manusia seringkali memunculkan pertentangan-pertentangan yang berkecamuk di dalam diri manusia.
Namun, ketika manusia bisa mengelola dengan baik sifat-sifat ke-ilahi-an yang ada di dalam diri, yang terjadi adalah kemudian makna yang lebih mendalam daripada “berkumpul”, yaitu sifat yang lebih luas, yang berkaitan dengan hubungan antara manusia dana lam semesta, yaitu “Karsaningsun Hamemayuhayuning Bawana.” Sudah banyak diketahui bahwa “Hamemayuhayuning Bawana” adalah salah satu perwujudan bahwa manusia adalah khalifah di bumi.
Terkait dengan khalifah, ada satu hal yang menarik untuk dibahas. Bahwa pengertian khalifah adalah “pemimpin” atau juga bisa sebagai “pemelihara”, namun disini, pemimpin yang bagaimana? Atau pemimpin di bumi bagian apa? Secara sederhana, pemimpin yang baik selalu ditaati oleh bawahannya, maka ketika pemimpin itu memerintahkan sesuatu, maka bawahannya akan langsung mengerjakannya. Nah, terkait dengan manusia sebagai khalifah di bumi, seharusnya jika manusia memimpin dan mengelola alam dengan baik, maka alam (bumi) akan mematuhi manusia. Sebagai contoh, pada zaman dahulu, sering terdengar kisah-kisah bahwa ada orang-orang sakti yang bisa berjalan di atas air, atau terbang menggunakan pelepah pisang, dan sebagainya.
Terlepas dari hal itu, bahwa manusia memang harus mempunyai semangat “Hamemayuhayuning Bawana”, terutama pada era sekarang dimana modernisasi dan industrialisasi berkembang dengan cepat. Banyaknya kasus kebakaran hutan, manusia secara umum harus bertanggung jawab. Perilaku ceroboh serta tamak untuk mengeksploitasi kekayaan alam tanpa memperhatikan kelangsungan hidup makhluk lain merupakan sifat-sifat yang jauh dari semangat “Hamemayuhayuning Bawana.”
Sikap “Hamemayuhayuning Bawana” bukan hanya menikmati keindahan alam, kemudian berfoto-foto di alam bebas. Lebih dari itu, “Hamemayuhayuning Bawana” adalah sikap menjaga kelestarian lingkungan. Ketika beberapa waktu lalu sebuah berita tentang kebakaran hutan di Gunung Lawu disebabkan oleh api unggun para pendaki, yang notabene adalah “pecinta alam”, tentu saja mengejutkan. Lalu juga, tren yang muncul di media sosial yang memamerkan hewan buruan yang merupakan hewan-hewan langka yang dilindungi. Yang bisa ditarik persamaan dari itu semua, rata-rata pelaku masih merupakan remaja. Cukup memprihatinkan.
Selain bahwa makna aksara “ka” adalah “berkumpul” yang kemudian memunculkan sifat “melestarikan dan menjaga kesejahteraan alam”, aksara “ka” bisa digabungkan dengan aksara lain untuk memunculkan makna lain. Kata “kama” yang penggabungan dari aksara “ka” dan “ma” bisa berarti benih, bibit atau biji. Makna kata ini sangat dekat kaitannya dengan hubungan antara laki-laki dan perempuan. Yaitu ketika berkumpulnya laki-laki dan perempuan dan saling memberikan bibit, benih, atau bijinya masing-masing untuk bersatu dan menjadi sebuah kehidupan yang baru.
Dari benih laki-laki dan perempuan, kehidupan di bumi akan terjaga. Ketika dua manusia laki-laki dan perempuan saling berkumpul untuk menyatukan raga, menyatukan rasa, maka penyatuan benih dari kedua manusia laki-laki dan perempuan akan memberikan kehidupan yang baru. Kehidupan baru inilah yang nantinya akan meneruskan tugas sebagai khalifah di bumi, menjaga serta memimpin bumi dengan semangat “Hamemayuhayuning Bawana.”
Read more ►

Sunday, March 8, 2015

PLTA - Pembangkit Listrik Tenaga Akik

0 comments
Popularitas akik-akik (bukan aki-aki) belakangan memang menanjak tajam seperti tanjakan menuju puncak Suroloyo, atau tanjakan dekat rumah yang sering saya taklukan dengan sepeda kesayangan tiap sore. Bahkan tayangan mistis di televisi pun sering menampilkan batu akik ketika adegan sang paranormal melakukan penarikan benda gaib....


Akik. Entah siapa yang pertama kali membuatnya ujug-ujug terkenal seperti Cita Citata. Namanya pun unik, cocok digunakan sebagai nama grup musik metal; Bacan, Black Opal, Bulu Monyet, Blue King Saphir - dan yang sempat populer di tahun 90an, Merah Delima warna bibirnya, Merah delima yang aku suka, Merah delima, lima, lima..








***








Meroketnya akik memang membawa berkah bagi pengrajin batu akik tradisional dan juga penambang batu dadakan; menyusuri sungai agar menemukan batu akik 20 ton. Mungkin setelah booming batu akik ini juga bakal ada fenomena kepala batu di Indonesia.








Karena Indonesia juga mengenal fenomena aji mumpung, mungkin pemerintah mempunyai wacana untuk membangun PLTA baru. Bukan Pembangkit Listrik Tenaga Air, tapi Pembangkit Listrik Tenaga Akik.








Semoga nasibmu tidak seperti tanaman mellow Gelombang Cinta atau Jenmanii, atau juga tanaman pakan ikan grameh Senthe. Long Live Akik!!!
Read more ►

Wednesday, December 31, 2014

Goodbye 2014...Come on In 2015

0 comments
11:17 PM -- Mungkin ini ketiga kalinya aku menulis sesuatu beberapa saat sebelum pergantian tahun. Eerrmm..bagaimana ya, tapi pergantian tahun 2014 ke 2015 ini sepertinya sedikit lebih senyap. Entah karena adanya kecelakaan pesawat menjelang pergantian tahun atau apa, tapi senyap ini sedikit aneh untuk pergantian tahun yang biasanya hingar bingar.
11:20 PM -- Tetapi semoga saja kesenyapan ini bukan suatu pertanda akan sesuatu yang kurang baik di tahun 2015 nanti - eling lan waspada, kata simbahku. Meskipun begitu, tak seperti pergantian tahun lalu ketika aku menulis di momen yang sama, malam ini aku menulis sambil "mendengarkan" televisi.

11:24 PM -- Sedikit mengingat tahun 2014 yang sebentar lagi akan berakhir; 2014 benar-benar menjadi tahun yang cukup menarik, karena salah satunya aku berhasil membuktikan tentang konektivitas antara manusia dan alam - mestakung atau semesta mendukung, kata sebuah film. Tetapi karena aku berhasil membuktikannya, maka tentu saja ini bukan fiksi melainkan fakta.
11:27 PM -- Hampir tak terdengar suara kendaraan bermotor, meskipun malam ini adalah malam tahun baru dan rumah orang tuaku ini terletak sangat dekat dengan jalan raya. Eermm..jalan raya desa maksudnya..

11:29 PM -- Semoga kesenyapan ini karena orang-orang memilih berdoa di rumah masing-masing daripada berpesta-pesta di luar sana. Semoga..

11:30 PM -- Hmm...masih setengah jam lagi...

11:36 PM -- Kalau dipikir-pikir ternyata aku termasuk ke dalam golongan orang yang ketinggalan jaman. Jaman modern maksudnya. Ketika semua orang sibuk membicarakan BBM (bukan bensin cs, tapi Blackberry Messenger), aku masih sibuk dengan ponsel...ngg...apa itu namanya..pokoknya ponsel yang tidak masuk ke dalam hitungan..

11:38 PM -- Dan ketika orang-orang sibuk membahas BBM (kali ini bensin cs yang naik turun), aku malah sekuat tenaga agar tidak terkena racun upgrade..

11:40 PM -- Mungkin sudah saatnya aku ikut membicarakan BBM (Messenger itu tadi), dan membahas naik turunnya BBM (bensin cs).

11:44 PM -- Hampir tak terdengar suara terompe ataupun kembang api...

11:46 PM -- Itu di televisi kok sudah meriah? Jam-ku rendet mungkin...
Atau kemungkinan besar mereka yang sudah tidak sabar...

11:48 PM -- Seorang kawan karib memposting sesuatu yang bagus, dan Insha Alloh aku akan melakukannya. Trims bung, sudah mengingatkan..

11:51 PM -- Wudhu, dan bersiap untuk menyepi sebentar di mushola sempit namun nyaman di rumah.

12:04 AM -- Alhamdulillah aku melakukan sesuatu yang lebih berguna tepat di pergantian tahun 2014-2015.
Dan bunyi kembang api sudah terdengar. Alhamdulillah lagi, karena masih ada yang memeriahkan kesenyapan ini.

12:08 AM -- Mau nulis apa lagi ya?

12:10 AM -- Selamat tahun baru 2015 aja deh, semoga menjadi tahun yang lebih baik bagi kita semua. Semoga Alloh SWT memberi kesembuhan pada saudara-saudara kita yang sedang sakit, memberi kemudahan bagi saudara-saudara kita yang sedang kesusahan, memberi solusi pada saudara-saudara kita yang sedang mempunyai masalah, dan semoga-semoga yang lain..Amin..Amin..Amin..

12:12 AM -- Wilujeng Wilujeng Wilujeng...Kuat Kuat Kuat...




Read more ►
 

Copyright © nglengkong Design by O Pregador | Blogger Theme by Blogger Template de luxo | Powered by Blogger