Rabu, 23 Mei 2012

Kidung Rumekso ing Wengi: Tembang Sekaligus Doa

0 komentar
Kidung Rumekso ing Wengi merupakan salah satu dari sekian banyak warisan yang ditinggalkan oleh Sunan Kalijaga yang masih lestari sampai saat ini. Kidung ini terdiri dari lima bait, berbentuk tembang Macapat berjenis Dhandhanggula. Rumekso ing Wengi, yang jika diterjemahkan secara bebas dalam Bahasa Indonesia menjadi “Perlindungan di Malam Hari.” Jika diamati, syair tembang ini memang menyiratkan bahwa tembang ini bisa juga berfungsi sebagai doa. Bagi orang muslim mungkin doa selalu dilafalkan dalam Bahasa Arab, tapi bagi orang muslim yang kurang memahami Bahasa Arab, berdoa dengan menggunakan Bahasa Arab akan sedikit merasa kesulitan. Bukankan Tuhan mengetahui apa saja, termasuk semua bahasa di dunia ini?
Sebagai salah satu wali, Sunan Kalijaga memahami hal itu. Maka dalam dakwahnya Sunan Kalijaga menggunakan tradisi asli yang dimodifikasi sedemikian rupa sehingga bisa menyatu dengan agama Islam. Dengan kata lain, Islam menyempurnakan apa yang sudah ada di Jawa. Tembang terkenal seperti Ilir-ilir contohnya.
Kidung Rumekso ing Wengi ini konon mampu menjadi tolak bala, baik yang berasal dari manusia ataupun serangan-serangan yang bersifat gaib. Bisa diamati pada syairnya yang menunjukkan hal tersebut. Memang sedikit sulit dipahami, tapi sebenarnya hal ini hampir mirip dengan doa-doa yang biasa dilafalkan, bedanya hanya menggunakan Bahasa Jawa. Berikut adalah syair Kidung Rumekso ing Wengi, yang terdiri dari lima bait berbentuk tembang Macapat Dhandhanggula.

Pupuh 1
Ana kidung rumekso ing wengi| Teguh ayu luputa ing lara| Luput ing bilahi kabeh| Jin setan datan purun| Paneluhan tan ana wani| Miwah panggawe ala| Gunane wong luput| Geni atemahan tirta| Maling arda tan ana ngarah mring kami| Tuju nduduk pan sirna|
Pupuh 2
Sakehing lara pan samya bali| Sakeh ngama pan sami miruda| Welas asih pandulune| Sakehing braja luput| Kadi kapuk tiba neng wesi| Sakehing wisa tawa| Sato galak tutut| Kayu aeng lemah sangar| Songing landhak guwaning wong neng lemah miring| Myang pakiponing merak|
Pupuh 3
Pagupakaning warak sakalir| Nadyan arca myang segara asat| Temahan rahayu kabeh| Apan sarira ayu| Ingideran kang widadari| Rineksa malaekat| Lan sagung para Rasul| Pinayungan ing Hyang Suksma| Ati Adam utekku Bagindha Esis| Pangucapku ya Musa|
Pupuh 4
Napasku Nabi Ngisa linuwih| Nabi Yakub pamiyarsaningwang| Dawud swaraku mangke| Nabi Brahim nyawaku| Nabi Sleman kasekten mami| Nabi Yusup rupengwang| Edris ing rambutku| Bagindha Ngali kulitingwang| Abubakar getih daging Ngumar singgih| Balung Bagindha Ngusman|
Pupuh 5
Sungsumingsun Patimah linuwih| Siti Aminah bayuning angga| Ayup ing ususku mangke| Nabi Nuh ing jejantung| Nabi Yunus ing otot mami| Netraku ya Muhammad| Pamuluku Rasul| Pinayungan Adam Kawa| Sampu pepak sakathahe para Nabi| Dadya sarira tunggal|
Read More..

Rabu, 16 Mei 2012

Stand Up Comedy Indonesia: Baru atau Mengulang?

2 komentar
Sejak beberapa waktu terakhir komedi tunggal yang sering disebut stand-up comedy mendapat tempat istimewa di hati para penikmat komedi Indonesia. Stand-up comedy dianggap sebagai acara komedi yang cerdas, dan menawarkan hal yang berbeda dari komedi-komedi yang selama ini laris di Indonesia: grup lawak dengan bintang tamu artis yang menjual cemoohan tentang penampilan fisik sebagai bahan candaan. Berbeda dengan itu, stand-up comedy mengangkat tema-tema sederhana sampai tema sulit yang kemudian dikemas dalam pertunjukkan tunggal satu orang. Kesulitannya tentu saja comic (sebutan bagi para pelaku stand-up comedy), harus mampu mengolah tema menjadi materi yang menghibur.
Konon, stand-up comedy ini bermula dari daratan Amerika (seperti berbagai hal lain yang mengikuti tren dari Amerika), yang kemudian menjadi sebuah tren di Indonesia, yang berawal dari kafe-kafe. Di Amerika, materi-materi yang digunakan untuk stand-up comedy sangat bebas, mulai dari hal yang ringan, sampai permasalahan suku, agama, dan ras. Berbeda dengan di Indonesia yang (masih) menghargai perbedaan hal-hal tersebut.

Jika diamati, sebenarnya stand-up comedy bisa dibilang telah ada sejak lama. Para penikmat komedi, khususnya Dagelan Mataram, pasti mengenal komedi yang bisa dibilang mirip dengan stand-up comedy. Pentolan Dagelan Mataram, almarhum Basiyo adalah salah satu maestro di dunia perkomedian Indonesia. Guyonannya sangat khas, sangat berbeda dengan komedi sekarang yang seperti dituliskan di atas, menggunakan kekurangan fisik sebagai jualan utama. Kelompok Dagelan Mataram dipimpin oleh Basiyo, Panggung, Ngabdul, dll. Ngabdul sampai saat ini masih meneruskan dagelan model Mataraman ini di acara Pangkur Jenggleng TVRI Yogyakarta.
Biasanya, sebelum memasuki jalan cerita, ada seseorang yang berbicara sendirian yang menceritakan sekilas tentang cerita yang akan ditampilkan. Hal ini mirip dengan stand-up comedy yang mempunyai metode yang sama dalam menyampaikan sebuah tema. Bedanya, dalam stand-up comedy, penonton sering diajak berinteraksi sementara dalam Dagelan Mataram tidak. Keunggulan Basiyo dalam setiap penampilannya adalah karena; menggunakan tata-krama berbahasa, tidak ada kata-kata kotor dan kekerasan, dan tertib menurut plot (Prabowo, 2007: 37). Selain itu, Dagelan Mataram juga menggunakan guyonan-guyonan khas daerah sebagai penguat jalan cerita.
Metode ini sempat diteruskan oleh Srimulat yang sempat sukses, tetapi akhirnya kalah dengan komedi-komedi modern seperti sekarang ini. Seorang pelawak muncul seorang diri di awal pertunjukkan, biasanya nggrundel (menggerutu), atau ngrasani (membicarakan orang lain, biasanya majikan, atau orangtua). Biasanya omongan pelawak seorang diri itu memancing tawa penonton, dan itu mirip dengan konsep stand-up comedy yang berdiri seorang diri kemudian berbicara tentang apa saja selama masih dalam tema.
Melihat hal itu, akan lebih membanggakan jika misalnya, disebutkan stand-up comedy Indonesia berawal dari Dagelan Mataram daripada menyebutkan stand-up comedy terinspirasi dari Amerika. Apapun itu, stand-up comedy memang menawarkan sesuatu yang berbeda dengan acara komedi-komedi yang telah terkenal sebelumnya di Indonesia. 
Read More..

Sabtu, 28 April 2012

Budaya Indonesia: Seperti Apa?

0 komentar
Rasa-rasanya tidak ada negara lain di dunia ini yang sekompleks dan selengkap Indonesia. Terdiri atas beberapa suku bangsa yang kemudian menyatu menjadi Indonesia, negara ini pantas bangga, karena tidak ada dominasi antara satu suku atas suku lain. Semuanya sama. Jika kita lihat Amerika yang sekarang misalnya, Suku Indian malah menjadi minoritas di tanahnya. Hal yang sama juga dialami oleh Suku Aborigin. Inca, Maya, malah lebih parah. Indonesia beruntung. Tidak ada dominasi satu suku, selain beberapa catatan-catatan di masa lalu. Belanda dan Jepang yang menjajah Indonesia juga tidak mampu melenyapkan suku-suku asli Indonesia, sementara Cortez dan Pizarro berhasil menyingkirkan Inca dan Maya dari tanah mereka sendiri. Sekali lagi, Indonesia patut berbangga dengan hal itu.
Terlepas dari hal-hal di atas, sebenarnya tantangan bangsa Indonesia saat ini ada pada hal-hal yang sebenarnya ringan. Beberapa tahun lalu, sebelum demam K-Pop seperti sekarang ini, masyarakat Indonesia tergila-gila dengan segala sesuatu yang berbau Amerika. Mulai dari musik sampai mode pakaian. Sementara sekitar dua tahun belakangan ini, masyarakat Indonesia khususnya kaum muda mulai tergila-gila dengan budaya Korea. Uniknya, meskipun Korea terbagi atas dua wilayah, Utara dan Selatan, hanya Korea Selatan yang mempunyai banyak penggila di Indonesia.
Namun seperti pepatah, “sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit”, hal ini akan berbahaya jika kaum muda malah lebih menyukai kebudayaan Korea (khususnya), atau kebudayaan asing (umumnya), daripada kebudayaan Indonesia. Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah, kebudayaan Indonesia itu yang seperti apa?
Seperti yang telah diuraikan di atas bahwa Indonesia terbentuk dari beberapa suku bangsa yang tersebar di wilayah Nusantara dari Sabang sampai Merauke. Lantas, apakah kemudian kebudayaan Indonesia adalah gabungan kebudayaan-kebudayaan dari suku-suku bangsa tersebut? Lain halnya dengan kebudayaan jawa, misalnya, atau kebudayaan sunda, bali, ataupun dayak. Kebudayan-kebudayaan tersebut dapat dilihat dengan jelas. Jika kata Gus Dur, kaum muda Indonesia harus mengapresiasi karya sastra Indonesia, hal itu (sastra Indonesia) sedikit lebih dapat dipahami daripada kebudayaan Indonesia. Apakah kebudayaan Indonesia itu adalah kebudayaan yang mengadopsi kesantunan Jawa, Sunda, Dayak, atau Bali, kemudian dikombinasikan dengan ketegasan dari Batak, dan dicampur lagi dengan semangat dari Sulawesi, dan juga kekuatan adaptasi yang luar biasa dari Papua? Itu baru segelintir suku, belum semuanya. Itulah Indonesia.
Mungkin sebenarnya kaum muda Indonesia merasa bingung harus bersikap seperti apa. Karena ketika mereka ingin bersikap sebagaimana sukunya, akan dianggap ketinggalan jaman, jadul, kuno, dan sebutan-sebutan yang cukup merendahkan lainnya. Sementara dengan kebudayaan Indonesia, saat ini tidak ada tokoh yang bisa dijadikan contoh dalam berperilaku “Indonesia”. Wakil rakyat bahkan telah bertingkah laku yang agaknya bukan perilaku dari wilayah Indonesia. Maka, ketika pemerintah meminta kaum muda agar tidak melupakan budaya bangsa sendiri, tampaknya mereka harus berkaca terlebih dahulu kemudian memberi contoh bagaimana berperilaku “Indonesia” agar kaum muda mempunyai figur yang bisa dicontoh.
Maka ketika kaum muda berperilaku sesuai dengan asalnya (suku aslinya), entah dari suku mana, sebenarnya pada suatu titik mereka akan bertemu dalam sebuah tempat yang di situ bersemayam kebudayaan yang benar-benar “Indonesia”, karena Indonesia terbentuk dari saripati kebudayaan-kebudayaan yang telah ada sebelumnya, dan itulah yang membentuk kebudayaan Indonesia harus seperti apa. Dan tahun ini, menurut para penghayat kepercayaan, merupakan titik balik Indonesia menuju ke arah yang lebih baik.
Bahwa sebutan-sebutan jadul, kuno, tak gaul, atau apapun yang ditujukan pada kebudayaan-kebudayaan pembentuk bangsa Indonesia, adalah tak benar. Ketika banyak orang-orang pandai yang menuntut ilmu ke luar negeri kemudian berperilaku seperti negara luar negeri tersebut, dan penggemar-penggemar kebudayaan luar negeri yang menyebutkan hal itu, tak usah dihiraukan. Indonesia adalah Indonesia, tak peduli berjuta-juta penggemar kebudayaan luar negeri ada di Indonesia, negeri ini tak akan hilang begitu saja, karena kebudayaan-kebudayaan asli Indonesia masih berdiri di garis depan, sekaligus membentuk dan melindungi Kebudayaan Indonesia.
Wilujeng wilujeng wilujeng
Kuat kuat kuat

Read More..

Minggu, 22 April 2012

Mahesa Jenar: Jagoan Tanah Jawa – Antara Tokoh Fiktif atau Fakta

0 komentar
Sebuah tim sepakbola di daerah Jawa Tengah, tepatnya di Semarang yang bernama PSIS Semarang, mempunyai julukan Laskar Mahesa Jenar. Sementara di Solo, sebuah stadion sepakbola diberi nama Stadion Manahan. Di sebuah tempat di lereng Gunung Merapi dipercaya sebagai tempat bertemunya tiga tokoh, Kebo Kanigara, Kebo Kenanga (Ki Ageng Pengging – ayah Joko Tingkir), dan seorang prajurit Demak bernama Rangga Tohjaya.
Dalam sebuah cerita silat populer yang berjudul Nagasasra dan Sabuk Inten, karangan S.H Mintardja, Mahesa Jenar menjadi tokoh utamanya. Dalam cerita tersebut, Mahesa Jenar merupakan murid Pangeran Handayaningrat, bersama-sama dengan Kebo Kanigara dan Kebo Kenanga. Kemudian dalam cerita yang berseting pada masa keemasan Kerajaan Demak ini, Mahesa Jenar mengabdikan diri sebagai prajurit di Demak. Sebagai prajurit ia berjasa dalam mengamankan dua keris pusaka, Keris Nagasasra dan Sabuk Inten yang dicuri oleh penjahat terkenal bernama Lawa Ijo dari Alas Mentaok (Kotagede). Atas jasa itu ia memperoleh gelar keprajuritan dengan sebutan Rangga Tohjaya. Pada suatu kali ia berkelana, dan menggunakan nama Manahan.
Itulah sekilas mengenai kisah seorang tokoh bernama Mahesa Jenar, yang selama beberapa waktu menjadi topik yang cukup hangat mengenai keberadaannya, yang oleh beberapa kalangan merupakan tokoh nyata yang benar-benar hidup di masa lalu, sementara oleh kelompok lain, Mahesa Jenar hanyalah tokoh murni karangan belaka.
Sebenarnya, apa yang menjadikan tokoh ini sangat terkenal sekaligus kontroversial adalah tidak terlepas dari pengarang, yaitu S.H Mintardja, yang dengan piawai meramu peristiwa-peristiwa, tokoh-tokoh, dan tempat-tempat yang benar-benar ada, dengan peristiwa-peristiwa, tokoh-tokoh, dan tempat-tempat fiksi menjadi sebuah jalan cerita yang utuh. Pada saat itu, di Jawa agama Islam sedang berkembang, dan salah satu yang paling dikenang pada saat itu adalah konflik antara Wali Songo dan Syeh Siti Jenar. Cerdiknya, S.H Mintardja tidak mengambil tema itu sebagai kisah utama (karena S.H Mintardja adalah non-muslim, sehingga ia mengetahui keterbatasannya jika ia menggunakan tema itu), tapi mengambil tema lain sebagai permasalahan utama, yaitu tentang dua keris pusaka Tanah Jawa. S.H Mintardja mengetahui benar bahwa konon kerajaan di Jawa harus mempunyai dua keris itu jika ingin kerajaannya maju.
Dua keris tersebut (benar-benar ada, sekarang tersimpan di Kraton Surakarta), merupakan sipat kandel (pusaka) bagi siapapun yang ingin menjadi raja di Tanah Jawa, ditambah satu buah keris bernama Keris Kiai Sangkelat (juga benar-benar ada, dibuat pada masa Kerajaan Majapahit). Maka dibuatlah tema dengan keris-keris tersebut sebagai pusat permasalahan.
Yang membuat cerita ini sangat populer adalah karakteristik sang tokoh utama, Mahesa Jenar, yang benar-benar menggambarkan sosok manusia Jawa tulen. Ia tak tergoda dengan gemerlap kraton, dan memilih keluar dari Kraton Demak, dan berkelana. Ia benar-benar sosok manusia tanpa pamrih, dan lebih suka mengalah meskipun ilmu silatnya cukup tinggi. Pendiriannya teguh, tak mudah berubah jika telah menyinggung tentang kebenaran. Ia akan membela tanpa rasa takut. Namun sebagai seorang manusia, khususnya sebagai laki-laki, ia tak bisa berbuat banyak di hadapan seorang wanita, bahkan cenderung sangat menghargai wanita. Hal itulah yang membuat Mahesa Jenar sangat populer di kalangan masyarakat.
Selain itu, tokoh-tokoh yang ada di cerita ini sangat kontras antara tokoh baik dan tokoh jahat. Lawa Ijo, Sima Rodra, Pasingsingan, Jaka Soka, merupakan beberapa tokoh jahat. Sementara Mahesa Jenar, Ki Ageng Pandan Alas, Ki Ageng Sora Dipayana adalah beberapa tokoh baik.
Inilah beberapa tokoh yang benar-benar ada di masa lalu yang mengambil peran di kisah ini: Pangeran Handayaningrat (Ki Ageng Pengging Sepuh – kakek Jaka Tingkir), Kebo Kanigara (putra pertama Pangeran Handayaningrat yang menjadi pertapa), Kebo Kenanga (Ki Ageng Pengging – murid Syeh Siti Jenar dan ayah Jaka Tingkir), Ki Ageng Sela, Ki Ageng Ngenis, Sultan Trenggana (Sultan Demak), Pangeran Timur, Sambernyawa, Sunan Prawata, dan Jaka Tingkir.
Sementara tokoh-tokoh fiksi adalah: Mahesa Jenar, Lawa Ijo, Jaka Soka, Nagapasa, Pasingsingan, Radite, Anggara, Arya Salaka, Ki Ageng Gajah Sora, Ki Ageng Lembu Sora, Rara Wilis, Mantingan, dll.
Terlepas dari perdebatan antara fiksi atau fakta, tokoh Mahesa Jenar ini telah menjelma menjadi sosok impian masyarakat Jawa, yang benar-benar berjuang tanpa pamrih, lebih memilih menyingkir dan tidak dikenal daripada berdiam di Kraton Demak dengan segala gemerlapnya. Kisah fenomenal ini bahkan telah mempunyai soundtrack-nya sendiri, yang diyanyikan oleh maestro keroncong, Waldjinah, dengan judul Mahesa Jenar.
Lirik lagu tersebut sangat menggambarkan sosok Mahesa Jenar yang berjuang tanpa pamrih mencari pusaka kerajaan yang menghilang. Inilah lirik lagu yang berjudul Mahesa Jenar:
Kaloking ra pilih tanding                                (Tersebutlah satriya pilih tanding)
Mahesa Jenar satriya ing Pengging                (Mahesa Jenar ksatria dari Pengging)
Satriya didya lelana ngupaya                          (Ksatria yang berkelana mencari)
Sabuk Inten Nagasasra                                   (Sabuk Intend an Nagasasra)
Tansah marbrengga bebaya               (Selalu menempuh bahaya)
Mahesa Jenar bekti ing Negara          (Mahesa Jenar berbakti pada negara)
Mandhap jurang nasak wana wasa    (Menuruni jurang menembus hutan)
Kayungyun hyuwananing rasa           (……………………..)
Para kang ambeg angkara                             (Orang-orang yang jahat)
Memalangi, sedya utama                                (Selalu menghalanginya)
Nanging pinesthi lebur musna                        (Akan tetapi selalu kalah)
Ketiban aji Sasra Birawa                                (Karena ajian Sasra Birawa)
Nora pamrih kalenggahan                  (Tak menginginkan kedudukan)
Mahesa Jenar wani kataniris              (Mahesa Jenar hidup prihatin)
Ngronce atining asmara kalawan       (Menemukan tambatan hatinya kepada)
Wong ayu Dyah Rara Wilis                 (Gadis manis bernama Dyah Rara Wilis)


Read More..

Kamis, 12 April 2012

Edisi Aksara Jawa: Makna Huruf “Na” dan “Ca”

0 komentar
Sesuai dengan urutannya, aksara setelah “Ha” adalah “Na” dan “Ca”. Mengapa dua aksara ini digabung dalam satu ulasan, karena hal ini berhubungan dengan makna yang akan diulas di bagian ini. Sebelumnya telah dijabarkan mengenai makna aksara “Ha”, yaitu “Hurip” atau dalam bahasa Indonesia berarti “Hidup”. Di bagian ini akan dijabarkan mengenai makan aksara kedua dan ketiga, yaitu “Na” dan “Ca”.
Yang pertama, yaitu “Na” merupakan pengejawantahan dari “Nur” atau cahaya. Seperti yang telah diketahui bahwa Nur adalah bahasa arab untuk “cahaya” yang telah diserap ke dalam bahasa Indonesia. Mengapa setelah “Hurip” ada “Nur”? Apakah tidak terlalu memaksakan ketika aksara jawa yang berbunyi “Na” diartikan sebagai “Nur” hanya karena kemiripan pengucapan? Kemungkinan hal tersebut ada, tetapi yang ditekankan di sini bukanlah mengenai masalah linguistik antara bahasa satu dengan yang lain, tetapi pemaknaan akan sesuatu. Manusia bisa hidup karena Tuhan yang menciptakan. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa cahaya Tuhan ada di dalam setiap diri manusia. Huruf “Na” inipun ternyata hanya sebuah kependekan dari “Nur candra Gusti Ingkang Murbeng Dumadi” (ternyata kata “nur” juga telah diserap ke dalam bahasa jawa). Lantas apa maksud dari kalimat itu? Kalimat tersebut cukup jelas bahwa, cahaya Tuhan Yang Maha Pencipta (ada di dalam diri manusia).
Kemudian aksara “Ca” ternyata mempunyai kesamaan dengan aksara “Na”, yaitu berarti “Cahya”, yang artinya kurang lebih sama dengan “cahaya”. Kenapa hal ini bisa terjadi, “Cahya” di sini juga merupakan cahaya Ilahi yang ada dalam setiap diri manusia yang tercermin pada tingkah laku manusia yang baik. Manusia mempunyai dua sifat yang saling bertentangan, yaitu sifat baik dan buruk. Cahaya Ilahi bisa diinterpretasikan sebagai wujud perbuatan baik atau tingkah laku terpuji yang dilakukan manusia. Aksara “Ca” ini juga merupakan sebuah penyederhanaan dari sebuah kalimat yang penuh makna, “Cipta wening, cipta mandulu, cipta dadi”, yang artinya kurang lebih bahwa arah dan tujuan pada Tuhan Yang Maha Esa.
Kesimpulannya adalah, “cahaya” yang terefleksikan dalam dua aksara ini merupakan sifat-sifat ilahiah yang ada dalam diri manusia. Hal ini ternyata penting sehingga membutuhkan dua aksara yang berbeda untuk menegaskan mengenai hal ini, bahwa tingkah laku yang baik merupakan anugrah dari Tuhan, dimana Tuhan juga menginginkan manusia agar selalu berbuat baik di manapun berada. 
Read More..

Senin, 09 April 2012

Musik Rock: Musik Keras atau Musik Mengayun?

4 komentar
Are you ready to rock? Sebuah kalimat pembuka yang umumnya terlontar dari bibir sang vokalis grup rock, baik di negara asalnya maupun di Indonesia. Hanya nampaknya di Indonesia telah terjadi pergeseran makna, pada kata “rock”. Meskipun begitu, sepertinya hal tersebut tidak terlalu dipedulikan oleh penikmat musik rock. Akan tetapi bolehlah untuk sekedar saling bertukar informasi atau berdiskusi mengenai transfer kata ini.
Menurut Kamus Oxford, terma “rock” mempunyai beberapa arti, salah satunya, untuk membahas masalah ini, dapat kita ambil arti yang berbunyi, “move gently backwards and forwards or from side to side.” Kalimat tersebut dapat disederhanakan menjadi “menggeleng” atau “mengangguk”, menilik sikap para pemain musik rock ketika memainkan musik mereka. Nah, dengan makna tersebut, jelaslah bahwa musik rock bukan berarti musik keras, tetapi musik mengayun.
Lalu kenapa terjadi pergeseran makna yang begitu jauh? Bukan menyalahkan suatu pihak, tetapi hal tersebut sangat berhubungan dengan pembelajaran Bahasa Inggris yang konvensional, dimana siswa disuruh menghafalkan kosakata Bahasa Inggris dengan artinya dalam Bahasa Indonesia. Memang, “rock” juga dapat berarti “batu”, dan “batu” memang keras, akan tetapi kita harus memaknai sesuatu dengan konteksnya, agar pergeseran-pergeseran makna tidak terjadi begitu jauh.
Mungkin kita ingat lagu milik grup rock, Queen, yang berjudul “We Will Rock You”, nah apakah arti kalimat tersebut? Jika kita memaknai “rock” dengan “batu”, yang terjadi adalah “Kita akan Membatumu”. Akan tetapi jika kita menggunakan makna yang lain, kita akan mendapatkan, “Kita akan menggoyang mu”, yang terdengar lebih enak. Contoh lain, “Rock a baby”. Jika menggunakan “batu”, maka yang terjadi adalah seperti ini, “Membatu seorang bayi”, yang malah menjadi tak berarti. Hal yang berbeda dapat dijumpai ketika mengartikan dengan, “Mengayun seorang bayi”, yang berarti bayi yang sedang ditidurkan di dalam keranjang bayi yang bergoyang-goyang.
Pada akhirnya, bahasa adalah produk budaya, dan tanpa bahasa tak akan ada benda-benda atau sesuatu. Namun, diperlukan kejelian dalam memaknai bahasa orang lain, kalimat orang lain, karena setiap orang mempunyai pandangan terhadap bahasa yang berbeda-beda. 
Yang selalu sama dari musik rock, baik di negara asalnya dan di Indonesia adalah, mereka sama-sama keren, dan saya merupakan salah satu penikmat musik rock, dan saya selalu mengangguk-anggukkan kepala ketika Metallica atau Power Metal mengalun kencang. Are you ready to rock???
Read More..

Sabtu, 07 April 2012

Ngantru: Yang Tak Bisa Dilupakan dari Sungai Progo dan Kamijoro

2 komentar
Seperti biasanya, setiap senja menjelang, tempat itu selalu menjadi tujuan utama bagi beberapa pemuda pemudi yang ingin menyaksikan matahari tenggelam di balik deretan pegunungan yang terlihat jelas, seolah-olah berdiri di atas sungai yang mengalir dari lereng Merapi sampai ke Laut Selatan. Bahkan sinar matahari yang kemerahan membuat air sungai menjadi keemasan, membuat siapapun betah berlama-lama di tempat itu. Tempat itu oleh warga sekitar diberi nama Ngantru.
Terletak di Pedukuhan Kamijoro, Desa Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, tempat ini merupakan sebuah bendungan yang dibangun pada masa kolonial. Bendungan ini mengalirkan air dari Sungai Progo ke berbagai tempat di Kabupaten Bantul melalui sebuah pipa raksasa yang dapat disaksikan di sepanjang jalan utama Kecamatan Pajangan. Bendungan ini merupakan salah satu bangunan peninggalan masa kolonial yang berada di wilayah Kecamatan Pajangan. Sementara di Pedukuhan Kamijoro sendiri, setidaknya terdapat tiga buah bangunan peninggalan Belanda, seperti Pleret dan Jembatan Kamijoro, yang telah diperluas beberapa waktu lalu.
Ngantru sendiri merupakan tempat yang cukup menarik dan potensial untuk digarap menjadi sebuah tempat wisata alam. Meskipun tempatnya tidak begitu luas, akan tetapi dengan segala keunikannya, tempat ini mempunyai keistimewaan tersendiri bagi masyarkat sekitar. Seperti bangunan-bangunan tua lain, tempat ini pun tak bisa dipisahkan dari mitos. Apalagi di atas bendungan ini terdapat sebuah pohon  randu alas yang sudah cukup tua. Konon, bagi orang yang mampu melihat dengan hatinya, pohon tersebut adalah sebuah rumah yang sangat megah. Selain itu, penduduk sekitar yang mempunyai gawe (hajat) harus memberi semacam sesaji di tempat itu, karena jika tidak akan terjadi sesuatu. Wallahu’alam.
Terlepas dari hal itu, Ngantru tidak bisa dipisahkan dari Sungai Progo, begitu pula sebaliknya. Seorang kerabat Kraton Yogyakarta pernah berkata di Majalah Djoko Lodang, bahwa membicarakan Sungai Prayoga (konon Sungai Progo dahulu bernama Sungai Prayoga) tidak bisa dipisahkan dari Kamijoro dan Ngantru. Bendungan ini juga menjadi pemasok air bagi sawah-sawah di kecamatan-kecamatan lain di Kabupaten Bantul.

Read More..
 
Copyright 2011 @ Nglengkong!
Design by Wordpress Manual | Bloggerized by Free Blogger Template and Blog Teacher | Powered by Blogger