Monday, December 5, 2016

Api di Bukit Menoreh: Kisah Panjang yang Tak Terselesaikan

0 comments
Sekali lagi ternyata saya harus menuliskan tentang karya Pak S.H Mintardja yang lain, yang merupakan karya terpanjang beliau - yang bahkan belum sempat terselesaikan hingga saat-saat terakhir dari Pak S.H Mintardja. Serial tersebut saat ini masih dimuat secara bersambung di Harian Kedaulatan Rakyat. Apa lagi kalau bukan serial monumental Api di Bukit Menoreh. Meskipun pada awalnya saya ragu untuk membaca kisah ini karena beberapa hal: kisahnya yang sangat panjang yang tak terselesaikan itulah yang sempat membuat saya ragu. Tapi, apa daya, godaan karya-karya Pak Mintardja memang sulit dilawan.
Setelah beberapa seri terbaca, ternyata serial Api di Bukit Menoreh ini memiliki sedikit hubungan, bahkan jika boleh dikatakan merupakan sambungan dari kisah populer lainnya, Nagasasra dan Sabuk Inten. Jika Nagasasra dan Sabuk Inten berlatar era Demak akhir, maka Api di Bukit Menoreh berlatar era yang lebih muda yaitu Pajang akhir hingga Mataram. Selain karena Pajang dan Mataram sendiri memang kepanjangan dari Demak, dalam kedua kisah tersebut sempat dituliskan, meskipun sedikit kaitan antara kedua kisah legendaris tersebut. 

Terlepas dari hubungan antara kedua kisah tersebut, serial Api di Bukit Menoreh memang lebih kompleks dari Nagasasra dan Sabuk Inten. Kisah Nagasasra dan Sabuk Inten terpusat pada usaha tokoh utama, Mahesa Jenar yang berusaha menemukan kedua pusaka kerajaan tersebut. Berbeda dengan kisah yang lebih panjang, Api di Bukit Menoreh yang pada awalnya terpusat pada perselisihan antara Pajang dan Jipang, kemudian bergeser ke Mataram. Namun persamaan dari kedua kisah tersebut adalah adanya satu tokoh penting yang memiliki hubungan langsung dengan Majapahit. Dalam hal ini keturunan Raja Majapahit terakhir: Pangeran Buntara di Nagasasra dan Sabuk Inten, kemudian Pamungkas alias Kiai Gringsing di Api di Bukit Menoreh.

Persamaan yang lainnya, terdapat tokoh fiksi yang menjadi kawan karib dari tokoh nyata. Pada serial Api di Bukit Menoreh, tokoh utama Agung Sedayu merupakan kawan karib dari Raden Sutawijaya alias Raden Ngabehi Loring Pasar alias Panembahan Senopati, serta Pangeran Benawa, putra Sultan Hadiwijaya alias Jaka Tingkir. Kemudian ada juga tokoh protagonis lain Glagah Putih yang berkawan karib dengan Raden Rangga, putra Panembahan Senopati. Sementara di kisah Nagasasra dan Sabuk Inten, tokoh protagonis bernama Arya Salaka - yang kemudian disebut Ki Gede Banyubiru di serial Api di Bukit Menoreh - merupakan kawan karib Jaka Tingkir semasa muda.

Karakter-karakter setiap tokoh juga sedikit banyak mirip satu sama lain. Meski begitu, kesan dan nuansa antara kedua kisah tersebut tidaklah sama. Dalam hal kesan dan nuansa, kisah Nagasasra dan Sabuk Inten terasa lebih kuat daripada Api di Bukit Menoreh. Tentu saja kita ingat bahwa tokoh utama di serial Nagasasra dan Sabuk Inten, Mahesa Jenar sempat dianggap sebagai tokoh nyata yang benar-benar ada. Terkait hal ini, diyakini oleh beberapa orang, di lereng Merapi terdapat sebuah tempat yang pernah digunakan oleh kakak beradik Ki Kebo Kanigara, Ki Kebo Kenanga - ayah Jaka Tingkir, dan seorang prajurit Demak bernama Rangga Tohjaya sebagai tempat pertemuan. Rangga Tohjaya sendiri merupakan nama keprajuritan Mahesa Jenar. Selain itu masih banyak hal lainnya.

Kesan lain yang menunjukkan bahwa Nagasasra dan Sabuk Inten lebih kuat dari Api di Bukit Menoreh adalah perwatakan tokoh utama, dalam hal ini Mahesa Jenar dan Agung Sedayu. Mahesa Jenar ini bisa dianggap sebagai orang dengan sifat-sifat idaman para pria: cerdas, teguh pendirian, kuat, tenang, santun, tidak mudah marah, tak mengenal takut membela kebenaran, kebapakan, sangat menghormati orang tua, namun agak tertutup dengan wanita. Sementara Agung Sedayu memiliki watak yang lebih kompleks: pada awalnya seorang yang sangat penakut, bahkan sangat akut. Kemudian karena suatu hal wataknya berubah menjadi pemberani, penuh perhitungan yang cenderung ragu-ragu, tenang, cerdas, pemalu di hadapan wanita, dan yang sangat ditonjolkan di karakter Agung Sedayu ini, tidak mudah marah bahkan cenderung tidak bisa marah walau dipancing dengan cara apapun. Meski dalam beberapa kesempatan Agung Sedayu ini merasa tersinggung, tetapi tidak pernah meledak-ledak seperti Mahesa Jenar.

Kemudian yang bisa dibandingkan lagi antara keduanya adalah kemampuan beladiri alias kanuragan. Mahesa Jenar sejak awal memang dikisahkan merupakan tokoh yang memiliki kemampuan tinggi, sementara Agung Sedayu dikisahkan merupakan seorang yang penakut meskipun memiliki kemampaun bidik yang luar biasa sehingga bisa membidik panah yang sedang dilepaskan dari busurnya. Kemudian sejalan dengan kisah yang berkembang, Mahesa Jenar mendapatkan kemampuan yang luar biasa setelah bertemu dengan Ki Kebo Kanigara. Sementara Agung Sedayu meskipun juga belajar secara bertahap, namun kemampuannya tiba-tiba melompat sangat tinggi. Jika Mahesa Jenar sangat terlihat sebagai murid satu perguruan, dalam hal ini Perguruan Pengging, maka Agung Sedayu memiliki berbagai ilmu dari berbagai cabang perguruan. Jika Mahesa Jenar hanya memiliki satu ilmu andalan yang disebut Sasra Birawa plus tubuhnya yang kebal racun, maka Agung Sedayu memiliki berbagai ilmu diantaranya Aji Kakang Kawah Adi Ari-ari, Ilmu meringankan tubuh, ilmu kebal, kebal racun, lontaran tenaga melalui sorot matanya, serta ilmu puncak dari perguruan Orang Bercambuk alias Perguruan Windujati.

Namun, mungkin karena berbagai ilmu nggegirisi tersebutlah yang menjadikan pertarungan di Api di Bukit Menoreh kurang bisa dicerna akal. Berbeda dengan Nagasasra dan Sabuk Inten, yang benar-benar memberi kesan bahwa Mahesa Jenar adalah orang yang perkasa dan tangguh. Pertarungan yang benar-benar beradu fisik dan tenaga dalam yang masuk akal, sementara pertarungan di kisah Api di Bukit Menoreh terkesan ngayawara: "tiba-tiba muncul selorot sinar dari mata Agung Sedayu yang menghantam dada, seolah-olah meremas jantung....". Selain dari mata, juga terdapat tokoh yang bisa melontarkan sinar dari telapak tangannya. Memang, terkadang terdapat kalimat-kalimat berlebihan untuk menggambarkan pertempuran, seperti "dadanya seakan-akan tertindih gunung" atau "segores kecil berarti sentuhan maut", namun sekali lagi kesannya berbeda.

Tetapi uniknya, setidaknya ini menurut saya sendiri, kedua tokoh tersebut yaitu Mahesa Jenar dan Agung Sedayu, muncul dalam kisah karya Pak S.H Mintardja yang lain, yaitu Tanah Warisan. Meskipun tidak sama persis, tetapi terasa bahwa kedua tokoh tersebut muncul secara perwatakan di dalam diri kedua tokoh utama di Tanah Warisan, yaitu kakak beradik Panggiring dan Bramanti. Panggiring cenderung mirip seperti Mahesa Jenar, sementara Bramanti sedikit banyak mirip dengan Agung Sedayu. Secara pribadi saya tidak tahu mana kisah yang terlebih dulu ada dari ketiga kisah itu, namun terasa bahwa tokoh utama dari ketiga kisah tersebut memang mirip. Sementara, watak serta sifat yang mirip seperti kedua tokoh itu tidak terdapat dalam kisah yang lain, seperti sebut saja Meraba Matahari.

Tokoh lain yang juga mirip adalah Rara Wilis di Nagasasra dan Sabuk Inten serta Pandan Wangi di Api di Bukit Menoreh. Kedua tokoh ini sangat mirip, baik itu watak dan sifat serta kemampuan kanuragan yang sama-sama menggunakan pedang sebagai senjata andalan. Keduanya digambarkan sebagai gadis cantik, sedikit pendiam, tidak mudah mengutarakan sesuatu, dan berilmu tinggi. Pada akhirnya Rara Wilis menikah dengan Mahesa Jenar, sementara Pandan Wangi menikah dengan Swandaru, adik seperguruan Agung Sedayu. Kemudian ada juga kakak beradik Ki Gajah Sora dan Ki Lembu Sora di Nagasasra dan Sabuk Inten, dengan kakak beradik Ki Argapati dan Ki Argajaya. Konflik kedua kakak beradik itupun sama: sang adik menyerbu tanah kelahirannya sendiri akibat hasutan tokoh antagonis. Kisah akhirnya juga sama, kedua adik tersebut menyadari kesalahan dan menjadi tokoh baik. Tokoh Sawung Sariti di Nagasasra dan Sabuk Inten juga memiliki sifat-sifat yang sama dengan Sidanti di Api di Bukit Menoreh.

Namun yang cukup berbeda adalah pertempuran di Api di Bukit Menoreh tidak selalu pertempuran klasik antara baik dan jahat. Pada perang antara Pajang dan Mataram, meskipun ada beberapa tokoh jahat namun perang itu terkesan "sopan", karena Mataram yang masih menghormati Pajang. Juga perang antara Mataram dan Madiun, yang juga perang antara keluarga. Perang antara Mataram dan Pati juga tidak memberi kesan perang yang kejam, karena di tengah-tengah peperangan terdapat dialog-dialog yang tidak memberikan kesan saling membenci satu sama lain.

Bagaimanapun juga, kisah Api di Bukit Menoreh memang sangat menarik untuk diikuti, terutama bagi penggemar kisah silat. Di sisi lain kisahnya yang belum terselesaikan tentu saja akan memberikan permasalahan tersendiri, meskipun beberapa penggemar telah berusaha melanjutkan kisah ini sesuai versi mereka sendiri. Sampai detik ini saya belum juga selesai membaca kisah petualangan Agung Sedayu karena memang benar-benar panjang. Sementara saya membaca versi digital yang membuat mata cepat lelah jika dipaksakan memandangi layar komputer terlalu lama. 

Mungkin jika ada waktu saya juga ingin menuliskan lanjutan serial Api di Bukit Menoreh menurut versi saya sendiri. Bisa jadi akan seperti ini: Agung Sedayu mengundurkan diri dari prajurit Mataram kemudian pindah dari Tanah Perdikan Menoreh dan menyepi ke sisi timur Sungai Progo di sebelah selatan. Atau ia tetap berada di Tanah Perdikan Menoreh namun memilih diam ketika Mataram terlibat ketegangan dengan Tanah Perdikan sisi timur Sungai Progo tersebut.

Atau mungkin juga tidak seperti itu. Atau malah tidak meneruskan sama sekali....





Read more ►

Monday, August 29, 2016

Mukidi vs Markesot

1 comments
Mukidi, nama itu belakangan menjadi populer. Menariknya, nama itu bukanlah merupakan nama seseorang yang nyata (meski tentu saja banyak di luar sana orang-orang yang bernama Mukidi), melainkan sebuah nama tokoh yang sering muncul di dunia maya. Dan Mukidi telah memenangkan internet. Orang-orang ramai membicarakannya, karena kelucuannya, kekonyolannya, dan berbagai perilakunya.
 
Mukidi, bukanlah tokoh yang pasti. Maksudnya, suatu hari ia bisa menjadi seorang siswa, di lain kesempatan ia menjadi orang-orang kebanyakan, dan peran-peran lainnya. Formula ini, telah muncul bertahun-tahun lalu, dimana seseorang yang juga fiktif (meski menurut penciptanya berdasarkan tokoh nyata), menjadi tokoh utama berbagai peristiwa.
 
Markesot. Sama seperti Mukidi, ia merupakan tokoh multidunia. Di suatu kesempatan ia menjadi aktifis mahasiswa yang vokal. Di lain kesempatan ia dianggap sebagai seorang penyembuh tradisional yang ampuh. Tak jarang juga ia menjadi gembel, berkelana dari satu tempat ke tempat lain. Bahkan kadang juga menjadi ahli mistik. Bedanya, meskipun saat ini Mukidi (mungkin) lebih terkenal daripada Markesot, Markesot telah muncul dalam dua seri buku, berjudul "Markesot Bertutur" dan "Markesot Bertutur Lagi."
 
Petualangan Markesot pun beragam, karena dalam berbagai kisah Markesot tidak hanya sendirian. Ia memiliki kawan-kawan yang juga 'unik', diantaranya Markedet, Markempo, Markembloh, Markadal, Markedut, dll. Mereka semua pun memiliki sebuah tempat berkumpul berupa rumah kontrakan yang disebut KPMb atau singkatan dari Konsorsium Para Mbambung. Mbambung, merupakan sebuah kata bahasa jawa yang bisa diartikan secara bebas sebagai "Bandel."
 
Jujur, saya baru sekali membaca kisah Mukidi, dalam sebuah postingan komentar dalam sebuah status di Facebook. Pada awalnya saya mengira itu adalah semacam spam (menggunakan kolom komentar sebagai tempat memposting kisah yang panjangnya minta ampun), namun ternyata beberapa hari kemudian saya menemukan bahwa Mas Mukidi ini sangat populer. Dan hingga saya menulis tulisan ini saya belum membaca kisah Mukidi yang lain.
 
Kenapa kisah-kisah semacam Mukidi, yang memiliki perilaku konyol sangat gampang menjadi populer? Sementara tokoh-tokoh konyol nan cerdas dan legendaris macam Nasrudin Hoja atau Abu Nawas tak pernah sampai sepopuler itu. Sementara di negeri kita, Markesot, yang muncul pertama kali pada tahun 1989 dan telah dikumpulkan menjadi buku, bahkan diterbitkan kembali, juga tak sepopuler itu.
 
Tetapi mungkin Mas Mukidi ini memiliki daya tarik misterius yang mampu menarik masyarakat untuk membaca kisahnya, yang membuatnya menjadi lebih populer daripada beberapa tokoh-tokoh lainnya. Meski begitu, Markesot memberikan lebih banyak inspirasi dan kelucuan, meskipun kadang perlu lebih dari sekali baca untuk memahami inti terdalam dari kisah Markesot. Hal ini bisa dimaklumi, karena pencipta Markesot adalah budayawan kondang Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun.
Read more ►

Wednesday, February 3, 2016

Apa Jadinya Mahesa Jenar Tanpa Sasra Birawa?

0 comments
Secara pribadi, saya menjadikan kisah ini menjadi salah satu kisah terfavorit, dan tokoh utama kisah ini, Mahesa Jenar, juga menjadi salah satu tokoh fiksi terfavorit. Mudah saja, kisah ini terasa sangat dekat, dalam berbagai hal. Kemudian, kisah ini selalu menarik untuk dibicarakan, terlepas dari perdebatan mengenai keyakinan beberapa kalangan yang menganggap Mahesa Jenar adalah tokoh nyata yang benar-benar ada di masa lalu.
Membicarakan Mahesa Jenar, tak bisa dilepaskan dari aji-ajinya yang dinamakan Sasra Birawa. Entah kenapa, meski ada orang lain yang juga menguasai aji-aji ini seperti tentu saja gurunya Pangeran Handayaningrat atau Ki Ageng Pengging Sepuh, dan Kebo Kanigoro, putra tertua Ki Ageng Pengging Sepuh, Mahesa Jenar dengan Sasra Birawa-nya terkesan lebih familiar. Mungkin karena Mahesa Jenar ini adalah tokoh utama.
Tetapi, ada yang menarik ketika ternyata Sasra Birawa milik Mahesa Jenar yang dahsyat tersebut belum mencapai tingkat tertinggi. Dalam pengembaraannya, ketika Mahesa Jenar bertemu dengan tokoh-tokoh dunia hitam golongan tua yang setingkat gurunya, secara tak sengaja Mahesa Jenar bertemu dengan Kebo Kanigoro yang memberinya petunjuk-petunjuk bagaimana mengembangkan aji-ajinya tersebut meski tanpa bimbingan gurunya.
Adegan ini mengingatkan pada kisah pewayangan, ketika Karna yang ditolak menjadi murid Durna, membuat patung yang mirip dengan Durna dan kemudian seolah-olah berlatih dengan Durna. Hasilnya, kemampuan memanah Karna bisa mencapai tingkatan sempurna sama seperti Janaka yang diajari langsung oleh Durna. Di dalam gua, Mahesa Jenar melihat sebuah batu, yang di sela-sela batu terselip bunga kantil, salah satu ciri khas gurunya, Ki Ageng Pengging Sepuh. Mahesa Jenar pun menggunakan ciri-ciri tersebut, menyelipkan dua buah bunga kantil di atas telinganya. Di dalam gua tersebut Mahesa Jenar berhasil mencapai kesempurnaan ilmunya, setelah menggembleng jiwa raga baik mental dan spiritual.
Nah, jika Sasra Birawa yang belum sempurna itu saja bisa sangat identik dengan sosok prajurit yang selalu mengenakan pakaian hijau tersebut, maka setelah ilmunya sempurna bisa dibilang bahwa Mahesa Jenar adalah Sasra Birawa, dan begitu pula sebaliknya.
Dalam berbagai pertarungan, Mahesa Jenar selalu menahan diri untuk tidak menggunakan aji-ajinya ini, kecuali berhadapan dengan musuh-musuh utamanya dari golongan hitam. Di tengah pertarungan, musuh-musuhnya akan berkeringat dingin ketika Mahesa Jenar bersiap dengan kuda-kuda aji-ajinya yang fenomenal; tangan kanan diangkat tinggi-tinggi, tangan kiri disilangkan ke dada, kaki kiri ditekuk ke atas. Itulah kuda-kuda aji Sasra Birawa yang sangat terkenal.
Lantas, bagaimana jika Mahesa Jenar beraksi tanpa Sasra Birawa? Bagaimana jadinya jika aji-aji milik Mahesa Jenar bukan Sasra Birawa, tetapi Cundhamanik, atau Lebur Sakethi, atau bahkan mungkin Rog Rog Asem, atau Gelap Ngampar? Mari kita bayangkan, seandainya Mahesa Jenar menggunakan aji-aji Lebur Sakethi. Dalam sebuah adegan pertarungan, “Mahesa Jenar bersiap dengan kuda-kuda aji-ajinya, Ia merentangkan kedua tangan lebar-lebar, mencondongkan tubuh ke depan dan menekuk kaki kanannya ke depan kemudian menggempurkan kedua tangannya ke arah musuhnya.”
Atau, “Mahesa Jenar bersiap dengan aji Gelap Ngamparnya yang dahsyat. Ia mulai tertawa-tawa dengan suara yang dilambari tenaga dalam dahsyat, sehingga siapapun yang mendengar tawanya itu akan langsung rontok seluruh isi dadanya.”
Satu kata; aneh.
Jadi singakatnya, Mahesa Jenar memang sudah identik dengan Sasra Birawa. Dan begitu pula sebaliknya, aji Sasra Birawa adalah Mahesa Jenar. Akan sangat aneh jika kemudian ada kisah lain menampilkan tokoh yang bisa menggunakan aji Sasra Birawa. Namun tak begitu dengan aji-aji yang lain, karena Rog-Rog Asem, Gelap Ngampar konon adalah aji-aji milik Raden Rangga, putra Panembahan Senopati.
Sementara saya mendapat kesimpulan bahwa Mahesa Jenar adalah Sasra Birawa, dan Sasra Birawa adalah Mahesa Jenar, pertanyaan lebih menggelitik menghampiri saya, “Bagaimana jadinya Mahesa Jenar tanpa Rara Wilis?”
 
Read more ►

Thursday, December 31, 2015

Selamat Tinggal 2015 yang Mengharu Biru, Selamat Datang 2016 yang Penuh Do'a

0 comments
Menurut tanggalan hari ini adalah tanggal 31 Desember 2015, yang berarti besok adalah tanggal 1 Januari 2016. Tahun baru, kata orang-orang. Berhubung malam tahun baru tahun ini jatuh di hari baik, yaitu malam Jum'at Kliwon, semoga tahun depan segalanya berjalan dengan baik. Tentang resolusi, cukup diri kita sendiri dan Tuhan saja yang tahu.
Tapi sial, rencana pengin nonton acara televisi yang tentunya bakal keren-keren, malah dapet undangan sosialisasi apalah di kampung. Mau gimana lagi, ya harus datang. Memenuhi undangan wajib kan hukumnya. Apalagi demi tempat dimana aku tumbuh besar. Meskipun harus bolos...

Bukan apa-apa, aku mempunyai semacam ritual yang harus dikerjakan pada saat-saat seperti ini. Sebelum waktu melewati tengah malam, aku harus melakukan itu. Ada beberapa yang harus dikerjakan, salah satunya ya ini. Oh ya, jam sengaja aku tulis WIK alias Waktu Indonesia Kamijoro, heuheuheu...

Jadi ingat buku "Indonesia Bagian dari Desa Saya."

11:18 WIK - Masih cukup lama menuju tengah malam. Untungnya masih sempat melakukan ritual meskipun harus bolos. Maaf Pak Lurah, Pak Dukuh, aku harus bolos...

11:23 WIK - Kok kayanya susah ya nulis model ginian...Hmm...

11:25 WIK - Tapi terkait dengan cuaca panas di musim penghujan, kemarin di suatu tempat aku ketemu simbah-simbah. Saat itu aku bersama kawan-kawan sedang beristirahat di bawah pohon talok. Simbah-simbah itu menghampiri dan berbicara panjang x lebar x tinggi. Tahulah orang tua...

Nah, singkat cerita bahwa hujan akan turun lagi setelah ulat-ulat ganas pemangsa daun pohon jati mulai berubah menjadi kepompong, alias "ngungkrung." Nah, itu adalah semacam "ngelmu titen" yang biasanya memang dipahami oleh para orang-orang tua zaman dahulu...

11:31 WIK - Untungnya aku bukan pemangsa segala, jadi ulat-ulat itu aman...

11:34 WIK - Masih lama. Samar-samar terdengar suara musik...

11:39 WIK - "Why do I miss someone I never met, with bated breath I lay? Sea winds brought her to me, a butterfly..."

Ngomong opooo...

11:43 WIK - Hmm...

11:46 WIK - Tetapi tahun 2015 ini benar-benar mengharu biru. Dari inilah, itulah, hingga entahlah..

Dan yang harus aku katakan adalah "I'm not running away, I'm movin' on!"

11:49 WIK - Tapi jangan tanya move on dari apa karena pasti aku ndak akan jawab itu. Terkadang kenangan itu terlihat jelas ketika aku menutup mata, tetapi ndak apa-apa. Bukankah "jangan sekali-kali melupakan sejarah?" Heuheuheuheu...

11:51 WIK - Di timeline Facebook beberapa kawan sudah mengucapkan selamat menempuh hari baru. Aku sih belum, karena aku menggunakan waktu WIK, yang mana mempunyai selisih sekitar lima menit dengan WIB...

"Bukan merayakan, tetapi mensyukuri karena masih diberi kesempatan menikmati tahun yang baru." Tulis seorang teman di Wall-nya...

11:54 WIK - Ao..ndak sengaja menggaruk jerawat di pundak. Ini juga kurang kerjaan, jerawat kok ya sampe pundak. Apa di wajah sudah ndak nyaman; banjir kalau musim hujan, gersang kalau musim kemarau... Atau khawatir akan rusak karena bakal dipencet-pencet sama para maniak selfie? Heuheuheu...

11:57 WIK - Terdengar suara dar der dor...

11:58 WIK - Lapar... Kenapa arem-arem tadi ndak aku bawa pulang saja? Hmm...

12:00 WIK - Semoga segala sesuatu berjalan dengan baik, apa-apa yang kita harapkan di tahun 2016 ini bisa tercapai. Semoga kita bisa mengurangi atau bahkan menghilangkan sifat iri dengki kepada diri kita sendiri, keluarga, tetangga, kawan-kawan, dan para pemimpin kita. Semoga kita bisa memenuhi apa-apa yang menjadi kewajiban kita, kewajiban kepada diri kita sendiri, kepada orang tua, kepada keluarga, kepada sesama manusia, kepada sesama makhluk Tuhan, kepada alam semesta, dan kepada Tuhan Yang Maha Esa..

Selamat berjuang untuk kawan-kawanku semuanya, serta kepada diriku sendiri..

Salam asah asih asuh
Rahayu Rahayu Rahayu...

Kamijoro - 31 Desember 2015 - 1 Januari 2016


Read more ►

Monday, November 2, 2015

Tren Pamer Hewan Buruan di Media Sosial

0 comments
Bahwa akhir-akhir ini sering dijumpai foto-foto selfie bersama hewan buruan di berbagai media sosial populer, perlu diperhatikan lebih serius. Namanya juga selfie; mereka memasang tampang imut, keren, atau gestur-gestur lain yang menunjukkan ketangguhan mereka. Sementara, di sampingnya, hewan buruan yang notabene hewan langka yang telah terbujur kaku masih tetap ‘dipaksa’ untuk berpose selfie.
Dalam kasus ini, terlihat bagaimana sifat alamiah manusia yang cenderung perusak, meski dikatakan bahwa manusia diutus ke bumi adalah sebagai khalifah. Tidak main-main, daya penghancur yang ada pada makhluk bernama manusia ini sangatlah tinggi. Bahkan, segala cara akan ditempuh untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Contoh paling mudah, masih ingatkah film Avatar buatan James Cameron yang rilis beberapa tahun lalu? Dalam film itu ditunjukkan bahwa betapa daya penghancur manusia sangatlah mengerikan.
Eksploitasi alam. Penambangan sumber daya alam yang masif, perburuan hewan serta pembukaan lahan produktif yang tak terkontrol seakan menjadi berita sehari-hari. Sebagai wilayah hijau yang (dulu) merupakan paru-paru dunia, Indonesia mempunyai semua itu; sumber daya alam berlimpah, baik di permukaan atau di dalam perut bumi.
Hanya sekedar berbagi kisah. Konon di suatu tempat hidup seorang yang pandai. Cukup disegani oleh masyarakat. Tetapi orang pandai itu mempunyai hobi yang merusak, yaitu mencari ikan dengan cara menyetrum. Bukan apa-apa, hanya saja bagaimana mungkin seorang yang pandai serta berwawasan bisa melakukan hal itu? Dan hampir setiap hari ia melakukan itu. Jika sungai adalah suatu negara, dan ikan-ikan di dalamnya adalah rakyat, maka bukankah sama saja orang itu melakukan genosida? Pembunuhan massal yang terencana dan sistematis untuk menghilangkan suatu ras (lebih tepatnya suatu spesies) dari bumi.
Apa sih yang sebenarnya dicari oleh orang-orang semacam itu? Kepuasan? Atau apa? Jika mencari kepuasan, kepuasan macam apa itu, yang puas setelah membunuh. Bahkan memamerkan ke orang lain dengan bangganya.
Dengan melihat segala tanda-tanda yang ada di sekitar, meski ada kemajuan di bidang-bidang tertentu, tidak bisa dipungkiri bahwa secara mental spriritual manusia secara umum mengalami kemunduran. Keliru jika menyebut bahwa peradaban lampau lebih primitif dibandingkan dengan peradaban modern saat ini; manusia yang hidup di masa silam berburu sesuai dengan kebutuhan, mereka juga berusaha untuk membuat sesuatu yang bisa digunakan untuk menutupi tubuh mereka. Sementara, pemandangan yang cukup kontras tersaji di era milenium; perburuan untuk memuaskan nafsu, dan semakin banyak orang-orang yang hanya mengenakan pakaian seadanya di muka umum sementara ada pakaian yang lebih pantas. Kemunduran.
Kemunduran juga dialami manusia modern terkait dengan kemampuannya untuk membaca tanda-tanda alam atau sasmita. Terlihat di sini bahwa kemajuan teknologi yang pesat malah menghilangkan kemampuan manusia untuk membaca alam. Padahal, nenek moyang Indonesia adalah orang-orang tangguh yang bisa membaca tanda-tanda alam yang bisa digunakan sebagai pemandu sebelum melakukan sesuatu.
Maka yang perlu diingat adalah nasihat dari simbah-simbah kita dulu, bahwa manusia hidup di dunia ini harus selalu eling lan waspada, serta ojo dumeh.
Nadyan sira pinunjul | Nanging aja sira njur keladuk | ngelingana wong urip anggendhong lali | Den elingo urip iku | Prayoga ingkang prasaja ||
Tembang macapat Gambuh tersebut harap selalu diingat. Bahwa meski manusia itu adalah makhluk unggul dan diciptakan lebih baik dari seluruh makhluk Tuhan di dunia, janganlah kemudian menjadi sombong, angkuh, atau tamak karena sebenarnya manusia itu selalu membawa sifat ‘lupa’ di dalam dirinya. Ingatlah bahwa hidup sederhana itu lebih baik.
Read more ►

Sunday, October 25, 2015

Edisi Aksara Jawa: Makna Aksara “Ka”

1 comments
Dalam urutan aksara Jawa, setelah “ra” adalah aksara “ka”. Sama seperti aksara-aksara sebelumnya, aksara “ka” juga mempunyai maknanya sendiri. Aksara “ka” secara sederhana mempunyai makna “berkumpul.” Di sini, makna “berkumpul” bisa diartikan bahwa pada setiap manusia mempunyai sifat-sifat ke-ilahi-an, disamping juga sifat-sifat buruk. Maka, berkumpulnya kedua sifat tersebut di dalam diri manusia seringkali memunculkan pertentangan-pertentangan yang berkecamuk di dalam diri manusia.
Namun, ketika manusia bisa mengelola dengan baik sifat-sifat ke-ilahi-an yang ada di dalam diri, yang terjadi adalah kemudian makna yang lebih mendalam daripada “berkumpul”, yaitu sifat yang lebih luas, yang berkaitan dengan hubungan antara manusia dana lam semesta, yaitu “Karsaningsun Hamemayuhayuning Bawana.” Sudah banyak diketahui bahwa “Hamemayuhayuning Bawana” adalah salah satu perwujudan bahwa manusia adalah khalifah di bumi.
Terkait dengan khalifah, ada satu hal yang menarik untuk dibahas. Bahwa pengertian khalifah adalah “pemimpin” atau juga bisa sebagai “pemelihara”, namun disini, pemimpin yang bagaimana? Atau pemimpin di bumi bagian apa? Secara sederhana, pemimpin yang baik selalu ditaati oleh bawahannya, maka ketika pemimpin itu memerintahkan sesuatu, maka bawahannya akan langsung mengerjakannya. Nah, terkait dengan manusia sebagai khalifah di bumi, seharusnya jika manusia memimpin dan mengelola alam dengan baik, maka alam (bumi) akan mematuhi manusia. Sebagai contoh, pada zaman dahulu, sering terdengar kisah-kisah bahwa ada orang-orang sakti yang bisa berjalan di atas air, atau terbang menggunakan pelepah pisang, dan sebagainya.
Terlepas dari hal itu, bahwa manusia memang harus mempunyai semangat “Hamemayuhayuning Bawana”, terutama pada era sekarang dimana modernisasi dan industrialisasi berkembang dengan cepat. Banyaknya kasus kebakaran hutan, manusia secara umum harus bertanggung jawab. Perilaku ceroboh serta tamak untuk mengeksploitasi kekayaan alam tanpa memperhatikan kelangsungan hidup makhluk lain merupakan sifat-sifat yang jauh dari semangat “Hamemayuhayuning Bawana.”
Sikap “Hamemayuhayuning Bawana” bukan hanya menikmati keindahan alam, kemudian berfoto-foto di alam bebas. Lebih dari itu, “Hamemayuhayuning Bawana” adalah sikap menjaga kelestarian lingkungan. Ketika beberapa waktu lalu sebuah berita tentang kebakaran hutan di Gunung Lawu disebabkan oleh api unggun para pendaki, yang notabene adalah “pecinta alam”, tentu saja mengejutkan. Lalu juga, tren yang muncul di media sosial yang memamerkan hewan buruan yang merupakan hewan-hewan langka yang dilindungi. Yang bisa ditarik persamaan dari itu semua, rata-rata pelaku masih merupakan remaja. Cukup memprihatinkan.
Selain bahwa makna aksara “ka” adalah “berkumpul” yang kemudian memunculkan sifat “melestarikan dan menjaga kesejahteraan alam”, aksara “ka” bisa digabungkan dengan aksara lain untuk memunculkan makna lain. Kata “kama” yang penggabungan dari aksara “ka” dan “ma” bisa berarti benih, bibit atau biji. Makna kata ini sangat dekat kaitannya dengan hubungan antara laki-laki dan perempuan. Yaitu ketika berkumpulnya laki-laki dan perempuan dan saling memberikan bibit, benih, atau bijinya masing-masing untuk bersatu dan menjadi sebuah kehidupan yang baru.
Dari benih laki-laki dan perempuan, kehidupan di bumi akan terjaga. Ketika dua manusia laki-laki dan perempuan saling berkumpul untuk menyatukan raga, menyatukan rasa, maka penyatuan benih dari kedua manusia laki-laki dan perempuan akan memberikan kehidupan yang baru. Kehidupan baru inilah yang nantinya akan meneruskan tugas sebagai khalifah di bumi, menjaga serta memimpin bumi dengan semangat “Hamemayuhayuning Bawana.”
Read more ►

Sunday, March 8, 2015

PLTA - Pembangkit Listrik Tenaga Akik

0 comments
Popularitas akik-akik (bukan aki-aki) belakangan memang menanjak tajam seperti tanjakan menuju puncak Suroloyo, atau tanjakan dekat rumah yang sering saya taklukan dengan sepeda kesayangan tiap sore. Bahkan tayangan mistis di televisi pun sering menampilkan batu akik ketika adegan sang paranormal melakukan penarikan benda gaib....


Akik. Entah siapa yang pertama kali membuatnya ujug-ujug terkenal seperti Cita Citata. Namanya pun unik, cocok digunakan sebagai nama grup musik metal; Bacan, Black Opal, Bulu Monyet, Blue King Saphir - dan yang sempat populer di tahun 90an, Merah Delima warna bibirnya, Merah delima yang aku suka, Merah delima, lima, lima..








***








Meroketnya akik memang membawa berkah bagi pengrajin batu akik tradisional dan juga penambang batu dadakan; menyusuri sungai agar menemukan batu akik 20 ton. Mungkin setelah booming batu akik ini juga bakal ada fenomena kepala batu di Indonesia.








Karena Indonesia juga mengenal fenomena aji mumpung, mungkin pemerintah mempunyai wacana untuk membangun PLTA baru. Bukan Pembangkit Listrik Tenaga Air, tapi Pembangkit Listrik Tenaga Akik.








Semoga nasibmu tidak seperti tanaman mellow Gelombang Cinta atau Jenmanii, atau juga tanaman pakan ikan grameh Senthe. Long Live Akik!!!
Read more ►
 

Copyright © nglengkong Design by O Pregador | Blogger Theme by Blogger Template de luxo | Powered by Blogger