Wednesday, February 3, 2016

Apa Jadinya Mahesa Jenar Tanpa Sasra Birawa?

Secara pribadi, saya menjadikan kisah ini menjadi salah satu kisah terfavorit, dan tokoh utama kisah ini, Mahesa Jenar, juga menjadi salah satu tokoh fiksi terfavorit. Mudah saja, kisah ini terasa sangat dekat, dalam berbagai hal. Kemudian, kisah ini selalu menarik untuk dibicarakan, terlepas dari perdebatan mengenai keyakinan beberapa kalangan yang menganggap Mahesa Jenar adalah tokoh nyata yang benar-benar ada di masa lalu.
Membicarakan Mahesa Jenar, tak bisa dilepaskan dari aji-ajinya yang dinamakan Sasra Birawa. Entah kenapa, meski ada orang lain yang juga menguasai aji-aji ini seperti tentu saja gurunya Pangeran Handayaningrat atau Ki Ageng Pengging Sepuh, dan Kebo Kanigoro, putra tertua Ki Ageng Pengging Sepuh, Mahesa Jenar dengan Sasra Birawa-nya terkesan lebih familiar. Mungkin karena Mahesa Jenar ini adalah tokoh utama.
Tetapi, ada yang menarik ketika ternyata Sasra Birawa milik Mahesa Jenar yang dahsyat tersebut belum mencapai tingkat tertinggi. Dalam pengembaraannya, ketika Mahesa Jenar bertemu dengan tokoh-tokoh dunia hitam golongan tua yang setingkat gurunya, secara tak sengaja Mahesa Jenar bertemu dengan Kebo Kanigoro yang memberinya petunjuk-petunjuk bagaimana mengembangkan aji-ajinya tersebut meski tanpa bimbingan gurunya.
Adegan ini mengingatkan pada kisah pewayangan, ketika Karna yang ditolak menjadi murid Durna, membuat patung yang mirip dengan Durna dan kemudian seolah-olah berlatih dengan Durna. Hasilnya, kemampuan memanah Karna bisa mencapai tingkatan sempurna sama seperti Janaka yang diajari langsung oleh Durna. Di dalam gua, Mahesa Jenar melihat sebuah batu, yang di sela-sela batu terselip bunga kantil, salah satu ciri khas gurunya, Ki Ageng Pengging Sepuh. Mahesa Jenar pun menggunakan ciri-ciri tersebut, menyelipkan dua buah bunga kantil di atas telinganya. Di dalam gua tersebut Mahesa Jenar berhasil mencapai kesempurnaan ilmunya, setelah menggembleng jiwa raga baik mental dan spiritual.
Nah, jika Sasra Birawa yang belum sempurna itu saja bisa sangat identik dengan sosok prajurit yang selalu mengenakan pakaian hijau tersebut, maka setelah ilmunya sempurna bisa dibilang bahwa Mahesa Jenar adalah Sasra Birawa, dan begitu pula sebaliknya.
Dalam berbagai pertarungan, Mahesa Jenar selalu menahan diri untuk tidak menggunakan aji-ajinya ini, kecuali berhadapan dengan musuh-musuh utamanya dari golongan hitam. Di tengah pertarungan, musuh-musuhnya akan berkeringat dingin ketika Mahesa Jenar bersiap dengan kuda-kuda aji-ajinya yang fenomenal; tangan kanan diangkat tinggi-tinggi, tangan kiri disilangkan ke dada, kaki kiri ditekuk ke atas. Itulah kuda-kuda aji Sasra Birawa yang sangat terkenal.
Lantas, bagaimana jika Mahesa Jenar beraksi tanpa Sasra Birawa? Bagaimana jadinya jika aji-aji milik Mahesa Jenar bukan Sasra Birawa, tetapi Cundhamanik, atau Lebur Sakethi, atau bahkan mungkin Rog Rog Asem, atau Gelap Ngampar? Mari kita bayangkan, seandainya Mahesa Jenar menggunakan aji-aji Lebur Sakethi. Dalam sebuah adegan pertarungan, “Mahesa Jenar bersiap dengan kuda-kuda aji-ajinya, Ia merentangkan kedua tangan lebar-lebar, mencondongkan tubuh ke depan dan menekuk kaki kanannya ke depan kemudian menggempurkan kedua tangannya ke arah musuhnya.”
Atau, “Mahesa Jenar bersiap dengan aji Gelap Ngamparnya yang dahsyat. Ia mulai tertawa-tawa dengan suara yang dilambari tenaga dalam dahsyat, sehingga siapapun yang mendengar tawanya itu akan langsung rontok seluruh isi dadanya.”
Satu kata; aneh.
Jadi singakatnya, Mahesa Jenar memang sudah identik dengan Sasra Birawa. Dan begitu pula sebaliknya, aji Sasra Birawa adalah Mahesa Jenar. Akan sangat aneh jika kemudian ada kisah lain menampilkan tokoh yang bisa menggunakan aji Sasra Birawa. Namun tak begitu dengan aji-aji yang lain, karena Rog-Rog Asem, Gelap Ngampar konon adalah aji-aji milik Raden Rangga, putra Panembahan Senopati.
Sementara saya mendapat kesimpulan bahwa Mahesa Jenar adalah Sasra Birawa, dan Sasra Birawa adalah Mahesa Jenar, pertanyaan lebih menggelitik menghampiri saya, “Bagaimana jadinya Mahesa Jenar tanpa Rara Wilis?”
 

0 comments:

Post a Comment

 

Copyright © nglengkong Design by O Pregador | Blogger Theme by Blogger Template de luxo | Powered by Blogger