Thursday, March 31, 2011

Paganisme Jawa: Pagan di Dunia Kejawen

2 comments
Pada kesempatan ini saya ingin sekedar berbagi pengalaman, atau sekedar mengajak pembaca sekalian berdiskusi mengenai apa yang saya temukan dalam suatu forum di salah satu web favorit saya, alangalangkumitir.wordpress.com, tentang komunitas Pagan di dunia Kejawen. Apa yang saya bagi kali ini hanyalah pandangan saya tentang Pagan dari sudut pandang bahasa dan apa yang sedikit saya ketahui. Semoga tulisan ini bermanfaat.
Baiklah, pertama mari kita lihat apa itu Pagan. Bagi pembaca yang suka membaca literatur tentang dajjal, illuminati, atau bangsa Yahudi, tentu telah akrab dengan istilah ini. Dalam hal ini Pagan merefer kepada penyembahan setan atau berhala. Sedangkan pahamnya sering disebut Paganisme. Jadi Pagan mempunyai konotasi negatif, terutama bagi orang-orang yang beragama, apapun agamanya.
Masuk ke judul, Pagan di dunia Jawa yang saya temukan di sebuah web forum. Jika Pagan dalam forum tersebut merupakan Pagan yang sama dengan Pagan di paragraf terdahulu, istilah itu kurang cocok jika digunakan di dunia Jawa. Mari kita bandingkan antara Kejawen dan Pagan. Kejawen merupakan sebuah paham yang berusaha menyelaraskan hubungan manusia dengan alam (hamemayu hayuning bawono) dan hubungan manusia dengan Tuhan (jumbuhing kawulo-gusti). Sedangkan Pagan adalah paham yang konon muncul pada masa Mesir kuno, dengan penyembahan Dewa Matahari-nya (Dewa Ra).
Dalam Kejawen, manusia menghormati alam (tidak hanya matahari) sebagai ciptaan Tuhan. Menurut sejarah, suku Jawa adalah salah satu keturunan asli dari Nabi Adam AS, dan merupakan salah satu golongan yang selamat dari banjir dahsyat pada masa Nabi Nuh AS, karena ikut naik ke Bahtera Nabi Nuh. Oleh karena itu, konon hal itulah yang menyebabkan suku Jawa dapat menerima ajaran Islam, karena di masa lalu suku Jawa merupakan pengikut Nabi Nuh AS.
Kemudian, menjadi Kejawen ketika keturunan suku Jawa yang lebih muda mengalami berbagai percampuran paham, seperti Budha dan Hindu (konon Sidharta Gautama adalah seorang Nabi yang hidup jauh sebelum masa Nabi Muhammad SAW, sehingga ia tidak mengajarkan shalat ataupun syahadat. Sedangkan Dewa Brahma dalam kepercayaan Hindu adalah Nabi Ibrahim. Sang Hyang Widhi, menurut bahasa Widhi: satu, berarti dapat disimpulkan bahwa dalam kepercayaan Hindu juga menganut satu Tuhan).
Paganisme, merupakan paham pemujaan setan (sering disebut okultisme). Dalam dunia konspirasi setan yang dipuja bernama Baphomet (setan berkepala kambing bertubuh manusia yang mempunyai payudara dan penis). Paham ini juga bermain-main dengan simbol yang dibuat oleh para penganutnya. Kejawen juga menggunakan simbol, akan tetapi simbolisasi dalam dunia Jawa digunakan untuk membimbing pemikiran manusia akan suatu hal. Sebuah nasihat yang cukup populer bagi orang Jawa yang konon merupakan nasihat dari Sunan Kalijogo, urip iku kebak sanepa, pralambang, lan gegambaran, merupakan bukti bahwa simbol di dunia Jawa digunakan untuk pembelajaran hidup.
Simbol-simbol dalam dunia Jawa bukan simbol kebanyakan yang berupa gambar atau logo. Simbol di dunia Jawa merupakan simbol yang terbagi dalam tiga wilayah, yaitu: (1) simbol religi (2) simbol tradisi, dan (3) simbol seni. Setiap ranah mempunyai fungsi yang berbeda, contoh dalam simbol religi merupakan usaha manusia Jawa dalam menangkap konsep ketuhanan. Tuhan merupakan unsur yang tidak tertangkap indra, sehingga orang Jawa menyebut Tuhan dengan sebutan Gusti Alloh, Gusti Ingkang Maha Kuwaos, dll.
Jadi, konsep Pagan dan Kejawen tidak akan bertemu dalam satu titik, meskipun dua istilah tersebut dijadikan sebuah frasa. Dua paham tersebut sangat berbeda. Dengan demikian akan lebih baik jika istilah Pagan tidak digunakan di dunia Jawa, yang tentu saja siapapun akan sepakat bahwa kebudayaan Jawa adalah kebudayaan yang adiluhung. Akan tetapi, tulisan ini hanyalah sebuah urun rembug dari seorang keturunan Jawa yang masih hijau, yang merasa prihatin dengan kondisi kebudayaan Jawa di era modern sekarang ini. Perbedaan pendapat itu biasa, asalkan tidak menjadikan perpecahan. Semoga ke depannya kebudayaan Jawa mampu berkembang lebih baik lagi, dan mampu mencapai puncak kejayaannya.
Read more ►

Tuesday, March 29, 2011

SUMPAH BUDAYA

0 comments
SUMPAH BUDAYA oleh Mas Kumitir
Globalisasi di ranah ide, gagasan, ilmu pengetahuan yang diiringi dengan teknologi berkembang amat pesat. Lebih cepat dari kemampuan manusia untuk merenungkan apa hakikat semuanya untuk kemanfaatan hidup. Orang tidak lagi disibukkan dengan pertanyaan untuk apa kita memiliki ilmu, pengetahuan dan teknologi. Namun lebih menekankan pada fungsi-fungsi kemanfaatan/pragmatisnya semata. Semua pada akhirnya mengikuti arus globalisasi secara latah dan masa bodoh dengan hakikat progress/kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahwa hakikat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah untuk penyempurnaan proses hidup manusia menuju kesatuan dan keserasian lahir batin, jiwa dan raga.
Budaya Populer adalah budaya yang berada di pusaran arus global. Sayangnya, perkembangan budaya global justeru mematikan budaya-budaya nasional dan budaya lokal yang ada. Budaya lokal secara substansial tidak mengalami kemajuan yang berarti kecuali hanya untuk sarana komoditas ekonomi dan turisme saja. Budaya yang merupakan hasil manusia untuk mengolah daya cipta, rasa dan karsa berdasarkan atas kehendak dan keinginan masing-masing individu dalam sebuah wilayah tidak mampu lagi dianggap sebagai sebuah kearifan.
Individu yang berada di ruang-ruang budaya pun menjadi tumpul oleh arus pragmatis budaya global yang mungkin dipandang lebih menarik, mudah, cepat dan efisien. Para pengambil kebijakan tidak lagi memiliki semangat yang menyala untuk nguri-uri kebudayaan lokalnya. Apalagi bila semua pihak tidak mendukung lahirnya kreativitas-kreativitas baru berkebudayaan dan berkesenian.
Ini adalah situasi di mana kita mengalami sebuah Degradasi Budaya bahkan kehancuran sistematis budaya lokal. Bhinneka Tunggal Ika sebagai semangat berbudaya dalam rangka kebersatuan berbagai budaya lokal untuk maju dalam frame bangsa dan negara pun hanya sebagai slogan yang kini semakin dilupakan.
Tumbuh berkembang serta kemajuan sebuah budaya ditentukan pada bagaimana kita semua merespon dan menjawab tantangan-tantangan budaya global. Respon dan jawabannya adalah agar kita kembali kreatif, inovatif dan menciptakan wilayah-wilayah perjuangan budaya yang mampu menjadi alternatif budaya global yang terbukti tidak memiliki “ruh” kemanusiaan yang utuh.
Justeru pada budaya lokal, kita menemukan kembali “ruh” kemanusiaan itu. Ruh yang akan menyinari individu agar bisa bergerak secara harmonis antara individu dengan individu yang lain, antara individu dengan alam semesta, bahkan antara individu dengan dirinya sendiri sehingga nantinya individu tersebut akan menemukan diri sejati yang merupakan wakil Tuhan di alam semesta.
Siapa yang harus memulai untuk melakukan penyadaran adanya degradasi budaya ini? Sebuah fakta sejarah terjadi pada 28 Oktober 1928 saat para pemuda mengikrarkan Sumpah Pemuda. Intisari dan hakikat dari Sumpah Pemuda adalah kesadaran bahwa semua elemen bangsa harusnya memiliki kehendak, keinginan, cita-cita yang sama untuk mewujudkan sebuah kesatuan wahana dan ruang kreativitas dan kebebasan ekspresi yang berbeda-beda.
Jembatan untuk memasuki wahana persatuan dan kesatuan tersebut adalah tanah air, bangsa dan bahasa. Setiap babakan sejarah, pemuda selalu menjadi motor penggerak perubahan zaman. Sejarah telah menegaskan tentang kepeloporan pemuda di era kolonial hingga era perjuangan kemerdekaan bahkan di era reformasi. Perjuangan pemuda selalu dihadapkan pada tantangan hambatan dan kesulitan, bahkan darah dan airmata menjadi taruhan.
Di era masa lalu, gerakan kepemudaan lebih berorientasi pada bidang politik. Kini tantangan kaum muda masa kini justeru lebih banyak berupa rongrongan budaya global yang sangat berpengaruh pada pola pikir dan gaya hidup mereka sehingga harusnya gerakan kepemudaan kini lebih diorientasikan pada bidang budaya local (local wisdom).
Pemuda harus memiliki semangat untuk bersatu, lepas dari penindasan dan penguasaan budaya global. Kita berharap agar bangsa Indonesia bisa menghidupkan kembali budaya-budaya lokal yang ada sehingga nanti terwujud bangsa yang maju berkembang tanpa kehilangan jati dirinya. Kita buka mata dan hati kita, lihatlah bangsa India, Cina, Jepang, Thailand, dan Korea telah membuktikan sendiri. Bangsa yang meninggalkan pola hidup taklid hanya ikut-ikutan, ela-elu. Kini telah tumbuh menjadi macam Asia, dihormati dan segani masyarakat dunia, bangkit meraih kejayaan dengan berlandaskan loyalitasnya terhadap nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom) yang terdapat dalam tradisi dan budayanya. Bangsa yang tahu karakter diri sejatinya, sangat tahu tindakan apa yang harus dilakukannya.
Sumpah Pemuda merupakan momentum yang berhasil menyatukan pemuda se-Indonesia dalam satu ikatan kebangsaan, perasaan senasib, sepenanggungan yang diderita oleh pemuda khususnya, telah memberikan kesadaran kritis terhadap situasi yang dihadapinya yaitu adanya sebagai tantangan bersama telah membangkitkan kesadaran kolektif pemuda untuk melawan penindasan budaya global. Diperlukan gerakan massif untuk menghidupkan kembali budaya-budaya lokal (baca; kearifan lokal) di tanah air secara terus menerus sebagai bentuk nyata dari perjuangan kaum muda.
Perjuangan kaum muda di bidang budaya diharapkan akan membawa perubahan sosial yang mendalam bagi masyarakat, terutama di bidang pendidikan. Dari pendidikan ini muncullah pejuang-pejuang muda yang kaya akan ide dan konsep untuk melawan budaya global.
Untuk mewujudkan ide tersebut maka dengan ini kami menyerukan kapada SEMUA PEMUDA DI TANAH AIR untuk bersatu dalam gerakan SUMPAH BUDAYA 2009:
1. MENGHIDUPKAN KEMBALI BUDAYA DAERAH SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN BUDAYA NUSANTARA.
2. MENJADIKAN BUDAYA DAERAH SEBAGAI DASAR PIJAKAN IDE-IDE KREATIF PEMBANGUNAN.
3. MENGEMBANGKAN KEARIFAN BUDAYA DAERAH SEBAGAI NILAI-NILAI PEMBANGUNAN NASIONAL.
4. MENGEMBANGKAN NILAI-NILAI MORAL, MENTAL DAN AJARAN HIDUP BERMASYARAKAT YANG ADA DI BUDAYA DAERAH DALAM RANGKA MENDUKUNG PERKEMBANGAN BUDAYA NUSANTARA.
5. MENGURANGI PENGARUH NEGATIF BUDAYA GLOBAL DENGAN MENGEMBANGKAN BUDAYA NUSANTARA.
MOTTO :
THINK LOCALLY ACT GLOBALLY !!
SUMPAH BUDAYA
BERBUDAYA SATU, BUDAYA NUSANTARA
BERJATI DIRI SATU, JATI DIRI BANGSA INDONESIA
KASIH SAYANG SATU, SATU KASIH SAYANG LINTAS AGAMA
Read more ►

Thursday, March 10, 2011

From the Ancient: Alon-alon Waton Klakon

3 comments
I think everyone has ever heard this term; alon-alon waton klakon (slow but sure). This term is not only popular in Javanese people (Indonesia), but also in abroad. Unfortunately, many people (even in Java) don’t understand about the real message beneath that term. People think that this is a concept to be a lazy man, because when we talk about Javanese people, they are not rich, simple, and slow. It may the factor that makes people think that this concept is an instrument to make people lazy.
Actually, people are misunderstanding about this term. The concept is not about “finally”, but it is about the “process” how we can reach what we need. Process is important, because through a process we know how people gain their needs, are they cheating, or are they learn more than usual. Patience, continuous, learn; is the important thing that hidden beneath the word process.
We cannot define this term just by read, like read a sentence in a short story, or novel, but it needs spiritual aspect, and it needs more time, and to get what the real message, we need experience, because ancient Javanese are smart, and they are life-oriented. They keep the relationship as human, inter-human, human and nature, and human and the God.
Read more ►

Saturday, March 5, 2011

Serat Nitisruti: How to be a Good Leader

1 comments
Serat Nitisruti was written by Pangeran Karanggayam. Pangeran Karangayam taught Hadiwijaya (Jaka Tingkir) the King of Pajang (1550-1582) the ability and knowledge how to be a good leader (King). Serat Nitisruti is a complete book (serat), consist of many areas such as, religious aspects (believe to the God), humanity, nationality, and others.
Serat Nitisruti arranged into eight parts and written as a Javanese song. They divides into eight parts, based on their kind, Dhandhanggula, Sinom, Asmaradana, Mijil, Durma, Pucung, Kinanthi, and Megatruh. The method (to write a song with story or message inside) is one of the characteristics of Javanese literature.
For example, this is the first part of Serat Nitisruti (Dhandhanggula – pupuh 1):
Mamanising wasita kaesthi, Nitisruti kang sinudarsana, tinulad ing sapantese, pinetan kang pakantuk, lan jamaking jaman samangkin, tujuning kamajengan, asedya arjayu, yuwananing nuswa Jawa, aywa kongsi kalantur-lantur kawuri, kewraning pangawikan.
That is the opening part, so this part is not talking the point yet. This part tells about what is Nitisruti. There are many methods to discuss about literature works, and maybe the newest is deconstruction theory. Deconstruction used to ease the readers to understand about a literary work, and it should be untie the construction of the literary work.
Wasita (advice), kaesthi (referred to), sinudarsana (exemplified), jamak (common), samangkin (more), asedya (ready), arjayu (wealthy), yuwana (survive), kongsi (until), kawuri (lamp), kewran (difficulty), pangawikan (knowledge).
When it arranged into complete arrangement, it will be like this:
Advice that will be explained, Nitisruti can be learnt, about more common the time, ready to the wealthy, the safety of Java island, that have been waiting from long ago, about the difficulty to get the knowledge.
That is from the first part (Dhandhanggula). To understand more, that way is not enough. Need more time and think to get what Pangeran Karanggayam want to say, but at least through this letter, readers can get the surface of Serat Nitisruti. Next time, the writer will discuss the other parts, which maybe are the point of the Nitisruti.
Read more ►

Wednesday, March 2, 2011

Jawa, Mistis di Mata Media

6 comments
Tak bisa dipungkiri bahwa media komunikasi merupakan sebuah alat yang baik untuk menciptakan suatu keadaan. Media-media komunikasi tersebut mampu mempengaruhi dan kemudian mengendalikan pikiran banyak orang. Salah satunya adalah kotak bergambar atau sering disebut televisi atau disingkat TV begitu saja.
Sejak diperkenalkan di Indonesia, media televisi ini mengalami perkembangan yang sangat pesat, dari awal yang berupa dua warna saja, kini telah banyak televisi-televisi 3D. Dahulu yang tebal, kacanya cembung seperti mata melotot, kini telah bertransformasi menjadi sangat tipis. Dari segi penyiaran juga sama, banyak stasiun-stasiun televisi swasta yang bermunculan dengan acara unggulan masing-masing.
Akan tetapi, banyak dari acara-acara tersebut yang kurang memperhatikan dengan seksama mengenai efek dari acara tersebut. Sebagai contoh, acara-acara mistis memang disukai penonton karena mampu menyajikan sensasi yang berbeda, namun menjadi bumerang ketika secara tidak langsung acara tersebut menyerang suatu suku. Dalam hal ini yang paling sering dipojokkan dalam berbagai film-film atau acara-acara mistis adalah suku Jawa.
Sebagai contoh, sebuah acara (acara baru) di salah satu stasiun televisi swasta yang berjudul “Petualangan Keramat”. Dari judulnya sudah terlihat apa yang dikemas dalam acara tersebut, pasti tidak jauh-jauh dari dunia mistis. Akan tetapi, yang membuat dahi berkerut adalah judul acara tersebut. Memang tidak ada yang salah, hanya saja saat acara tersebut berlangsung, dua huruf dalam judul tersebut diganti dengan dua simbol yang identik dengan kebudayaan Jawa. Simbol-simbol tersebut adalah Gunungan (dalam pewayangan, berbentuk seperti gunung) dan Keris (Keris memang bukan milik suku Jawa saja, tetapi dalam acara tersebut jelas bahwa keris yang digunakan untuk menggantikan huruf “T” adalah Keris gaya Jawa).
Sebenarnya apa maksud semua itu? Apakah itu disengaja atau hanya ingin terlihat keren (atau seram)? Dengan melihat dua buah simbol tersebut, penonton akan langsung dibawa dalam pandangan bahwa Jawa, adalah sesuatu yang mistis. Dengan begitu, orang Jawa sekalipun akan menganggap bahwa budayanya adalah budaya mistis dan gelap.
Contoh lain, sebuah film layar lebar yang beberapa waktu lalu dirilis. Dalam film tersebut penonton diberi sebuah infiltrasi bahwa tembang macapat dapat digunakan untuk memanggil hantu. Apa dasar dari semua itu? Tembang macapat adalah karangan para Wali Songo yang digunakan untuk berdakwah di tanah Jawa, sebelum akhirnya agama Islam berkembang dengan pesat. Sekali lagi, orang Jawa yang kurang pemahaman akan budayanya sendiri mungkin percaya, dan itu sangat menyakitkan.
Itulah, media televisi yang mempunyai pengaruh begitu kuat di negara ini. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk melawan adalah disamping pemerintah yang lebih tanggap dalam menyeleksi acara-acara televisi, juga sudah saatnya para generasi muda Jawa kembali ke budaya Jawa. Jangan belajar kebudayaan orang lain sebelum belajar kebudayaan sendiri.
Read more ►

Lali Purwa Duksina: When History is Forgotten

0 comments
That is the term which describe about people who forgot their own history. They prefer to the other’s history and other’s culture. It can be seen on Indonesian people this time, start from the young generations until the government.
Few days ago, on March 1, 2011, was the 62 years of “Serangan Oemoem 1 Maret (SO1M)”, a day when Indonesia keeps the independence from the Netherland. Indonesia will never free, if there’s no “Serangan Oemoem 1 Maret 1949.” But what happen few days ago was very strange. SO1M 1949 was happen in Yogyakarta, but it is not a reason to the other areas in Indonesia to be inactive.
Yogyakarta takes a ceremonial action in that day. Maybe it was nothing, but for the people of Yogyakarta, it’s about catch the spirit from the soldiers in the past. What about others?
For the young, this day is not as popular as Valentine’s Day, even that’s from abroad. Love story is more fashionable for them than story about keep the freedom. They think everything about love is full of happiness, and then the patriotic is boredom. What about government? They are same. They think about how to make new issues to cover the previous issues. They are busy, how to save themselves from the enemies attack, how to collect much money, and where place to go in the weekend.
When this condition is stay in Indonesian minds, Indonesia is in danger. The soldiers’ sacrifice in the past is incredible. They’re not selfish.
Let us think, what we have done for this beloved country?
Read more ►
 

Copyright © nglengkong Design by O Pregador | Blogger Theme by Blogger Template de luxo | Powered by Blogger