Thursday, August 25, 2011

Sengkalan Lamba & Sengkalan Memet

0 comments

Javanese people are like to make some symbolization in various aspects. It shows that they are mysterious, hidden, and blur. But, based on the characteristic of Javanese, it will be agreed. There are many things can’t be separated from symbol. Songs (Macapat), and also stories (babad, kakawin, suluk, etc) often use symbolizations to ease the listeners or the readers to understand. Symbolizations can also be used to avoid the straight purpose, which sometimes can make disagreement between each other. Javanese basically avoid the confrontation with others.
One unique Javanese symbol maybe is Sengkalan (Suwito, in his paper says ‘Javanese Chronogram’). Sengkalan is used to substitute the numbers to write the year when a situation happens in the past. Sengkalan is act like ordinary numbers, start from zero to nine. Every number has their own word that reflect the number itself. For example, the number ‘one’ can be changed by word janma, tunggal, eka, tunggal, etc (all the words that reflect the ‘one’).
It seems complicated, but here below is the Macapat (Javanese song) that can be used to ease how to make Sengkalan:
Janma buweng wani tunggal Gusti/Panganten dwi akekanthen asta/Gegeni putrid katelune/Papat agawe banyu/Buta lima amanah angin/Sad rasa kayu obah/Wiku pitweng gunung/Gajah wewolu rumangkang/Dewa sanga anggengganda terus manjing/Dhuwur wiyat tanpa das//
The Macapat (Dhandhanggula) above shows the word that can be used to substitute the numbers. It starts from one (janma, buweng, wani, tunggal, Gusti), until zero (dhuwur, wiyat, tanpa, das). But actually, still many words can be used. The song is just to simplify which word will use to make Sengkalan.
Sengkalan is divided into two kinds, first is Sengkalan Lamba and the second is Sengkalan Memet. Sengkalan Lamba is sengkalan which is using the words to change the numbers. For example Sirna Ilang Kertaning Bumi (1400 saka, same with 1478 M, the time when Majapahit drowned). While the Sengkalan Memet is sengkalan that use the statues, ornaments, or paintings. For example, in Kraton Yogyakarta there is two dragon statues with the tail become one. It reads Dwi Naga Rasa Tunggal (1682 or 1756 M, the time when Kraton Yogyakarta first appear).



Read more ►

Lereng Gunung

0 comments
Dengan udara dingin yang senantiasa menyapa ketika pagi dan malam menjelang. Sementara ayam-ayam telah bernyanyi jauh sebelum seseorang terbangun dari tempat berdiamnya yang hangat berselimutkan kain tebal berwarna-warni. Pegunungan, atau lebih tepatnya gunung, merupakan sebuah tempat elok nan misterius. Bagaikan Kraton, yang meskipun telah mengalami kemajuan zaman sedemikian pesatnya, masih menyisakan bagian-bagian yang tertutup, kuno, dan berselimutkan kabut.
Meskipun sekedar nunut ngeyup di tempat itu, banyak hal yang bisa terasa. Hal-hal yang masuk akal, ataupun hal-hal yang tak masuk akal, yang kata orang-orang terpelajar, postmodernisme. Namun itu wajar, karena gunung merupakan tempat misterius yang mungkin tak terpengaruh oleh modernitas, lika-liku kemajuan zaman, ataupun tipu daya politis yang banyak tersebar di tempat-tempat lain. Meskipun masyarakatnya terpengaruh, gunung tak akan goyah. Ia akan tetap bertahan, tetap menjaga apa yang telah diperintahkan Tuhan kepadanya untuk dijaga keselamatannya, kesejahterannya, dan kemakmurannya.
Sungguh beruntung bisa berada di tempat itu barang sejenak. Bahwa udara dingin, serta hal-hal lain, membuat manusia akan lebih mengerti tentang arti kesunyian. Kesunyian dari hiruk pikuk dunia, suara-suara benda-benda besi memekakkan telinga. Yang ada hanya suara-suara burung-burung, ayam-ayam, serta hewan-hewan lain, dan suara-suara lain yang tak diketahui asalnya. Siapa yang bernyanyi, siapa yang berteriak, siapa yang menyenandungkan tembang-tembang indah yang bagi sebagian orang menyeramkan. Ah, rupanya media telah berhasil melakukan pembohongan publik.
Gunung.
Anak-anak menggambarkan gunung seperti ini: dua buah benda segitiga dengan ujung tumpul saling berdekatan. Di tengah-tengah kedua gunung itu terdapat sebuah matahari yang terlihat separuh. Sementara sebuah jalan panjang dari bawah menuju ke tengah-tengah gunung, atau ke arah matahari yang entah terbenam atau terbit itu. Tak lupa beberapa awan dan pohon menghiasi kanvas, bukan, buku gambar kecil bersampul kuning itu. Sentuhan akhir, gunung diberi warna biru, simbol kesejukan. Matahari berwarna kuning, dan warna-warna lain yang menurut mereka cocok. Itulah gunung menurut anak-anak, makhluk Tuhan yang kompleks.
Gunung menurut kaum minoritas: merupakan tempat tenang, gelap, dan merupakan pusat kekuatan spiritual. Gunung menjadi tempat yang baik untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Tempat yang baik untuk melatih kekuatan spiritual. Tempat yang baik untuk melakukan laku atau tapa. Dengan menjauhi tempat keramaian, ketenangan dan kesunyian akan lebih mudah ditemukan.
Itulah gunung.
Perasaan takut akan terasa ketika berjalan menerobos kabut tebal, sementara titik-titik air mengenai wajah. Takut akan kekuasaan kekuatan tertinggi. Dengan membayangkan hal itu, bagaimana mungkin manusia bisa bersikap sombong dan angkuh? Sungguh manusia akan menjadi kerdil ketika berada di tengah-tengah kabut tebal di puncak gunung. Akan tetapi ketika manusia sudah tak merasakan suatu kekuatan di balik kabut, di balik titik-titik air, di balik gunung, atau di balik jagat raya ini, sungguh mengerikan.
Hal-hal semacam itu memang hanya bisa dirasakan. “Rasa”, sulit dijelaskan. Entah itu Rasa Sejati, Sejatining Rasa, ataupun Rasa Tunggal Jati. Semuanya membutuhkan latihan untuk dapat merasakan sesuatu yang tersebar di dunia ini, agar manusia senantiasa tanggap ing sasmita. Dengan begitu, manusia akan lebih siap menghadapi segala hal yang mungkin akan terjadi.
Gusti Allah, telah menciptakan manusia sebagai penjaga di dunia ini. Bukan pemimpin seperti yang diperebutkan oleh manusia-manusia tamak akan kekuasaan dunia yang sementara. Banyaknya organisasi-organisasi keagamaan tidak membuat kondisi semakin stabil, malah konflik banyak terjadi. Saling tuding, meskipun mereka sebenarnya berakar pada satu sumber yang sama, Gusti Allah Kang Maha Agung.
Manusia, orang, insan, manungsa, jalma, people, uwong, dan lain-lain.
Hidup di tengah-tengah gunung, merupakan kehidupan yang tenang. Tak terpengaruh perselisihan-perselisihan, tak ada tudingan-tudingan, atau aturan-aturan manusia yang kerap menimbulkan masalah. Yang ada hanya aturan Tuhan yang tersampaikan lewat alam, pohon-pohon, hewan-hewan, mata air, sungai yang mengalir, atau melalui bisikan angin dan udara dingin yang menusuk hati. Itulah kehidupan yang tenang.
Merapi tak pernah ingkar janji.
Read more ►
 

Copyright © nglengkong Design by O Pregador | Blogger Theme by Blogger Template de luxo | Powered by Blogger