Sunday, January 30, 2011

Train of Thought: Javanese Culture

0 comments
Again, Javanese culture is a culture that able to enlarge the ‘sense’ in understanding life, and then use it into daily activity, the inter-human relationship, human and nature, and the more, human and the God. It is more to the spiritual aspect than the physical, and the consequence is, this culture is little difficult than other countries cultures. Spiritual aspect needs more understanding and time, and that is the factors why people (also Javanese people) sometimes are don’t want to learn their culture.
Actually, the secret of Javanese culture is hidden on language, the Javanese letter (see my older post: Javanese Letter….), that have meaning for each letters. That is the one way to get knowledge about culture, because there are many ways to learn Javanese culture. One thing, when we want to learn it, we have to consider that this is important and we must step by step, and in the certain step, we must have guider to guide us. We cannot learn by ourselves about something abstract (spiritual aspect), because this is the central. Although, for example, we are smart in school, in this area, we are inexperienced.
One interesting thing is about Semiotic Study (a study of sign or symbol). Semiotic study that introduced in west countries about many years ago, and furthermore, because of the work of Roland Barthes, this study learnt by many students around the world. Javanese people have their own way to read symbol without learn Semiotic or signifier, significant, etc. Before Semiotic was found and then develop, many years before Javanese people are able to read symbol. Based on Linus Suryadi on his book “Dari Pujangga ke Penulis Jawa”, he states that Javanese culture is started from 8th century (p. 5), although the first kingdom in Java island was in 1st or 2nd century, Salakanagara.
From the example above, now we know that this (Javanese culture) is one of ancient culture, and still exist until now. One way to keep this culture is we, as the young generation, must learn more about this. Maybe we can start by read, but that is for warming up, to get what the point, and then we have to find the teachers to guide us. Because without teachers, the chance to confuse is bigger, and the worst, we will lost to find the right purpose.
Maybe we can read some literatures about it, but it only for a while; because there is something we cannot understand by ourselves. We will stuck at the one point, and the result is we will feel that is too complicated, too difficult, and finally we stop the learning process. This is the importance of teacher, they will guide us about what, why, and how culture is.
Even, Sri Paduka Paku Buwono IV wrote about the importance of teacher through a song:
Nanging yen sira nggeguru kaki, amiliya manungsa kang nyata, ingkang becik martabate, sarta kang wruh ing kukum, kang ngibadah lan kang wirangi, sokur oleh wong tapa, ingkang wus amungkul, tan mikir pawewehing liyan, iku pantes guronana kaki, sarta kawruhana.
To choose a teacher, we have to consider some things, such as becik martabate (good attitudes to the all of the God’s entities), kang ngibadah lan kang wirangi (that believe there is only ONE GOD – ALLAH SWT), ingkang wus amungkul (smart), and tan mikir pawewehing liyan (without thinking the humans’ reward).
That is the ideal teacher to guide us to learn our culture, because we are the keeper of this culture. Now, our country are in west culture aggression, and in some cities, the west culture is success to influence the people’s mind. To face it, we must continue to learn our culture, because our culture is one of the ancient cultures, and the world still need our culture to maintain the humans’ attitude that getting worst every day.
Read more ►

Friday, January 21, 2011

Highway Road: A Gap Maker

0 comments
Many years ago, people need much time to go from one place to another place. The roads that connect those places are small, bad, and sometimes dangerous. For Javanese people that lives in a village, road don't act as a space that separate one side and another side. It was happen long time ago…
But now, road is the one of modernization symbols. Every place connected with the road; big and good condition, and it makes the travel easier, faster and comfortable. That is the benefit, but actually, for Javanese people, road (especially big road like highway road) have several detriments, but many of them are not aware.
First, highway road is a killing machine (commonly, many people in whole world agree about this) when they are not carefully while they are driving. When a road has good condition, people will drive as fast as they can, to avoid the time limit. It will be more dangerous when all people have same perception; they don't want to be late, so they will ride faster.
Next, road (especially highway road) is a gap maker between a society in one side and another side. Highway road always busy and many fast vehicles pass the road. It makes a society in one side think twice if they want to cross the road to meet their neighbors in other side. Javanese people believe that neighbors are the closest family. When it happens, the feels that they are family slowly disappear, and the worst effect is for their heirs. They will not recognize each other, even in the past time, their parents are friends.
That is the most dangerous effect, because Javanese culture is a culture that cares with other people (especially the family and neighbors). Even there is a wise word about this relationship, “luwih becik pager mangkok tinimbang pager tembok (java, it means: bowl gate is better than stone gate). How it can be?
That sentence means that people must share each other, because human live in this world is to help one and another. “Share”, symbolized as “bowl”, because bowl is a place to take food, and it means that, shares the food into your neighbors. They also believe that a society in same village is from the same ancient, so they are family. One thing that can be seen is their spirit of togetherness, like “gotong royong (see my older post titled Gotong Royong: Reflection of Togetherness)”, where a society work same thing, such as build someone house or clean the environment.
We as the next generation must keep the spirit from our ancient, where in the past, Javanese people are became the great people with their local wisdom, harmonization with the nature, and it makes they can “read” the natures’ symbols to face the things that will happen in the future. Prabu Jayabaya from Kediri is one of them…
Read more ►

Tuesday, January 11, 2011

SUMPAH BUDAYA II

0 comments
SUMPAH BUDAYA II, oleh Mas Kumitir
Situasi mental sosial-budaya bangsa semakin memprihatinkan dan harus segera dicarikan jalan keluarnya. Juga harus ada langkah raksasa agar ada keperdulian dari semua elemen bangsa untuk memelihara dan menjaga budaya nusantara tidak sekedar parsial namun dalam scope nasional secara komprehensif. Perlu pula dilakukan semacam revitalisasi budaya bangsa dengan visi menjadi bangsa Indonesia yang berkarakter (mempunyai jati diri), bermartabat dan terhormat.
Apa pentingnya budaya? Budaya merupakan seperangkat nilai yang tak bisa dianggap remeh. Karena kebudayaan merupakan nilai-nilai luhur sebagai hasil adanya interaksi manusia dengan lingkungan alam dan lingkungan sosialnya yang telah terbangun sejak ribuan tahun silam. Nilai-nilai luhur yang telah menjiwai sebuah bangsa dan masyarakat. Sehingga kebudayaan sangat mewarnai sekaligus memberi karakter pada jiwa suatu bangsa (volkgeist). Budaya menjadi cerminan nilai kejiwaan yang merasuk ke dalam setiap celah kesadaran dan aktivitas hidup manusia atau.
Oleh sebab itu, sistem budaya sangat berpengaruh ke dalam pola pikir (mind-set) setiap individu manusia. Budaya berkonotasi positif sebagai buah dari budi daya manusia dalam menjalani kehidupan dan meretas kreatifitas hidup yang setinggi-tingginya. Maka budaya pun bisa dikatakan nilai-nilai kearifan dan kebijaksanaan suatu masyarakat atau bangsa yang lahir sebagai hikmah (implikasi positif) dari pengalaman hidup selama ribuan tahun lamanya. Adanya budaya juga membedakan mana binatang mana pula manusia. Manusia tidak disebut binatang karena pada dasarnya memiliki kebudayaan yang terangkum dalam sistem sosial, plitik, ekonomi dan kesadaran spiritualnya. Setuju atau tidak setuju, kenyataannya budaya sangat erat kaitannya dengan moralitas suatu bangsa.
Lantas seperti apakah karakter budaya kita bangsa Indonesia ? Bangsa yang tidak berbudaya maksudnya untuk merujuk suatu bangsa yang sudah bobrok moralitas dan hilang jati dirinya. Budaya kita telah lama mengalami stagnasi kalau tidak boleh disebut kemunduran. Tanda-tandanya tampak terutama dalam pemujaan berlebihan di kalangan masyarakat luas terhadap hal-hal yang bersifat fisik dan material yang datangnya dari luar nusantara. Oleh karena itu, mutlak segera dibahas dan dipecahkan bersama-sama. Kita perlu menyadari bahwa banyaknya persoalan yang dihadapi bangsa ini sangat kompleks menyangkut kehidupan sosial, ekonomi, politik dan lainnya. Namun harus digarisbawahi kalau bidang-bidang tersebut sangat terkait dengan krisis yang berlaku di lapangan kebudayaan.
Kita mengakui budaya bangsa warisan leluhur kita sangat adiluhung. Namun kenapa perhatian semua pihak terhadap budaya bangsa semakin lama semakin rendah? Bangsa ini seakan menjadi bangsa yang tanpa budaya, dan perlahan dan pasti suatu saat nanti bangsa ini pasti lupa akan budayanya sendiri. Situasi ini menunjukan betapa krisis budaya telah melanda negeri ini. Rendahnya perhatian pemerintah untuk menguri-uri budaya bangsanya, menunjukan minimnya pula kepedulian atas masa depan budaya. Yang semestinya budaya senantiasa dilestarikan dan diberdayakan. Muara dari kondisi di atas adalah bangkrutnya tatanan moralitas bangsa. Kebangkrutan moralitas bangsa karena masyarakat telah kehilangan jati dirinya sebagai bangsa besar nusantara yang sesungguhnya memiliki “software” canggih dan lebih dari sekedar “modern”. Itulah “neraka” kehidupan yang sungguh nyata dihadapi oleh generasi penerus bangsa. Kebangkrutan moralitas bangsa dapat kita lihat dalam berbagai elemen kehidupan bangsa besar ini. Rusak dan hilangnya jutaan hektar lahan hutan di berbagai belahan negeri ini. Korupsi, kolusi, nepotisme, hukum yang bobrok dan pilih kasih. Pembunuhan, perampokan, pencurian, pemerkosaan, asusial, permesuman, penipuan dan sekian banyaknya tindak kejahatan dan kriminal dilakukan oleh masyarakat maupun para pejabat. Bahkan oleh para penjaga moral bangsa itu sendiri.
Undang Undang Dasar Negara RI tahun 1945 (UUD 1945) Pasal 32 ayat (1) dinyatakan, “Negara memajukan kebudayaan nasional di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasa masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai–nilai budayanya”. Sudah sangat jelas konstitusi menugaskan kepada penyelenggara negara untuk memajukan kebudayaan nasional Indonesia. Ini berarti negara berkewajiban memberi ruang, waktu, sarana, dan institusi untuk memajukan budaya nasional dari mana pun budaya itu berasal.
Amanah konstitusi itu, tidak direspon secara penuh oleh pemerintah. Bangsa yang sudah merdeka 65 tahun ini masalah budaya kepengurusannya “dititipkan” kepada institusi yang lain. Pada masa yang lampau pengembangan budaya dititipkan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, kini Budaya berada dalam satu atap dengan Pariwisata, yakni Departemen Pariwisata dan Budaya. Dari titik ini saja telah ada kejelasan, bagaimana penyelenggara negara menyikapi budaya nasional itu. Budaya nasional hanya dijadikan pelengkap penderita saja.
Kita ingat beberapa saat yang lalu kejadian yang menyita perhatian yaitu klaim oleh negara Malaysia terhadap produk budaya bangsa Indonesia yang diklaim sebagai budaya negara Jiran tersebut, antara lain lagu Rasa Sayange, Batik, Reog Ponorogo, Tari Bali, dan masih banyak lainnya. Apakah kejadian seperti ini akan dibiarkan terus berulang?
Seharusnya peristiwa tragis tersebut dapat menjadi martir kesadaran dan tanggungjawab yang ada di atas setiap pundak para generasi bangsa yang masih mengakui kewarganegaraan Indonesia. Negara atau pemerintah Indonesia semestinya berkomitmen untuk mengembangkan kebudayaan nasional sekaligus melindungi aset-aset budaya bangsa, agar budaya Indonesia yang dikenal sebagai budaya adi luhung, tidak tenggelam dalam arus materialistis dan semangat hedonisme yang kini sedang melanda dunia secara global. Sudah saatnya negara mempunyai strategi dan politik kebudayaan yang berorientasi pada penguatan dan pengukuhan budaya nasional sebagai budaya bangsa Indonesia.
Sebagai bangsa yang merasa besar, kita harus meyakini bahwa para leluhur telah mewariskan pusaka kepada bangsa ini dengan keanekaragaman budaya yang bernilai tinggi. Warisan adi luhung itu tidak cukup bila hanya berhenti pada tontonan dan hanya dianggap sebagai warisan yang teronggok dalam musium, dan buku buku sejarah saja. Bangsa ini mestinya mempunyai kemampuan memberikan nilai nilai budaya sebagai aset bangsa yang mesti terjaga kelestarian agar harkat martabat sebagai bangsa yang berbudaya luhur tetap dapat dipertahankan sepanjang masa.
Dalam situasi global, interaksi budaya lintas negara dengan mudah terjadi. Budaya bangsa Indonesia dengan mudah dinikmati, dipelajari, dipertunjukan, dan ditemukan di negara lain. Dengan demikian, maka proses lintas budaya dan silang budaya yang terjadi harus dijaga agar tidak melarutkan nilai nilai luhur bangsa Indonesia. Bangsa ini harus mengakui, selama ini pendidikan formal hanya memberi ruang yang sangat sempit terhadap pengenalan budaya, baik budaya lokal maupun nasional. Budaya sebagai materi pendidikan baru taraf kognitif, peserta didik diajari nama-nama budaya nasional, lokal, bentuk tarian, nyanyian daerah, berbagai adat di berbagai daerah, tanpa memahami makna budaya itu secara utuh. Sudah saatnya, peserta didik, dan masyarakat pada umumnya diberi ruang dan waktu serta sarana untuk berpartisipasi dalam pelestarian, dan pengembangan budaya di daerahnya. Sehingga nilai-nilai budaya tidak hanya dipahami sebagai tontonan dalam berbagai festival budaya, acara seremonial, maupun tontonan dalam media elektronik.
Masyarakat, sesungguhnya adalah pemilik budaya itu. Masyarakatlah yang lebih memahami bagaimana mempertahankan dan melestarikan budayanya. Sehingga budaya akan menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari. Dengan adanya pemeliharaan budaya oleh masyarakat, maka klaim-klaim oleh negara lain dengan mudah akan terpatahkan. Filter terhadap budaya asing pun juga dengan aman bisa dilakukan. Pada gilirannya krisis moral pun akan terhindarkan. Sudah saatnya, pemerintah pusat dan daerah secara terbuka memfasilitasi partisipasi masyarakat dalam upaya penguatan budaya nasional.
Dengan dasar di atas, kami bagian dari elemen bangsa ini bersumpah untuk:
1. IKUT SERTA MEMELIHARA WARISAN BUDAYA BANGSA (NATIONAL HERITAGE).
2. MENDESAK KEPADA PEMERINTAH UNTUK SERIUS MEMPERHATIKAN PEMBANGUNAN BUDAYA DAN MENSOSIALISASIKANNYA DI DUNIA PENDIDIKAN.
3. MENGELUARKAN KEBIJAKAN YANG MENDUKUNG LESTARINYA NILAI-NILAI BUDAYA LOKAL DAN NASIONAL YANG POSITIF DAN KONSTRUKTIF.
4. MENYARING BUDAYA ASING YANG MASUK MELALUI AKTUALISASI BUDAYA.
5. MENGGALANG SEMUA POTENSI BUDAYA YANG ADA MELALUI “MANAJEMEN BUDAYA” TATA KELOLA KEBUDAYAAN YANG BAIK DAN BENAR (GOOD CULTURAL MANAGEMENT/ GOOD CULTURAL GOVERNANCE).
TERTANDA
1. KI SABDALANGIT, www.sabdalangit.wordpress.com
2. MAS KUMITIR, www.alangalangkumitir.wordpress.com
3. KI WONG ALUS, www.wongalus.wordpress.com
4. ……………………………..
5. ……………………………..
6. ………………………..dst…
Bagi saudara sebangsa dan setanah air, silahkan bergabung dan sebarkan sumpah budaya ini dengan mengcopy paste dan mengisi nama anda dibawah Sumpah Budaya ini. Demikian pernyataan kami. Terima kasih. Asah asih asuh.
Read more ►

The Dilemma between Modernization and Tradition

1 comments
Indonesia has many mother languages, but to face the modernization, they cannot use their mother languages. As the global language, they have to master English well. Because of that fact, in Indonesia nowadays, English has big number of students in every University that have English study program, whether English Education or English Literary. In kindergarten, English became major subject from first grade. This fact shows how interesting English for Indonesian people.
Different with several country like Malaysia or Australia, English in Indonesia act as foreign language. By that fact, the method to learn English is different, the mastery also different. In several cities in Indonesia, students feel difficult in speaking, especially for Javanese people. Even, in that area, appear some jokes about that, i.e. they called it “Janglish” or Javanese English.
In this case, Javanese are in dilemma. In one side they want to their culture (language, arts, etc) still exist in this modern era, but in other side, the modernization make them slowly leave their own language. To learn English, people should learn the language culture from the language come from. It makes the Javanese young generation know more about English and its culture than their own culture. Even some people say that Javanese culture is ancient, dark and boring. Actually, Javanese culture is great; the proof is many strangers come to Java Island, to learn about the culture. They learn the language, arts and also the daily activity.
But anyway, English still has special place in Indonesia, especially in Javanese people. By English, they can introduce their culture into international world, and the world will see that Javanese culture is great, beautiful, and near by the nature.
Read more ►

Agama Sebagai Produk Budaya

4 comments
Di warung depan kampus, bersama tiga orang teman, kami mendiskusikan (istilah yang lebih ilmiah daripada menggosip, menurutku) tentang seorang dosen yang mempunyai fanatisme tinggi terhadap salah satu organisasi. Tak jarang dosen tersebut memojokkan salah satu suku bangsa, yang menurutnya banyak yang menyimpang dari ajaran agama Islam.
Kami memulai dengan membicarakan, apa sih bedanya budaya dan agama? Mengapa orang-orang Indonesia begitu mudah menuduh seseorang sebagai orang kafir, sirik, ataupun musyrik karena budaya? Walaupun rasanya hal ini merupakan masalah yang sensitif, dan diperlukan pikiran yang jernih untuk membicarakan masalah tersebut, namun saya merasa masalah ini sangat penting, karena untuk menghidari kesalahpahaman terhadap golongan tertentu, seperti yang selama ini sering terjadi di Indonesia. Akan tetapi, di bawah ini hanyalah opini pribadi saya mengenai masalah tersebut. Saya bukanlah seorang pemikir yang kritis, namun ini mungkin dapat dikatakan sebagai uneg-uneg, dalam menanggapi begitu gencarnya serangan-serangan terhadap golongan tertentu atas nama agama.
Budaya merupakan sebuah wadah besar, yang di dalamnya terdapat cipta, rasa, dan karsa manusia dalam perannya sebagai makhluk Tuhan. Jadi, dapat disimpulkan bahwa agama merupakan salah satu hasil dari budaya itu sendiri. Kemudian, yang menjadi kesenjangan antara kenyataan dan harapan adalah, setiap negara mempunyai kebudayaan yang berbeda satu sama lain, dan di sisi lain beberapa negara menganut agama yang sama (sebagai contoh agama Islam, agama yang mempunyai penganut dari berbagai latar budaya). Permasalahan akan muncul ketika negara-negara penganut agama Islam non-Arab, yang mempunyai kebudayaan yang sangat jauh berbeda dengan kebudayaan Arab, tempat dimana agama Islam berkembang pertama kali.
Indonesia merupakan sebuah negara dengan penganut agama Islam yang besar, dan dibentuk oleh kumpulan kebudayaan yang sangat beragam, yang sangat bertolak belakang dengan kebudayaan negara-negara Arab. Apabila kita mundur ke sejarah Indonesia, mayoritas masyarakat Indonesia lampau mengenal ajaran Animisme dan Dinamisme, ajaran yang sangat menghormati alam. Setelah itu datang era Hindu-Buddha ke Nusantara, yang pertama kali muncul pada abad ke-2 di Banten, dengan berdirinya Kerajaan Salakanagara (agama Islam konon telah ada sebelum abad pertama di pantai barat Sumatra, Barus). Disusul Kutai di Kalimantan dan Tarumanagara di Karawang. Era Hindu-Buddha berakhir pada tahun 1400 (menurut sejarah), bersamaan dengan runtuhnya Majapahit oleh serbuan Demak yang menganut Islam. Setelah itu agama Islam berkembang sangat pesat di Jawa, sedangkan sisa-sisa penganut agama Hindu memilih menyingkir ke Bali dan Nusa Tenggara Timur (Linus Suryadi AG, dalam bukunya Dari Pujangga ke Penulis Jawa, ia menuliskan bahwa, “Lagipula saudara-saudara etnik Jawa yang kini masih sangat kreatif di Pulau Bali, tiap kali ditanya asal-usul mereka, mereka pun akan mengaku bahwa: “Nenek moyang kami dari Majapahit. Orang Bali asli itu orang Trunyan di pinggir Danau Batur sana.” Hal.26). Pada periode inilah, agama Islam di Indonesia (Jawa) mengalami percampuran dengan kebudayaan asli dan kebudayaan Hindu-Buddha.
Mungkin inilah awal mula permasalahan, ketika Walisongo menyebarkan agama Islam dengan pendekatan budaya, masyarakat Indonesia saat ini memandang bahwa hal tersebut (budaya yang tidak sama dengan budaya arab, serta yang tidak ada dalam Al-Qur’an dan Hadist) merupakan budaya haram. Memang, di dalam kitab suci Al-Qur’an tidak tercantum tentang labuhan, atau jamasan pusaka, tapi bukan berarti hal tersebut musyrik. Orang-orang yang menghormati pohon-pohon besar, belum tentu berarti jelek. Mereka menghormati pohon-pohon besar, karena mereka tahu bahwa pohon merupakan makhluk bernyawa, makhluk hidup yang tidak boleh ditebang sembarangan. Kalau dibandingkan dengan sekarang?
Memang, budaya bukanlah agama.
Read more ►
 

Copyright © nglengkong Design by O Pregador | Blogger Theme by Blogger Template de luxo | Powered by Blogger