Tuesday, May 3, 2011

Bahasa Ibu yang Tergeser

Berbicara tentang keberagaman, negara ini sangat beragam dalam berbagai hal. Yang paling menonjol adalah mengenai kebuayaan, yang di dalamnya terdapat berbagai unsur-unsur pembentuk kebudayaan itu sendiri. Unsur-unsur pembentuk kebudayaan tersebut menjadikan kebudayaan Indonesia menjadi lebih berwarna, karena meskipun berbeda dalam berbagai hal, kumpulan kebudayaan tersebut mampu berdampingan secara harmonis.
Negara ini merupakan salah satu negara dengan bahasa ibu (mother tongue atau first language) terbanyak. Jika dihitung, dari Pulau Sumatera mempunyai beragam bahasa ibu. Kemudian bergeser ke Kalimantan, Jawa, Sulawesi, dan pulau yang eksotis, Papua (konon setiap desa di Papua mempunyai bahasa yang berbeda). Kemudian dari sekian banyak bahasa ibu tersebut disatukan dalam satu bahasa nasional, yaitu Bahasa Indonesia.
Itulah faktanya. Akan tetapi, kuatnya pengaruh kebudayaan luar yang secara membabi buta melakukan penetrasi ke Indonesia, secara perlahan keberadaan bahasa ibu menjadi terancam. Bayi-bayi yang lahir pada abad 20-21 semakin jarang mendengar bahasa ibu langsung dari orangtua mereka. Kini mereka langsung diajari Bahasa Indonesia, yang notabene adalah bahasa kedua (second language) di Indonesia. Ketinggalan jaman, itulah kebanyakan alasan mereka.
Akibatnya, banyak anak-anak muda yang kini berada di usia remaja kurang bisa menggunakan bahasa ibu dengan baik. Ambillah contoh Bahasa Jawa. Memang Bahasa Jawa itu sulit, karena terdapat berbagai peraturan-peraturan dalam penggunaannya, tidak hanya dalam penulisannya. Jika sewaktu kanak-kanak hal tersebut kurang diperhatikan oleh orangtuanya, maka hasilnya dapat diamati setelah ia dewasa. Ia akan bisa berbahasa jawa tetapi bahasa jawa ngoko (dalam hal ini lingkungan atau masyarakat yang berperan – lihat teori Empirisme oleh John Locke).
Bahasa ngoko tersebut akan selalu ia gunakan kepada siapapun lawan bicaranya. Entah itu teman, adik, ataupun orangtua. Inilah yang sebenarnya harus diberikan perhatian lebih. Kebudayaan jawa (sebagai contoh) adalah kebudayaan mengedepankan sopan santun, dan diantaranya ditunjukkan dengan bahasa.
Pengajaran bahasa kedua (second language) pada anak-anak masa kini tidak terlepas dari pengaruh bahasa asing (foreign language) yang saat ini mempunyai banyak sekali peminat. Banyak sekali universitas yang membuka fakultas bahasa asing, dan selalu mendapatkan banyak sekali peminat. Dengan cepatnya informasi, mau tidak mau bahasa asing harus dikuasai, minimal Bahasa Inggris. Tetapi harus diperhatikan bahwa bahasa ibu adalah disamping sebagai bahasa asli, bahasa ibu juga mengajarkan sopan santun (baca postingan terdahulu: Language Level and Good Behavior), sehingga manusia Indonesia meskipun menguasai berbagai bahasa asing, tetapi tetap mengedepankan sopan santun.
Jangan sampai bahasa ibu (mother tongue) hilang. Jangan sampai pula Bahasa Indonesia berubah menjadi bahasa ibu, sedangkan bahasa asing menjadi bahasa kedua. Bahasa Indonesia harus tetap menjadi bahasa kedua (second language), dan bahasa asing tetap menjadi bahasa asing (foreign language).

2 comments:

  1. jangan sampai muncul AYD (Al4y Y4n9 D153mpurn4k4n)

    ReplyDelete
  2. betul bung,,,,
    mari kita jaga bersama...

    ReplyDelete

 

Copyright © nglengkong Design by O Pregador | Blogger Theme by Blogger Template de luxo | Powered by Blogger