Wednesday, November 30, 2011

Sejarah dan Sastra (Nasional)

4 comments
Pada tanggal 28 November 2011 kemarin saya mengikuti kuliah umum yang diselenggarakan oleh Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Sebenarnya peserta kuliah umum ini terbatas hanya untuk dosen dan mahasiswa pascasarjana; akan tetapi dengan sedikit usaha, saya dan dua orang teman akhirnya bisa menyelinap masuk diantara dosen-dosen dan mahasiswa pascasarjana.
Kuliah umum ini mengangkat tema “Indonesia Dulu, Kini, dan Masa Depan dalam Perspektif Pendidikan”, dengan pembicara Professor Max Lane dari Universitas Melbourne, Australia. Setelah molor beberapa menit, seperti kebiasaan masyarakat Indonesia, akhirnya kuliah umum ini dimulai dengan pandangan pembicara tentang Indonesia dari berbagai segi, mulai ekonomi, hingga politik.
Read more ►

Sunday, November 13, 2011

Sastra Jawa, Pintu Gerbang Memahami Budaya Jawa

0 comments
Bahasa tulis memang mempunyai efek yang luar biasa pada khalayak umum. Bisa dilihat pada artikel-artikel yang termuat di suratkabar-suratkabar harian, mingguan, atau bulanan. Apalagi jika artikel tersebut ditulis oleh seseorang yang mempunyai pengaruh besar. Contoh nyata adalah ketika masa perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan, para pejuang tidak hanya berperang dengan senjata api atau bom, tetapi juga dengan pena dan tinta.
Bahasa tulis memang mempunyai daya tarik tersendiri bagi pembaca. Bahasa tulis mempunyai gayanya masing-masing. Bahasa jurnalisme akan berbeda dengan bahasa karya tulis, begitu pula bahasa pada karya tulis ilmiah akan berbeda pada bahasa sastra.
Sebagai salah satu ragam bahasa tulis, sastra memang mendapatkan tempat yang cukup istimewa di kalangan pembaca. Dengan bahasa yang indah, sastra mampu menarik minat seseorang untuk lebih mendalami ataupun sekedar menjadi penikmat. Hampir setiap bahasa di dunia ini mempunyai kesusasteraan sendiri-sendiri. Sastra Inggris dan Sastra Amerika banyak dipelajari oleh mahasiswa yang mengambil jurusan bahasa inggris. Sastra Inggris terkenal dengan Shakespeare-nya, sementara Sastra Amerika antara lain terkenal berkat Tom Sawyer, The Adventures of Huckleberry Finn, dll. Sementara dari daratan Eropa, nama Anton Chekov dan Leo Tolstoy cukup berpengaruh. Dari daratan Asia, nama Khalil Jibran (Kahlil Gibran) sangat dikenal di seluruh dunia.
Indonesia sendiri mempunyai banyak sastrawan hebat. Sebut saja Chairil Anwar, atau nama-nama lain seperti Taufik Ismail, dll. Sastrawan nusantara masa lalu lebih hebat lagi, sebut saja Mpu Tantular, Mpu Prapanca, Sultan Agung Hanyokrokusumo, R. Ng. Ranggawarsita, KGPAA Mangkunegara IV, dll.
Khusus sastra jawa, Linus Suryadi AG, penulis novel fenomenal “Pengakuan Pariyem” menuliskan dalam bukunya yang berjudul “Dari Pujangga ke Penulis Jawa”, bahwa periode kesusasteraan Jawa terbagi atas tiga periode, yaitu periode Jawa Kuno, Jawa Madya, dan Jawa Modern. Masing-masing periode tersebut saling mempengaruhi, terutama dari segi bahasa. Bahasa Jawa kuno (Sansekerta?) masih dominan digunakan dalam bahasa sastra pada periode itu. Sementara periode Jawa Madya, masih ditemukan sedikit bahasa Kawi (Kawi=sastra, perawi=penulis sastra, kakawin=karya sastra, kitab). Periode Jawa Modern, berkembang dengan Bahasa Jawa ragam Yogya-Solo sebagai pusatnya. Sementara sisa-sisa Bahasa Jawa Kuno dapat ditemukan di daerah Banyumas (serta daerah-daerah di sekitarnya yang menggunakan bahasa jawa ngapak).
Sastra Jawa mempunyai keunikan tersendiri dibandingkan dengan sastra-sastra dari bahasa lain. Salah satu ciri sastra jawa adalah strukturnya yang berupa lirik yang bisa dinyanyikan, meskipun menceritakan sebuah kisah yang panjang, misalnya kisah tentang seseorang (Babad Mangir, Suluk Gita Prabawa, dll). Tidak berupa narasi panjang seperti bentuk novel pada umumnya, tetapi lebih berupa lirik, yang saling berkaitan antara bait satu dengan yang lainnya. Beowulf, sebuah karya sastra klasik Eropa juga menggunakan pola seperti ini, hanya saja kemungkinan Beowulf tidak bisa dinyanyikan.
Salah satu kelebihan sastra jawa adalah, mempunyai tingkat spiritualitas yang tinggi. Karya-karya sastra jawa banyak mengisahkan tentang sisi spiritual manusia, hubungan manusia dengan sesama, dengan alam, dan dengan Tuhan. Bahkan tidak sedikit karya sastra jawa disusun dengan laku prihatin penulisnya. Salah satu karya sastra jawa yang konon merupakan karya sastra dengan unsur spiritualitas tinggi yang tidak sembarang orang bisa memahami adalah Serat Sastra Gendhing karangan Sultan Agung. Di dalamnya terdapat kalimat yang konon merupakan tingkat spiritual tinggi yaitu, “sastra jendra hayuningrat pangruwataning diyu.”
Selain itu, ada pula karya sastra jawa yang bersifat menasehati, bagaimana seharusnya manusia itu hidup di dunia ini, menjalani kehidupan dengan sesama manusia dengan rukun, selaras dengan alam, serta harmonis dengan Tuhan (Serat Wulangreh). Ada juga yang membimbing manusia agar mampu bersikap ksatria, terutama bagi para pemimpin (Serat Niti Sastra, Serat Niti Sruti). Ada yang menceritakan tentang masa depan (Jangka Jayabaya, serta beberapa karya Ranggawarsita). Serta yang cukup fenomenal dan kontorversial, bisa ditemui pada Serat Gatholoco (anonim), Serat Darmogandhul (anonim), dan Serat Tapel Adam (Ranggawarsita). Sastra Jawa juga memiliki ragam jenis yang bermacam-macam, seperti Babad, Suluk, Kidung, Serat, hingga yang lebih modern seperti Geguritan ataupun Cerkak (Cerita Cekak).
Terlepas dari pesan-pesan yang ingin disampaikan oleh penulis kepada orang-orang, sastra jawa merupakan pintu gerbang untuk memahami apa itu “Jawa”. Banyak sekali pesan-pesan yang bisa diambil manfaatnya, tidak hanya orang jawa, akan tetapi siapapun yang ingin mempelajarinya. Menjadi orang jawa bukanlah semata dilahirkan di daerah Jawa, akan tetapi mengenai bagaimana berperilaku yang baik dan sopan. Orang jawa sering menyebut orang yang berperilaku kurang sopan dengan sebutan ‘ora jawa’. Artinya bahwa jawa adalah perilaku yang baik, bukan sekedar apa yang tertulis di KTP.
Kebudayaan Jawa meskipun diakui merupakan kebudayaan yang adiluhung, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini budaya jawa mulai mengalami kemunduran. Orang-orang jawa sendiri yang seharusnya melestarikan, menjaga, ternyata sudah puas hanya dengan status adiluhung tersebut tanpa ada usaha yang cukup berarti. Meskipun ada, bahasa merupakan kendala yang cukup menyulitkan. Bahasa sastra jawa sangat berbeda dengan bahasa jawa sehari-hari. Bahasa sastra jawa juga bukan bahasa jawa khas Kraton, tapi bahasa sastra jawa (Kawi?), dimana untuk menemukan orang yang paham bahasa sastra jawa sangatlah sedikit.
Akan tetapi, sastra jawa merupakan salah satu cara untuk memahami budaya jawa, karena sastra jawa menceritakan hampir semua aspek kehidupan orang jawa, meliputi seni, tradisi, dan religi. Intinya, sastra jawa selain bisa dinikmati sebagai hiburan fisik, juga dapat dinikmati sebagai hiburan spiritual. Sastra jawa tidak hanya tentang menghibur, tetapi juga mengemong, membimbing, dan menuntun manusia agar dapat beperilaku jawa, yaitu perilaku yang baik serta sopan.

Read more ►

Wednesday, November 9, 2011

Pancasila di Era Millenium

0 comments
Indonesia sebenarnya merupakan bangsa unik sekaligus ‘kuno’, sebagai negeri warisan masa lalu yang eksotis. Meskipun banyak Negara-negara di dunia ini yang di masa lalu mempunyai sejarah yang lebih gemilang, entah kenapa Negara-negara tersebut tidak mempunyai sebuah kebanggaan akan warisan masa lalu. Indonesia, meskipun di satu waktu mempunyai sejarah yang kelam, akan tetapi sebenarnya jauh sebelum itu, Indonesia – atau Nusantara – merupakan sebuah wilayah subur yang secara bergantian dikuasai oleh kerajaan-kerajaan besar, yang beberapa diantaranya meninggalkan warisan yang masih dapat dinikmati sampai sekarang.
Sejak masyarakat Indonesia mengenal sebuah sistem pemerintahan, sejak itu pula pluralisme ada di Indonesia. Uniknya, di masa lalu tidak ada referensi yang menceritakan bahwa pada masa itu terjadi perselisihan antar umat beragama. Pada kitab-kitab era Nusantara pertengahan, di masa-masa awal pusat pemerintahan berpindah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur, nyaris tidak ada kitab yang menunjukkan hal tersebut. Disamping karena kitab-kitab pada masa itu kebanyakan merupakan gubahan dari dua induk semang kesusasteraan yang lebih tua, yaitu Ramayana dan Mahabarata.
Kitab Desawarnana atau yang lebih dikenal dengan Negarakertagama pun tidak ada yang menuliskan perselisihan antar umat beragama di masa itu. Negarakertagama malah mencatat hal yang sebaliknya, dimana penguasa saat itu, Hayam Wuruk mempersilakan rakyatnya memeluk agama yang mereka sukai. Apalagi Sutasoma, kitab yang konon berisi sindiran kepada Patih Gajah Mada inipun tidak memuat hal tersebut, malah memuat sebuah kalimat sakti yang tertulis di bawah lambang Negara Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika. Presiden Amerika Serikat yang anak Menteng, Barrack Obama menyebut ungkapan tersebut dengan Unity in Diversity.
Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa, begitu bunyi kalimat yang tertulis di dalam Sutasoma. Secara umum oleh masyarakat Indonesia diterjemahkan secara bebas sebagai ‘meskipun berbeda-beda tetap satu jua’. Kalimat yang sangat jelas bahwa perbedaan merupakan salah satu hal yang harus dihormati. Perbedaan adalah takdir, sebagaimana halnya kiri-kanan, atas-bawah, baik-buruk, hitam-putih, surga-neraka, dan hal-hal lain yang berlawanan. Meskipun tidak semua hal yang berbeda merupakan hal yang berlawanan. Hanya saja, sebagian masyarakat Indonesia yang merasa terhormat, kerapa menganggap bahwa yang berbeda dengan mereka bukanlah kawan, terutama perbedaan dalam berpendapat dan perbedaan partai politik.
Ungkapan sakti tersebut merupakan ide awal munculnya lima kalimat sakti yang hanya ada di Indonesia, yang dikenal dengan Pancasila, atau lima dasar. Hebatnya, Pancasila ini akan terdengar setiap seminggu sekali, oleh ribuan siswa sekolah, mulai dari siswa Sekolah Dasar sampai siswa setingkat Sekolah Menengah Atas, pada waktu yang bersamaan, di seluruh Indonesia! Betapa luar biasa Pancasila ini.
Dengan fakta tersebut, seharusnya Pancasila telah meresap ke dalam sumsum setiap rakyat Indonesia, sehingga segala perilaku rakyat Indonesia adalah perilaku Pancasila, yang menghargai perbedaan sebagai anugrah. Namun pada kenyataannya, meskipun selama sembilan tahun melafalkan Pancasila di bawah terik matahari, tetap saja banyak rakyat Indonesia yang tetap anarkis serta mudah terpancing emosinya. Siapa lagi kalau bukan petinggi-petinggi Negara yang kadang tak tahu malu berperang di ruang sidang.
Jika diibaratkan, Pancasila adalah panglima perang, sementara rakyat Indonesia adalah pasukannya, maka Pancasila sedang memimpin pasukan tersebut berperang melawan pasukan Negara-negara asing yang dipimpin oleh panglima perang bernama Kapitalisme dan Liberalisme, sementara dari pasukan lain dipimpin oleh panglima perang yang bernama Komunisme. Semuanya menyerbu Indonesia dan Pancasila. Perjuangan Pancasila semakin berat karena banyak prajurit-prajurit utamanya tergiur dengan janji-janji Kapitalis, Liberalis, dan Komunis.
Hasilnya, masyarakat Indonesia sudah mulai menjadi manusia individualis, tidak peduli lagi dengan tetangga. Bahkan oleh pemerintah dibuatkan sekat yang meskipun sempit namun sangat berbahaya, yaitu jalan-jalan tol yang mengelilingi hampir di semua pulau-pulau utama Indonesia. Jalan tol menjadi pemisah yang nyata antara masyarakat barat dan timur, ataupun utara dan selatan. Pasar-pasar modern seperti mall, menjadikan kurangnya interaksi harmonis antara penjual dan pembeli, karena tidak ada sistem tawar menawar. Yang dicari hanyalah keuntungan, baik dari pemilik jalan tol, yang mengharuskan siapapun yang lewat dikenai biaya. Ataupun pemilik mall, yang telah menetapkan harga barang yang tidak bias ditawar.
Masyarakat Jawa mengenal ungkapan “luwih becik pager mangkok tinimbang pager tembok”, yang bias diterjemahkan secara bebas berarti lebih baik berpagar mangkok daripada berpagar tembok. Ungkapan tersebut sangat terasa muatan Jawa-nya, yang kerap menggunakan perlambang untuk menggambarkan sesuatu. Mangkok merupakan wadah makanan, artinya hiduplah bertetangga dengan saling memberi. Hal itu lebih baik daripada berpagar tembok yang mengakibatkan kurangnya interaksi dengan sesama. Ungkapan lain yang juga sangat berbau filosofis, “tuna sathak bathi sanak”, artinya rugi harta untung saudara.
Pancasila, tersusun atas dasar perbedaan yang ada di Indonesia. Mulai dari perbedaan agama, suku atau ras, sampai perbedaan berpendapat, semuanya terangkum dalam lima kalimat sakti di dalam Pancasila. Karena itulah sebenarnya tidak ada alasan untuk saling bermusuhan antar masyarakat Indonesia. Jikalau ada, sebaiknya segera ingat pada Pancasila, karena Pancasila telah memberi solusi bagi mereka yang berselisih yaitu melalui jalan musyawarah.
Begitupun mengenai masalah yang paling sensitif di Indonesia, yaitu masalah agama dan suku. Seluruh agama mengajarkan kebaikan. Dan Pancasila lagi-lagi memberi solusi dengan mengingatkan dengan kalimat saktinya, “Ketuhanan Yang Maha Esa”, dan “Persatuan Indonesia”. Maka sebenarnya sungguh tidak beralasan ketika sekelompok organisasi saling menyerang atas dasar agama.
Sebenarnya untuk memahami Pancasila dibutuhkan usaha yang lebih dari sekedar mengerti. Pancasila tidak hanya sebuah kalimat yang mempunyai arti, tapi lebih dari itu, Pancasila mempunyai makna. Dibutuhkan hati dan pikiran yang jernih untuk memahami Pancasila, karena tidak cukup memahami Pancasila dengan pikiran belaka. Pancasila harus dirasakan dan direnungkan.
Pancasila membutuhkan dukungan rakyat Indonesia untuk menjadi lebih kuat. Yang perlu dilakukan rakyat Indonesia adalah kembali ke budaya asli Indonesia, yang pelan namun pasti ditinggalkan oleh masyarakat, dari pemuda hingga orangtua. Orangtua yang mengajari putra-putrinya sejak kecil bahasa inggris dan melupakan bahasa daerahnya, itu hanya sedikit contoh betapa banyak orangtua yang mulai menginginkan anak-anaknya menjadi orang asing di negeri sendiri. Dengan mengesampingkan suku, ras, agama ataupun perbedaan pendapat, sudah saatnya rakyat Indonesia kembali ke budaya asli Indonesia untuk menjadikan banga ini bangsa yang berakarakter.
Pemerintah harus bersikap lebih pro kepada kebudayaan asli. Pemerintah harus mengerti apa itu budaya, karena selama ini pemerintah mengartikan budaya sebatas pada seni, padahal seni bersama-sama dengan tradisi dan religi adalah unsur pembentuk budaya itu sendiri. Budaya adalah perilaku, perilaku tentang cipta, rasa, dan karsa manusia sebagai makhluk Tuhan. Itulah budaya. Pemerintah yang studi banding ke luar negeri dengan dalih belajar, adalah pemerintah yang tersesat, karena kebudayaan luar negeri tidak cocok diterapkan di Indonesia yang beraneka ragam. Sudah saatnya Pancasila bangkit, melindungi rakyat Indonesia dari perpecahan.


Read more ►

Sunday, November 6, 2011

Midnight Orchestra

1 comments

God has made the human become the special entity. As the last entity that came into this world, human grow with many things, and it makes human survive. Human can think, while the other entity like animals only uses their instinct. Human also develop in their way, they can interact between one and another, with the language. Language makes them are able to share their idea to another. The language is spoken and written language, it uses to interact between someone to others. But basically, human has other language, the language that used by human to interact with other entity beside human.
Human is not the only one in this world. Animals, trees, and others are also live in this world. All religions also said that human are the one of the entity in this world. There is another life in this world, but they are immaterial. In Indonesia (especially in Java), this is become usual issue. Even it can be said that Javanese are grow alongside with the supernatural around them. Some Javanese people even are able to interact with ghaib (something can’t be seen without supernatural power) entity. They develop their own language to make some conversations with the ghaib.
That is one of the many factors that makes there are many myths and also legends in Java. The name like Kanjeng Ratu Kidul, Kyai Petruk, Kiai Sapujagad, etc. is popular name in Javanese society, and they are not human. They can be the natural spirit that guards a place, like the ocean or mountain. Kanjeng Ratu Kidul is very popular name, and she’s famous as the guardian in Laut Selatan (the ocean located in south side of Java Island). Kyai Petruk and Kiai Sapujagad are famous as the guardian in Merapi (the most active volcano in the world, located in the border of Yogyakarta and Jawa Tengah). And many more.
Actually, human can interact with the spirit with certain practice. But, it quite hard because Javanese are the society that more awareness in supernatural aspect. The practice is a practice that can strengthen the supernatural power.
The interaction between human and spirit (ghaib) is not only from the oral or written language, but maximize all the part of the body (eyes, nose, ears, skin, and heart). Indirectly, people actually often interact with the spirit, but they are not aware. Sometime when human eyes captured the strange object, it can be the spirit. The spirit not exists, and they can transform their body into various object. But, when people can see the spirit with eyes, it means that the human has special power to see the unseen object like spirit. And not all human are able to do that.
But many people have interaction with the spirit through the sound and the smell. That process is the most way for the people to get interacts with the spirit. Certain smells are indicates that the spirit not too far away with human. The flower smell indicates that the spirit is close with human. When the smell is good, it can be the good spirit. But when the smell is horrific, it may that the spirit is bad. Same with human, the spirits also divided into good and bad. The smell of the spirit existence is only in small area, and it located in certain places like cemetery or place without or less human activity on it.
Different with smell, sound also can be indicates the supernatural being. But, it reaches larger area, more than a kilometer. The sound usually heard in the midnight until before the dawn, and the sound is various, from the marching band (people that live around Adisucipto Airport often hear it), until the sound of Javanese concert, full with the Javanese song, Macapat (often heard by people that live in as long as Progo River, the river that separates Bantul Regency and Kulon Progo Regency), and the Wayang Kulit show. The characteristic of the sound that came from the supernatural being is that sound is not too loud or too slow. It heard properly and mixes with the ear. But when there is someone wants to see or to get closer with the sound, the sound will be gone, and it heard in another place. The point is, the sounds only hear from the far place, and it can be heard in the close area. It seems like midnight orchestra, because it is very entertaining.
That is several indicate about supernatural being. Human can interact with the spirit by those ways. Based on the fact that human is not the only one that live in this world, human should aware that there are supernatural being around them. The awareness makes human more wise about something happen in this world. The awareness about ghaib also makes human more careful and hopefully, getting close to God, because the God is the biggest power in the universe. In Javanese, they call the God with Gusti Kang Maha Agung (the Greatest), Gusti Kang Murbeng Dumadi (the Creator of Life), etc. 
Read more ►
 

Copyright © nglengkong Design by O Pregador | Blogger Theme by Blogger Template de luxo | Powered by Blogger