Monday, December 5, 2016

Api di Bukit Menoreh: Kisah Panjang yang Tak Terselesaikan

0 comments
Sekali lagi ternyata saya harus menuliskan tentang karya Pak S.H Mintardja yang lain, yang merupakan karya terpanjang beliau - yang bahkan belum sempat terselesaikan hingga saat-saat terakhir dari Pak S.H Mintardja. Serial tersebut saat ini masih dimuat secara bersambung di Harian Kedaulatan Rakyat. Apa lagi kalau bukan serial monumental Api di Bukit Menoreh. Meskipun pada awalnya saya ragu untuk membaca kisah ini karena beberapa hal: kisahnya yang sangat panjang yang tak terselesaikan itulah yang sempat membuat saya ragu. Tapi, apa daya, godaan karya-karya Pak Mintardja memang sulit dilawan.
Setelah beberapa seri terbaca, ternyata serial Api di Bukit Menoreh ini memiliki sedikit hubungan, bahkan jika boleh dikatakan merupakan sambungan dari kisah populer lainnya, Nagasasra dan Sabuk Inten. Jika Nagasasra dan Sabuk Inten berlatar era Demak akhir, maka Api di Bukit Menoreh berlatar era yang lebih muda yaitu Pajang akhir hingga Mataram. Selain karena Pajang dan Mataram sendiri memang kepanjangan dari Demak, dalam kedua kisah tersebut sempat dituliskan, meskipun sedikit kaitan antara kedua kisah legendaris tersebut. 

Terlepas dari hubungan antara kedua kisah tersebut, serial Api di Bukit Menoreh memang lebih kompleks dari Nagasasra dan Sabuk Inten. Kisah Nagasasra dan Sabuk Inten terpusat pada usaha tokoh utama, Mahesa Jenar yang berusaha menemukan kedua pusaka kerajaan tersebut. Berbeda dengan kisah yang lebih panjang, Api di Bukit Menoreh yang pada awalnya terpusat pada perselisihan antara Pajang dan Jipang, kemudian bergeser ke Mataram. Namun persamaan dari kedua kisah tersebut adalah adanya satu tokoh penting yang memiliki hubungan langsung dengan Majapahit. Dalam hal ini keturunan Raja Majapahit terakhir: Pangeran Buntara di Nagasasra dan Sabuk Inten, kemudian Pamungkas alias Kiai Gringsing di Api di Bukit Menoreh.

Persamaan yang lainnya, terdapat tokoh fiksi yang menjadi kawan karib dari tokoh nyata. Pada serial Api di Bukit Menoreh, tokoh utama Agung Sedayu merupakan kawan karib dari Raden Sutawijaya alias Raden Ngabehi Loring Pasar alias Panembahan Senopati, serta Pangeran Benawa, putra Sultan Hadiwijaya alias Jaka Tingkir. Kemudian ada juga tokoh protagonis lain Glagah Putih yang berkawan karib dengan Raden Rangga, putra Panembahan Senopati. Sementara di kisah Nagasasra dan Sabuk Inten, tokoh protagonis bernama Arya Salaka - yang kemudian disebut Ki Gede Banyubiru di serial Api di Bukit Menoreh - merupakan kawan karib Jaka Tingkir semasa muda.

Karakter-karakter setiap tokoh juga sedikit banyak mirip satu sama lain. Meski begitu, kesan dan nuansa antara kedua kisah tersebut tidaklah sama. Dalam hal kesan dan nuansa, kisah Nagasasra dan Sabuk Inten terasa lebih kuat daripada Api di Bukit Menoreh. Tentu saja kita ingat bahwa tokoh utama di serial Nagasasra dan Sabuk Inten, Mahesa Jenar sempat dianggap sebagai tokoh nyata yang benar-benar ada. Terkait hal ini, diyakini oleh beberapa orang, di lereng Merapi terdapat sebuah tempat yang pernah digunakan oleh kakak beradik Ki Kebo Kanigara, Ki Kebo Kenanga - ayah Jaka Tingkir, dan seorang prajurit Demak bernama Rangga Tohjaya sebagai tempat pertemuan. Rangga Tohjaya sendiri merupakan nama keprajuritan Mahesa Jenar. Selain itu masih banyak hal lainnya.

Kesan lain yang menunjukkan bahwa Nagasasra dan Sabuk Inten lebih kuat dari Api di Bukit Menoreh adalah perwatakan tokoh utama, dalam hal ini Mahesa Jenar dan Agung Sedayu. Mahesa Jenar ini bisa dianggap sebagai orang dengan sifat-sifat idaman para pria: cerdas, teguh pendirian, kuat, tenang, santun, tidak mudah marah, tak mengenal takut membela kebenaran, kebapakan, sangat menghormati orang tua, namun agak tertutup dengan wanita. Sementara Agung Sedayu memiliki watak yang lebih kompleks: pada awalnya seorang yang sangat penakut, bahkan sangat akut. Kemudian karena suatu hal wataknya berubah menjadi pemberani, penuh perhitungan yang cenderung ragu-ragu, tenang, cerdas, pemalu di hadapan wanita, dan yang sangat ditonjolkan di karakter Agung Sedayu ini, tidak mudah marah bahkan cenderung tidak bisa marah walau dipancing dengan cara apapun. Meski dalam beberapa kesempatan Agung Sedayu ini merasa tersinggung, tetapi tidak pernah meledak-ledak seperti Mahesa Jenar.

Kemudian yang bisa dibandingkan lagi antara keduanya adalah kemampuan beladiri alias kanuragan. Mahesa Jenar sejak awal memang dikisahkan merupakan tokoh yang memiliki kemampuan tinggi, sementara Agung Sedayu dikisahkan merupakan seorang yang penakut meskipun memiliki kemampaun bidik yang luar biasa sehingga bisa membidik panah yang sedang dilepaskan dari busurnya. Kemudian sejalan dengan kisah yang berkembang, Mahesa Jenar mendapatkan kemampuan yang luar biasa setelah bertemu dengan Ki Kebo Kanigara. Sementara Agung Sedayu meskipun juga belajar secara bertahap, namun kemampuannya tiba-tiba melompat sangat tinggi. Jika Mahesa Jenar sangat terlihat sebagai murid satu perguruan, dalam hal ini Perguruan Pengging, maka Agung Sedayu memiliki berbagai ilmu dari berbagai cabang perguruan. Jika Mahesa Jenar hanya memiliki satu ilmu andalan yang disebut Sasra Birawa plus tubuhnya yang kebal racun, maka Agung Sedayu memiliki berbagai ilmu diantaranya Aji Kakang Kawah Adi Ari-ari, Ilmu meringankan tubuh, ilmu kebal, kebal racun, lontaran tenaga melalui sorot matanya, serta ilmu puncak dari perguruan Orang Bercambuk alias Perguruan Windujati.

Namun, mungkin karena berbagai ilmu nggegirisi tersebutlah yang menjadikan pertarungan di Api di Bukit Menoreh kurang bisa dicerna akal. Berbeda dengan Nagasasra dan Sabuk Inten, yang benar-benar memberi kesan bahwa Mahesa Jenar adalah orang yang perkasa dan tangguh. Pertarungan yang benar-benar beradu fisik dan tenaga dalam yang masuk akal, sementara pertarungan di kisah Api di Bukit Menoreh terkesan ngayawara: "tiba-tiba muncul selorot sinar dari mata Agung Sedayu yang menghantam dada, seolah-olah meremas jantung....". Selain dari mata, juga terdapat tokoh yang bisa melontarkan sinar dari telapak tangannya. Memang, terkadang terdapat kalimat-kalimat berlebihan untuk menggambarkan pertempuran, seperti "dadanya seakan-akan tertindih gunung" atau "segores kecil berarti sentuhan maut", namun sekali lagi kesannya berbeda.

Tetapi uniknya, setidaknya ini menurut saya sendiri, kedua tokoh tersebut yaitu Mahesa Jenar dan Agung Sedayu, muncul dalam kisah karya Pak S.H Mintardja yang lain, yaitu Tanah Warisan. Meskipun tidak sama persis, tetapi terasa bahwa kedua tokoh tersebut muncul secara perwatakan di dalam diri kedua tokoh utama di Tanah Warisan, yaitu kakak beradik Panggiring dan Bramanti. Panggiring cenderung mirip seperti Mahesa Jenar, sementara Bramanti sedikit banyak mirip dengan Agung Sedayu. Secara pribadi saya tidak tahu mana kisah yang terlebih dulu ada dari ketiga kisah itu, namun terasa bahwa tokoh utama dari ketiga kisah tersebut memang mirip. Sementara, watak serta sifat yang mirip seperti kedua tokoh itu tidak terdapat dalam kisah yang lain, seperti sebut saja Meraba Matahari.

Tokoh lain yang juga mirip adalah Rara Wilis di Nagasasra dan Sabuk Inten serta Pandan Wangi di Api di Bukit Menoreh. Kedua tokoh ini sangat mirip, baik itu watak dan sifat serta kemampuan kanuragan yang sama-sama menggunakan pedang sebagai senjata andalan. Keduanya digambarkan sebagai gadis cantik, sedikit pendiam, tidak mudah mengutarakan sesuatu, dan berilmu tinggi. Pada akhirnya Rara Wilis menikah dengan Mahesa Jenar, sementara Pandan Wangi menikah dengan Swandaru, adik seperguruan Agung Sedayu. Kemudian ada juga kakak beradik Ki Gajah Sora dan Ki Lembu Sora di Nagasasra dan Sabuk Inten, dengan kakak beradik Ki Argapati dan Ki Argajaya. Konflik kedua kakak beradik itupun sama: sang adik menyerbu tanah kelahirannya sendiri akibat hasutan tokoh antagonis. Kisah akhirnya juga sama, kedua adik tersebut menyadari kesalahan dan menjadi tokoh baik. Tokoh Sawung Sariti di Nagasasra dan Sabuk Inten juga memiliki sifat-sifat yang sama dengan Sidanti di Api di Bukit Menoreh.

Namun yang cukup berbeda adalah pertempuran di Api di Bukit Menoreh tidak selalu pertempuran klasik antara baik dan jahat. Pada perang antara Pajang dan Mataram, meskipun ada beberapa tokoh jahat namun perang itu terkesan "sopan", karena Mataram yang masih menghormati Pajang. Juga perang antara Mataram dan Madiun, yang juga perang antara keluarga. Perang antara Mataram dan Pati juga tidak memberi kesan perang yang kejam, karena di tengah-tengah peperangan terdapat dialog-dialog yang tidak memberikan kesan saling membenci satu sama lain.

Bagaimanapun juga, kisah Api di Bukit Menoreh memang sangat menarik untuk diikuti, terutama bagi penggemar kisah silat. Di sisi lain kisahnya yang belum terselesaikan tentu saja akan memberikan permasalahan tersendiri, meskipun beberapa penggemar telah berusaha melanjutkan kisah ini sesuai versi mereka sendiri. Sampai detik ini saya belum juga selesai membaca kisah petualangan Agung Sedayu karena memang benar-benar panjang. Sementara saya membaca versi digital yang membuat mata cepat lelah jika dipaksakan memandangi layar komputer terlalu lama. 

Mungkin jika ada waktu saya juga ingin menuliskan lanjutan serial Api di Bukit Menoreh menurut versi saya sendiri. Bisa jadi akan seperti ini: Agung Sedayu mengundurkan diri dari prajurit Mataram kemudian pindah dari Tanah Perdikan Menoreh dan menyepi ke sisi timur Sungai Progo di sebelah selatan. Atau ia tetap berada di Tanah Perdikan Menoreh namun memilih diam ketika Mataram terlibat ketegangan dengan Tanah Perdikan sisi timur Sungai Progo tersebut.

Atau mungkin juga tidak seperti itu. Atau malah tidak meneruskan sama sekali....





Read more ►

Monday, August 29, 2016

Mukidi vs Markesot

1 comments
Mukidi, nama itu belakangan menjadi populer. Menariknya, nama itu bukanlah merupakan nama seseorang yang nyata (meski tentu saja banyak di luar sana orang-orang yang bernama Mukidi), melainkan sebuah nama tokoh yang sering muncul di dunia maya. Dan Mukidi telah memenangkan internet. Orang-orang ramai membicarakannya, karena kelucuannya, kekonyolannya, dan berbagai perilakunya.
 
Mukidi, bukanlah tokoh yang pasti. Maksudnya, suatu hari ia bisa menjadi seorang siswa, di lain kesempatan ia menjadi orang-orang kebanyakan, dan peran-peran lainnya. Formula ini, telah muncul bertahun-tahun lalu, dimana seseorang yang juga fiktif (meski menurut penciptanya berdasarkan tokoh nyata), menjadi tokoh utama berbagai peristiwa.
 
Markesot. Sama seperti Mukidi, ia merupakan tokoh multidunia. Di suatu kesempatan ia menjadi aktifis mahasiswa yang vokal. Di lain kesempatan ia dianggap sebagai seorang penyembuh tradisional yang ampuh. Tak jarang juga ia menjadi gembel, berkelana dari satu tempat ke tempat lain. Bahkan kadang juga menjadi ahli mistik. Bedanya, meskipun saat ini Mukidi (mungkin) lebih terkenal daripada Markesot, Markesot telah muncul dalam dua seri buku, berjudul "Markesot Bertutur" dan "Markesot Bertutur Lagi."
 
Petualangan Markesot pun beragam, karena dalam berbagai kisah Markesot tidak hanya sendirian. Ia memiliki kawan-kawan yang juga 'unik', diantaranya Markedet, Markempo, Markembloh, Markadal, Markedut, dll. Mereka semua pun memiliki sebuah tempat berkumpul berupa rumah kontrakan yang disebut KPMb atau singkatan dari Konsorsium Para Mbambung. Mbambung, merupakan sebuah kata bahasa jawa yang bisa diartikan secara bebas sebagai "Bandel."
 
Jujur, saya baru sekali membaca kisah Mukidi, dalam sebuah postingan komentar dalam sebuah status di Facebook. Pada awalnya saya mengira itu adalah semacam spam (menggunakan kolom komentar sebagai tempat memposting kisah yang panjangnya minta ampun), namun ternyata beberapa hari kemudian saya menemukan bahwa Mas Mukidi ini sangat populer. Dan hingga saya menulis tulisan ini saya belum membaca kisah Mukidi yang lain.
 
Kenapa kisah-kisah semacam Mukidi, yang memiliki perilaku konyol sangat gampang menjadi populer? Sementara tokoh-tokoh konyol nan cerdas dan legendaris macam Nasrudin Hoja atau Abu Nawas tak pernah sampai sepopuler itu. Sementara di negeri kita, Markesot, yang muncul pertama kali pada tahun 1989 dan telah dikumpulkan menjadi buku, bahkan diterbitkan kembali, juga tak sepopuler itu.
 
Tetapi mungkin Mas Mukidi ini memiliki daya tarik misterius yang mampu menarik masyarakat untuk membaca kisahnya, yang membuatnya menjadi lebih populer daripada beberapa tokoh-tokoh lainnya. Meski begitu, Markesot memberikan lebih banyak inspirasi dan kelucuan, meskipun kadang perlu lebih dari sekali baca untuk memahami inti terdalam dari kisah Markesot. Hal ini bisa dimaklumi, karena pencipta Markesot adalah budayawan kondang Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun.
Read more ►

Wednesday, February 3, 2016

Apa Jadinya Mahesa Jenar Tanpa Sasra Birawa?

7 comments
Secara pribadi, saya menjadikan kisah ini menjadi salah satu kisah terfavorit, dan tokoh utama kisah ini, Mahesa Jenar, juga menjadi salah satu tokoh fiksi terfavorit. Mudah saja, kisah ini terasa sangat dekat, dalam berbagai hal. Kemudian, kisah ini selalu menarik untuk dibicarakan, terlepas dari perdebatan mengenai keyakinan beberapa kalangan yang menganggap Mahesa Jenar adalah tokoh nyata yang benar-benar ada di masa lalu.
Membicarakan Mahesa Jenar, tak bisa dilepaskan dari aji-ajinya yang dinamakan Sasra Birawa. Entah kenapa, meski ada orang lain yang juga menguasai aji-aji ini seperti tentu saja gurunya Pangeran Handayaningrat atau Ki Ageng Pengging Sepuh, dan Kebo Kanigoro, putra tertua Ki Ageng Pengging Sepuh, Mahesa Jenar dengan Sasra Birawa-nya terkesan lebih familiar. Mungkin karena Mahesa Jenar ini adalah tokoh utama.
Tetapi, ada yang menarik ketika ternyata Sasra Birawa milik Mahesa Jenar yang dahsyat tersebut belum mencapai tingkat tertinggi. Dalam pengembaraannya, ketika Mahesa Jenar bertemu dengan tokoh-tokoh dunia hitam golongan tua yang setingkat gurunya, secara tak sengaja Mahesa Jenar bertemu dengan Kebo Kanigoro yang memberinya petunjuk-petunjuk bagaimana mengembangkan aji-ajinya tersebut meski tanpa bimbingan gurunya.
Adegan ini mengingatkan pada kisah pewayangan, ketika Karna yang ditolak menjadi murid Durna, membuat patung yang mirip dengan Durna dan kemudian seolah-olah berlatih dengan Durna. Hasilnya, kemampuan memanah Karna bisa mencapai tingkatan sempurna sama seperti Janaka yang diajari langsung oleh Durna. Di dalam gua, Mahesa Jenar melihat sebuah batu, yang di sela-sela batu terselip bunga kantil, salah satu ciri khas gurunya, Ki Ageng Pengging Sepuh. Mahesa Jenar pun menggunakan ciri-ciri tersebut, menyelipkan dua buah bunga kantil di atas telinganya. Di dalam gua tersebut Mahesa Jenar berhasil mencapai kesempurnaan ilmunya, setelah menggembleng jiwa raga baik mental dan spiritual.
Nah, jika Sasra Birawa yang belum sempurna itu saja bisa sangat identik dengan sosok prajurit yang selalu mengenakan pakaian hijau tersebut, maka setelah ilmunya sempurna bisa dibilang bahwa Mahesa Jenar adalah Sasra Birawa, dan begitu pula sebaliknya.
Dalam berbagai pertarungan, Mahesa Jenar selalu menahan diri untuk tidak menggunakan aji-ajinya ini, kecuali berhadapan dengan musuh-musuh utamanya dari golongan hitam. Di tengah pertarungan, musuh-musuhnya akan berkeringat dingin ketika Mahesa Jenar bersiap dengan kuda-kuda aji-ajinya yang fenomenal; tangan kanan diangkat tinggi-tinggi, tangan kiri disilangkan ke dada, kaki kiri ditekuk ke atas. Itulah kuda-kuda aji Sasra Birawa yang sangat terkenal.
Lantas, bagaimana jika Mahesa Jenar beraksi tanpa Sasra Birawa? Bagaimana jadinya jika aji-aji milik Mahesa Jenar bukan Sasra Birawa, tetapi Cundhamanik, atau Lebur Sakethi, atau bahkan mungkin Rog Rog Asem, atau Gelap Ngampar? Mari kita bayangkan, seandainya Mahesa Jenar menggunakan aji-aji Lebur Sakethi. Dalam sebuah adegan pertarungan, “Mahesa Jenar bersiap dengan kuda-kuda aji-ajinya, Ia merentangkan kedua tangan lebar-lebar, mencondongkan tubuh ke depan dan menekuk kaki kanannya ke depan kemudian menggempurkan kedua tangannya ke arah musuhnya.”
Atau, “Mahesa Jenar bersiap dengan aji Gelap Ngamparnya yang dahsyat. Ia mulai tertawa-tawa dengan suara yang dilambari tenaga dalam dahsyat, sehingga siapapun yang mendengar tawanya itu akan langsung rontok seluruh isi dadanya.”
Satu kata; aneh.
Jadi singakatnya, Mahesa Jenar memang sudah identik dengan Sasra Birawa. Dan begitu pula sebaliknya, aji Sasra Birawa adalah Mahesa Jenar. Akan sangat aneh jika kemudian ada kisah lain menampilkan tokoh yang bisa menggunakan aji Sasra Birawa. Namun tak begitu dengan aji-aji yang lain, karena Rog-Rog Asem, Gelap Ngampar konon adalah aji-aji milik Raden Rangga, putra Panembahan Senopati.
Sementara saya mendapat kesimpulan bahwa Mahesa Jenar adalah Sasra Birawa, dan Sasra Birawa adalah Mahesa Jenar, pertanyaan lebih menggelitik menghampiri saya, “Bagaimana jadinya Mahesa Jenar tanpa Rara Wilis?”
 
Read more ►

Thursday, December 31, 2015

Selamat Tinggal 2015 yang Mengharu Biru, Selamat Datang 2016 yang Penuh Do'a

0 comments
Menurut tanggalan hari ini adalah tanggal 31 Desember 2015, yang berarti besok adalah tanggal 1 Januari 2016. Tahun baru, kata orang-orang. Berhubung malam tahun baru tahun ini jatuh di hari baik, yaitu malam Jum'at Kliwon, semoga tahun depan segalanya berjalan dengan baik. Tentang resolusi, cukup diri kita sendiri dan Tuhan saja yang tahu.
Tapi sial, rencana pengin nonton acara televisi yang tentunya bakal keren-keren, malah dapet undangan sosialisasi apalah di kampung. Mau gimana lagi, ya harus datang. Memenuhi undangan wajib kan hukumnya. Apalagi demi tempat dimana aku tumbuh besar. Meskipun harus bolos...

Bukan apa-apa, aku mempunyai semacam ritual yang harus dikerjakan pada saat-saat seperti ini. Sebelum waktu melewati tengah malam, aku harus melakukan itu. Ada beberapa yang harus dikerjakan, salah satunya ya ini. Oh ya, jam sengaja aku tulis WIK alias Waktu Indonesia Kamijoro, heuheuheu...

Jadi ingat buku "Indonesia Bagian dari Desa Saya."

11:18 WIK - Masih cukup lama menuju tengah malam. Untungnya masih sempat melakukan ritual meskipun harus bolos. Maaf Pak Lurah, Pak Dukuh, aku harus bolos...

11:23 WIK - Kok kayanya susah ya nulis model ginian...Hmm...

11:25 WIK - Tapi terkait dengan cuaca panas di musim penghujan, kemarin di suatu tempat aku ketemu simbah-simbah. Saat itu aku bersama kawan-kawan sedang beristirahat di bawah pohon talok. Simbah-simbah itu menghampiri dan berbicara panjang x lebar x tinggi. Tahulah orang tua...

Nah, singkat cerita bahwa hujan akan turun lagi setelah ulat-ulat ganas pemangsa daun pohon jati mulai berubah menjadi kepompong, alias "ngungkrung." Nah, itu adalah semacam "ngelmu titen" yang biasanya memang dipahami oleh para orang-orang tua zaman dahulu...

11:31 WIK - Untungnya aku bukan pemangsa segala, jadi ulat-ulat itu aman...

11:34 WIK - Masih lama. Samar-samar terdengar suara musik...

11:39 WIK - "Why do I miss someone I never met, with bated breath I lay? Sea winds brought her to me, a butterfly..."

Ngomong opooo...

11:43 WIK - Hmm...

11:46 WIK - Tetapi tahun 2015 ini benar-benar mengharu biru. Dari inilah, itulah, hingga entahlah..

Dan yang harus aku katakan adalah "I'm not running away, I'm movin' on!"

11:49 WIK - Tapi jangan tanya move on dari apa karena pasti aku ndak akan jawab itu. Terkadang kenangan itu terlihat jelas ketika aku menutup mata, tetapi ndak apa-apa. Bukankah "jangan sekali-kali melupakan sejarah?" Heuheuheuheu...

11:51 WIK - Di timeline Facebook beberapa kawan sudah mengucapkan selamat menempuh hari baru. Aku sih belum, karena aku menggunakan waktu WIK, yang mana mempunyai selisih sekitar lima menit dengan WIB...

"Bukan merayakan, tetapi mensyukuri karena masih diberi kesempatan menikmati tahun yang baru." Tulis seorang teman di Wall-nya...

11:54 WIK - Ao..ndak sengaja menggaruk jerawat di pundak. Ini juga kurang kerjaan, jerawat kok ya sampe pundak. Apa di wajah sudah ndak nyaman; banjir kalau musim hujan, gersang kalau musim kemarau... Atau khawatir akan rusak karena bakal dipencet-pencet sama para maniak selfie? Heuheuheu...

11:57 WIK - Terdengar suara dar der dor...

11:58 WIK - Lapar... Kenapa arem-arem tadi ndak aku bawa pulang saja? Hmm...

12:00 WIK - Semoga segala sesuatu berjalan dengan baik, apa-apa yang kita harapkan di tahun 2016 ini bisa tercapai. Semoga kita bisa mengurangi atau bahkan menghilangkan sifat iri dengki kepada diri kita sendiri, keluarga, tetangga, kawan-kawan, dan para pemimpin kita. Semoga kita bisa memenuhi apa-apa yang menjadi kewajiban kita, kewajiban kepada diri kita sendiri, kepada orang tua, kepada keluarga, kepada sesama manusia, kepada sesama makhluk Tuhan, kepada alam semesta, dan kepada Tuhan Yang Maha Esa..

Selamat berjuang untuk kawan-kawanku semuanya, serta kepada diriku sendiri..

Salam asah asih asuh
Rahayu Rahayu Rahayu...

Kamijoro - 31 Desember 2015 - 1 Januari 2016


Read more ►

Monday, November 2, 2015

Tren Pamer Hewan Buruan di Media Sosial

0 comments
Bahwa akhir-akhir ini sering dijumpai foto-foto selfie bersama hewan buruan di berbagai media sosial populer, perlu diperhatikan lebih serius. Namanya juga selfie; mereka memasang tampang imut, keren, atau gestur-gestur lain yang menunjukkan ketangguhan mereka. Sementara, di sampingnya, hewan buruan yang notabene hewan langka yang telah terbujur kaku masih tetap ‘dipaksa’ untuk berpose selfie.
Dalam kasus ini, terlihat bagaimana sifat alamiah manusia yang cenderung perusak, meski dikatakan bahwa manusia diutus ke bumi adalah sebagai khalifah. Tidak main-main, daya penghancur yang ada pada makhluk bernama manusia ini sangatlah tinggi. Bahkan, segala cara akan ditempuh untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Contoh paling mudah, masih ingatkah film Avatar buatan James Cameron yang rilis beberapa tahun lalu? Dalam film itu ditunjukkan bahwa betapa daya penghancur manusia sangatlah mengerikan.
Eksploitasi alam. Penambangan sumber daya alam yang masif, perburuan hewan serta pembukaan lahan produktif yang tak terkontrol seakan menjadi berita sehari-hari. Sebagai wilayah hijau yang (dulu) merupakan paru-paru dunia, Indonesia mempunyai semua itu; sumber daya alam berlimpah, baik di permukaan atau di dalam perut bumi.
Hanya sekedar berbagi kisah. Konon di suatu tempat hidup seorang yang pandai. Cukup disegani oleh masyarakat. Tetapi orang pandai itu mempunyai hobi yang merusak, yaitu mencari ikan dengan cara menyetrum. Bukan apa-apa, hanya saja bagaimana mungkin seorang yang pandai serta berwawasan bisa melakukan hal itu? Dan hampir setiap hari ia melakukan itu. Jika sungai adalah suatu negara, dan ikan-ikan di dalamnya adalah rakyat, maka bukankah sama saja orang itu melakukan genosida? Pembunuhan massal yang terencana dan sistematis untuk menghilangkan suatu ras (lebih tepatnya suatu spesies) dari bumi.
Apa sih yang sebenarnya dicari oleh orang-orang semacam itu? Kepuasan? Atau apa? Jika mencari kepuasan, kepuasan macam apa itu, yang puas setelah membunuh. Bahkan memamerkan ke orang lain dengan bangganya.
Dengan melihat segala tanda-tanda yang ada di sekitar, meski ada kemajuan di bidang-bidang tertentu, tidak bisa dipungkiri bahwa secara mental spriritual manusia secara umum mengalami kemunduran. Keliru jika menyebut bahwa peradaban lampau lebih primitif dibandingkan dengan peradaban modern saat ini; manusia yang hidup di masa silam berburu sesuai dengan kebutuhan, mereka juga berusaha untuk membuat sesuatu yang bisa digunakan untuk menutupi tubuh mereka. Sementara, pemandangan yang cukup kontras tersaji di era milenium; perburuan untuk memuaskan nafsu, dan semakin banyak orang-orang yang hanya mengenakan pakaian seadanya di muka umum sementara ada pakaian yang lebih pantas. Kemunduran.
Kemunduran juga dialami manusia modern terkait dengan kemampuannya untuk membaca tanda-tanda alam atau sasmita. Terlihat di sini bahwa kemajuan teknologi yang pesat malah menghilangkan kemampuan manusia untuk membaca alam. Padahal, nenek moyang Indonesia adalah orang-orang tangguh yang bisa membaca tanda-tanda alam yang bisa digunakan sebagai pemandu sebelum melakukan sesuatu.
Maka yang perlu diingat adalah nasihat dari simbah-simbah kita dulu, bahwa manusia hidup di dunia ini harus selalu eling lan waspada, serta ojo dumeh.
Nadyan sira pinunjul | Nanging aja sira njur keladuk | ngelingana wong urip anggendhong lali | Den elingo urip iku | Prayoga ingkang prasaja ||
Tembang macapat Gambuh tersebut harap selalu diingat. Bahwa meski manusia itu adalah makhluk unggul dan diciptakan lebih baik dari seluruh makhluk Tuhan di dunia, janganlah kemudian menjadi sombong, angkuh, atau tamak karena sebenarnya manusia itu selalu membawa sifat ‘lupa’ di dalam dirinya. Ingatlah bahwa hidup sederhana itu lebih baik.
Read more ►

Sunday, October 25, 2015

Edisi Aksara Jawa: Makna Aksara “Ka”

1 comments
Dalam urutan aksara Jawa, setelah “ra” adalah aksara “ka”. Sama seperti aksara-aksara sebelumnya, aksara “ka” juga mempunyai maknanya sendiri. Aksara “ka” secara sederhana mempunyai makna “berkumpul.” Di sini, makna “berkumpul” bisa diartikan bahwa pada setiap manusia mempunyai sifat-sifat ke-ilahi-an, disamping juga sifat-sifat buruk. Maka, berkumpulnya kedua sifat tersebut di dalam diri manusia seringkali memunculkan pertentangan-pertentangan yang berkecamuk di dalam diri manusia.
Namun, ketika manusia bisa mengelola dengan baik sifat-sifat ke-ilahi-an yang ada di dalam diri, yang terjadi adalah kemudian makna yang lebih mendalam daripada “berkumpul”, yaitu sifat yang lebih luas, yang berkaitan dengan hubungan antara manusia dana lam semesta, yaitu “Karsaningsun Hamemayuhayuning Bawana.” Sudah banyak diketahui bahwa “Hamemayuhayuning Bawana” adalah salah satu perwujudan bahwa manusia adalah khalifah di bumi.
Terkait dengan khalifah, ada satu hal yang menarik untuk dibahas. Bahwa pengertian khalifah adalah “pemimpin” atau juga bisa sebagai “pemelihara”, namun disini, pemimpin yang bagaimana? Atau pemimpin di bumi bagian apa? Secara sederhana, pemimpin yang baik selalu ditaati oleh bawahannya, maka ketika pemimpin itu memerintahkan sesuatu, maka bawahannya akan langsung mengerjakannya. Nah, terkait dengan manusia sebagai khalifah di bumi, seharusnya jika manusia memimpin dan mengelola alam dengan baik, maka alam (bumi) akan mematuhi manusia. Sebagai contoh, pada zaman dahulu, sering terdengar kisah-kisah bahwa ada orang-orang sakti yang bisa berjalan di atas air, atau terbang menggunakan pelepah pisang, dan sebagainya.
Terlepas dari hal itu, bahwa manusia memang harus mempunyai semangat “Hamemayuhayuning Bawana”, terutama pada era sekarang dimana modernisasi dan industrialisasi berkembang dengan cepat. Banyaknya kasus kebakaran hutan, manusia secara umum harus bertanggung jawab. Perilaku ceroboh serta tamak untuk mengeksploitasi kekayaan alam tanpa memperhatikan kelangsungan hidup makhluk lain merupakan sifat-sifat yang jauh dari semangat “Hamemayuhayuning Bawana.”
Sikap “Hamemayuhayuning Bawana” bukan hanya menikmati keindahan alam, kemudian berfoto-foto di alam bebas. Lebih dari itu, “Hamemayuhayuning Bawana” adalah sikap menjaga kelestarian lingkungan. Ketika beberapa waktu lalu sebuah berita tentang kebakaran hutan di Gunung Lawu disebabkan oleh api unggun para pendaki, yang notabene adalah “pecinta alam”, tentu saja mengejutkan. Lalu juga, tren yang muncul di media sosial yang memamerkan hewan buruan yang merupakan hewan-hewan langka yang dilindungi. Yang bisa ditarik persamaan dari itu semua, rata-rata pelaku masih merupakan remaja. Cukup memprihatinkan.
Selain bahwa makna aksara “ka” adalah “berkumpul” yang kemudian memunculkan sifat “melestarikan dan menjaga kesejahteraan alam”, aksara “ka” bisa digabungkan dengan aksara lain untuk memunculkan makna lain. Kata “kama” yang penggabungan dari aksara “ka” dan “ma” bisa berarti benih, bibit atau biji. Makna kata ini sangat dekat kaitannya dengan hubungan antara laki-laki dan perempuan. Yaitu ketika berkumpulnya laki-laki dan perempuan dan saling memberikan bibit, benih, atau bijinya masing-masing untuk bersatu dan menjadi sebuah kehidupan yang baru.
Dari benih laki-laki dan perempuan, kehidupan di bumi akan terjaga. Ketika dua manusia laki-laki dan perempuan saling berkumpul untuk menyatukan raga, menyatukan rasa, maka penyatuan benih dari kedua manusia laki-laki dan perempuan akan memberikan kehidupan yang baru. Kehidupan baru inilah yang nantinya akan meneruskan tugas sebagai khalifah di bumi, menjaga serta memimpin bumi dengan semangat “Hamemayuhayuning Bawana.”
Read more ►

Sunday, March 8, 2015

PLTA - Pembangkit Listrik Tenaga Akik

0 comments
Popularitas akik-akik (bukan aki-aki) belakangan memang menanjak tajam seperti tanjakan menuju puncak Suroloyo, atau tanjakan dekat rumah yang sering saya taklukan dengan sepeda kesayangan tiap sore. Bahkan tayangan mistis di televisi pun sering menampilkan batu akik ketika adegan sang paranormal melakukan penarikan benda gaib....


Akik. Entah siapa yang pertama kali membuatnya ujug-ujug terkenal seperti Cita Citata. Namanya pun unik, cocok digunakan sebagai nama grup musik metal; Bacan, Black Opal, Bulu Monyet, Blue King Saphir - dan yang sempat populer di tahun 90an, Merah Delima warna bibirnya, Merah delima yang aku suka, Merah delima, lima, lima..








***








Meroketnya akik memang membawa berkah bagi pengrajin batu akik tradisional dan juga penambang batu dadakan; menyusuri sungai agar menemukan batu akik 20 ton. Mungkin setelah booming batu akik ini juga bakal ada fenomena kepala batu di Indonesia.








Karena Indonesia juga mengenal fenomena aji mumpung, mungkin pemerintah mempunyai wacana untuk membangun PLTA baru. Bukan Pembangkit Listrik Tenaga Air, tapi Pembangkit Listrik Tenaga Akik.








Semoga nasibmu tidak seperti tanaman mellow Gelombang Cinta atau Jenmanii, atau juga tanaman pakan ikan grameh Senthe. Long Live Akik!!!
Read more ►

Wednesday, December 31, 2014

Goodbye 2014...Come on In 2015

0 comments
11:17 PM -- Mungkin ini ketiga kalinya aku menulis sesuatu beberapa saat sebelum pergantian tahun. Eerrmm..bagaimana ya, tapi pergantian tahun 2014 ke 2015 ini sepertinya sedikit lebih senyap. Entah karena adanya kecelakaan pesawat menjelang pergantian tahun atau apa, tapi senyap ini sedikit aneh untuk pergantian tahun yang biasanya hingar bingar.
11:20 PM -- Tetapi semoga saja kesenyapan ini bukan suatu pertanda akan sesuatu yang kurang baik di tahun 2015 nanti - eling lan waspada, kata simbahku. Meskipun begitu, tak seperti pergantian tahun lalu ketika aku menulis di momen yang sama, malam ini aku menulis sambil "mendengarkan" televisi.

11:24 PM -- Sedikit mengingat tahun 2014 yang sebentar lagi akan berakhir; 2014 benar-benar menjadi tahun yang cukup menarik, karena salah satunya aku berhasil membuktikan tentang konektivitas antara manusia dan alam - mestakung atau semesta mendukung, kata sebuah film. Tetapi karena aku berhasil membuktikannya, maka tentu saja ini bukan fiksi melainkan fakta.
11:27 PM -- Hampir tak terdengar suara kendaraan bermotor, meskipun malam ini adalah malam tahun baru dan rumah orang tuaku ini terletak sangat dekat dengan jalan raya. Eermm..jalan raya desa maksudnya..

11:29 PM -- Semoga kesenyapan ini karena orang-orang memilih berdoa di rumah masing-masing daripada berpesta-pesta di luar sana. Semoga..

11:30 PM -- Hmm...masih setengah jam lagi...

11:36 PM -- Kalau dipikir-pikir ternyata aku termasuk ke dalam golongan orang yang ketinggalan jaman. Jaman modern maksudnya. Ketika semua orang sibuk membicarakan BBM (bukan bensin cs, tapi Blackberry Messenger), aku masih sibuk dengan ponsel...ngg...apa itu namanya..pokoknya ponsel yang tidak masuk ke dalam hitungan..

11:38 PM -- Dan ketika orang-orang sibuk membahas BBM (kali ini bensin cs yang naik turun), aku malah sekuat tenaga agar tidak terkena racun upgrade..

11:40 PM -- Mungkin sudah saatnya aku ikut membicarakan BBM (Messenger itu tadi), dan membahas naik turunnya BBM (bensin cs).

11:44 PM -- Hampir tak terdengar suara terompe ataupun kembang api...

11:46 PM -- Itu di televisi kok sudah meriah? Jam-ku rendet mungkin...
Atau kemungkinan besar mereka yang sudah tidak sabar...

11:48 PM -- Seorang kawan karib memposting sesuatu yang bagus, dan Insha Alloh aku akan melakukannya. Trims bung, sudah mengingatkan..

11:51 PM -- Wudhu, dan bersiap untuk menyepi sebentar di mushola sempit namun nyaman di rumah.

12:04 AM -- Alhamdulillah aku melakukan sesuatu yang lebih berguna tepat di pergantian tahun 2014-2015.
Dan bunyi kembang api sudah terdengar. Alhamdulillah lagi, karena masih ada yang memeriahkan kesenyapan ini.

12:08 AM -- Mau nulis apa lagi ya?

12:10 AM -- Selamat tahun baru 2015 aja deh, semoga menjadi tahun yang lebih baik bagi kita semua. Semoga Alloh SWT memberi kesembuhan pada saudara-saudara kita yang sedang sakit, memberi kemudahan bagi saudara-saudara kita yang sedang kesusahan, memberi solusi pada saudara-saudara kita yang sedang mempunyai masalah, dan semoga-semoga yang lain..Amin..Amin..Amin..

12:12 AM -- Wilujeng Wilujeng Wilujeng...Kuat Kuat Kuat...




Read more ►

Wednesday, December 17, 2014

Fenomena Pendekar Tongkat Emas

0 comments
Dunia perfilman Indonesia makin bergairah dan bervariasi ketika sebuah film baru dengan genre yang tidak mainstream dirilis, dengan judul yang sedikit menarik perhatian; "Pendekar Tongkat Emas." Sesuai judulnya, film ini merupakan film dengan silat Indonesia sebagai sajian utamanya. Benarkah?
Jujur sayapun belum menyaksikan film ini, namun dari gambar-gambar yang banyak muncul di berbagai media khususnya internet, sepertinya film ini sedikit banyak terpengaruh film silat model Cina. Karena jika diamati (lagi-lagi dari ulasan tentang film ini yang banyak bertaburan di internet) setting film ini tidak terlalu jelas pada periode sejarah Indonesia yang mana? Tetapi mari kita berpikir positif, film ini mungkin dibuat full fiksi.

Dan sebagai full fiksi, sah-sah saja apabila sutradara ingin menciptakan dunia sendiri, tokoh sendiri yang belum pernah ada. Akan tetapi sebagai penggemar cerita silat Indonesia, saya sebenarnya ingin bahwa salah satu dari sekian banyak pembuat film asli Indonesia membuat film silat berdasarkan cerita silat yang sudah dikenal masyarakat.

Sebut saja, karya-karya Pak Singgih Hadi Mintardja yang begitu banyak, atau jika ingin menampilkan kisah silat campuran Jawa-Cina bisa mengambil karya Pak Asmaraman Ko Ping Ho. Belum lagi cerita silat karya penulis-penulis 'modern' seperti karya-karya Pak Langit Kresna Hariadi, atau serial Nagabumi-nya Pak Sena Gumira Ajidarma. Atau mungkin serial Wiro Sableng yang sudah banyak dikenal masyarakat dibuat kembali.

Namun secara pribadi, saya sendiri lebih memilih serial Nagasasra dan Sabuk Inten karya Pak SH Mintardja jika di kemudian hari ada sineas yang ingin membuat film silat (lagi). Pertama, ceritanya yang berlatar era Majapahit akhir sampai Pajang awal bisa sebagai media pembelajaran bagi generasi muda. Dengan kombinasi fiksi dan non-fiksi, hal ini akan menjadi sarana yang bagus untuk mempelajari sejarah.

Yang harus diperbaiki dari perfilman Indonesia (meskipun tidak semua) adalah mental "modal sedikit untung banyak", karena film kolosal pasti membutuhkan modal yang besar. Berbeda dengan film-film "modal sedikit" yang malah seringkali menampilkan pembohongan publik. Sebagai penikmat film, sepertinya kita harus lebih berpikir ketika menonton film-film jenis itu karena seringkali mengangkat mitos yang merugikan (seringkali) suku Jawa.

Tetapi terlepas dari itu semua, munculnya film "Pendekar Tongkat Emas" mampu mengobati kerinduan akan cerita silat yang sudah lama tidak muncul di Indonesia. Saya ingat ketika masih kecil menonton pertunjukan layar tancap, atau sorot, istilah yang kami pakai, di lapangan desa yang menampilkan film silat semacam "Walet Merah", "Si Buta dari Goa Hantu", atau "Panji Tengkorak."

Maju terus film silat Indonesia...!!
Read more ►

Wednesday, November 5, 2014

Masyarakat Gumunan

0 comments
Setelah cukup lama tidak nulis di blog ini, sepertinya kok ada dorongan "nuliso neng nglengkong..." dan setelah berdiam diri cukup lama memikirkan apa yang harus ditulis di blog ini, akhirnya saya menemukan sebuah topik yang nampaknya sedikit menjadi tren dan sering muncul di berita-berita. Masih seputar masyarakat Indonesia, yang perlahan saya rasakan sudah bertransformasi menjadi "masyarakat gumunan" beberapa waktu terakhir.
Pada dasarnya, manusia memang suka melihat sesuatu yang indah, yang sedap dipandang karena Tuhan juga menyukai segala sesuatu yang indah, jadi ya tidak bisa seratus persen salah. Saya juga seperti itu. Dan seolah memenuhi hal itu, media-media baik media massa atau elektronik sering menampilkan sosok cantik atau ganteng yang judulnya hampir selalu sama; "Komuter Ganteng Bikin Geger Dunia Maya", atau "Atlet Voli Cantik Gegerkan Dunia Maya", dan yang terbaru "Ini Dia Sosok Pilot Cantik yang Bikin Heboh."

Tidak ada yang salah, tetapi saya jadi teringat dengan pitutur jadul "dadi manungso ojo gumunan", jadi manusia itu janganlah gampang merasa kagum. Jadilah masyarakat yang waspada, karena yang selalu waspada akan selamat. Rahayu rahayu rahayu...kuat kuat kuat..salam asah asih asuh...


Read more ►

Sunday, August 10, 2014

Hubungan Antara Tradisi Jagongan dengan Perilaku Anak

0 comments
tradisi jagongan, jagongan, hubungan tradisi jagongan, jagongan masyarakat jawa
Karena begitu kuatnya pengaruh modernitas yang memang melalui berbagai cara, pada akhirnya meskipun tidak secepat di perkotaan, lambat laun juga mulai mempengaruhi kehidupan masyarakat di pedesaan-pedesaan. Hal ini bisa dilihat dari semakin renggangnya kerukunan antar masyarakat, bahkan sangat mudah mencurigai tetangga sendiri. 

Semakin sedikit masyarakat, meskipun masih ada yang berusaha mempertahankan, yang datang berkumpul setiap malam selama beberapa malam ke rumah tetangga yang baru saja melahirkan bayi, misalnya. Jagongan, atau begitu biasa disebut untuk menggambarkan kegiatan berkumpul setiap malam. Kalaupun ada, maknanya sudah sangat bergeser cukup jauh dengan makna asli kegiatan ini, yang sebenarnya merupakan sebuah kegiatan "jaga" atau "menjaga" si bayi dari perilaku atau perkataan yang tidak baik.

Jagongan, konon berasal dari kata "jaga" atau menjaga si bayi dari hal-hal yang kurang baik, karena si bayi sudah tidak lagi berada di dalam perut ibu, melainkan sudah berada di dunia yang jauh berbeda dengan perut ibu. Maka, pada zaman dahulu, kegiatan jagongan ini hanya diperuntukkan bagi orang-orang tua yang sudah berpengalaman dalam kehidupan, memahami berbagai seluk beluk kehidupan, yang kemudian mereka tularkan kepada si jabang bayi tersebut.
tradisi jagongan, jagongan, hubungan tradisi jagongan, jagongan masyarakat jawa
Mereka, para orang tua tersebut menjaga si bayi melalui tradisi jagongan tersebut dengan cara membacakan petuah-petuah yang baik, dan petuah-petuah itu mereka nyanyikan melalui tembang macapat. Setiap orang tua akan membacakan satu macapat, dan kemudian dijabarkan artinya, begitu seterusnya sampai giliran terakhir. Dengan begitu, si bayi akan mendengar kata-kata yang baik, pitutur yang baik.

Sekarang, tradisi ini masih ada, tetapi sudah tidak lagi bermakna "menjaga si bayi dengan perkataan yang baik" karena seringkali tradisi jagongan bayi di masa modern ini diisi dengan berbagai jenis permainan kartu, atau obrolan-obrolan yang sebenarnya tidak baik bagi perkembangan bayi kelak.

Hal ini kemudian menimbulkan tudingan bahwa tradisi jagongan tidak perlu dilaksanakan karena bertentangan dengan nilai-nilai agama. Padahal, yang tidak baik bukan tradisinya tetapi orang-orangnya alias pelakunya karena sudah mengubah makna asli dari tradisi jagongan ini.

Dengan praktek-praktek jagongan modern yang seperti itu, tidak heran jika hampir semua anak-anak sulit dikendalikan, mempunyai perilaku yang sedikit berbeda dengan anak-anak satu atau dua dekade lalu, misalnya. Maka, jika ini kemudian dikatakan karena perkembangan jaman, memang benar, karena jaman sekarang jagongan diisi dengan hal-hal negatif yang seharusnya tidak dilakukan.

Maka hasilnya adalah, sering terdengar perilaku negatif yang dilakukan anak-anak usia anak hingga remaja. Atau generasi muda yang tidak mau mempelajari kebudayaannya sendiri karena takut dicap kuno, jadul, atau udik. Jika hal ini terus berlanjut, maka jangan kaget jika kebudayaan Indonesia yang merupakan kumpulan dari berbagai kebudayaan yang mulia ini punah.

==========================

Salah satu contoh Macapat model Dhandhanggula yang biasa dibacakan di tradisi jagongan, karya pujangga hebat KGPAA Mangkunegara IV.

Nanging yen sira anggeguru kaki --------------------------> Maka jika kamu mencari seorang guru
Amiliya manungsa kang nyata -----------------------------> Pilihlah manusia yang sebenar-benarnya
Ingkang becik martabate ----------------------------------> Yang berbudi baik
Sarta kang wruh ing kukum -------------------------------> Yang mentaati peraturan
Kang ngibadah lan kang wirangi ---------------------------> Yang baik pula agamanya
Sukur oleh wong tapa -------------------------------------> Lebih baik jika dia seorang yang suka prihatin
Ingkang wus amungkul ------------------------------------> Yang mempunyai kelebihan
Tan mikir pawewehing liyan -------------------------------> Tidak mengharapkan balas budi orang lain
Iku pantes sira guronono kaki -----------------------------> Maka orang itu pantas kamu jadikan guru
Sartane kawruhana ----------------------------------------> Dan ambillah ilmu yang baik darinya
Read more ►

Tuesday, December 31, 2013

Welcome 2014, Goodbye 2013

1 comments
Lagi-lagi tahun sudah berganti. Cepat sekali. Tadi sempat berharap bahwa malam ini akan hujan lebat, tetapi ternyata malah terang benderang. Berbahagialah yang merayakan malam pergantian tahun bersama orang-orang yang dicintai. Berarti aku termasuk orang yang berbahagia. Alhasil malam ini menyaksikan organ tunggal di Pendopo Kecamatan. Penyanyinya masih kecil nampaknya, dan masih merintis karir sebagai penyanyi, jika tak boleh disebut pemula atau amatir. 
Yang pasti tahun 2013 sebentar lagi berganti 2014, siap-siap karena kita semua akan tambah tua. Banyak yang meramal tahun depan akan lebih sulit. Menurut simbah-simbah dulu, hari Rabu terakhir di bulan Sapar merupakan hari sial, dan besok pas tanggal 1 Januari 2014 adalah hari Rabu terakhir di bulan Sapar, yang sering disebut "Rebo Wekasan". Banyak-banyak berdoa, dan tidak perlu bertingkah aneh-aneh sepertinya sudah cukup agar tidak ketiban sial.

Selasa, 31 Desember 2013 - 22:38
Kabar cukup mengejutkan datang dari Kraton Yogyakarta. GBPH Joyokusumo, adik Sultan HB X meninggal dunia pada sore hari tadi sekitar pukul 5. Semoga di titik-titik keramaian Yogyakarta tidak berlebihan dalam merayakan pesta tahun baru. Mari bersama-sama mengirim Al-Fatihah untuk beliau...
22:47
Terlepas dari kabar mengejutkan itu, pergantian tahun kali ini sedikit banyak berbeda dengan pergantian tahun lalu. Malam ini aku tidak lagi berdiam diri di kamar menunggu pergantian tahun sendirian. Menyaksikan pentas organ tunggal pas pergantian tahun baru cukup mengasyikkan juga ternyata. Meskipun penyanyinya masih fales...
22:50
Apa lagi ya...hmmm...
Lama tidak mengisi blog ini jadi sedikit bingung apa yang harus ditulis.
22:53
Lagi-lagi bapak ganti sepeda. Aku kapan?
Tetapi tentu saja hal itu bukan primer, karena masih banyak yang harus diutamakan. Kerja. Tapi mengandalkan ijazah pendidik bahasa inggris tidak menjamin, karena ternyata aku tidak cocok mengajar. Maka yang harus kulakukan adalah melakukan sebuah terobosan. Resolusi mungkin, atau bukan. Terserah deh...
22:58
Bahkan sedang berusaha untuk mendapatkan sesuatu dari dunia yang selama ini kuklaim. Tetapi belum ada hasilnya. Sabar mungkin adalah kuncinya, karena aku memulainya dari awal.
22:59
Sayang sekali malam ini hujan tidak turun. Semoga besok juga tidak, karena aku ingin menjelajahi jalan setapak dengan sepedaku. Laki itu bersepeda.
Nampaknya akan kelamaan kalau menuliskan apa yang terlintas hingga nanti pada tengah malam, karena masih jam segini. Lebih baik disambung nanti. Hmm..mending aku ngetik pengantarnya dulu saja..

Bersambung...sambil nunggu tengah malam..
23:23
Ngetik sambil telpon-telponan, agak ribet tapi asyik.
23:29
Masih sekitar setengah jam sebelum tengah malam. Tidak ada suara kembang api. Nampaknya kabar duka dari Kraton sudah menyebar ke seluruh wilayah Yogyakarta. Dan himbauan via pesan singkat sepertinya direspon dengan sangat baik oleh masyarakat. Masyarakat Yogya memang istimewa.
23:32
Selain suara sound system dari kecamatan yang terdengar hingga kamar, tak ada lagi suara lain selain burung-burung hitam kecil yang banyak terdapat di rumah. Sesekali motor tetapi langsung menghilang dalam sekejap. Suara motor lagi...
23:35
Tapi kalau diingat-ingat, acaranya tadi malah lucu. Bapakku aja malah jadi penyanyi dadakan. Judulnya sih pelantikan, tetapi malah nyanyi-nyanyi. Foto bapak yang seperti itu, aku malah tidak punya.
23:41
Kok sepertinya waktu berjalan sangat lambat..
Apa karena aku sedang menunggu sesuatu? eh, seseorang?
----tak ada ide----
23:50
Semakin dekat menuju 2014. Sepertinya aku tak perlu menyusun rencana untuk 2014, wong biasanya juga enggak. Resolusi hanya untuk yang belum tahu apa yang harus diperbuat.
23:57
Hitungan mundur sudah bisa dimulai. Samar-samar terdengar suara kembang api di luar. Pasti meriah, tapi aku tak peduli..
00:00
Selamat tahun baru 2014 buat semua orang di seluruh dunia. Semoga tahun 2014 menjadi tahun yang lebih baik daripada 2013.
Selamat malam, sampai jumpa..

Read more ►

Sunday, October 27, 2013

Apakah Tokoh-Tokoh Pewayangan Hidup di Tanah Jawa?

82 comments
Kebudayaan Jawa, sering disebut-sebut sebagai turunan dari kebudayaan yang lebih tua dari India, terutama dari segi kebahasaan, dimana Bahasa Jawa merupakan turunan dari Bahasa Dewanagari yang ada di India. Bahkan bukan hanya Bahasa Jawa, beberapa bahasa di Nusantara juga merupakan turunan dari Bahasa Dewanagari yang sama. Benarkah?
Tentu saja saya tidak mampu menjawab itu. Tetapi mungkin dengan menggunakan objek lain yang masih berhubungan dengan hal itu, kita bisa mengambil kesimpulan mengenai hal ini. India dan Jawa mempunyai persamaan, diantaranya adalah kesamaan adanya tokoh-tokoh besar yang menjadi karakter utama dalam dunia pewayangan. Perbedaannya mungkin dalam penyebutan, seperti tokoh Yudhistira di India yang sering disebut Puntadewa di Jawa, Arjuna yang sama dengan Janaka, Bima yang sama dengan Werkudara, dll. 
Tokoh-tokoh itu dikenal terutama karena dua kisah epos klasik Ramayana dan Mahabarata, yang dikenal sebagai karya sastra dari India. Maka kemudian juga tokoh-tokoh dalam kedua kisah tersebut hidup di India, benarkah? Lantas mengapa tokoh-tokoh dalam karya sastra klasik India lebih dekat secara kultural dengan masyarakat Jawa? Bahkan di India tidak ada Panakawan, sementara di Jawa lebih lengkap dengan adanya Panakawan. 
Lagi-lagi saya harus mengatakan tidak bisa menjawab itu, tetapi dengan pertanyaan tersebut muncul kemungkinan yang bisa jadi mengejutkan kita semua, yaitu bahwa tokoh-tokoh pewayangan yang juga tokoh-tokoh dalam kitab Mahabarata dan Ramayana itu adalah tokoh-tokoh yang pernah hidup di tanah Jawa. Lagi-lagi yang saya gunakan adalah kedekatan emosional dan kedekatan kultural, yang tentu saja tidak akan diterima di dalam metode penelitian ilmiah manapun. Tetapi tentu saja tak masalah, karena tujuan dari tulisan ini adalah membangkitkan rasa penasaran pembaca mengenai sejarah Jawa di masa lalu.
Mari kita tutup tulisan ini dengan pertanyaan, "Apakah mungkin orang India menulis Ramayana dan Mahabarata atas permintaan dari penguasa di Jawa, yaitu tokoh-tokoh pewayangan itu sendiri?"
Read more ►

Wednesday, September 11, 2013

Ragam Bahasa Indonesia Baru: Gaya Bahasa Vicky

4 comments
gaya bahasa vicky, vicky prasetyo, gaya bahasa vikcy prasetyo, konspirasi kemakmuran, kontroversi hati
Kabar yang kurang menyenangkan yang datang dari penyanyi dangdut Zaskia Gotik, ternyata hanya seumur jagung karena peristiwa batalnya pertunangan itu kemudian diikuti dengan munculnya sebuah fenomena yang cukup mengguncang, bukan hanya dunia hiburan namun juga (mungkin) para ahli bahasa Indonesia setelah beberapa kalimat yang diucapkan mantan tunangan sang penyanyi, Vicky Prasetyo memuat beberapa frasa yang sedikit unik, dalam artian unik karena belum pernah ada yang mengatakan frasa itu sebelumnya; pertanyaannya kemudian apakah akan muncul ragam Bahasa Indonesia (baru) lagi setelah bahasa alay dan frasa-frasa yang diucapkan Syahrini? Dunia kebahasaan Indonesia (mungkin) cukup terguncang dengan adanya frasa-frasa "baru", yang mungkin membuat para intelektual bahasa berpikir kembali betapa masih mudanya Bahasa Indonesia, sehingga siapapun bisa merubah-rubah susunan atau patron-patron yang sudah terbentuk secara bertahap, seperti Ejaan Van Ophuisjen hingga Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) seperti menjadi tak berguna.
Namun ada yang cukup mengejutkan karena tafsir frasa-frasa itu sudah muncul di dunia maya, seperti yang muncul di laman forum Tribunnews. Dalam forum tersebut diuraikan secara jelas makna frasa-frasa "baru" tersebut. Seperti:
Kontroversi Hati
Ungkapan untuk menunjukkan gejolak hati yang bertentangan, atau menunjukkan kebimbangan.
Konspirasi Kemakmuran
Merupakan sebuah kondisi dimana kemakmuran menjadi sebuah hal yang sangat diperlukan.
Harmonisasi
Proses menuju harmonis.
Mempertakut
Membuat menjadi lebih takut.
Statusisasi Kemakmuran
Proses penentuan kemakmuran.
Labil Ekonomi
Suatu kondisi dimana kondisi ekonomi sedang mengalami ketidakstabilan.

Mungkin tidak semuanya keliru, karena "harmonisasi" merupakan kata yang lazim dan sudah dikenal di dalam penggunaan Bahasa Indonesia sehari-hari, khususnya yang berkaitan dengan musik. Tetapi ketika kata tersebut digunakan sembarangan seperti yang diucapkan oleh Kau-Tahu-Siapa, maka akan menjadi keliru. Contohnya adalah ketika kata itu digunakan dalam kalimat seperti ini, "Kurang kompak nih, kita harus harmonisasi." Tak perlu dijelaskan panjang lebar, kalimat tersebut keliru dalam menggunakan kata "harmonisasi", karena "harmonisasi" adalah kata benda, sementara ketika kalimat tersebut menyinggung sebuah situasi tertentu seperti "kompak" yang merupakan kata sifat, maka "harmonisasi" kurang tepat, karena untuk mengungkapkan kondisi itu harus memakai kata sifat, maka kata yang digunakan adalah "harmonis." Silahkan pembaca membandingkan:
"Kurang kompak nih, kita harus harmonisasi." dengan
"Kurang kompak nih, kita harus harmonis."
Karena masyarakat baru mendengar pertama kali, maka yang terjadi adalah cemoohan dan hujatan yang bertubi-tubi dari masyarakat. Bahkan setelah diusut, bukan pertama kali ini saja Kau-Tahu-Siapa menggunakan bahasa yang semacam itu, karena ketika kampanye pemilihan lurah ia juga memakai bahasa yang tidak teratur, dan ia memakainya dengan bahasa Inggris yang fasih, meskipun secara grammar tidak bisa dibenarkan. Penulis tidak masalah kalau yang diobok-obok adalah bahasa asing, karena Kurt Cobain juga mempunyai bahasa yang tidak mempedulikan grammar, tetapi bedanya adalah kata-kata yang digunakan Cobain lebih teratur dan enak didengar ataupun dibaca. Latar belakang mereka yang sangat berbeda mungkin berpengaruh.
Tetapi yang patut diperhatikan oleh siapapun, ternyata Bahasa Indonesia yang merupakan pemersatu bangsa dan pilar kebangsaan justru mudah sekali diubah-ubah tanpa dasar sehingga terkesan melecehkan. Maka, pemerintah bersama ahli bahasa Indonesia harus segera menanggapi masalah ini, tidak hanya membiarkan dengan harapan akan hilang dengan sendirinya.

Read more ►

Thursday, September 5, 2013

Selamatkan Majapahit dan Nusantara!

2 comments
Apa yang saya tulis di blog ini hanyalah meneruskan sebuah upaya yang sedang benar-benar diperjuangkan oleh beberapa saudara-saudara kita yang masih merawat apa yang diwariskan leluhur Nusantara pada generasi kita sekarang. Upaya ini merupakan salah satu wujud keprihatinan betapa Kapitalisme sudah begitu parah di negeri ini sehingga apapun harus dijadikan sesuatu untuk memperkaya diri. Padahal leluhur kita mengajarkan bahwa kaya tidak melulu mempunyai uang yang banyak. Sugih tanpa bandha, ungkapan itulah yang dahulu sering dikatakan para nenek kepada cucunya atau orang tua kepada anaknya. 

KITA BARU SAJA DIKAGETKAN DENGAN PELAKSANAAN PEMBANGUNAN PABRIK BAJA PT MANUNGGAL SENTRAL BAJA DI DI KAWASAN PENYANGGA SITUS TROWULAN MAJAPAHIT. TEPATNYA DI PINGGIR JALAN SURABAYA-MADIUN, DESA JATI PASAR DAN DESA WATES UMPAK.

Maka, saudara-saudara kita, bersama-sama dengan Kadangkadeyan Sabdalangit dan Ki Camat serta Kampus Wong Alus dan Alang Alang Kumitir mengajak kita semua untuk menyelamatkan Majapahit, dengan sebuah acara yang dinamakan;

RITUAL AGUNG UPACARA ADAT
 SELAMATKAN MAJAPAHIT SELAMATKAN NUSANTARA

Upacara ini akan dilaksanakan pada:
Hari Sabtu Pon (21 September 2013)
Pukul 21.00 WIB
Tempat di Halaman Candi Brahu, Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur
Disarankan mengenakan pakaian adat/daerah

-------------------------------------------------------------------------------------

Lebih jelasnya mengenai acara ini, saudara-saudara bisa mengunjungi:
Read more ►

Monday, July 15, 2013

Sejarah Gua Pindul Gunung Kidul Yogyakarta

15 comments
Sebagai salah satu obyek wisata, Gua Pindul memang menawarkan pemandangan yang eksotik. Mungkin itulah salah satu faktor mengapa Gua Pindul ini menjadi populer di kalangan para pecinta wisata susur gua. Tetapi mungkin belum banyak wisatawan yang tahu mengenai sejarah Gua Pindul, serta sebuah mata air atau mbelik yang ada di kompleks gua, yang oleh warga sekitar disebut sebagai mBelik Panguripan (Mata Air Kehidupan). Mengapa bisa disebut Mbelik Panguripan, ternyata berkaitan dengan leluhur dan legenda wilayah tersebut.

Semuanya berawal dari seorang tokoh bernama Kyai Jaluwesi yang berkonflik dengan raksasa bernama Bendhogrowong. Keduanya terlibat adu kesaktian, dengan keunggulan pada Kyai Jaluwesi. Raksasa itu kemudian mengeluarkan aji-ajinya karena merasa terdesak. Sayangnya aji-aji tersebut meleset dan mengenai seekor anjing peliharaan Widodo dan Widadi, anak kembar Kyai Jaluwesi. Anjing yang bernama Sona Langking itu cedera parah dan berlari tak karuan menuju sebuah sumber air yang ada di balik semak-semak. Kyai Jaluwesi yang mengikuti arah lari Sona Langking kaget ketika mendapat anjingnya telah pulih dari cedera parah akibat aji-aji sang raksasa.
Melihat hal itu, Kyai Jaluwesi kemudian menamai sumber air itu sebagai Mbelik Panguripan, karena mampu menyembuhkan luka parah yang diderita anjingnya. Beberapa lama setelah peristiwa itu, muncul sepasang pria dan wanita bernama Kyai dan Nyai Sejati yang ingin menguasai tanah di sekitar Gunung Bang. Mereka meminta kepada Kyai Jaluwesi untuk pindah dari tempat itu, dan Kyai Jaluwesi menyanggupinya. Meski begitu Kyai Jaluwesi menginginkan sebuah syarat, yaitu setelah kepindahannya masyarakat Gunung Bang harus mengadakan acara bersih lepen (sungai), penari ledhek (tayub), pada hari Senin Paing setiap tahun sekali. Kemudian Kyai Jaluwesi pindah ke daerah Gua Pindul, hingga moksa dan diyakini menjadi penunggu di Gua Pindul dan Mbelik Panguripan.

Tentu saja legenda tidak bisa dipercaya keakuratannya seratus persen, tetapi pembaca yang baik seharusnya mampu menangkap apa yang ada di balik tiap legenda, bukan malah menganggapnya mistis, ataupun tidak masuk akal. Gua Pindul yang saat ini sedang menjadi primadona wisata susur gua atau cave adventure memang menarik dan menawarkan sensasi yang berbeda dengan wisata-wisata yang sudah umum di Yogyakarta. Tempat ini akan sangat sesuai untuk mengisi waktu liburan ataupun akhir pekan.

Read more ►

Poso, Siam, Fasting

0 comments
Tahun ini bulan Ramadhan sedikit berbeda, yaitu pada kebiasaan alam dimana tahun lalu bulan Ramadhan masuk pada sebuah masa yang oleh orang-orang lokal kita disebut "Mangsa Bedhidhing", yaitu sebuah masa dimana siang hari terasa sangat panas sementara malam harinya dingin menggigit. Hampir mirip dengan iklim gurun, tetapi Tuhan membuatnya lebih ramah untuk masyarakat Indonesia. Tetapi saat ini masa "bedhidhing" ini sedikit berbeda karena siang hari kadang hujan lebat sementara malam hari tetap dingin meskipun tidak sedingin "bedhidhing" sekitar 10 sampai 15 tahun lalu. Tetapi apapun itu, hujan tetap harus disyukuri sebagai karunia dan sedikit bantuan Tuhan untuk manusia agar tidak terlalu merasa haus ketika siang hari dikala sedang menjalankan ibadah puasa. Karena bagaimanapun, satu-satunya ibadah yang diklaim oleh Tuhan sebagai miliknya adalah puasa, kata Emha.
Yang biasanya terjadi adalah ketika anak-anak berisik ketika tarawih di mesjid, bahkan kadang beberapa yang kreatif suka menukar sandal sehingga ketika tarawih selesai para orang tua dituntut untuk lebih jeli agar tidak keliru mengenali jodoh kakinya. Sungguh hal tersebut dari lubuk hati paling dalam jangan sampai hilang. Bulan ramadhan adalah bulan yang unik, sebagaimana anak-anak yang juga unik. Saran untuk orang-orang tua, jangan selalu memarahi anak-anak ketika mereka mengucapkan "amin" yang sangat panjang disusul tawa cekikikan ketika imam selesai membaca Al-fatihah, karena hal-hal seperti itulah yang membuat kerinduan akan bulan ramadhan ketika bulan yang unik ini usai. Dan beruntunglah karena hanya di Indonesia hal-hal seperti itu bisa dijumpai.
Maka meskipun ramadhan di seluruh dunia sama, tetap ada perbedaan diantara semuanya. Seperti halnya poso di Indonesia, siam di Arab, dan fasting di Eropa atau Inggris. Mereka sama-sama menahan hawa nafsu, tetapi mempunyai perbedaan-perbedaan pada semangat, tradisi dan kebudayaan, dimana diantara ketiganya negara inilah yang paling unik. 

Read more ►

Monday, July 1, 2013

Gending Ketawang Puspawarna Sebagai Karya Tertinggi Peradaban Manusia

0 comments
piringan emas yang berisi komposisi dunia
Mendengar nama KGPAA Mangkunegara IV, yang pertama terlintas di sebagian besar masyarakat mungkin adalah Serat Wedhatama. Hal tersebut memang wajar karena serat tersebut merupakan salah satu masterpiece Mangkunegara IV. Raja sekaligus pujangga tersebut memang sangat produktif dalam membuat karya-karya besar monumental yang abadi. Tetapi mungkin tidak banyak orang yang tahu bahwa salah satu karya beliau yang berupa gending ternyata telah diputar di luar angkasa yaitu di bulan. Komposisi musik asli Jawa tersebut dibawa ke luar angkasa oleh pesawat Voyager milik Amerika pada tahun 1977. 

Sebenarnya ada sekitar 26 komposisi lainnya dari seluruh dunia, ditambah Gending Ketawang Puspawarna menjadi 27 karya musik. Seorang profesor di bidang etnomusikologi Robert Brown dan astronom carl Sagan adalah orang-orang yang memilih karya-karya tersebut untuk diputar di luar angkasa. Selanjutnya, gending ini disebut-sebut sebagai karya musik dengan harmonisasi terbaik yang pernah diciptakan sekaligus pencapaian tertinggi dalam sejarah musik manusia.

Terlepas dari karya ini yang memang begitu megah, mungkin perlu dicermati dan diteliti mengenai tujuan NASA memutar musik di luar angkasa dengan memilih karya-karya terbaik dari seluruh dunia. Khusus Gending Puspawarna ini sendiri, menurut para penghayat spiritualitas, memiliki aura dan energi dalam suara yang dikeluarkannya. Bahkan juga disebutkan bahwa suara dari gending ini sinergis dengan gelombang suara-suara natural dari jagat raya ini. Ada juga yang menyebutkan karya-karya ini digunakan untuk menemukan keberadaan makhluk asing di luar angkasa. 

Tapi apapun alasannya, sudah saatnya bayi-bayi yang lahir ke Nusantara saat ini ataupun di masa yang akan datang tumbuh dengan diiringi Gending Puspawarna ini ketimbang musik-musik klasik dari peradaban barat. 
Read more ►

Sunday, June 23, 2013

Mengenal Budaya Maritim Melalui Pagelaran Seni ArtJog 2013

0 comments
Pagelaran seni kontemporer ArtJog 2013 kembali digelar tahun ini yang dimulai pada tanggal 6 - 20Juli 2013 mendatang di Gedung Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Pameran ini melanjutkan pameran-pameran sebelumnya, Jogja Art Fair sebelum berubah menjadi ArtJog; tahun ini adalah pagelaran ArtJog ketiga setelah dua edisi sebelumnya yaitu tahun 2011 dan 2012 selalu memunculkan kejutan bagi pengunjung. Tahun lalu pagelaran seni ArtJog membawa tema "Looking East: A Gaze Upon Indonesian Contemporary Art", yang seolah-olah mengatakan bahwa karya seni rupa dari Asia, khususnya Indonesia merupakan karya seni yang kuat, karena ia bekerja seperti sebuah scene (Lorenzo Rudolf, Direktur Art Stage Singapore, pendapatnya tentang seni rupa Indonesia, Dok. ArtJog 2012).

Commision Works ArtJog 2011
Untuk tahun ini, ArtJog akan mengusung tema "Maritime Culture", sebagai sebuah pesan bahwa budaya maritim adalah salah satu kebudayaan Indonesia sebagai negara kepulauan. Dan dalam perkembangannya, kebudayaan maritim telah membawa perubahan besar dalam sejarah Indonesia, bagaimana ketika Angkatan Laut Cina yang saat itu ditakuti luluh lantak di perairan Selat Sunda karena serangan dari Raja Dewawarman, penguasa Kerajaan Salakanagara. Kejayaan Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Kemudian juga kedatangan pedagang-pedagang Arab, sampai kedatangan kolonial Belanda.

Commision Works ArtJog 2012
Maka, tak salah kiranya jika tema besar "Maritime Culture" diangkat menjadi sebuah tema pada pagelaran ArtJog 2013 ini, meskipun Yogyakarta sebenarnya adalah daerah pedalaman. Tetapi yang penting diingat adalah, Yogyakarta merupakan wilayah kecil dengan dinamika yang melebihi apa yang terlihat. Berbagai orang dari latar belakang, suku, berada di kota ini. Dengan harmoni dan dinamika yang ada di Yogyakarta inilah harapannya pengunjung akan menikmati sekaligus menyelami seperti apa budaya maritim di Indonesia, melalui karya-karya seni yang mungkin akan memunculkan berbagai tafsiran dan ekspresi bagi masing-masing pengunjung.
Read more ►

Monday, May 27, 2013

Mei 2013: 7 Tahun Gempa Yogyakarta

0 comments
27 Mei 2006, sekitar pukul 05:53 bumi Yogyakarta dan sebagian Jawa Tengah berguncang hebat, seolah menandai akhir dari sesuatu - atau mungkin bahkan kelahiran sesuatu. Sang Hyang Antaboga - Naga yang menyangga dunia dalam dunia pewayangan - sedang menggeliat, kata simbah-simbah dulu tentang gempa bumi. Dan mungkin hari itu Sang Naga begitu keras menggeliat.
Hari itu sebuah peradaban di sudut dunia seolah padam, karena setelah itu beberapa hal harus dilakukan oleh yang berwenang; mematikan sumber listrik. Maka malam harinya, jadilah kegelapan disertai gerimis dan guncangan-guncangan kecil - mungkin Sang Naga masih mencari tempat dan posisi yang pas, sebelum ia menggeliat kembali suatu saat nanti.
Banyak cerita dan peristiwa yang kemudian muncul, dari kisah-kisah pahit hingga kisah-kisah yang menggetarkan hati, tentang kehilangan sesuatu yang berharga meskipun beberapa dari mereka justru mencapai tingkat keimanan yang lebih tinggi daripada sebelumnya. Dan kisah-kisah itu akan menjadi sebuah cuilan dari rangkaian kisah yang lebih besar kelak, di sebuah sudut bumi Nusantara.

"Kepada beribu-ribu jiwa yang hilang, semoga kalian mendapat tempat yang layak di dunia seberang. Dengan ijin Allah SWT, kami akan berusaha membuat tanah ini lebih baik."
Read more ►
 

Copyright © nglengkong Design by O Pregador | Blogger Theme by Blogger Template de luxo | Powered by Blogger