Wednesday, September 7, 2011

Bantul Tourist Event (November-December 2011)

0 comments


1.      1. Jodhangan Goa Cerme (November 20th, 2011), start at 09.00 am, Pelataran Goa Cerme, Selopamiro, Imogiri, Bantul, Yogyakarta.
2.      2. Tumuruning Mahesa Sura (The Descent of Mahesa Sura, November 26th, 2011), start at 08.00 pm, Samas Beach, Srigading, Sanden, Bantul, Yogyakarta.
3.      3. Labuhan Bekti Jalanidhi (December 11th, 2011), start at 09.00 pm, Balai Desa Srigading to Samas.
4.      4. Labuhan Hondodento (December 11th, 2011), start at 07.00 am, Parangkusuma Beach, Parangtritis, Kretek, Bantul, Yogyakarta
5.      5. Kirab Budaya Imogiri (Culture Parade of Imogiri, December 22nd, 2011), start at 01.00 pm, from the front yard of Imogiri Sub-district Office to Pajimatan.
6.      6. Sedekah Laut Minabahari 45 (December 22nd, 2011), start at 01.00 pm, Depok Beach.
7.      7. Upacara Nguras Enceh (Nguras Enceh Ceremony, December 23rd, 2011), start at 08.00 am, Imogiri Royal Cemetery.

More informations:
CULTURE AND TOURISM OFFICE BANTUL REGENCY
TENTARA PELAJAR STREET (EAST RINGROAD MANDING)
Phone/fax        : +62 274 6460222
Email               : dinas.pariwisata@bantul.go.id
Website           : www.disbudpar.bantulkab.go.id


Read more ►

Monday, September 5, 2011

Tak Perlu Terlihat Untuk Menjadi Ada

0 comments

Suatu ketika – seperti cerita biasa berawal – seorang lelaki membayangkan sebuah kejadian bertahun-tahun lalu, ketika rambutnya masih hitam. Ia hanya tersenyum ketika mengingat kejadian yang ia anggap lucu, namun segera berganti begitu ia ingat peristiwa yang dianggapnya menyedihkan. Memang, ia tak sepenuhnya kehilangan, tapi tetap saja, ketika ia membuang kesempatan yang anehnya, datang berulangkali. 

“Tak perlu terlihat untuk menjadi ada”, gumamnya, sembari menutup telinga untuk menghindari cemoohan katak dan ikan yang sedari tadi mengamatinya.

Read more ►

Sumpah Budaya 2011

0 comments

Situasi mental sosial-budaya bangsa yang cukup memprihatinkan sekarang ini harus segera dicarikan jalan keluarnya dan harus ada langkah raksasa agar ada keperdulian dari semua elemen bangsa untuk memelihara dan menjaga budaya nusantara tidak sekedar parsial namun dalam scope nasional secara komprehensif. Perlu pula dilakukan semacam revitalisasi budaya bangsa dengan visi menjadi bangsa Indonesia yang berkarakter (mempunyai jati diri), bermartabat dan terhormat.
Indonesia kini adalah sebuah bangsa yang telah kehilangan jati dirinya. Bangsa yang tidak lagi mengetahui apa dan bagaimana nilai-nilai interaksi manusia dengan lingkungan alam dan lingkungan sosialnya terbangun sejak ribuan tahun silam. Padahal dari nilai-nilai itu karakter jiwa suatu bangsa terlihat. Setiap celah kesadaran dan aktivitas hidup individu saat ini tidak lagi mencerminkan jati dirinya.
Bangsa kita sudah tidak berbudaya, bobrok moralitas dan etikanya. Budaya kita stagnan bahkan surut mundur ke wilayah masa lalu dimana kita hanya bisa menjadi pasif menerima budaya dari luar tanpa mampu untuk menggeliat, mewarnai dan kreatif menjalin sinergitas dengan budyaa yang dari luar. Masalah ini mutlak segera dibahas dan dipecahkan bersama-sama. Kita perlu menyadari bahwa banyaknya persoalan yang dihadapi bangsa ini sangat kompleks menyangkut kehidupan sosial, ekonomi, politik dan lainnya. Namun harus digarisbawahi kalau bidang-bidang tersebut sangat terkait dengan krisis yang berlaku di lapangan kebudayaan.
Kita mengakui budaya bangsa warisan leluhur kita sangat adiluhung. Namun kenapa perhatian semua pihak terhadap budaya bangsa semakin lama semakin rendah? Bangsa ini seakan menjadi bangsa yang tanpa budaya, dan perlahan dan pasti suatu saat nanti bangsa ini pasti lupa akan budayanya sendiri. Situasi ini menunjukan betapa krisis budaya telah melanda negeri ini. Rendahnya perhatian pemerintah untuk menguri-uri budaya bangsanya, menunjukan minimnya pula kepedulian atas masa depan budaya. Yang semestinya budaya senantiasa dilestarikan dan diberdayakan. Muara dari kondisi di atas adalah bangkrutnya tatanan moralitas bangsa. Kebangkrutan moralitas bangsa karena masyarakat telah kehilangan jati dirinya sebagai bangsa besar nusantara yang sesungguhnya memiliki “software” canggih dan lebih dari sekedar “modern”. Itulah “neraka” kehidupan yang sungguh nyata dihadapi oleh generasi penerus bangsa.
Kebangkrutan moralitas bangsa dapat kita lihat dalam berbagai elemen kehidupan bangsa besar ini. Rusak dan hilangnya jutaan hektar lahan hutan di berbagai belahan negeri ini. Korupsi, kolusi, nepotisme, hukum yang bobrok dan pilih kasih. Pembunuhan, perampokan, pencurian, pemerkosaan, asusial, permesuman, penipuan dan sekian banyaknya tindak kejahatan dan kriminal dilakukan oleh masyarakat maupun para pejabat. Bahkan oleh para penjaga moral bangsa itu sendiri. Duduk persoalannya, orang kurang memahami jika budaya bersentuhan langsung dengan sendi-sendi kehidupan manusia di segala bidang dengan lingkungan alamnya di mana mereka hidup. Sebagai contoh terjadinya kerusakan alam yang kronis menunjukkan dampak tercerabutnya (disembeded) manusia dengan harmoni lingkungan alamnya.
Undang Undang Dasar Negara RI tahun 1945 (UUD 1945) Pasal 32 ayat (1) dinyatakan, “Negara memajukan kebudayaan nasional di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasa masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai–nilai budayanya”. Sudah sangat jelas konstitusi menugaskan kepada penyelenggara negara untuk memajukan kebudayaan nasional Indonesia. Ini berarti negara berkewajiban memberi ruang, waktu, sarana, dan institusi untuk memajukan budaya nasional dari mana pun budaya itu berasal.
Amanah konstitusi itu, tidak direspon secara penuh oleh pemerintah. Bangsa yang sudah merdeka 66 tahun ini masalah budaya kepengurusannya “dititipkan” kepada institusi yang lain. Pada masa yang lampau pengembangan budaya dititipkan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, kini Budaya berada dalam satu atap dengan Pariwisata, yakni Departemen Pariwisata dan Budaya. Dari titik ini saja telah ada kejelasan, bagaimana penyelenggara negara menyikapi budaya nasional itu. Budaya nasional hanya dijadikan pelengkap penderita saja.
Kita ingat beberapa saat yang lalu kejadian yang menyita perhatian yaitu klaim oleh negara Malaysia terhadap produk budaya bangsa Indonesia yang diklaim sebagai budaya negara Jiran tersebut, antara lain lagu Rasa Sayange, Batik, Reog Ponorogo, Tari Bali, dan masih banyak lainnya. Apakah kejadian seperti ini akan dibiarkan terus berulang?
Seharusnya peristiwa tragis tersebut dapat menjadi martir kesadaran dan tanggungjawab yang ada di atas setiap pundak para generasi bangsa yang masih mengakui kewarganegaraan Indonesia. Negara atau pemerintah Indonesia semestinya berkomitmen untuk mengembangkan kebudayaan nasional sekaligus melindungi aset-aset budaya bangsa, agar budaya Indonesia yang dikenal sebagai budaya adi luhung, tidak tenggelam dalam arus materialistis dan semangat hedonisme yang kini sedang melanda dunia secara global. Sudah saatnya negara mempunyai strategi dan politik kebudayaan yang berorientasi pada penguatan dan pengukuhan budaya nasional sebagai budaya bangsa Indonesia.
Sebagai bangsa yang merasa besar, kita harus meyakini bahwa para leluhur telah mewariskan pusaka kepada bangsa ini dengan keanekaragaman budaya yang bernilai tinggi. Warisan adi luhung itu tidak cukup bila hanya berhenti pada tontonan dan hanya dianggap sebagai warisan yang teronggok dalam musium, dan buku buku sejarah saja. Bangsa ini mestinya mempunyai kemampuan memberikan nilai nilai budaya sebagai aset bangsa yang mesti terjaga kelestarian agar harkat martabat sebagai bangsa yang berbudaya luhur tetap dapat dipertahankan sepanjang masa.
Dalam situasi global, interaksi budaya lintas negara dengan mudah terjadi. Budaya bangsa Indonesia dengan mudah dinikmati, dipelajari, dipertunjukan, dan ditemukan di negara lain. Dengan demikian, maka proses lintas budaya dan silang budaya yang terjadi harus dijaga agar tidak melarutkan nilai nilai luhur bangsa Indonesia. Bangsa ini harus mengakui, selama ini pendidikan formal hanya memberi ruang yang sangat sempit terhadap pengenalan budaya, baik budaya lokal maupun nasional. Budaya sebagai materi pendidikan baru taraf kognitif, peserta didik diajari nama-nama budaya nasional, lokal, bentuk tarian, nyanyian daerah, berbagai adat di berbagai daerah, tanpa memahami makna budaya itu secara utuh. Sudah saatnya, peserta didik, dan masyarakat pada umumnya diberi ruang dan waktu serta sarana untuk berpartisipasi dalam pelestarian, dan pengembangan budaya di daerahnya. Sehingga nilai-nilai budaya tidak hanya dipahami sebagai tontonan dalam berbagai festival budaya, acara seremonial, maupun tontonan dalam media elektronik.
Masyarakat, sesungguhnya adalah pemilik budaya itu. Masyarakatlah yang lebih memahami bagaimana mempertahankan dan melestarikan budayanya. Sehingga budaya akan menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari. Dengan adanya pemeliharaan budaya oleh masyarakat, maka klaim-klaim oleh negara lain dengan mudah akan terpatahkan. Filter terhadap budaya asing pun juga dengan aman bisa dilakukan. Pada gilirannya krisis moral pun akan terhindarkan. Sudah saatnya, pemerintah pusat dan daerah secara terbuka memfasilitasi partisipasi masyarakat dalam upaya penguatan budaya nasional.
Dengan dasar di atas, kami bagian dari elemen bangsa ini bersumpah:
SUMPAH BUDAYA
  1. MENDESAK KEPADA PEMERINTAH UNTUK SERIUS MEMPERHATIKAN PEMBANGUNAN BUDAYA DAN MEMPENETRASIKAN KE DUNIA PENDIDIKAN, EKONOMI, SOSIAL DAN POLITIK.
  2. MENGELUARKAN KEBIJAKAN YANG MENDUKUNG LESTARINYA NILAI-NILAI BUDAYA LOKAL DAN NASIONAL YANG POSITIF DAN KONSTRUKTIF SEHINGGA MEMPERKUAT IDENTITAS DAN JATI DIRI BANGSA.
  3. MENGGALANG SEMUA POTENSI BUDAYA YANG ADA MELALUI TATA KELOLA KEBUDAYAAN YANG BAIK DAN BENAR.
DITANDATANGANI DI YOGYAKARTA, 2 SEPTEMBER 2011
  1. SABDA LANGIT.
  2. WONG ALUS.
  3. KI CAMAT.
  4. MAS KUMITIR.
  5. SABDO SEJATI.
  6. TOMY ARJUNANTO.
  7. KANEBO SW.
  8. KANKTONO.
  9. ANTON.S.
  10. SUPARJO.
  11. WISNU ARDEA.
Bagi saudara sebangsa dan setanah air, silahkan bergabung dengan gerakan ini dan menyebarkan sumpah budaya ini. Demikian pernyataan kami. Terima kasih. Salam Berbudaya. Asah asih asuh.

Read more ►

Gunung dan Sungai

0 comments
Sebagai sebuah wilayah yang terletak di daerah lingkaran api (ring of fire), kepulauan Indonesia mempunyai persediaan gunung berapi sangat berlimpah. Gunung-gunung berapi tersebut tersebar dari ujung utara sampai wilayah timur Indonesia. Semua itu membuat tanah di nusantara ini sangat subur. Sehingga, banyak yang mengagumi kesuburan tanah nusantara, dari Koes Plus hingga Sir Thomas Stanford Raffles.
IMG_0537Gunung-gunung yang tersebar di nusantara ini sebagian memang sudah tidak aktif, tetapi tetap saja mempunyai kharisma tersendiri. Seperti Gunung Lawu di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Belum lagi gunung berapi yang masih aktif, seperti Gunung Merapi di perbatasan Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Bagi masyarakat di Indonesia, khususnya masyarakat Jawa, gunung merupakan tempat sakral. Banyak hal berbau legenda ataupun mitos yang menyelimuti gunung, mulai dari penciptaan gunung itu sendiri atau hal lainnya. Jika diambil contoh di masa lalu, beberapa diantara Walisongo menggunakan nama-nama gunung, seperti Sunan Muria (Gunung Muria, Jateng), Sunan Gunung Jati (Perbukitan Gunung Jati, Cirebon). Makam-makam tokoh terkenal di masa lalu pun kebanyakan berada di gunung, contoh Makam Sultan Agung (Perbukitan Imogiri, Bantul).
Selain itu, banyak hal ganjil senantiasa menyelimuti keberadaan sebuah gunung. Ambillah gunung yang paling fenomenal saat ini, Merapi. Hampir seluruh Indonesia mengetahui nama-nama mBah Petruk, Eyang Sapu Jagat, ataupun Nyai Gadhung Melati. Nama-nama tersebut mulai mencuat sejak Gunung Merapi mulai beraktivitas beberapa waktu lalu. Akan tetapi, mungkin banyak yang belum tahu mengenai manusia berbelalai gajah dan legenda pohon beringin putih. Itulah gunung, yang meskipun dunia ini bergerak ke arah yang semakin modern, gunung selalu mampu mempertahankan kesakralannya.
Selain itu, gunung Merapi juga sangat erat berkaitan dengan Mataram. Ketika Ki Ageng Pemanahan wafat kemudian kekuasaan berpindah ke putranya, Danang Sutawijaya atau lebih terkenal dengan sebutan Panembahan Senopati. Panembahan Senopati meminta bantuan kepada guru spiritualnya, Ki Juru Mertani untuk bertapa di Merapi, sementara ia sendiri bertapa di Parangtritis, yang kemudian memunculkan cerita terkenal lainnya. Oleh sebab itu, dua Kraton penerus Mataram, yaitu Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Ngayogyakarta secara rutin selalu mengadakan upacara labuhan di Gunung Merapi.
Sementara Gunung Lawu mempunyai predikat yang luar biasa di kalangan masyarakat Jawa. Gunung itu diyakini sebagai pusat spiritualnya Pulau Jawa. Banyak yang meyakini bahwa raja terakhir Majapahit, Brawijaya V, moksa di gunung Lawu yang kemudian mendapat julukan sebagai Sunan Lawu. Sementara versi lain menyatakan bahwa Brawijaya V moksa di Gunung Kidul, Yogyakarta. Terlepas dari mitos-mitos yang berkembang di masyarakat, Gunung Lawu memang mempunyai reputasi yang sangat luar biasa. Memang ketika memasuki wilayah gunung ini, nuansa spiritual yang kental sangat terasa. Bahkan bagi orang awam.
Tempat ini pun mempunyai legenda layaknya gunung-gunung lain. Objek wisata Grojogan Sewu diyakini sebagai tempat mandi para bidadari. Ada juga yang mengungkapkan bahwa air terjun tersebut merupakan air mata para bidadari.
Belum lagi gunung-gunung lain seperti gunung kembar Sindoro-Sumbing, Semeru, Bromo, ataupun Merbabu. Juga gunung-gunung yang hanya terkenal di kalangan tertentu, seperti Gunung Limo di Pacitan dan Gunung Tidar di Magelang.
Akan tetapi, lain gunung, lain pula sungai dan samudra.
Satu hal yang sama, sungai-sungai dan samudra bagi masyarakat Jawa juga mempunyai legenda-legenda dan mitos-mitos yang senantiasa terpelihara layaknya mata air. Seperti terjadinya Sungai Bedog, yang diyakini sebagai jalur yang digunakan Naga Baru Klinthing menuju Gunung Merapi. Belum Sungai Progo, yang disamakan dengan sebuah sungai di India. Tak hanya sungai, P1110553wilayah perairan seperti rawa-rawa dan samudra pun mempunyai legendanya sendiri-sendiri. Legenda Rawa Pening, ataupun mBelik (semacam mata air yang membentuk kolam kecil) Pace di Banguntapan, Bantul, peninggalan Raden Ronggo, putra Panembahan Senopati.
Bagi masyarakat, wilayah yang dekat dengan air merupakan wilayah yang penuh kekuatan spiritual. Entah itu memiliki potensi yang merusak atau sebaliknya. Akan tetapi, banyak orangtua yang melarang anak-anaknya bermain di sekitar perairan ketika menjelang senja. Banyak peristiwa yang menunjukkan adanya potensi-potensi gaib di sekitar perairan. Namun, jika merujuk ke agama, memang tempat-tempat yang dingin dan lembab merupakan tempat kesukaan para jin ataupun makhluk-makhluk Tuhan yang lain.
Air sungai mengalir menuju samudra. Sebelum sampai ke samudra, bertemu dengan aliran sungai yang lain. Wilayah pertemuan antara dua sungai, di masyarakat Jawa disebut sebagai tempuran. Tempat-tempat seperti ini selalu menjadi tujuan para pencari ilmu untuk menguji telah seberapa tangguh dirinya, dengan berendam di tengah-tengah tempuran. Konon, akan muncul godaan-godaan yang akan menguji si pencari ilmu.
Sementara samudra mempunyai legenda lain. Ambil saja yang paling terkenal, Laut Selatan pulau Jawa, yang dikuasai oleh Kanjeng Ratu Kidul. Tokoh ini begitu terkenal karena hubungannya dengan Panembahan Senopati dan juga raja-raja Jawa setelah itu. Konon Sri Sultan Hamengkubuwono IX juga pernah bertemu dengan Kanjeng Ratu Kidul. Oleh karena itu, Laut Selatan, tepatnya di Parangkusumo, Kraton Yogyakarta secara rutin menggelar upacara labuhan.
Selain itu, tempat ini terkenal karena dua tokoh lain yang sering diduga sebagai penguasa Laut Selatan, yaitu Nyai Roro Kidul dan Nyai Loro Kidul. Keduanya sering disalahartikan sebagai penguasa Laut Selatan. Padahal dua tokoh tersebut merupakan pengikut Kanjeng Ratu Kidul, penguasa Laut Selatan. Sementara di Laut Utara Jawa, muncul tokoh penguasa Laut Utara yang bernama Dewi Anjani. Tokoh ini mirip dengan Kanjeng Ratu Kidul di Laut Selatan, akan tetapi banyak yang belum mengetahuinya.
Mitos-mitos ataupun legenda-legenda seakan telah akrab bagi masyarakat Jawa. Bahkan mungkin bisa dibilang bahwa masyarakat Jawa tumbuh bersama dengan legenda. Karena dalam perkembangannya, banyak tokoh-tokoh yang semula hanya ada dalam kisah-kisah, ternyata benar-benar ada. Ataupun sebaliknya, tokoh yang semula dikira ada, ternyata hanya sebuah dongengan. Akan tetapi, ada juga tokoh yang sampai sekarang masih kabur antara legenda ataupun kenyataan. Diantaranya, seorang tokoh bernama Rangga Tohjaya, seorang prajurit Demak yang merupakan sahabat Ki Ageng Pengging dan kakaknya, Kebo Kanigoro. Konon mereka bertiga pernah bertemu di sebuah tempat di Merapi, yang kemudian dikenal dengan Petilasan Kanigoro. Kemudian, Rangga Tohjaya juga sempat muncul dalam kisah silat populer karangan S.H Mintardja, Nagasasra Sabukinten.
Hal-hal semacam ini terjadi karena pendokumentasian sejarah di nusantara tidak terkelola dengan baik. Ketika sejarah suatu bangsa terlupakan oleh bangsanya sendiri, dapat dipastikan bangsa tersebut akan hilang. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa untuk menghancurkan sebuah negara, tak perlu dengan senjata-senjata berat ataupun bom, cukup dengan membuat generasi muda negara tersebut lupa akan sejarahnya. Dan itu benar.
Sekali lagi, peran pemerintah yang terkait sangat penting. Bersama-sama dengan Kraton-kraton yang masih tersisa di Nusantara ini, menemukan kembali mata rantai yang hilang tentang sejarah Nusantara, karena banyak yang tertulis di buku-buku sejarah untuk siswa sekolah, sama sekali berbeda dengan apa yang mungkin, terjadi di masa lalu. Jika pemahaman siswa sejak dini pada sejarah telah melenceng, pelan tapi pasti negara ini akan menuju kehancuran.
Read more ►
 

Copyright © nglengkong Design by O Pregador | Blogger Theme by Blogger Template de luxo | Powered by Blogger