Wednesday, June 27, 2012

Fenomena Teleportasi

Hari Senin (25/06/2012), pagi di Surat Kabar Harian Tribun Jogja memuat sebuah berita yang cukup berbeda dengan biasanya. Judul berita itu sangat menarik perhatian dengan digunakannya kata “tiba-tiba”, “hutan”, serta “tak lecet”. Setelah membaca berita itu, ternyata berisi tentang sebuah bus yang sedang melaju di Jalur Pantura Rembang, secara misterius berada di tengah-tengah hutan jati di daerah Blora, Jawa Tengah. Keanehan lain baru disadari pada keesokan paginya, antara lain hutan jati itu terlalu rapat untuk dimasuki mobil, tidak ada jejak ban di tanah, serta bodi bus yang tak dijumpai lecet. Bahkan karena kerapatan pohon satu sama lain, beberapa pohon jati harus ditebang untuk memudahkan bus Pahala Kencana tersebut untuk keluar dari hutan.
Peristiwa di atas sedikit mirip dengan berbagai peristiwa yang hampir umum beredar di kalangan masyarakat Indonesia. Kejadian-kejadian seperti seseorang yang hanya membutuhkan beberapa menit untuk menempuh jarak jauh, ataupun seorang kiai yang mampu berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan cepat, dll. Jika begitu, marilah kita menyebut peristiwa-peristiwa di atas sebagai fenomena teleportasi.
Teleportasi dapat diartikan secara bebas sebagai perpindahan dari satu tempat ke tempat lain yang jauh hanya dengan waktu yang singkat. Fenomena ini oleh dunia barat dianggap sebagai salah satu fenomena misterius, meskipun belum mampu menyamai minat ahli-ahli barat tentang fenomena Alkimia (Alchemist). Tetapi, sebenarnya masyarakat Indonesia tak perlu gumun (kagum) atau kaget dengan fenomena-fenomena yang terjadi di luar akal kecerdasan manusia itu, karena sejak dulu peristiwa macam itu selalu mengiringi perkembangan Nusantara, sejak era kerajaan hingga era milenium ini.
Jika kita mencermati sejarah Nusantara, pasti kita menemukan kisah-kisah yang cukup sulit dinalar oleh akal sehat. Alkimia, yang di dunia barat masih menjadi misteri, pada sekitar abad ke-15, kisah seseorang yang mengubah buah menjadi emas menghiasi masjid-masjid atau langgar-langgar yang mengisahkan pertemuan antara Sunan Bonang dengan Brandal Lokajaya atau nantinya dikenal dengan Sunan Kalijogo. Kemudian Sunan Kalijogo yang mengubah segumpal tanah menjadi sebongkah emas, pada pertemuannya dengan Ki Ageng Pandanaran, yang nantinya dikenal dengan Sunan Tembayat.
Peradaban Nusantara, oleh Kiai mBeling, Emha Ainun Nadjib disebut sebagai Peradaban Koneksitas. Peradaban ini disebutnya sebagai peradaban tua, melampaui peradaban Yahudi. Mengenai hal ini, Cak Nun mengangkat sebuah kasus yang agak menggelitik tapi mengena. Saat ini dikatakan bahwa bangsa Yahudi adalah bangsa yang paling pintar di muka bumi, tetapi menurut Cak Nun bangsa Yahudi belum ada apa-apanya dibandingkan dengan Nusantara. Mengapa? Jawabannya cukup mengejutkan, di Israel tidak ada pawang hujan…
Menurut para ahli fisika, penelitian tentang teleportasi memang menyimpulkan bahwa perpindahan materi adalah bisa. Tetapi itupun masih terbatas, yaitu pada skala atom, bukan benda-benda yang besar. Lantas apakah perpindahan bus, atau manusia ke tempat lain secara misterius dapat dijelaskan secara fisika? Jawabannya juga cukup mengejutkan, ya.
Setelah mengalami berbagai peristiwa yang kadang disebut aneh, ada perbedaan yang bisa ditarik antara masyarakat Nusantara dengan masyarakat belahan dunia lain (baca: barat). Perbedaan tersebut bisa dikatakan perbedaan pada kecerdasan. Kecerdasan dunia barat adalah kecerdasan ilmiah, dengan berbagai penemuan-penemuan sejak masa renaissance hingga fenomena Steve Jobs atau Bill Gates. Sementara kecerdasan penduduk Nusantara adalah kecerdasan spiritual. Perbedaan antara dua kecerdasan ini adalah jika penduduk barat berlomba-lomba dalam hal kecepatan atau efisiensi, masyarakat Nusantara justru sebaliknya, memperlambat. Bisa diamati pada kebiasaan masyarakat Nusantara yang gemar berpuasa, entah itu puasa mutih, ngebleng, ngalong, pati geni, dll. Puasa bertujuan untuk memperlambat waktu – disamping menahan hawa nafsu – dan jika waktu melambat maka manusia akan menjadi lebih peka dengan keadaan sekitarnya.
Dengan iPhone atau Windows Mobile, seseorang mampu untuk berkomunikasi dengan orang lain di tempat yang jauh, bahkan dengan saling tatap muka melalui aplikasi tertentu. Untuk bepergian ke tempat yang jauh, seseorang menggunakan pesawat terbang yang hanya menempuh beberapa jam untuk mengelilingi dunia. Itu adalah usaha-usaha ilmuwan barat untuk mempercepat kehidupan mereka.
Meskipun begitu, teknologi barat tidak bisa menyaingi teknologi Nusantara, seperti memanggil atau menunda hujan, telepati, ataupun puter giling. Teknologi-teknologi Nusantara ini akan dianggap sebagai hal-hal yang tidak mungkin oleh orang-orang yang telah menempuh pendidikan sangat tinggi. Dengan mantra atau doa-doa tertentu, seseorang bisa memanggil atau menunda hujan. Dengan software bawaan yang ada di dalam manusia, seseorang bisa saling berhubungan dengan telepati. Dan yang cukup unik, seseorang bisa memanggil orang yang lama hilang dengan teknologi puter giling. Itulah kecerdasan rohani yang tidak bisa disamai oleh kecerdasan fisik. Dan masyarakat Nusantara mempunyai potensi untuk menggunakan kecerdasan rohani tersebut.


8 comments:

  1. cukup menarik ulasannya ya gan.

    "Kecerdasan dunia barat adalah kecerdasan ilmiah, dengan berbagai penemuan-penemuan sejak masa renaissance hingga fenomena Steve Jobs atau Bill Gates. Sementara kecerdasan penduduk Nusantara adalah kecerdasan spiritual. Perbedaan antara dua kecerdasan ini adalah jika penduduk barat berlomba-lomba dalam hal kecepatan atau efisiensi, masyarakat Nusantara justru sebaliknya, memperlambat. Bisa diamati pada kebiasaan masyarakat Nusantara yang gemar berpuasa, entah itu puasa mutih, ngebleng, ngalong, pati geni, dll. Puasa bertujuan untuk memperlambat waktu – disamping menahan hawa nafsu – dan jika waktu melambat maka manusia akan menjadi lebih peka dengan keadaan sekitarnya".

    jadi teringat kata-kata simbahku ketika aku terlihat terburu; dalam hal apapun. beliau berkata "alon-alon le asala kelakon". kemudian aku jawab "cepet lan selamet mbah!". kataku sembari tersenyum. :)

    ReplyDelete
  2. mantap.... sependapat dengan pemikiran saya gan...

    ReplyDelete
  3. Kalo soal bus Pahala Kencana sebaiknya dipanggil ilmuwan2 untuk meriset keadaan tersebut sebelum bus dievakuasi, jadi persoalannya bisa jelas dan tidak hanya menjadi berita burung belaka. Kalo seperti kutipan Tribun Jogja, berita itu bisa jadi hanya sebatas cerita obrolan warung kopi.

    Untuk perubahan suatu benda menjadi emas, dalam alkimia mungkin saja bisa terjadi, karena perubahannya bisa terjadi dalam hal inti atom atau bahkan mungkin yg lebih kecil dari itu. Hanya energinya yg belum bisa dibuktikan untuk merubah suatu inti atom menjadi inti atom lain.

    ReplyDelete
  4. menarik pembahasannya mas, mmg hal hal spritual / supranatural gak bisa dijelaskan secara ilmiah

    ReplyDelete
  5. @Baca!: terimakasih telah berkenan mampir..hehe..tapi ngomong2 simbah saya juga sering berkata seperti itu ke saya..saya juga sempat memposting "wawancara" saya dengan simbah saya di blog ini...silahkan mampir kalau ada waktu luang..terimakasih..

    @Bung Husnul Yakin: trimakasih berkenan mampir..silahkan baca juga postingan saya yang lain..hehe..

    @Bung Fery: trimakasih, anda orang pertama yang menggunakan kata itu untuk komentar di blog ini..hehe..

    @Bung Panyu: mengenai berita bus tersebut, di hari selanjutnya di suratkabar yang sama memuat indepth report, yang menyelidiki secara lebih dalam mengenai peristiwa tersebut, dan hasilnya masyarakat setempat banyak yang mengatakan itu berkat campur tangan 'goib'..Wallahu'alam..tapi terimakasih atas tanggapannya..no offense just sharing..hehe..
    tentang fenomena fisika saya tidak begitu paham, jadi saya tulis seadanya saja, dan semoga tidak menyesatkan..hehe

    @Bung JhezeR: ada yang bisa ada yang tidak..tapi terlepas dari hal itu, inilah kebudayaan nusantara..trimakasih atas tanggapannya..hehe

    @All: saya tunggu komentar-komentar dan tanggapan2 anda selanjutnya, trimakasih telah berkenan mampir..

    ReplyDelete
  6. kalau perpindahan bis pahala kencana dengan teleportasi, terus siapaa yang memindahkan bis tsb ke tengah hutan jati...dan bagaimana testemoni para crew bis dan penumpangnya.

    ReplyDelete
  7. @Bung Tri Purnomo: fenomena ini sedikit membingungkan, karena menurut sopirnya, ia merasa melewati jalanan mulus, tapi tiba-tiba ia sadar ketika mendengar kokok ayam dan mendapati bisnya telah ada di tengah hutan..yang janggal, cat pada bodi tak lecet sedikitpun dan tak ada ranting atau semak yang patah, atau bekas ban di jalanan tanah..
    nah sekarang tergantung masing2 dalam menginterpretasikan peristiwa ini..kalau saya sih sebagai media untuk mengulas fenomena teleportasi..trims tanggapannya..

    ReplyDelete

 

Copyright © nglengkong Design by O Pregador | Blogger Theme by Blogger Template de luxo | Powered by Blogger