Friday, May 27, 2011

Spiritualisme di Era Modern

0 comments
Dengan berkembangnya paham Postmodernisme, mau tak mau membuat paham-paham sebelumnya seperti Modernisme perlahan-lahan mulai ditinggalkan. Paham Modernisme yang mengedepankan rasionalitas dianggap tak mampu menjelaskan peristiwa-peristiwa yang semakin beragam. Sebagai contoh, orang-orang kini ramai membicarakan tentang hari kiamat (bahkan sempat heboh ketika seorang warga Amerika meramalkan hari kiamat pada tanggal 21 Mei 2011 kemarin, namun tak terbukti). Orang-orang ramai membicarakan tentang pertempuran suci melawan setan, dan berbagai hal-hal yang tidak masuk akal oleh kaum modernis.
Lantas kenapa hal-hal semacam itu (hari kiamat, dll) ditanggapi serius oleh mayoritas bangsa-bangsa barat yang teknologinya tergolong maju? Amerika konon telah membuat bunker yang dipersiapkan untuk menghadapi tanggal 21-12-2011, yang konon menurut penanggalan Suku Maya adalah akhir dunia. Kemudian sebagian masyarakat juga percaya bahwa sebuah propinsi di Perancis tidak akan hancur pada hari itu, dan menjadi satu-satunya tempat di dunia ini yang selamat pada tanggal tersebut.
Kenapa masyarakat Indonesia seakan tenang-tenang saja menghadapi hal-hal macam itu (kecuali beberapa infotainment yang kadang berlebihan dalam menanggapi hal-hal semacam itu)?
Budaya timur, terutama budaya Indonesia adalah kebudayaan yang sejak dahulu tidak hanya menggunakan unsur rasionalitas, tetapi juga unsur spiritual. Unsur spiritual ini sangat kental pada kebudayaan Indonesia sehingga jelas terlihat pada berbagai aspek masyarakat. Hal semacam ini secara tidak langsung membentuk pemahaman bahwa manusia tidak bisa terus menerus mengandalkan rasionalitas dalam kehidupan di dunia ini.
Kemudian pemahaman tersebut didukung oleh lingkungan, dimana Indonesia adalah sebuah kepulauan dengan sejarah yang sangat tua dan sangat maju (beberapa waktu lalu terbit sebuah buku tentang Atlantis, yang mana menurut penulisnya, kepulauan Atlantis berada di wilayah kepulauan Nusantara saat ini). Bangsa yang tua ini mempunyai pemahaman filsafat yang sangat tinggi, ditunjukkan pada sikap pasrah yang luar biasa ketika menghadapi segala hal dan segala situasi. Konsep alon-alon waton klakon, serta narimo ing pandum adalah sebagian dari sikap pasrah yang luar biasa. Mungkin sepintas kedua konsep tersebut adalah konsepnya orang pemalas, akan tetapi tidak jika dipahami lebih dalam.
Kepanikan negara-negara barat akan ramalan-ramalan macam itu boleh jadi merupakan keresahan jiwa mereka yang lapar akan pencerahan. Selama ini negara-negara barat adalah kumpulan masyarakat yang sangat mengagungkan rasionalitas dalam berbagai hal. Namun nyatanya, mereka panik ketika menghadapi ramalan tentang kiamat, ataupun perang suci melawan setan.
Kebudayaan Indonesia juga mengenal kiamat, juga ramalan-ramalan macam itu. Tapi ramalan di Indonesia tidak serta merta langsung seperti halnya anggapan bangsa barat. Ramalan-ramalan di Indonesia (tentu saja yang paling terkenal adalah Ramalan Jayabaya, dan juga beberapa ramalan R. Ng. Ranggawarsita), terutama berkutat mengenai sebuah zaman yang penuh huru-hara serta masyarakat dan pemerintahan yang bobrok. Semua itu telah terbukti, setidaknya sampai saat ini.
Jika menggunakan sudut pandang ramalan Indonesia, boleh jadi bahwa ramalan kiamat tahun 2012 mendatang bukanlah kiamat musnahnya jagat raya ini, akan tetapi lebih kepada reinstall atau resetting. Karena jika diibaratkan sebuah komputer, dunia saat ini adalah sebuah komputer yang telah digerogoti virus, sementara antivirusnya telah expired atau out of date. Dengan demikian, setelah dunia ini diformat ulang, mungkin akan muncul manusia yang kuat pada aspek spiritualnya, namun tetap menggunakan akalnya, karena Gusti Allah SWT menciptakan manusia sebagai makhluk yang berakal.
Sebenarnya tidak pada porsinya ketika manusia membicarakan urusan yang bukan urusannya. Persoalan kiamat telah ada yang mengatur dan menentukan. Tidak ada manusia satupun yang mengetahui dengan persis kapan terjadinya kiamat, namun semoga dengan isu-isu tersebut membuat manusia manyadari bahwa kehidupan dunia ini adalah untuk kehidupan akhirat mendatang. Bekerjalah seakan-akan kau hidup selamanya, dan beribadahlah seakan-akan kau mati besok.


Read more ►

Monday, May 23, 2011

Javanese Literature: Rara Mendut Prana Citra, the Javanese Version of Romeo Juliet

0 comments
In world’s literature, we know the Shakespeare’s Romeo and Juliet as the famous work. This story tells about forbidden love between Romeo and Juliet. They live in the different situation, but they’re in love each other. This story become very popular, and learnt by every student who learns literature (I have never read it yet).
Actually, Javanese literature has similar story called Rara Mendut Prana Citra. The biggest difference aspect from these two stories is Rara Mendut is anonym; no one knows who the writer is. This story becomes popular when it used as a story in Kethoprak (Drama in a stage – traditional opera of Javanese). But no one knows when first time this story appears.
Many stories used in Kethoprak are anonym, but some of them are real (truly happen in the past). For example, the story taken from Babad Tanah Jawi; the born of Jaka Tingkir. Mostly, Kethoprak taken some parts in Baratayudha or Ramayana, with little improvisation.
Rara Mendut Prana Citra, they’re in love, but their social class makes them always separated. This situation becomes more difficult when someone appear between Rara Mendut and Prana Citra. The man is Tumenggung Wiraguna, a very rich man. He loved Rara Mendut, and kill Prana Citra. Finally, Rara Mendut killed herself with the Wiroguna’s dagger.
We have many great literary works; some of them are the masterpieces in literary work. Even if compared by other literary works from the famous authors around literature students. We have Empu Panuluh, Empu Kanwa, Empu Prapanca, Sultan Agung, R. Ng. Ronggowarsito, S. H. Mintardja, Pramoedya Ananta Toer, etc. Each name above has their own masterpiece. S. H. Mintardja makes a great story in Nagasasra Sabuk Inten. Many people think that Mahesa Jenar (main character of this novel) is truly live in the past. Pramoedya (famous as ‘Pram”) makes many great stories. He is the man who able to write Indonesian language without mistakes in structure. No one of his sentences is useless.
This is only introduction to the Javanese literature. Next time I will share about the great masterpiece in Theater; drama in the stage. In this area, a name will appear which in the future this name becomes legend in the Javanese drama: Basiyo.
Read more ►

Friday, May 20, 2011

Mengenai Priyayi, Santri, dan Abangan

0 comments
Bagi masyarakat Jawa, tiga hal di atas (mungkin) terdengar akrab. Tiga hal itu mungkin menyebabkan Islam di Jawa menjadi sedikit berbeda dengan Islam di daerah lain. Dengan masa peralihan dari era Hindu-Budha ke era Islam, tentunya berbagai hal yang dulu pernah akrab dengan masyarakat sedikit demi sedikit mulai ditata, oleh Dewan Wali sebagai ujung tombak. Hasilnya Islam mencapai kemajuan yang pesat. Dengan pusat penyebaran di Demak, para Wali menyebar ke seluruh penjuru tanah Jawa untuk meyebarkan Islam.
Snouck Hungronje, seorang pendeta Kristen yang mengetahui seluk beluk agama Islam dengan detail menyebut bahwa Islam di Indonesia (Jawa) terbagi atas tiga jenis: (1) Islam birokrat (2) Islam tradisional, dan (3) Islam murni. Apakah tiga macam Islam yang dikemukakan oleh Hungronje tersebut sama dengan pembagian Priyayi, Santri, dan Abangan?
Nata (2001: 182) dalam bukunya menyatakan bahwa Islam priyayi adalah paham ke-Islam-an yang dianut oleh para aristokrat. Sedangkan Islam santri adalah mereka yang benar-benar menjalankan agama dengan taat (sembahyang). Mengenai abangan, konon berasal dari pengikut ajaran Syekh Siti Jenar atau Syekh Lemah Abang. Dari kata “abang” itulah muncul kata Abangan. Islam jenis ini menurut Nata (2001: 181) adalah mereka yang kurang begitu paham dengan Islam, dan masih terpesona dengan upacara-upacara. Mayoritas golongan ini tinggal di pedesaan.
Akan tetapi apakah penggolongan itu benar-benar dari umat Islam sendiri, atau hanya upaya untuk memecah belah? Seperti diungkap di atas bahwa seorang pendeta mengklasifikasikan Islam di Indonesia menjadi tiga. Islam birokrat, mempunyai kesamaan dengan Islam priyayi. Islam yang condong ke aspek budaya, mirip dengan Abangan. Sedangkan Islam murni lebih dekat dengan Islam santri. Jika menilik penjajah yang sukses dengan taktik mengadu domba, bukan tidak mungkin bahwa mereka masuk ke ranah agama, kemudian berusaha menggerogoti dari dalam. Membuat rakyat curiga kepada pemimpinnya. Membuat para santri menjadi kelompok yang esklusif.
Guyub. Itulah yang ditakuti penjajah dari masyarakat Jawa.
Referensi: Nata, Abuddin. 2001. Peta Keragaman Pemikiran Islam di Indonesia. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Read more ►

Thursday, May 19, 2011

Lagu-lagu Militer Jawa

1 comments
Orang Jawa zaman dahulu konon pandai bersyair. Terbukti dengan banyaknya serat, kisah ataupun babad yang menggunakan syair berirama, atau yang lebih populer dengan sebutan Macapat. Pun ketika berada dalam medan pertempuran. Lagu-lagu militer mengiringi derap kaki kuda, pedang yang beradu, panji-panji yang berkibar, luka yang menganga, darah yang mengalir, bersama dengan teriakan-teriakan pengobar semangat sang Manggala Yudha.
Berikut ini beberapa lagu-lagu militer jawa (Hendri, 2008: 71-73):
1.      1. Lancaran Mahesa Kurda
Kalamun cinandra pan yayah mahesa kurda
Bendhe umyung tengara bidhale wadya
Kang tinata carub wor dadi sajuga
Sang panganjur aba-aba nabuh tambur
Teteg ajeg suling peling mut wirama

2.      2. Lancaran Gambuh
Enjing bidhal gumuruh
Tambur suling gung maguru ngungkung
Binarung ing krapyak
Myang watang agathik
Kang kapyarsa swaranipun
Lir ombaking samudra rob

3.      3. Lancaran Singa Nebak
Sigra mangsah lumampah anut wirama
Getar tambur bendhene munya angungkung
Suling sesauran selompret tetep mindhiki

4. Suluk Budhalan
Enjing bidhal gumuruh
Saking jroning praja
Gunging kang bala kuswa
Aba busananira lir surya wedalira
Saking jaladri arsa madangi jagad
Duk mungup-mungup aneng
Sakpucaking wukir
Marbabak bang sumirat
Keneng soroting surya
Mega lan gunung-gunung (Hendri, Dimas. 2008. Serat Tripama – Tuntunan Abdi Negara. Yogyakarta: Pilar Media)



                 
Read more ►

Wednesday, May 11, 2011

Menjadi Warga Negara yang Baik

0 comments
“Yogyanira kang para prajurit/Lamun bisa sira anulada/Duk inguni ceritane/Andelira Sang Prabu/Sasrabahu ing Maespati/Aran Patih Suwanda/Lelabuhanipun/Kang ginelung tri pakara/Guna kaya purun ingkang den antepi/Nuhoni trah utama

Lire lelabuhan tri pakawis/Guna; bisa saniskareng karya/Budi dadya nanggule/Kaya sayektinipun/Duk bantu prang Magada Nagri/Amboyong putrid dhomas/Katur ratunipun/Purune sampun tetela/Aprang tandhing lan ditya Ngalengka nagri/Suwanda mati ngrana”

Bagi masyarakat Jawa, segala sesuatu yang ada di dunia ini, baik itu alam ataupun karya seni manusia mempunyai pesan tersirat yang bisa digunakan untuk menjalani kehidupan ini. Pun dalam pertujukan seni wayang kulit, yang memang telah diakui oleh masyarakat dunia bahwa karya seni ini mempunyai pesan-pesan yang baik. Akan tetapi, ada kalanya pesan-pesan tersebut hanya bisa ditangkap oleh masyarakat Jawa sendiri, yang kemudian memberikan penjelasan kepada masyarakat yang lebih luas.
Sebagai contoh, mungkin tokoh Kumbakarna bagi kebanyakan orang merupakan tokoh jahat. Dengan segala perangainya. Akan tetapi ada sifat dari Kumbakarna yang dapat diteladani, khususnya untuk kondisi Indonesia yang sedang seperti ini, yaitu sifat setia kepada bangsa dan negara.
Pembukaan di atas merupakan semacam penghormatan kepada seorang tokoh dalam pewayangan, yang bernama Patih Suwanda. Tokoh yang mempunyai nama kecil Bambang Sumantri, putra Begawan Suwandagni. Ia mengabdikan dirinya pada Prabu Sasrabahu, Raja Maespati, dengan menunjukkan loyalitas dan kesetiaan yang tinggi pada negaranya. Oleh karena itu secara khusus Mangkunegara IV memberikan pujian kepadanya melalui Serat Tripama, yang diantaranya adalah pembukaan di atas.
Untuk lebih memahami Dhandanggula di atas, di bawah ini terjemahan dalam bahasa Indonesia:
“Seyogyanya wahai para prajurit/tirulah sebisa-bisanya/cerita zaman dahulu/yakni tangan kanan Sang Prabu/Sasrabahu di Maespati/Yang bernama Patih Suwanda/Bekal pengabdiannya/Meliputi tiga hal/Guna, kaya dan purun yang selalu dipegang/Sebagai seorang manusia utama.

Adapun ketiga bekal pengabdian itu/Guna; berarti serba bisa/Berusaha untuk selalu berhasil/Kaya; sesungguhnya/Ketika menjadi panglima perang/Melawan Negeri Magada/Ia sukses memboyong putrid domas/Kemudian dihaturkan kepada rajanya/Purun; jelas ketika bertempur melawan raksasa Alengka/Suwanda gugur di medan laga”

            Dengan demikian bahwa tiga hal yang ditekankan dalam tembang di atas yaitu Guna, Kaya, dan Purun. Tiga hal tersebut merupakan hal yang penting bagi seorang warga negara dalam membela bangsa dan negaranya. Dengan memegang tiga hal tersebut, masyarakat diharapkan mempunyai sifat keprajuritan seperti halnya Patih Suwanda, yang Guna: yaitu berani, pandai, dan ahli dalam berbagai ketrampilan. Semuanya ia gunakan untuk memajukan bangsa dan negaranya. Kemudian menjadi seperti Patih Suwanda yang Kaya: meskipun kaya, hartanya selalu siap jika negara membutuhkan. Yang terakhir menjadi seperti Patih Suwanda yang Purun: mau berperang, mau membela kehormatan negaranya, meskipun harus mati di medan perang.
            Bait dari Serat Tripama juga secara khusus memberikan apresiasi kepada tokoh lain, yaitu Kumbakarna, yang meskipun berwujud raksasa buruk rupa tetapi memiliki kesetiaan kepada bangsa dan negara yang tinggi. Oleh karena sikapnya itu, Mangkunegara IV memberikan penilaian secara khusu, yaitu janganlah memandang seseorang dari wujudnya, karena belum tentu hatinya akan seburuk wujudnya. Kumbakarna tidak setuju dengan sikap saudaranya (Dasamuka), akan tetapi ia berperang melawan prajurit kera bukan membela saudaranya, tetapi menunaikan tugas sebagai warga negara dan seorang ksatria. Dari sinilah sikap yang bisa dicontoh, Nasionalisme. Memang agak membingungkan, tetapi ketika benar-benar direnungkan, hal tersebut masuk akal.
            Tokoh lain yang diberikan apresiasi oleh Mangkunegara IV dalam Serat Tripama adalah Adipati Karna, saudara Pendawa yang lebih membela Astina, dan melawan saudaranya sendiri pada Perang Baratayudha. Hal ini mungkin juga membingungkan, tetapi perlu diketahui bahwa Adipati Karna sudah mengetahui kelicikan Kurawa. Oleh karena itu diperlukan pemahaman lebih lanjut kepada orang yang lebih tahu.
            Sudah sepantasnya sebagai warga negara membela bangsa dan negara. Apapun, bagaimanapun kondisi suatu negara tersebut, meskipun misalnya perhatian negara pada masyarakat sangat minim, tetapi janganlah kemudian bersikap cuek ketika negara membutuhkan bantuan. Ambillah contoh Nabi Muhammad SAW ketika dilempar kotoran oleh orang yang tidak menyukainya, beliau malah mendoakan ketika ia sakit. Itulah sikap yang sebenarnya.

Referensi: Hendri, Dimas. 2008. Serat Tripama: Tuntunan Abdi Negara. Yogyakarta: Pilar Media.





SERAT TRIPAMA
Dhandanggula
Patih Suwanda
Yogyanira kang para prajurit/Lamun bisa sira anulada/Duk inguni ceritane/Andelira Sang Prabu/Sasrabahu ing Maespati/Aran Patih Suwanda/Lelabuhanipun/Kang ginelung tri pakara/Guna kaya purun ingkang den antepi/Nuhoni trah utama

Lire lelabuhan tri pakawis/Guna; bisa saniskareng karya/Budi dadya nanggule/Kaya sayektinipun/Duk bantu prang Magada Nagri/Amboyong putrid dhomas/Katur ratunipun/Purune sampun tetela/Aprang tandhing lan ditya Ngalengka nagri/Suwanda mati ngrana

Raden Kumbakarna
Wonten malih tuladhan prayogi/Satriya gung negari ing Alengka/Sang Kumbakarna arane/Tur iku warna ditya/Suprandene nggayuh utami/Duk wiwit prang Alengka/Dennya darbe atur/Mring saka amrih keguh ing atur yekti/Dene mungsuh wanara

Kumbakarna kinen mengsah jurit/Mring kang raka sira pan nglenggana/Nglungguhi kasatriyane/Ing tekad datan sujud/Amung cipta labuh negari/Lan noleh yayah rena/Myang leluhuripun/Wus mukti aneng Alengka/Mangka arsa rinusuk ing bala kapi/Punapi mati ngrana

Adipat Karna
Wonten malih kinarya palupi/Suryaputra Narpati Ngawangga/Lan Pendawan tur kadange/Lan yayah tunggil ibu/Suwita mring Sang Kurupati/Aning nagri Ngastina/Kinarya gul-agul/Manggala golonganing prang/Bratayudha ingadegken senapati/Ngalaga ing Kurawa

Den mungsuhken kadange pribadhi/Aprang tandhing lan Sang Dananjaya/Sri Karna suka manahe/De gonira pikantuk/Marga dennya arsa males sih/Ira Sang Duryudana/Marmanta kalangkung/Dennya ngetog kasudiran/Aprang rame Karna mati jinemparing/Sumbaga wiratama

Katri mangka sudarsaneng Jawi/Pantes sagung kang para prawira/Amirida sakadare/Iung lelabuhanipun/Ajwa kongsi buang palupi/Menawa sibeng nista/Ing estinipun/Senadyan sekadhing buda/Tan prabeda budi penduming dumadi/Marsudi ing kotaman.




Read more ►

Tuesday, May 3, 2011

Bahasa Ibu yang Tergeser

2 comments
Berbicara tentang keberagaman, negara ini sangat beragam dalam berbagai hal. Yang paling menonjol adalah mengenai kebuayaan, yang di dalamnya terdapat berbagai unsur-unsur pembentuk kebudayaan itu sendiri. Unsur-unsur pembentuk kebudayaan tersebut menjadikan kebudayaan Indonesia menjadi lebih berwarna, karena meskipun berbeda dalam berbagai hal, kumpulan kebudayaan tersebut mampu berdampingan secara harmonis.
Negara ini merupakan salah satu negara dengan bahasa ibu (mother tongue atau first language) terbanyak. Jika dihitung, dari Pulau Sumatera mempunyai beragam bahasa ibu. Kemudian bergeser ke Kalimantan, Jawa, Sulawesi, dan pulau yang eksotis, Papua (konon setiap desa di Papua mempunyai bahasa yang berbeda). Kemudian dari sekian banyak bahasa ibu tersebut disatukan dalam satu bahasa nasional, yaitu Bahasa Indonesia.
Itulah faktanya. Akan tetapi, kuatnya pengaruh kebudayaan luar yang secara membabi buta melakukan penetrasi ke Indonesia, secara perlahan keberadaan bahasa ibu menjadi terancam. Bayi-bayi yang lahir pada abad 20-21 semakin jarang mendengar bahasa ibu langsung dari orangtua mereka. Kini mereka langsung diajari Bahasa Indonesia, yang notabene adalah bahasa kedua (second language) di Indonesia. Ketinggalan jaman, itulah kebanyakan alasan mereka.
Akibatnya, banyak anak-anak muda yang kini berada di usia remaja kurang bisa menggunakan bahasa ibu dengan baik. Ambillah contoh Bahasa Jawa. Memang Bahasa Jawa itu sulit, karena terdapat berbagai peraturan-peraturan dalam penggunaannya, tidak hanya dalam penulisannya. Jika sewaktu kanak-kanak hal tersebut kurang diperhatikan oleh orangtuanya, maka hasilnya dapat diamati setelah ia dewasa. Ia akan bisa berbahasa jawa tetapi bahasa jawa ngoko (dalam hal ini lingkungan atau masyarakat yang berperan – lihat teori Empirisme oleh John Locke).
Bahasa ngoko tersebut akan selalu ia gunakan kepada siapapun lawan bicaranya. Entah itu teman, adik, ataupun orangtua. Inilah yang sebenarnya harus diberikan perhatian lebih. Kebudayaan jawa (sebagai contoh) adalah kebudayaan mengedepankan sopan santun, dan diantaranya ditunjukkan dengan bahasa.
Pengajaran bahasa kedua (second language) pada anak-anak masa kini tidak terlepas dari pengaruh bahasa asing (foreign language) yang saat ini mempunyai banyak sekali peminat. Banyak sekali universitas yang membuka fakultas bahasa asing, dan selalu mendapatkan banyak sekali peminat. Dengan cepatnya informasi, mau tidak mau bahasa asing harus dikuasai, minimal Bahasa Inggris. Tetapi harus diperhatikan bahwa bahasa ibu adalah disamping sebagai bahasa asli, bahasa ibu juga mengajarkan sopan santun (baca postingan terdahulu: Language Level and Good Behavior), sehingga manusia Indonesia meskipun menguasai berbagai bahasa asing, tetapi tetap mengedepankan sopan santun.
Jangan sampai bahasa ibu (mother tongue) hilang. Jangan sampai pula Bahasa Indonesia berubah menjadi bahasa ibu, sedangkan bahasa asing menjadi bahasa kedua. Bahasa Indonesia harus tetap menjadi bahasa kedua (second language), dan bahasa asing tetap menjadi bahasa asing (foreign language).
Read more ►

Monday, May 2, 2011

Melestarikan atau Sekedar Gaya?

2 comments
Inilah yang sebenarnya ingin saya bagi, sekedar pengamatan (sederhana) namun bagi saya agak sedikit membuat miris. Beberapa hari lalu tepatnya pada Hari Kartini, serentak presenter acara-acara hiburan televisi mengenakan busana daerah (Jawa, karena Kartini berasal dari Jepara, Jawa Tengah). Mungkin itu bagus, tetapi ternyata setelah diamati dengan lebih seksama, ternyata terdapat beberapa kejanggalan dalam mengenakan busana-busana adat Jawa tersebut.
Kejanggalan dalam pemakaian busana adat yang sangat mencolok adalah penggunaan blangkon. Blangkon yang seharusnya dipakai untuk menutup rambut, dipakai hanya di bagian belakang, sehingga rambut bagian depan terlihat begitu jelas. Tak jarang dipakai agak miring. Tampaknya hal-hal seperti itu kurang diperhatikan oleh praktisi hiburan di Indonesia. Memang benar acara-acara seperti itu (musik, komedi, dll) adalah acara untuk menghibur, tetapi tempatkanlah suatu hal dengan benar. Jika pemakaian busana daerah oleh artis dapat digunakan untuk memasyarakatkan busana adat, tidak masalah. Malah bagus. Hanya saja, pakailah dengan benar, menurut aturan, karena busana adat mempunyai beberapa peraturan dalam penggunaan (khususnya busana Jawa).
Kejanggalan lain adalah pemakaian kain jarik (jarit). Kain jarik mempunyai beberapa aturan dalam pemakaiannya. Sebagai contoh, bagi pria lipatan (wiru) berada di sebelah kanan. Hal itu merupakan simbol bahwa pria harus selalu melindungi wanita dengan ada di sebelah kanan. Sebaliknya, bagi wanita lipatan berada di sebelah kiri. Merupakan simbol bahwa wanita diciptakan dari tulang rusuk kiri pria. Sedangkan pada beberapa hari lalu, kain jarik hanya dipakai seperti memakain kain sarung. Tak ada lipatan. Memang hal-hal seperti itu cukup rumit, tetapi paling tidak dengan mengetahui hal yang paling mendasar, kecelakaan-kecelakaan seperti itu dapat dihindari.
Satu hal lagi yang paling mencolok berkaitan dengan kain jarik. Di sebuah acara komedi yang sangat populer di kalangan masyarakat, salah seorang komedian mengenakan kain jarik bermotif “Parang Rusak”, sebuah motif batik khas Yogyakarta. Motif ini di masa lalu hanya digunakan oleh Sultan. Yang sangat mengejutkan adalah komedian itu memakai kain terbalik, yang seharusnya di atas berada di bawah. Batik motif “Parang Rusak” adalah motif batik “Parang” yang digabung dengan motif “Gurda” (seperti dua buah sayap). Jadi motif “Gurda” menjadi terbalik. Hal ini sangat jelas terlihat.
Ada apa sebenarnya? Apakah hal tersebut merupakan ketidaktahuan? Dari sekian banyak orang yang terlibat dalam sebuah acara, tidak adakah satupun yang memperingatkan atau mengingatkan?
Sebenarnya hal tersebut bagus, artis-artis sebagai idola masyarakat melestarikan budaya. Tetapi apa jadinya jika usaha melestarikan budaya menjadi sebuah ajang untuk gaya-gayaan? Harap diingat bahwa budaya Indonesia adalah budaya yang bermakna dalam. Budaya tersebut diwakili dalam tiga simbol: simbol religi, simbol tradisi, dan simbol seni (baca postingan saya yang lalu: Pagan di Dunia Kejawen). Jika ada yang berdalih bahwa simbol-simbol tersebut menyebabkan kebudayaan Indonesia adalah budaya yang kaku, kolot, ataupun kuno, tidak masalah. Sesuatu yang kurang tepat harus dibenarkan, itu adalah pesan yang selalu diajarkan kepada manusia, sejak kecil.
  
Read more ►
 

Copyright © nglengkong Design by O Pregador | Blogger Theme by Blogger Template de luxo | Powered by Blogger