Saturday, March 24, 2012

Edisi Aksara Jawa: Makna Huruf “Ha”

Suku Jawa adalah salah satu suku bangsa yang mempunyai aksara yang digunakan sebagai bahasa tulis sebelum aksara latin (ABCD, dst) masuk ke Indonesia. Aksara Jawa yang menurut legenda diciptakan oleh Prabu Ajisaka dari Medang Kamulan (sementara bukti sejarah yang otentik tentang awal mula aksara jawa masih simpang siur) ini berjumlah duapuluh, yang ditulis empat baris dengan lima aksara di tiap barisnya. Terlepas dari cerita-cerita yang meyelimutinya, aksara jawa sesungguhnya mempunyai nilai yang sangat tinggi, baik itu nilai secara estetis (sastra) maupun nilai spiritual sebagai ajaran budi pekerti luhur pada manusia.
Nilai-nilai tersebut bukan hanya ketika aksara-aksara tersebut telah tersusun menjadi sebuah kalimat yang utuh, akan tetapi, aksara jawa telah mempunyai makna bahkan sejak masih berupa aksara tunggal (belum bergabung dengan aksara lain dan membentuk suatu kata, atau kalimat). Sebagai contoh, “Ha Na Ca Ra Ka” sering diartikan sebagai “Ada sebuah cerita”, dan seterusnya. Itu hanyalah segelintir contoh betapa Aksara ini mempunyai dua makna sekaligus seperti yang telah disebutkan di atas, yaitu nilai sastra (estetis) dan spiritual.
Ulasan mengenai nilai-nilai aksara jawa ini akan dikupas secara bersambung, dimulai dari ulasan pertama ini yang akan membahas aksara jawa yang pertama, yaitu “Ha”. Sebenarnya artikel mengenai makna aksara jawa per huruf telah banyak tersebar di berbagai blog ataupun website, sehingga ulasan ini mungkin bisa dikatakan sebagai pelengkap dari apa yang sudah ada, dengan perbedaa-perbedaan dari apa yang sudah ada sebelumnya.
Aksara Jawa dimulai dengan aksara yang berbunyi “Ha”. Aksara “Ha” berarti “Hurip” (baca: urip) yang berarti “Hidup”. Hal ini secara tidak langsung mengingatkan pada manusia mengenai hakikat hidup, dari siapa manusia hidup dan untuk apa manusia hidup. Manusia hidup karena adanya Tuhan, orang jawa menyebut Gusti Kang Murbeng Dumadi atau Sang Pencipta. Sang Pencipta kehidupan, pencipta “Hurip”. BRM Panji Anom Resiningrum dalam sebuah artikel menarik berjudul “Nasihat Dari Aksara Jawa” yang dimuat di sebuah blog yang bagus http://alangalangkumitir.wordpress.com/, menuliskan “..hidup itu ada, karena ada yang menghidupi atau yang memberi hidup.”
Makna di atas bisa dikatakan sebagai nilai spiritual, karena mengandung hubungan manusia dengan sang Pencipta. Sementara aksara “Ha” dapat dipanjangkan menjadi sebuah kalimat yang mengadung unsur estetika sekaligus unsur spiritual, yaitu “Hana hurip wening suci”. Kalimat tersebut bisa diterjemahkan bebas dalam bahasa Indonesia menjadi, “Ada kehidupan yang tulus dan suci”. Jika diamati, kalimat tersebut mempunyai pengucapan yang sesuai, luwes dan terkesan tidak dipaksakan. Secara keseluruhan, kalimat “Hana hurip wening suci” menggambarkan bahwa kehidupan yang tulus dan suci adalah kehidupan yang seharusnya ada di dunia ini, bukan kehidupan yang penuh dengan rasa was-was, kebohongan, tipu muslihat, dan apa yang ada di negeri ini sekarang.
Apabila dibongkar lagi, kalimat itu bisa merupakan kombinasi dari berbagai kata yang mempunyai makna yang berbeda, meskipun tidak semua kata. Sebagai contoh, kata “wening” bisa jadi merupakan gabungan dari kata “welas” dan “hening”. Akan tetapi, karena unsur estetika, kedua kata tersebut akhirnya digabungkan menjadi “wening”. Kasus ini sama dengan kata “ningrum”, yang merupakan kombinasi dari “wening” dan “harum”. Jadi, kata “wening” di sini mempunyai beberapa arti, disamping arti sebenarnya.
Jadi, inti dari huruf “Ha”, adalah bagaimana manusia menyadari tentang kehidupan. Bahwa kehidupan itu nyata, dan kehidupan itu ada karena ada yang memberi hidup, yaitu Sang Pencipta. Dengan menyadari itu, manusia bisa bertingkah laku yang baik, tulus, dan berusaha menjadi manusia yang wening dan suci, karena pada awalnya, manusia dihidupkan oleh Tuhan dalam keadaan suci, maka manusia harus menjadi suci ketika seba ke hadapan Sang Pemberi Hidup.

3 comments:

  1. Berbagi Kisah, Informasi dan Foto

    Tentang Indahnya INDONESIA

    www.jelajah-nesia.blogspot.com

    ReplyDelete
  2. itu masih aksara " Ha " yang di bahas...,trs ,kapan ada pembahasan aksara2 yg lain..,?? dan tentunya dengan pembahasan spt dia atas.., sbg generasi muda, kami sangat membutuhkan topik bahasan tersebut..,trim's sebelumnya..

    ReplyDelete
  3. @jagad jaler:
    untuk yang aksara "ka" masih saya godog biar tidak membingungkan..ditunggu saja postingannya..
    trimakasih sudah berkenan mampir..

    ReplyDelete

 

Copyright © nglengkong Design by O Pregador | Blogger Theme by Blogger Template de luxo | Powered by Blogger