Wednesday, March 14, 2012

Tentang Keraguan Atas Majapahit

Seperti yang telah sering dituliskan bahwa, sejarah selalu menarik dan tidak ada habisnya untuk dicari kebenarannya. Sejarah ibarat mengawal sebuah zaman, menunjukkan bahwa peristiwa saat ini pernah terjadi di masa lalu, meskipun dengan jalan cerita yang berbeda. Namun sejarah memberikan contoh-contoh yang nyata ketika manusia modern sekarang tidak mau berguru pada sejarah, entah itu sejarahnya sendiri ataupun sejarah bangsanya.
Berkaitan dengan sejarah bangsa (Indonesia), negara ini mempunyai sejarah yang luar biasa. Berbagai kerajaan pernah silih berganti menguasai kepulauan ini. Tercatat dua buah kerajaan yang terkenal, yaitu Sriwijaya di Swarnabhumi (sekarang Pulau Sumatra), dan Majapahit di Jawadwipa (Pulau Jawa). Kedua kerajaan itu bahkan memperoleh gelar Kerajaan Nusantara I dan II, karena wilayahnya yang sangat luas.
Kerajaan Sriwijaya berdiri sekitar abad ke-7 masehi di Palembang, Sumatra Selatan. Kerajaan ini mempunyai armada laut yang kuat karena terletak di dekat lautan. Dalam perkembangannya, Kerajaan Sriwijaya mempunyai wilayah kekuasaan yang luas, sama seperti wilayah Indonesia sekarang. Berbagai bangunan peninggalan pun tersebar di Sumatra, seperti Candi Muara Takus, serta berbagai prasasti yang menceritakan tentang kerajaan ini.
Sementara Kerajaan Majapahit berdiri setelah Raden Wijaya, menantu Raja Kertanegara dari Singosari membuka hutan di daerah Mojokerto, bernama Hutan Tarik. Bersama beberapa pengikut setianya seperti Ranggalawe, Sora, dan Nambi, Raden Wijaya membangun sebuah kerajaan baru bernama Majapahit ketika ia menemukan banyak Pohon Maja yang rasanya pahit (jawa: pait). Dua kata tersebut kemudian dijadikan satu menjadi Majapahit. Kerajaan ini pernah mendapat ancaman serius dari Kuti, salah seorang anggota Dharmaputra Winehsuka, atau orang-orang yang berjasa untuk Majapahit pada masa Raden Wijaya menjadi raja. Pemberontakan yang dikenal dengan Pemberontakan Kuti itu berhasil menduduki kerajaan, dimana Jayanagara sebagai raja harus mengungsi ke daerah Bedander dengan kawalan pasukan legendaris Bhayangkara di bawah komando Bekel Gajah Mada. Kemudian seperti diceritakan dalam buku-buku sejarah siswa-siwa Sekolah Dasar, dimana akhirnya Majapahit mencapai puncak kejayaan pada masa Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada. Kerajaan ini juga mempunyai wilayah yang luas, bahkan sampai ke beberapa negara tetangga.
Kemudian diskusi tentang kerajaan-kerajaan tersebut mencapai pertanyaan mengenai kebenaran tentang wilayah Majapahit yang sangat luas (sementara untuk Sriwijaya nampaknya belum ada yang mempertanyakan). Forum-forum online yang mengangkat topik khusus tentang sejarah banyak yang meragukan tentang Majapahit. Meskipun banyak dokumen kuno tentang Majapahit, yang menjadi keraguan adalah tidak adanya bukti fisik, seperti Candi Borobudur misalnya. Bukti-bukti tertulis yang menjadi rujukan utama tentang Majapahit seperti Negarakertagama, Kidung Ranggalawe, Kidung Sundayana, ataupun Pararaton belum bisa memberikan kepuasan atas pertanyaan itu.
Hal ini sepertinya disebabkan karena beberapa tokoh yang ada dalam sejarah Majapahit sangat misterius. Sebut saja Gajah Mada dan Mpu Prapanca. Keterangan tentang Gajah Mada sangat sulit ditemukan, seperti dimana ia lahir, siapa orangtuanya, istri dan anaknya, dan juga dimana atau bagaimana ia mati; apakah terbunuh atau moksa, semua itu masih misterius meskipun baru-baru ini ada dugaan bahwa Gajah Mada lahir di suatu tempat di Lamongan, Jawa Timur. Ada juga pendapat bahwa ia bukan asli jawa, dengan mangacu pada nama “Gajah”, karena konon di Jawa tidak ada hewan gajah. Mpu Prapanca juga sama, ia tidak diketahui asal usulnya ataupun kisah akhir hayatnya. Sejarah hanya mencatat bahwa ia menulis Kitab Negarakertagama.
Kembali ke pertanyaan tentang keraguan wilayah Majapahit yang sangat luas, dimana tidak ada bukti fisik di daerah-daerah timur jauh seperti Maluku ataupun Papua, mungkin ulasan berikut ini bisa sedikit membantu menjawab pertanyaan di atas. Cita-cita Majapahit untuk memperluas wilayahnya merupakan sebuah niat dari Patih Gajah Mada yang pertama kali dilantik menjadi mahapatih menggantikan Patih Arya Tadah yang telah lanjut usia (pada masa Tribhuwanatunggadewi). Saat itu Gajah Mada mengucapkan sebuah sumpah yang kelak disebut “Sumpah Palapa”, di Bale Manguntur. Isi dari sumpah tersebut adalah tidak akan bersenang-senang sebelum menyatukan Nusantara. Setelah itu, misi menyatukan Nusantara dimulai dengan Majapahit sebagai pusatnya.
Mengapa kata “menyatukan” digaris miring? Perlu diketahui bahwa menyatukan berbeda dengan menguasai. Dalam hal ini menurut pandangan pribadi penulis, bahwa misi Majapahit tersebut berbeda dengan misi Cortez dan Pizarro, yang memusnahkan suku Inca dan Maya di Benua Amerika. Mereka menempatkan sebuah batu bernama Batu Rosetta (Rosetta stone) sebagai bukti bahwa wilayah itu telah menjadi kekuasaan mereka. Sementara Majapahit tidak melakukan hal itu. Ambillah sebagai contoh perbandingan; wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta yang menyatu dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ambil juga peristiwa beberapa waktu lalu dimana isu DIY memisahkan diri ketika hubungan antara wilayah dengan pusat tidak kondusif. Sama dengan kasus ketika Majapahit mulai mundur, banyak wilayah yang ingin memisahkan diri karena pusat (Majapahit) tidak kondusif. Keinginan memisahkan tentu saja merupakan dorongan rakyat pada penguasa wilayah itu (contoh rakyat Yogya dengan Sultan HB). Jika kasusnya adalah Majapahit menguasai daerah lain, maka tentu saja tidak ada penguasa di daerah itu, karena tentu saja telah dimusnahkan. Sementara wilayah Majapahit diperintah oleh adipati (setingkat bupati). Sebagai contoh, Adipati Tuban, yaitu Adipati Wilwatikta yang juga ayah dari Raden Said atau Sunan Kalijaga. Adipati ini mempunyai hubungan khusus dengan pemerintah pusat, seperti halnya saat ini bupati berhubungan dengan gubernur, kemudian gubernur berhubungan dengan pejabat pemerintah yang lebih tinggi, yaitu pemerintah pusat.
Namun Majapahit juga pernah ingin menguasai suatu daerah, yaitu Tanah Pasundan yang saat itu dikuasai oleh Pajajaran. Dalam hal ini Majapahit ingin menguasai karena Sumpah Palapa akan terselesaikan dengan bergabungnya Pasundan ke Majapahit. Di sinilah sifat manusiawi Gajah Mada muncul, yaitu tamak dan tidak sabar. Ia tidak sabar karena hanya kurang satu wilayah untuk menyelesaikan sumpahnya. Maka kemudian terjadilah Pemusnahan Bubat (penulis menggunakan istilah pemusnahan karena saat itu prajurit Pajajaran tidak melakukan persiapan untuk berperang). Persitiwa itulah yang sangat dikenang oleh rakyat Pasundan. Hal ini dapat dibuktikan bahwa di Jawa Barat tidak ada nama jalan yang menggunakan nama yang berhubungan dengan Majapahit. Peristiwa ini kemudian memberi petunjuk tentang kehidupan dan kematian Gajah Mada. Dalam sumpahnya, Gajah Mada berkata bahwa ia tidak akan bersenang-senang sebelum menyatukan Nusantara, dan hasilnya memang Tanah Pasundan tidak pernah menjadi wilayah Majapahit.
Bersenang-senang bisa diasumsikan sebagai pesta, makan-makan atau hura-hura. Akan tetapi, jika merunut kehidupan masa lalu, dimana manusia masih berperan sebagai manusia, maka bisa diartikan bahwa Gajah Mada tidak mempunyai istri. Bersenang-senang di sini menurut penulis adalah berhubungan intim, karena konon rasa sejati dapat didapatkan ketika berhubungan intim, dan konon pula kegiatan tersebut sangat menyenangkan. Maka, atas dasar itulah, penulis lebih setuju dengan pendapat yang menyatakan bahwa Gajah Mada moksa setelah gagal mewujudkan sumpahnya.
Sementara tentang bukti fisik keberadaan Majapahit yang kurang meyakinkan karena hampir tidak tersisa, nampaknya ketidakyakinan itu segera hilang, karena kolam yang mengelilingi Kraton Majapahit telah ditemukan dan dilakukan penggalian. Bukti fisik lainnya adalah bahwa beberapa kelompok masyarakat mengaku keturunan dari masyarakat Majapahit yang berpindah. Penduduk Bali asli adalah mereka yang tinggal di tepi Danau Batur, Trunyan. Sementara yang lain adalah sisa-sisa Majapahit yang mengungsi sewaktu Majapahit diserang Demak. Di Nusa Tenggara Timur juga terdapat sekelompok masyarakat yang mempunyai ciri-ciri masyakarat Majapahit, yaitu ikatan rambut gulung keeling dan pakaian khas Majapahit. Bahkan lontar Kitab Negarakertagama disimpan oleh seorang tokoh masyarakat daerah itu.
Selain itu, banyak sekali keturunan Brawijaya V, raja terakhir Majapahit. Ambillah contoh yang bisa dilihat saat ini, yaitu Raja-raja di Kasultanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, juga Puro Mangkunegaran dan Puro Pakualaman. Mereka adalah keturunan langsung dari raja terakhir Majapahit, yaitu dari Brawijaya V yang menurunkan Raden Bondan Kejawan kemudian menurunkan Ki Ageng Getaspendawa, lalu sampai Ki Ageng Sela, kemudian Ki Ageng Ngenis, lalu Ki Gede Pemanahan, kemudian Panembahan Senopati, lalu Sultan Agung dengan trah Mataram hingga saat ini. Selain itu banyak pula tokoh-tokoh lain yang menjadi cikal bakal berbagai daerah di Jawa, bahkan Malaysia (menurut Babad Tanah Jawi, Brawijaya V mempunyai 117 keturunan).
Napak tilas mungkin akan menambah referensi tentang Majapahit, jika menginginkan bukti fisik. Dari Madura, Mangir, Mataram (Yogya-Solo), Sedayu, Demak, Tingkir, Lamongan, Semarang, adalah beberapa tempat yang bisa digunakan untuk mencari tentang eksistensi Majapahit. Akan tetapi jika menginginkan bukti fisik berupa bangunan, bertanya pada arkeolog mungkin akan lebih memuaskan.
Meskipun begitu, banyak yang bisa dipetik dari sejarah Majapahit, diantaranya: sifat pantang menyerah dari Patih Gajah Mada, yang berjuang dari Bekel sampai menjadi Mahapatih Majapahit. Cita-citanya yang menginginkan penyatuan Nusantara, meskipun pada akhirnya ia terpeleset untuk melakukan pembunuhan masal. Yang bisa dijadikan pelajaran adalah usahanya untuk mencapai cita-citanya. Kemudian, kesalahan Patih Gajah Mada yang tidak mendidik atau menyiapkan pengganti dirinya. Dari sini dapat ditarik pembelajaran bahwa apa yang ada pada manusia tidak akan bisa abadi selama masih ada di dunia, baik itu harta ataupun kekuasaan. Maka sifat tamak harus dihindari. Ketika tidak ada orang yang menyamai kehebatannya, maka Majapahit langsung mengalami kemunduran setelah Gajah Mada moksa. Bahkan mengalami perang saudara perebutan kekuasaan sepeninggal Hayam Wuruk.
Itulah gunanya sejarah, dan kadang pertanyaan-pertanyaan seperti itu diperlukan untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut, karena jika sejarah mengalami kekeliruan, maka akan membentuk suatu pemahaman yang keliru akan sejarah. Akhirnya, mengutip kalimat dari Presiden Sukarno, “Jangan sekali-kali melupakan sejarah!”

30 comments:

  1. istana/keraton majapahit memang tidak ada karena terkubur seperti peninggalan majapahit yg lain yg sdh d tmukn , tpi insya allah dan moga" aj cpt d temukan supaya kita tidak simpangsiur belajar sejarah

    ReplyDelete
  2. @Anonim: benar, saya sepakat..karena sebenarnya Majapahit telah mewariskan banyak hal yang lebih daripada candi-candi atau bukti2 fisik lain..btw makasih telah mampir..silahkan komen2 artikel yang lain..hehe

    ReplyDelete

  3. *Majapahit runtuh bukan karna diserang Demakbintoro,.
    *Majapahit runtuh karna sudah rapuh sistem pemerintahannya dan byk yg bersebrangan satu sama lain antar petinggi2nya,.
    *dan salah satu sebab runtuhnya majapahit karna pemberontakan daerah kekuasaanya, dan loyalitas daerah nya yg mulai menurun,.
    *bukankah ketika majapahit runtuh para petingginya mengungsi ke bali, ampeldenta, dan ke demak,.
    *para wali songo tau meskipun majapahit tidah diserang ia akan runtuh dg sendirinya karna sebenarnya majapahit udah rapuh,. tidak ada alasan demak menyerang majapahit,.
    #maaf ya bila saya salah kata :D

    ReplyDelete
  4. @bung topix:
    nah itulah..apakah kisah yang selama ini kita dengar tentang kerajaan2 itu benar atau hanya rekaan belanda untuk memecah belah? mari kita cari tau bersama-sama..
    terimakasih bung topix sudah berkenan mampir dan menanggapi..hehe

    ReplyDelete
  5. Kalau menginginkan bukti fisik, silahkan saja cek di Mojokerto, Jawa Timur. Sampai sekarang masih dilakukan penggalian untuk memunculkan ibu kota Majapahit. Sebagian kota sudah terungkap dan diperkirakan berumur 600 tahun.

    ReplyDelete
  6. sepakat dengan Bung Booya..silahkan datang ke Mojokerto langsung untuk melihat bukti fisik..tapi mungkin yang menjadi sedikit masalah adalah bukan fisik kerajaannya, tetapi peninggalan. banyak kalangan menilai jika majapahit itu kerajaan besar "seharusnya" meninggalkan bangunan seperti borobudur misalnya. itu yang saya tangkap dari banyaknya keraguan2 atas majapahit. tapi bagi saya itu tidak begitu penting, karena majapahit meninggalkan bukti yang lebih penting daripada candi, yaitu manusia-manusia berdarah majapahit yang masih hidup sampai sekarang yang tersebar di penjuru nusantara.

    ReplyDelete
  7. Berdasarkan 'teori pembuktian', sebuah catatan atau tulisan dapat menjadi alat bukti tentang terjadinya suatu peristiwa. Dalam hal ini kita telah memiliki kitab Negarakretagama yang sejak tahun 2008 telah diakui sebagai memory dunia oleh UNESCO. Pertanyaan saya hanya satu, "Kenapa mereka (beberapa kalangan yang menyebut dirinya ahli) yang seharusnya bangga menjadi pewaris kitab tersebut malah rame-rame menyangkalnya ?" Seharusnya kita bangga memiliki kitab Negarakretagama terrsebut yang di dalamnya terurai secara jelas kebesaran kerajaan Majapahit.
    Salam dari bhumi Majapahit.

    ReplyDelete
  8. iya..sepakat..kadang saya jg berpikir seperti itu..
    darah majapahit ada di dekat tempat saya tinggal, di sebuah desa perdikan kecil yang terkenal dengan sebutan Mangir.

    ReplyDelete
  9. saya setuju dengan majapahit 1478 dan juga artikel yg ditulis mahisa medari, bangsa besar yaitu bangsa yang tak lupa akan sejarahnya. ditempat tinggal saya (Pati) ada peninggalan Fisik dari kerajaan majapahit yakni berupa pintu gerbang (dari kayu jati dengan ukiran khas majapahit, ukiran motif dedaunan) pintu gerbang tersebut diyakini pintu gerbang majapahit yang dibawa oleh kebo nyabrang atas perintah sunan muria. hal ini dilakukan oleh kebo nyabrang untuk mendapatkan pengakuan anak dari sunan muria..

    dalam hal "pendongengan" didalam kultur masyarakat jawa, banyak sekali kisah-kisah kepahlawanan walaupun banyak kekurangan, misalnya dalam cerita-cerita orang tua kita yg selalu melebih-lebihkan cerita "dongeng" ,tapi harus kita lestarikan karena kegiatan itu termasuk khasanah budaya jawa asli.
    tanpa adanya rasa kesamaan sebagai suku jawa ataupun suku-suku lain menjadikan perselisihan didalam mewujudkan apa yg pernah dicita-citakan oleh leluhur-leluhur kita. semoga didalam perbedaan pendapat dari berbagai narasumber menjadikan kita semakin menggali kebenaran tentang sejarah yan ada di negara ini, khususnya khasanah tentang budaya jawa.... suwun

    ReplyDelete
  10. salam kenal.. menurut sejarah yang saya baca, di dalam kitab negarakertagama, nama buton di sebut sebagai negeri para resi yang di pimpin oleh yang mulia mahaguru, dan di buton sendiri ada kampung/kelurahan majapahit, dan menurut sejarah kesultanan buton, pangeran dari majapahit pernah menjadi raja buton (dalam silsilah kesultanan buton bernama raden sibatara), wallahu 'alam... *anwar,ds*

    ReplyDelete
  11. Kakang Hasann Udin; kadang saya merasa kl pas ngumpul dengan teman2 sebaya, saya jadi keliatan paling tua hahaha..malah curhat..intinya saya juga sepakat dengan apa yang panjenengan sampaikan..maturnuwun berkenan mampir..

    Sdr Anonymous; kemungkinan seperti itu, saya akan coba buka dan baca kembali negarakertagama..makasih tambahannya..sangat berharga..

    ReplyDelete
  12. kata buku darmogandul majapahit runtuh karna masuknya islam di jawa

    ReplyDelete
  13. Dan yang jelasnya majaphit tidak pernah menguasai nusantara, kerajaan sriwijaya lah yang dahulu pernah menguasai nusantara, faktanya jika memang nusantara pernah di kuasai majapahit kenapa di indonesia tidak di terapkan bahasa jawa ? Indonesia memakai gaya bahasa melayu yg lebih mengacu kepada sriwijaya lah yg dahulu mengusai nusantara, saya juga ragu akan kebaradaan gajah mada karna memang benar sama sekali tidak ada jejak dan bekasnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya lebih setuju dengan mas ini,lebih loggis,sriwijaya di buktikan dgn prasasti2 n peninggalan2 di sepanjan daerah jajahannya,,gak kayak majapahit hanya kitab2 daun lontar n cerita babat2 yg sanat di ragukan kebenarannya,lagian ada gak yaa,,,sala satu prasasti yg menyebutkan nama majapahit.,?membingungkan sejarah majahpahit ini,.,,

      Delete
  14. sdr anonymous permasalahan kenapa tidak digunakannya bahasa jawa sebagai bahasa nasional indonesia bukannya bisa diamati pada periode yang lebih modern, yaitu masa sumpah pemuda? bahasa jawa cenderung lebih sulit daripada bahasa melayu dan apalagi bahasa indonesia. terlepas dari fakta bahwa sriwijaya adalah kerajaan nusantara pertama, saya kira penggunaan bahasa tidak ada hubungannya dengan indikator penguasa nusantara atau bukan. jejak dan bekas gajah mada silahkan panjenengan datang ke gunung arjuno jawa timur..terimakasih sudah mampir dan urun rembug..:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terlalu sempit ada menilai bahasa itu,,bahasa itu berpengaruh besar trhadap kehidupan,kebudayaan masyarakat penganut bahasa itu sendiri..nah kalau kenapa bahasa melayu ini menjadi dasar bahasa indonesia,itu bukanla karna bahasa melayu ini lebih muda dipahami,itu karna hampir di sebagian pulau2 di indonesia ini suda tidak asing lagi mendenarkan bahasa melayu itu sendiri,bahka menang suda menggunakan bahasa melayu,,yang pasti karna dibawa orang2 melayu itu sendiri.beda halnya gengsn bahasa jawa yang memang tidak pernah pergi dari tanah jawa ini.nah itu suatu bukti bahwa orang2 jawa ini memang tidak perna menjajah pulau2 di nusantara ini,bahkan pulau jawa ini tidak sepenuhnya menggunakan bahasa jawa hanya jawa tengah n jawa timur saja kan,,.beda jauh beda dengan pulau sumatra yang semuany menggunakan bahasa melayu,bahkan sebagian kalimantan,pulau sulawesi dan juga orang betawi dipulau jawa ini kenapa gak mengunakan bahasa sunda atau bahasa jawa,mala mereka memakai bahasa melayu.,itu karna memang jawa barat ini memang bekas wilayah sriwijaya itu nah itu jawabannya,,"

      Delete
  15. sejarah bukan mengenai tulisan atau peninggalan, sejarah bagian dari sisi budaya masyarakat yang meyakini sebagai asal-usul leluhur nya. Juga penamaan atau pemakaian istilah pada catatan atau temuan sejarah akan terus berubah-ubah seiring penemuan atau temuan baru lainnya. Yang berubah seiring dengan kemajuan komunikasi dan bahasa. Sayang pemahaman ilmu pengetahuan hanya untuk ke-ego an seseorang atau kelompok untuk mendapat tempat yang lebih baik (mencari publikasi atau penjualan informasi.) dari apa yang ditemukannya dan bukan menjadi manusia baik dari apa yang seharusnya dilakukan (sebagai mana manusia yang hidup didalam sejarah.) Untuk memelihara serta melestarikan budaya diantara manusia. Semoga kedepan tujuan dari ilmu pengetahuan lebih baik dan berguna baik untuk generasi selanjutnya. Dab biarlah sejarah tidur dengan tenang bersama para leluhur dan pahlawan yang telah menuliskan kisah mereka dari catata sejarah negara ini. setidaknya sejarah itu sendiri yang menjadikan nusantara sebagai negara kesatuan Indonesia. Ada hari esok yang harus dijumpai agar manusia baik dapat hidup baik dengan manusia baik dan menciptakan sejarah yang lebih baik.

    ReplyDelete
  16. siapa diantara agan bisa bantu saya untuk menjelaskan barang saya berupa busana lengkap berikut mahkota yang konon katanya milik raja maja pahit terakhir ( eyang lawu ) terima kasih sebelumnya atas bantuannya, insya alloh kalau bisa saya kirimkan foto lengkap. matur nuwon

    ReplyDelete
  17. siapa diantara agan bisa bantu saya untuk menjelaskan barang saya berupa busana lengkap berikut mahkota yang konon katanya milik raja maja pahit terakhir ( eyang lawu ) terima kasih sebelumnya atas bantuannya, insya alloh kalau bisa saya kirimkan foto lengkap. matur nuwon

    ReplyDelete
  18. pak budiman yth..
    mungkin untuk informasi itu panjenengan bisa tanya2 kepada admin blog2 berikut:
    sabdalangit.wordpress.com atau wongalus.wordpress.com..

    maturnuwun..

    ReplyDelete
  19. Majapahit runtuh bukan karna diserang oleh kerjaan lain.
    Tapi lebih karna konflik internal di kerajaan tersebut.

    ReplyDelete
  20. Sederhana...

    Indonesia sekarang adalah negara Islam (Muslim) terbesar. Perkembangan Islam menjadi begitu pesat dibarengi dengan kehancuran Majapahit di Tanah Jawa.

    Faktanya;
    Orang didunia ini tau kalau Bali adalah Surga Dunia/Pulau Dewata, -dimana Bali adalah pewaris otentik bukti kemahsyuran Majapahit, dan tentu saja Bali bukanlah penganut agama Islam melainkan Hindu terbesar, bisa disebut sekarang Bali adalah Hindu-nya Indonesia-. Native/Penduduk-Asli Bali adalah Bali Aga (sangat sedikt skrg) tetapi mayoritas penduduk Bali (80-90%) adalah pelarian masyarakat Majapahit dari yg sebagian kalah dalam berperang dan yang tetap mempertahankan prisnsip/tradisi/budaya...

    Jujur saja, saya katakan nyatanya merekalah yg sebenarnya lebih relijius ketimbang para mulsim yg ada di Jawa.

    "Kalau orang asing ditanya Jawa/Indonesia mereka tidak akan mengerti, tapi jika mereka ditanyai tentang Bali, pasti mereka akan memuji". Bali adalah miniatur Majapahit.
    Kalau kamu meragukan Majapahit, sama halnya kamu dengan meragukan pendapat orang asing terhadap kebesaran Bali. Kalau kamu mencari dan kamu tidak menemukan apapun, berarti kamu belum benar-benar mencari.

    Kalau kamu bertanya kenapa ada peninggalan seperti Borobudur (yg besar) dan kenapa Majapahit sama sekali tidak memiliki peninggalan yg seperti Borobudur, fakta yg sederhana adalah ketika Prabu sudah dirubah/berubah menjadi Ke-Sultan-an. Otomatis ini adalah check-point aman bagi Ideologi Impor (Islam) jika Borobudur tdk ingin sampai dihancurkan.

    Perlu kita ketahui, Islam masuk ke Jawa / Jawa di Islamkan tidaklah dgn cara yang santai, melainkan banyak korban yg sudah gugur, tumpah darah, hingga bangunan2 baik itu kecil maupun besar yg menurut Islam sendiri adalah suatu yg kafir itu wajib dihancurkan, tidak peduli orang tua kandung sekalipun, jika menurut mereka adalah kafir maka haruslah dilenyapkan. Puncaknya adalah kehancuran Majapahit yg rata dengan tanah...


    Salam sukses dari saya...

    ReplyDelete
  21. skypunk..... maaf berbicara soal masalalu (sejarah), yang belum tentu 100% kebenaranya tidak boleh membawa keyakinan dan mendiskriminasi keyakinan yang lain.... nantinya hanya akan menimbulkan perdebatan dan perbedaan ditengah persatuan indonesia... belajar lagi tentang sejarah... setelah sistem kerajaan, ada kolonial dan konflik2 lainya yang mana mungkin situs2 tersebut ikut hancur..... satu lagi tidak ada satu agamapun didunia ini yang memperbolehkan seorang anak membunuh orang tuanya walaupun berbeda keyakinan.... ingat ya bro.... asunkare

    ReplyDelete
  22. sriwijaya lagi sriwijaya lagi,, buktinya tuh sriwijaya FC kalah sama aremania...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sriwijaya fc gak ada taek2 nya sama singo edan.. Salam satu jiwa

      Delete
    2. Sriwijaya fc gak ada taek2 nya sama singo edan.. Salam satu jiwa

      Delete
  23. Skypunk..bicara lo kayak orang bener aja..jaga kalo bicara

    ReplyDelete
  24. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  25. Skypunk..bicara lo kayak orang bener aja..jaga kalo bicara

    ReplyDelete
  26. Skypunk..bicara lo kayak orang bener aja..jaga kalo bicara

    ReplyDelete

 

Copyright © nglengkong Design by O Pregador | Blogger Theme by Blogger Template de luxo | Powered by Blogger