Monday, August 29, 2016

Mukidi vs Markesot

Mukidi, nama itu belakangan menjadi populer. Menariknya, nama itu bukanlah merupakan nama seseorang yang nyata (meski tentu saja banyak di luar sana orang-orang yang bernama Mukidi), melainkan sebuah nama tokoh yang sering muncul di dunia maya. Dan Mukidi telah memenangkan internet. Orang-orang ramai membicarakannya, karena kelucuannya, kekonyolannya, dan berbagai perilakunya.
 
Mukidi, bukanlah tokoh yang pasti. Maksudnya, suatu hari ia bisa menjadi seorang siswa, di lain kesempatan ia menjadi orang-orang kebanyakan, dan peran-peran lainnya. Formula ini, telah muncul bertahun-tahun lalu, dimana seseorang yang juga fiktif (meski menurut penciptanya berdasarkan tokoh nyata), menjadi tokoh utama berbagai peristiwa.
 
Markesot. Sama seperti Mukidi, ia merupakan tokoh multidunia. Di suatu kesempatan ia menjadi aktifis mahasiswa yang vokal. Di lain kesempatan ia dianggap sebagai seorang penyembuh tradisional yang ampuh. Tak jarang juga ia menjadi gembel, berkelana dari satu tempat ke tempat lain. Bahkan kadang juga menjadi ahli mistik. Bedanya, meskipun saat ini Mukidi (mungkin) lebih terkenal daripada Markesot, Markesot telah muncul dalam dua seri buku, berjudul "Markesot Bertutur" dan "Markesot Bertutur Lagi."
 
Petualangan Markesot pun beragam, karena dalam berbagai kisah Markesot tidak hanya sendirian. Ia memiliki kawan-kawan yang juga 'unik', diantaranya Markedet, Markempo, Markembloh, Markadal, Markedut, dll. Mereka semua pun memiliki sebuah tempat berkumpul berupa rumah kontrakan yang disebut KPMb atau singkatan dari Konsorsium Para Mbambung. Mbambung, merupakan sebuah kata bahasa jawa yang bisa diartikan secara bebas sebagai "Bandel."
 
Jujur, saya baru sekali membaca kisah Mukidi, dalam sebuah postingan komentar dalam sebuah status di Facebook. Pada awalnya saya mengira itu adalah semacam spam (menggunakan kolom komentar sebagai tempat memposting kisah yang panjangnya minta ampun), namun ternyata beberapa hari kemudian saya menemukan bahwa Mas Mukidi ini sangat populer. Dan hingga saya menulis tulisan ini saya belum membaca kisah Mukidi yang lain.
 
Kenapa kisah-kisah semacam Mukidi, yang memiliki perilaku konyol sangat gampang menjadi populer? Sementara tokoh-tokoh konyol nan cerdas dan legendaris macam Nasrudin Hoja atau Abu Nawas tak pernah sampai sepopuler itu. Sementara di negeri kita, Markesot, yang muncul pertama kali pada tahun 1989 dan telah dikumpulkan menjadi buku, bahkan diterbitkan kembali, juga tak sepopuler itu.
 
Tetapi mungkin Mas Mukidi ini memiliki daya tarik misterius yang mampu menarik masyarakat untuk membaca kisahnya, yang membuatnya menjadi lebih populer daripada beberapa tokoh-tokoh lainnya. Meski begitu, Markesot memberikan lebih banyak inspirasi dan kelucuan, meskipun kadang perlu lebih dari sekali baca untuk memahami inti terdalam dari kisah Markesot. Hal ini bisa dimaklumi, karena pencipta Markesot adalah budayawan kondang Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun.

1 comments:

 

Copyright © nglengkong Design by O Pregador | Blogger Theme by Blogger Template de luxo | Powered by Blogger