Saturday, March 24, 2012

Edisi Aksara Jawa: Makna Huruf “Ha”

2 comments
Suku Jawa adalah salah satu suku bangsa yang mempunyai aksara yang digunakan sebagai bahasa tulis sebelum aksara latin (ABCD, dst) masuk ke Indonesia. Aksara Jawa yang menurut legenda diciptakan oleh Prabu Ajisaka dari Medang Kamulan (sementara bukti sejarah yang otentik tentang awal mula aksara jawa masih simpang siur) ini berjumlah duapuluh, yang ditulis empat baris dengan lima aksara di tiap barisnya. Terlepas dari cerita-cerita yang meyelimutinya, aksara jawa sesungguhnya mempunyai nilai yang sangat tinggi, baik itu nilai secara estetis (sastra) maupun nilai spiritual sebagai ajaran budi pekerti luhur pada manusia.
Nilai-nilai tersebut bukan hanya ketika aksara-aksara tersebut telah tersusun menjadi sebuah kalimat yang utuh, akan tetapi, aksara jawa telah mempunyai makna bahkan sejak masih berupa aksara tunggal (belum bergabung dengan aksara lain dan membentuk suatu kata, atau kalimat). Sebagai contoh, “Ha Na Ca Ra Ka” sering diartikan sebagai “Ada sebuah cerita”, dan seterusnya. Itu hanyalah segelintir contoh betapa Aksara ini mempunyai dua makna sekaligus seperti yang telah disebutkan di atas, yaitu nilai sastra (estetis) dan spiritual.
Ulasan mengenai nilai-nilai aksara jawa ini akan dikupas secara bersambung, dimulai dari ulasan pertama ini yang akan membahas aksara jawa yang pertama, yaitu “Ha”. Sebenarnya artikel mengenai makna aksara jawa per huruf telah banyak tersebar di berbagai blog ataupun website, sehingga ulasan ini mungkin bisa dikatakan sebagai pelengkap dari apa yang sudah ada, dengan perbedaa-perbedaan dari apa yang sudah ada sebelumnya.
Aksara Jawa dimulai dengan aksara yang berbunyi “Ha”. Aksara “Ha” berarti “Hurip” (baca: urip) yang berarti “Hidup”. Hal ini secara tidak langsung mengingatkan pada manusia mengenai hakikat hidup, dari siapa manusia hidup dan untuk apa manusia hidup. Manusia hidup karena adanya Tuhan, orang jawa menyebut Gusti Kang Murbeng Dumadi atau Sang Pencipta. Sang Pencipta kehidupan, pencipta “Hurip”. BRM Panji Anom Resiningrum dalam sebuah artikel menarik berjudul “Nasihat Dari Aksara Jawa” yang dimuat di sebuah blog yang bagus http://alangalangkumitir.wordpress.com/, menuliskan “..hidup itu ada, karena ada yang menghidupi atau yang memberi hidup.”
Makna di atas bisa dikatakan sebagai nilai spiritual, karena mengandung hubungan manusia dengan sang Pencipta. Sementara aksara “Ha” dapat dipanjangkan menjadi sebuah kalimat yang mengadung unsur estetika sekaligus unsur spiritual, yaitu “Hana hurip wening suci”. Kalimat tersebut bisa diterjemahkan bebas dalam bahasa Indonesia menjadi, “Ada kehidupan yang tulus dan suci”. Jika diamati, kalimat tersebut mempunyai pengucapan yang sesuai, luwes dan terkesan tidak dipaksakan. Secara keseluruhan, kalimat “Hana hurip wening suci” menggambarkan bahwa kehidupan yang tulus dan suci adalah kehidupan yang seharusnya ada di dunia ini, bukan kehidupan yang penuh dengan rasa was-was, kebohongan, tipu muslihat, dan apa yang ada di negeri ini sekarang.
Apabila dibongkar lagi, kalimat itu bisa merupakan kombinasi dari berbagai kata yang mempunyai makna yang berbeda, meskipun tidak semua kata. Sebagai contoh, kata “wening” bisa jadi merupakan gabungan dari kata “welas” dan “hening”. Akan tetapi, karena unsur estetika, kedua kata tersebut akhirnya digabungkan menjadi “wening”. Kasus ini sama dengan kata “ningrum”, yang merupakan kombinasi dari “wening” dan “harum”. Jadi, kata “wening” di sini mempunyai beberapa arti, disamping arti sebenarnya.
Jadi, inti dari huruf “Ha”, adalah bagaimana manusia menyadari tentang kehidupan. Bahwa kehidupan itu nyata, dan kehidupan itu ada karena ada yang memberi hidup, yaitu Sang Pencipta. Dengan menyadari itu, manusia bisa bertingkah laku yang baik, tulus, dan berusaha menjadi manusia yang wening dan suci, karena pada awalnya, manusia dihidupkan oleh Tuhan dalam keadaan suci, maka manusia harus menjadi suci ketika seba ke hadapan Sang Pemberi Hidup.
Read more ►

Sunday, March 18, 2012

Rahasia di Balik Gunung

0 comments
Wilayah Nusantara sangat terkenal salah satunya karena banyaknya gunung berapi, baik yang masih aktif maupun yang sudah tidak aktif. Bahkan Indonesia mempunyai gunung yang bergelar gunung teraktif di dunia, yaitu Gunung Merapi yang terletak di perbatasan Yogyakarta dan Jawa Tengah. Menurut para ahli ilmu bumi dan gunung, hal ini disebabkan karena wilayah nusantara merupakan “Ring of Fire”.
Sementara bagi penduduk lokal nusantara (suku-suku asli nusantara), gunung mempunyai tempat tersendiri dalam perkembangan budaya lokal, yaitu kesamaan anggapan bahwa gunung adalah tempat yang sakral karena merupakan tempat tinggal para dewa (pemahaman seperti ini nampaknya merupakan pemahaman global masyarakat di seluruh dunia, sebagai contoh masyarakat Yunani yang meyakini para dewa bertempat tinggal di Gunung Olympus, dll). Di Indonesia sendiri gunung bahkan dijadikan sebagai kompleks pemakaman, seperti Makam Raja-Raja Imogiri Bantul Yogyakarta, kemudian juga makam beberapa wali yang berada di gunung, seperti makam Sunan Gunung Jati, yang ada di sebuah gunung bernama Gunung Jati, Cirebon, Jawa Barat. Atau makam Sunan Muria di Gunung Muria, Jawa Tengah.
Akan tetapi, akhir-akhir ini beberapa gunung di Indonesia mendapat perhatian lebih dari masyarakat Indonesia. Beberapa gunung seperti Gunung Sadahurip, Gunung Padang, dan Gunung Lalakon mendadak terkenal karena konon di dalam gunung tersebut terdapat piramida layaknya piramida di Mesir. Jika memang benar, maka “gunung-gunung” yang semuanya terdapat di Jawa Barat tersebut tentu saja akan melebihi piramida terbesar di Mesir, yang bernama Piramid Giza, karena ukuran “gunung-gunung” tersebut melebihi piramid terbesar itu.

Fenomena ini seolah meneruskan tongkat estafet yang sebelumnya dimulai oleh Prof. Santos yang menyatakan bahwa kepulauan Atlantis ada di nusantara (Indonesia), dengan berbagai pertimbangan seperti banyaknya gunung berapi dan wilayah yang tak pernah mengalami musim dingin (sinar matahari sepanjang tahun). Setelah itu berbagai tanggapan muncul, sementara berbagai penelitian juga terus dilakukan. Fenomena ini semakin ramai ketika seorang dosen dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menyatakan bahwa Candi Borobudur adalah buatan tentara Nabi Sulaiman, sementara Candi Boko adalah Kerajaan Saba yang diperintah oleh Ratu Balqis. Pernyataan tentang hal tersebut langsung ramai didiskusikan di forum-forum online (bahkan terdapat video untuk penyataan ini). Banyak yang kaget tapi banyak juga yang menyangkal akan hal tersebut.
Belum hilang forum itu, muncul lagi fenomena Gunung Sadahurip yang konon merupakan piramida yang terpendam, tapi sejauh ini nampaknya belum membuahkan hasil. Akan tetapi ternyata pencarian belum selesai, karena dilakukan penggalian di Gunung Padang. Penggalian tersebut membuahkan hasil karena ditemukan susunan batu yang tidak beraturan di gunung tersebut. Bahkan diperkirakan gunung tersebut sudah dihuni manusia sejak 6000 tahun sebelum masehi! Lebih tua daripada peradaban Mesir. Bergeser ke timur, di Jawa Tengah beberapa candi menarik perhatian, yaitu Candi Sukuh, Candi Cetho, dan Candi Penataran. Candi Sukuh mempunyai bentuk yang tidak lazim untuk candi-candi di Jawa, yaitu berbentuk piramida terpenggal, seperti piramida bangsa Inca, Maya ataupun Aztec di Amerika. Terdapat pula arca yang tidak menggambarkan orang Jawa, dan sosok manusia burung yang mirip dengan Annunaki daripada sosok Jatayu.
Yang terakhir, Gunung Lalakon di Soreang, Bandung, mendadak terkenal. Beberapa foto tentang penelitian di gunung ini menunjukkan bahwa di gunung ini terdapat sebuah bangunan. Yang dijadikan pertimbangan adalah bahwa penduduk sekitar gunung tersebut tidak bisa menggali sumur sampai dalam karena terbentur oleh semacam batu. Disimpulkan bahwa batu tersebut adalah lantai di sekeliling piramida. Penggalian di gunung tersebut juga menunjukkan susunan batu yang rapi mengelilingi gunung. Dengan adanya penemuan-penemuan ini, masyarakat Indonesia sebaiknya mulai bersiap-siap untuk tidak kaget dan menanggapi berlebihan jika di Indonesia nantinya memang ditemukan piramida.
Terlepas dari hal itu, mengapa gunung mempunyai tempat tersendiri di hati masyarakat Indonesia (nusantara)? Bahkan anak-anak kecil yang belum bisa menulis jika disuruh menggambar maka secara otomatis mereka akan menggambar dua buah gunung dengan matahari yang baru terbit di antaranya, sementara di bawah gunung terdapat sawah. Hal tersebut seolah-olah menunjukkan bahwa sebenarnya di dalam diri setiap manusia Indonesia, gunung adalah tempat yang spesial. Mungkin jika hal ini dihadapkan pada Robert Langdon, tokoh utama dalam novel trilogi masif karya Dan Brown yang ahli simbol, maka ia akan membaca bahwa manusia Indonesia adalah penganut Pagan yang menyembah Dewa Matahari.
Selain itu, banyak sekali simbol-simbol yang berwujud gunung dalam kebudayaan lokal Indonesia. Sebagai contoh, tumpeng (jawa: tumindak lempeng), tradisi Grebeg, lagu Gundul-gundul Pacul, serta gunungan dalam pertunjukan wayang kulit. Nasi tumpeng berwujud gunung dengan dikelilingi oleh bermacam-macam lauk pauk. Hal tersebut bisa diartikan sebagai manusia yang menuju kesejatian (menuju Tuhan), dimana jalan yang ia tempuh sangat berat (diibaratkan dengan naik gunung), sementara banyak godaan yang menyertainya (disimbolkan dengan lauk pauk). Selain penggambaran di atas tumpeng juga sering digunakan sebagai simbol manusia dengan berbagai karakter (lauk pauk). Akan tetapi jika dihubungkan dengan fenomena gunung piramida, tumpeng akan memberi kemakmuran ketika dirusak (maksudnya dibagikan kepada orang-orang untuk kemudian dinikmati secara bersama-sama).
Tradisi Grebeg, yang rutin diadakan setiap tahun di Kraton Solo maupun Kraton Yogyakarta, pada awalnya diciptakan oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma. Grebeg Gunungan yang terbuat dari berbagai macam makanan dan sayuran ini akan diperebutkan setelah diarak. Maka gunungan itu akan dirusak untuk selanjutnya makanan dan sayuran dapat dinikmati (sama dengan tumpeng, bahwa untuk menikmati makanan – maksudnya kesejahteraan – gunung harus dibuka terlebih dahulu). Maksud yang sama juga terdapat pada lagu anak-anak Gundul-gundul Pacul, dimana lirik lagu tersebut, “gundul-gundul pacul cul, gemblelengan/ nyunggi-nyunggi wakul kul, gemblelengan/ wakul ngglimpang segane dadi sak latar (2x)//”. Bahwa permintaan untuk macul (mencangkul) yang gundul (gunung gundul), adalah untuk membagi rejeki (wakul ngglimpang segane dadi sak latar).
Simbol yang cukup jelas tapi sering luput dari perhatian adalah gunungan dalam pertunjukan wayang kulit, dimana dua buah gunungan selalu mengawali pertunjukan. Jika diamati, wujud gunungan adalah rata di pinggir dan terdapat semacam gerbang di dalamnya dengan berbagai makhluk hidup, seperti harimau, banteng, kera, dan juga pepohonan. Ada yang mengatakan bahwa di dalam gunung-gunung tertentu terdapat keraton (bangunan). Dalam dunia konspirasi, sebuah gerbang dengan dua buah pilar disebut Boas dan Yakhin, pilar istana Nabi Sulaiman AS yang kemudian menjadi simbol kelompok-kelompok tertentu.
Makna simbol-simbol tentang gunung tersebut sempat dibahas dalam sebuah acara di TVRI Yogyakarta dalam sebuah acara yang berjudul Karang Tumaritis, yang secara khusus selama dua minggu membahas penemuan-penemuan dan penelitian-penelitian tentang beberapa gunung di Indonesia yang ditengarai merupakan piramida yang terkubur. Jika memang nantinya benar-benar ditemukan piramida di “gunung-gunung” tersebut, sikap berlebihan yang selama ini ditunjukkan oleh kebanyakan masyarakat (acara-acara televisi tertentu) harus diminimalisir.
Dan lagi, jika benar-benar ditemukan piramida di Indonesia, para filologi harus bekerja lebih keras untuk mencari aksara-aksara asli Nusantara, karena selama ini menurut sejarah aksara-aksara yang ada di Nusantara merupakan turunan dari aksara Dewanagari dari India. Jika memang begitu, maka seharusnya kebudayaan India lebih tua daripada kebudayaan Nusantara, yang konon telah ada sejak 6000 tahun SM.
Read more ►

Wednesday, March 14, 2012

Tentang Keraguan Atas Majapahit

35 comments
Seperti yang telah sering dituliskan bahwa, sejarah selalu menarik dan tidak ada habisnya untuk dicari kebenarannya. Sejarah ibarat mengawal sebuah zaman, menunjukkan bahwa peristiwa saat ini pernah terjadi di masa lalu, meskipun dengan jalan cerita yang berbeda. Namun sejarah memberikan contoh-contoh yang nyata ketika manusia modern sekarang tidak mau berguru pada sejarah, entah itu sejarahnya sendiri ataupun sejarah bangsanya.
Berkaitan dengan sejarah bangsa (Indonesia), negara ini mempunyai sejarah yang luar biasa. Berbagai kerajaan pernah silih berganti menguasai kepulauan ini. Tercatat dua buah kerajaan yang terkenal, yaitu Sriwijaya di Swarnabhumi (sekarang Pulau Sumatra), dan Majapahit di Jawadwipa (Pulau Jawa). Kedua kerajaan itu bahkan memperoleh gelar Kerajaan Nusantara I dan II, karena wilayahnya yang sangat luas.
Kerajaan Sriwijaya berdiri sekitar abad ke-7 masehi di Palembang, Sumatra Selatan. Kerajaan ini mempunyai armada laut yang kuat karena terletak di dekat lautan. Dalam perkembangannya, Kerajaan Sriwijaya mempunyai wilayah kekuasaan yang luas, sama seperti wilayah Indonesia sekarang. Berbagai bangunan peninggalan pun tersebar di Sumatra, seperti Candi Muara Takus, serta berbagai prasasti yang menceritakan tentang kerajaan ini.
Sementara Kerajaan Majapahit berdiri setelah Raden Wijaya, menantu Raja Kertanegara dari Singosari membuka hutan di daerah Mojokerto, bernama Hutan Tarik. Bersama beberapa pengikut setianya seperti Ranggalawe, Sora, dan Nambi, Raden Wijaya membangun sebuah kerajaan baru bernama Majapahit ketika ia menemukan banyak Pohon Maja yang rasanya pahit (jawa: pait). Dua kata tersebut kemudian dijadikan satu menjadi Majapahit. Kerajaan ini pernah mendapat ancaman serius dari Kuti, salah seorang anggota Dharmaputra Winehsuka, atau orang-orang yang berjasa untuk Majapahit pada masa Raden Wijaya menjadi raja. Pemberontakan yang dikenal dengan Pemberontakan Kuti itu berhasil menduduki kerajaan, dimana Jayanagara sebagai raja harus mengungsi ke daerah Bedander dengan kawalan pasukan legendaris Bhayangkara di bawah komando Bekel Gajah Mada. Kemudian seperti diceritakan dalam buku-buku sejarah siswa-siwa Sekolah Dasar, dimana akhirnya Majapahit mencapai puncak kejayaan pada masa Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada. Kerajaan ini juga mempunyai wilayah yang luas, bahkan sampai ke beberapa negara tetangga.
Kemudian diskusi tentang kerajaan-kerajaan tersebut mencapai pertanyaan mengenai kebenaran tentang wilayah Majapahit yang sangat luas (sementara untuk Sriwijaya nampaknya belum ada yang mempertanyakan). Forum-forum online yang mengangkat topik khusus tentang sejarah banyak yang meragukan tentang Majapahit. Meskipun banyak dokumen kuno tentang Majapahit, yang menjadi keraguan adalah tidak adanya bukti fisik, seperti Candi Borobudur misalnya. Bukti-bukti tertulis yang menjadi rujukan utama tentang Majapahit seperti Negarakertagama, Kidung Ranggalawe, Kidung Sundayana, ataupun Pararaton belum bisa memberikan kepuasan atas pertanyaan itu.
Hal ini sepertinya disebabkan karena beberapa tokoh yang ada dalam sejarah Majapahit sangat misterius. Sebut saja Gajah Mada dan Mpu Prapanca. Keterangan tentang Gajah Mada sangat sulit ditemukan, seperti dimana ia lahir, siapa orangtuanya, istri dan anaknya, dan juga dimana atau bagaimana ia mati; apakah terbunuh atau moksa, semua itu masih misterius meskipun baru-baru ini ada dugaan bahwa Gajah Mada lahir di suatu tempat di Lamongan, Jawa Timur. Ada juga pendapat bahwa ia bukan asli jawa, dengan mangacu pada nama “Gajah”, karena konon di Jawa tidak ada hewan gajah. Mpu Prapanca juga sama, ia tidak diketahui asal usulnya ataupun kisah akhir hayatnya. Sejarah hanya mencatat bahwa ia menulis Kitab Negarakertagama.
Kembali ke pertanyaan tentang keraguan wilayah Majapahit yang sangat luas, dimana tidak ada bukti fisik di daerah-daerah timur jauh seperti Maluku ataupun Papua, mungkin ulasan berikut ini bisa sedikit membantu menjawab pertanyaan di atas. Cita-cita Majapahit untuk memperluas wilayahnya merupakan sebuah niat dari Patih Gajah Mada yang pertama kali dilantik menjadi mahapatih menggantikan Patih Arya Tadah yang telah lanjut usia (pada masa Tribhuwanatunggadewi). Saat itu Gajah Mada mengucapkan sebuah sumpah yang kelak disebut “Sumpah Palapa”, di Bale Manguntur. Isi dari sumpah tersebut adalah tidak akan bersenang-senang sebelum menyatukan Nusantara. Setelah itu, misi menyatukan Nusantara dimulai dengan Majapahit sebagai pusatnya.
Mengapa kata “menyatukan” digaris miring? Perlu diketahui bahwa menyatukan berbeda dengan menguasai. Dalam hal ini menurut pandangan pribadi penulis, bahwa misi Majapahit tersebut berbeda dengan misi Cortez dan Pizarro, yang memusnahkan suku Inca dan Maya di Benua Amerika. Mereka menempatkan sebuah batu bernama Batu Rosetta (Rosetta stone) sebagai bukti bahwa wilayah itu telah menjadi kekuasaan mereka. Sementara Majapahit tidak melakukan hal itu. Ambillah sebagai contoh perbandingan; wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta yang menyatu dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ambil juga peristiwa beberapa waktu lalu dimana isu DIY memisahkan diri ketika hubungan antara wilayah dengan pusat tidak kondusif. Sama dengan kasus ketika Majapahit mulai mundur, banyak wilayah yang ingin memisahkan diri karena pusat (Majapahit) tidak kondusif. Keinginan memisahkan tentu saja merupakan dorongan rakyat pada penguasa wilayah itu (contoh rakyat Yogya dengan Sultan HB). Jika kasusnya adalah Majapahit menguasai daerah lain, maka tentu saja tidak ada penguasa di daerah itu, karena tentu saja telah dimusnahkan. Sementara wilayah Majapahit diperintah oleh adipati (setingkat bupati). Sebagai contoh, Adipati Tuban, yaitu Adipati Wilwatikta yang juga ayah dari Raden Said atau Sunan Kalijaga. Adipati ini mempunyai hubungan khusus dengan pemerintah pusat, seperti halnya saat ini bupati berhubungan dengan gubernur, kemudian gubernur berhubungan dengan pejabat pemerintah yang lebih tinggi, yaitu pemerintah pusat.
Namun Majapahit juga pernah ingin menguasai suatu daerah, yaitu Tanah Pasundan yang saat itu dikuasai oleh Pajajaran. Dalam hal ini Majapahit ingin menguasai karena Sumpah Palapa akan terselesaikan dengan bergabungnya Pasundan ke Majapahit. Di sinilah sifat manusiawi Gajah Mada muncul, yaitu tamak dan tidak sabar. Ia tidak sabar karena hanya kurang satu wilayah untuk menyelesaikan sumpahnya. Maka kemudian terjadilah Pemusnahan Bubat (penulis menggunakan istilah pemusnahan karena saat itu prajurit Pajajaran tidak melakukan persiapan untuk berperang). Persitiwa itulah yang sangat dikenang oleh rakyat Pasundan. Hal ini dapat dibuktikan bahwa di Jawa Barat tidak ada nama jalan yang menggunakan nama yang berhubungan dengan Majapahit. Peristiwa ini kemudian memberi petunjuk tentang kehidupan dan kematian Gajah Mada. Dalam sumpahnya, Gajah Mada berkata bahwa ia tidak akan bersenang-senang sebelum menyatukan Nusantara, dan hasilnya memang Tanah Pasundan tidak pernah menjadi wilayah Majapahit.
Bersenang-senang bisa diasumsikan sebagai pesta, makan-makan atau hura-hura. Akan tetapi, jika merunut kehidupan masa lalu, dimana manusia masih berperan sebagai manusia, maka bisa diartikan bahwa Gajah Mada tidak mempunyai istri. Bersenang-senang di sini menurut penulis adalah berhubungan intim, karena konon rasa sejati dapat didapatkan ketika berhubungan intim, dan konon pula kegiatan tersebut sangat menyenangkan. Maka, atas dasar itulah, penulis lebih setuju dengan pendapat yang menyatakan bahwa Gajah Mada moksa setelah gagal mewujudkan sumpahnya.
Sementara tentang bukti fisik keberadaan Majapahit yang kurang meyakinkan karena hampir tidak tersisa, nampaknya ketidakyakinan itu segera hilang, karena kolam yang mengelilingi Kraton Majapahit telah ditemukan dan dilakukan penggalian. Bukti fisik lainnya adalah bahwa beberapa kelompok masyarakat mengaku keturunan dari masyarakat Majapahit yang berpindah. Penduduk Bali asli adalah mereka yang tinggal di tepi Danau Batur, Trunyan. Sementara yang lain adalah sisa-sisa Majapahit yang mengungsi sewaktu Majapahit diserang Demak. Di Nusa Tenggara Timur juga terdapat sekelompok masyarakat yang mempunyai ciri-ciri masyakarat Majapahit, yaitu ikatan rambut gulung keeling dan pakaian khas Majapahit. Bahkan lontar Kitab Negarakertagama disimpan oleh seorang tokoh masyarakat daerah itu.
Selain itu, banyak sekali keturunan Brawijaya V, raja terakhir Majapahit. Ambillah contoh yang bisa dilihat saat ini, yaitu Raja-raja di Kasultanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, juga Puro Mangkunegaran dan Puro Pakualaman. Mereka adalah keturunan langsung dari raja terakhir Majapahit, yaitu dari Brawijaya V yang menurunkan Raden Bondan Kejawan kemudian menurunkan Ki Ageng Getaspendawa, lalu sampai Ki Ageng Sela, kemudian Ki Ageng Ngenis, lalu Ki Gede Pemanahan, kemudian Panembahan Senopati, lalu Sultan Agung dengan trah Mataram hingga saat ini. Selain itu banyak pula tokoh-tokoh lain yang menjadi cikal bakal berbagai daerah di Jawa, bahkan Malaysia (menurut Babad Tanah Jawi, Brawijaya V mempunyai 117 keturunan).
Napak tilas mungkin akan menambah referensi tentang Majapahit, jika menginginkan bukti fisik. Dari Madura, Mangir, Mataram (Yogya-Solo), Sedayu, Demak, Tingkir, Lamongan, Semarang, adalah beberapa tempat yang bisa digunakan untuk mencari tentang eksistensi Majapahit. Akan tetapi jika menginginkan bukti fisik berupa bangunan, bertanya pada arkeolog mungkin akan lebih memuaskan.
Meskipun begitu, banyak yang bisa dipetik dari sejarah Majapahit, diantaranya: sifat pantang menyerah dari Patih Gajah Mada, yang berjuang dari Bekel sampai menjadi Mahapatih Majapahit. Cita-citanya yang menginginkan penyatuan Nusantara, meskipun pada akhirnya ia terpeleset untuk melakukan pembunuhan masal. Yang bisa dijadikan pelajaran adalah usahanya untuk mencapai cita-citanya. Kemudian, kesalahan Patih Gajah Mada yang tidak mendidik atau menyiapkan pengganti dirinya. Dari sini dapat ditarik pembelajaran bahwa apa yang ada pada manusia tidak akan bisa abadi selama masih ada di dunia, baik itu harta ataupun kekuasaan. Maka sifat tamak harus dihindari. Ketika tidak ada orang yang menyamai kehebatannya, maka Majapahit langsung mengalami kemunduran setelah Gajah Mada moksa. Bahkan mengalami perang saudara perebutan kekuasaan sepeninggal Hayam Wuruk.
Itulah gunanya sejarah, dan kadang pertanyaan-pertanyaan seperti itu diperlukan untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut, karena jika sejarah mengalami kekeliruan, maka akan membentuk suatu pemahaman yang keliru akan sejarah. Akhirnya, mengutip kalimat dari Presiden Sukarno, “Jangan sekali-kali melupakan sejarah!”
Read more ►

Thursday, March 8, 2012

Tipe Wanita Ideal Menurut Kamasutra Jawa

7 comments

Kamasutra dikenal luas merupakan sebuah kitab yang menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan kenikmatan alami manusia. Konon kitab ini ditulis oleh seorang raja di India kuno yang mempunyai kemampuan untuk mencapai kenikmatan tersebut dengan berbagai posisi yang kemudian ia tuliskan dalam kitab Kamasutra ini. Akan tetapi, kebudayaan Jawa juga mencatat tentang kitab Kamasutra dari Jawa. Salah satu isi dari Kamasutra Jawa ini adalah menjelaskan tentang beberapa tipe wanita ideal yang dapat dijadikan istri. Namun seperti sastra jawa pada umumnya, banyak penggunaan simbol-simbol yang memang menjadi karakteristik sastra jawa.
Berikut ini adalah beberapa tipe wanita ideal menurut Kamasutra Jawa:
1.      Kusuma Wicitra
Wanita yang digambarkan seperti bunga yang sedang mekar (kusuma: bunga). Maksudnya adalah, ketika bunga akan mekar, maka ia akan menanti saat yang tepat ketika ia sudah siap lahir batin. Sama dengan wanita, ia akan siap untuk menikah ketika ia telah siap lahir batin. Lahir, telah ia persiapkan dengan matang, sementara batinnya telah ia lengkapi dengan ilmu agama yang menjaganya.
2.      Padma Sari
Padma adalah bunga teratai. Maka disini wanita digambarkan sebagai bunga teratai yang telah mekar di kolam. Bunga teratai kadang merupakan simbol kemesraan, maka wanita Padma sari adalah wanita yang selalu bersikap mesra kepada suaminya (disimbolkan dengan kolam, artinya sesuai pada tempatnya).
3.      Sri Pagulingan
Kata “pagulingan” yang identik dengan peraduan, dimaksudkan bahwa wanita tipe ini adalah wanita yang bersinar yang menunjukkan kecantikan jasmani dan rohaninya, sekalipun sedang berduaan dengan suaminya.
4.      Sri Tumurun
Kata “tumurun” yang berarti turun, bisa dikatakan bahwa wanita tipe ini diibaratkan seperti bidadari yang turun dari langit. Sebutan ini juga bisa sebagai sanepan atau penggambaran bahwa wanita tipe ini adalah wanita yang suka kerja keras, suka membantu sesama, yang dibuktikan dengan “turun” dari tempatnya.
5.      Sesotya Sinangling
Wanita tipe ini adalah wanita yang dapat menjadi perhiasan (sesotya) lahir maupun batin bagi suaminya. Jika disesuaikan dengan dunia modern, maka akan memperoleh ungkapan, “di balik pria hebat terdapat wanita yang luar biasa.”
6.      Traju Mas
Wanita atau istri yang ideal adalah istri yang dapat memberikan pendapat atau solusi ketika suaminya tengah menghadapi sebuah pilihan. Maka wanita Traju Mas berperan sebagai timbangan untuk suami.
7.      Gedhong Kencana
Seperti namanya yang berarti “rumah emas”, berarti bahwa istri dapat berperan sebagai tempat yang nyaman untuk suaminya, senantiasa dirindukan. Wanita atau istri yang berhati teguh demi memberikan keteduhan ketika suami sedang merasa lelah karena bekerja.
8.      Sawur Sari
Wanita Sawur Sari diibaratkan seperti bunga mekar yang harum baunya. Seperti Kembang Wijayakusuma yang sedang mekar, tidak sombong akan kecantikannya, karena tidak semua orang bisa melihat bunga ini mekar secara utuh. Wanita yang terkenal akan keluhuran budi dan akhlaknya.
9.      Pandhan Kanginan
Merupakan wanita yang ideal, menarik hati, baik budinya, tampilannya sungguh menawan. Seperti aroma pandhan wangi yang memberi kenikmatan, wanita Pandhan Kanginan akan memberikan kenikmatan hanya pada suaminya.
Kesembilan tipe wanita yang dijabarkan di atas merupakan gambaran wanita ideal untuk dijadikan istri. Tentu saja standardisasi ideal setiap orang berbeda, tetapi dengan adanya penggolongan tipe-tipe seperti ini dapat dijadikan sebagai referensi untuk memperoleh pasangan yang tepat, karena pernikahan adalah karena Tuhan, sementara perceraian adalah karena setan.

Read more ►

Monday, March 5, 2012

Asmaradana

1 comments
Tinulis dening winasis/ Yen ana pitung prakara/ Sepisan surya kang manjer/Kapindhone yeku candra/
Kartika lan samodra/ Maruta dahana kudu/ Lan bhumi ingkang pungkasan//


Bagaskara kang miwiti/ Tegese kuat lan rosa/ Gawe makmuring rakyate/ Katone cahya sumirat/ Nguripi mring kawula/ Kaya uwit butuh banyu/ Yakuwi tegese surya//


Kapindhone maharesmi/ Katon endah ing ambara/ Madya ratri kang seksine/ Sasmita sinudarsana/
Kanggo para manungsa/ Madya ratri katon tangsu/ Bagaskaraning rahina//


Jaman edan amenangi/ Kawula Gusti asedya/ Manungsa lan ing nginggile/ Kartika sisihan candra/
Paring para manungsa/ Cahya endah lan pituduh/ Amrih bekti lan utama//


Pungkasane banyu mili/ Pesthi ana ing samodra/ Ra ketung jero jembare/ Tegese dadi panggonan/
Kang nampa pangawikan/ Welas asih anteng iku/ Jalanidhi lan samodra//


Yen sira krasa sembribit/ Tegese iku maruta/ Bathara Bayu asale/ Yeku gusti lan kawula/
Gusti lan kawula padha/ Mboten wonten ingkang unggul/ Lan gusti kudu ngumbara//


Saklajenge yeku geni/ Sira kudune waspada/ Ananging senthir contone/ Dadi padanging rahina/
Ngedegake kabecikan/ Ing papan panggonan mau/ Yeku kang aran dahana//


Ciptanira Sang Hyang Widhi/ Sasmita ingkang pungkasan/ Cakra ing jagat tegese/ Aweh hasil kanggo para/
Manungsa ingkang ngolah/ Lan manungsa kang satuhu/ Cakraning Hyang Antaboga//


Menika sipate gusti/ Kang ana pitung prakara/ Bilih Gusti ora sare/ Weh wasita pra manungsa/
Gusti kang sae punika/ Kang nduweni sipat pitu/ Sasmita sinudarsana//


Dadi pungkasan kaesthi/ Sipat kang dadi pungkasan/ Ngedab-edabi wujude/ Yeku kang sebut angkasa/
Panggonaning aruna/ Uga kartika lan tangsu/ Jembar kang tanpa winetas//























Read more ►
 

Copyright © nglengkong Design by O Pregador | Blogger Theme by Blogger Template de luxo | Powered by Blogger