Seperti
yang telah sering dituliskan bahwa, sejarah selalu menarik dan tidak ada
habisnya untuk dicari kebenarannya. Sejarah ibarat mengawal sebuah zaman,
menunjukkan bahwa peristiwa saat ini pernah terjadi di masa lalu, meskipun
dengan jalan cerita yang berbeda. Namun sejarah memberikan contoh-contoh yang
nyata ketika manusia modern sekarang tidak mau berguru pada sejarah, entah itu
sejarahnya sendiri ataupun sejarah bangsanya.
Berkaitan
dengan sejarah bangsa (Indonesia), negara ini mempunyai sejarah yang luar
biasa. Berbagai kerajaan pernah silih berganti menguasai kepulauan ini.
Tercatat dua buah kerajaan yang terkenal, yaitu Sriwijaya di Swarnabhumi
(sekarang Pulau Sumatra), dan Majapahit di Jawadwipa (Pulau Jawa). Kedua
kerajaan itu bahkan memperoleh gelar Kerajaan Nusantara I dan II, karena
wilayahnya yang sangat luas.
Kerajaan
Sriwijaya berdiri sekitar abad ke-7 masehi di Palembang, Sumatra Selatan.
Kerajaan ini mempunyai armada laut yang kuat karena terletak di dekat lautan.
Dalam perkembangannya, Kerajaan Sriwijaya mempunyai wilayah kekuasaan yang
luas, sama seperti wilayah Indonesia sekarang. Berbagai bangunan peninggalan
pun tersebar di Sumatra, seperti Candi Muara Takus, serta berbagai prasasti
yang menceritakan tentang kerajaan ini.
Sementara
Kerajaan Majapahit berdiri setelah Raden Wijaya, menantu Raja Kertanegara dari
Singosari membuka hutan di daerah Mojokerto, bernama Hutan Tarik. Bersama
beberapa pengikut setianya seperti Ranggalawe, Sora, dan Nambi, Raden Wijaya membangun
sebuah kerajaan baru bernama Majapahit ketika ia menemukan banyak Pohon Maja
yang rasanya pahit (jawa: pait). Dua kata tersebut kemudian dijadikan satu
menjadi Majapahit. Kerajaan ini pernah mendapat ancaman serius dari Kuti, salah
seorang anggota Dharmaputra Winehsuka, atau orang-orang yang berjasa untuk
Majapahit pada masa Raden Wijaya menjadi raja. Pemberontakan yang dikenal
dengan Pemberontakan Kuti itu berhasil menduduki kerajaan, dimana Jayanagara
sebagai raja harus mengungsi ke daerah Bedander dengan kawalan pasukan
legendaris Bhayangkara di bawah komando Bekel Gajah Mada. Kemudian seperti
diceritakan dalam buku-buku sejarah siswa-siwa Sekolah Dasar, dimana akhirnya
Majapahit mencapai puncak kejayaan pada masa Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada.
Kerajaan ini juga mempunyai wilayah yang luas, bahkan sampai ke beberapa negara
tetangga.

Kemudian
diskusi tentang kerajaan-kerajaan tersebut mencapai pertanyaan mengenai
kebenaran tentang wilayah Majapahit yang sangat luas (sementara untuk Sriwijaya
nampaknya belum ada yang mempertanyakan). Forum-forum online yang mengangkat
topik khusus tentang sejarah banyak yang meragukan tentang Majapahit. Meskipun
banyak dokumen kuno tentang Majapahit, yang menjadi keraguan adalah tidak
adanya bukti fisik, seperti Candi Borobudur misalnya. Bukti-bukti tertulis yang
menjadi rujukan utama tentang Majapahit seperti Negarakertagama, Kidung
Ranggalawe, Kidung Sundayana, ataupun Pararaton belum bisa memberikan kepuasan
atas pertanyaan itu.
Hal
ini sepertinya disebabkan karena beberapa tokoh yang ada dalam sejarah
Majapahit sangat misterius. Sebut saja Gajah Mada dan Mpu Prapanca. Keterangan
tentang Gajah Mada sangat sulit ditemukan, seperti dimana ia lahir, siapa
orangtuanya, istri dan anaknya, dan juga dimana atau bagaimana ia mati; apakah
terbunuh atau moksa, semua itu masih misterius meskipun baru-baru ini ada
dugaan bahwa Gajah Mada lahir di suatu tempat di Lamongan, Jawa Timur. Ada juga
pendapat bahwa ia bukan asli jawa, dengan mangacu pada nama “Gajah”, karena
konon di Jawa tidak ada hewan gajah. Mpu Prapanca juga sama, ia tidak diketahui
asal usulnya ataupun kisah akhir hayatnya. Sejarah hanya mencatat bahwa ia
menulis Kitab Negarakertagama.
Kembali
ke pertanyaan tentang keraguan wilayah Majapahit yang sangat luas, dimana tidak
ada bukti fisik di daerah-daerah timur jauh seperti Maluku ataupun Papua,
mungkin ulasan berikut ini bisa sedikit membantu menjawab pertanyaan di atas.
Cita-cita Majapahit untuk memperluas wilayahnya merupakan sebuah niat dari
Patih Gajah Mada yang pertama kali dilantik menjadi mahapatih menggantikan
Patih Arya Tadah yang telah lanjut usia (pada masa Tribhuwanatunggadewi). Saat
itu Gajah Mada mengucapkan sebuah sumpah yang kelak disebut “Sumpah Palapa”, di
Bale Manguntur. Isi dari sumpah tersebut adalah tidak akan bersenang-senang
sebelum menyatukan Nusantara. Setelah
itu, misi menyatukan Nusantara dimulai dengan Majapahit sebagai pusatnya.
Mengapa
kata “menyatukan” digaris miring? Perlu diketahui bahwa menyatukan berbeda dengan menguasai.
Dalam hal ini menurut pandangan pribadi penulis, bahwa misi Majapahit tersebut
berbeda dengan misi Cortez dan Pizarro, yang memusnahkan suku Inca dan Maya di
Benua Amerika. Mereka menempatkan sebuah batu bernama Batu Rosetta (Rosetta stone)
sebagai bukti bahwa wilayah itu telah menjadi kekuasaan mereka. Sementara
Majapahit tidak melakukan hal itu. Ambillah sebagai contoh perbandingan;
wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta yang menyatu dengan Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Ambil juga peristiwa beberapa waktu lalu dimana isu DIY memisahkan
diri ketika hubungan antara wilayah dengan pusat tidak kondusif. Sama dengan
kasus ketika Majapahit mulai mundur, banyak wilayah yang ingin memisahkan diri
karena pusat (Majapahit) tidak kondusif. Keinginan memisahkan tentu saja
merupakan dorongan rakyat pada penguasa wilayah itu (contoh rakyat Yogya dengan
Sultan HB). Jika kasusnya adalah Majapahit menguasai daerah lain, maka tentu
saja tidak ada penguasa di daerah itu, karena tentu saja telah dimusnahkan. Sementara
wilayah Majapahit diperintah oleh adipati (setingkat bupati). Sebagai contoh,
Adipati Tuban, yaitu Adipati Wilwatikta yang juga ayah dari Raden Said atau
Sunan Kalijaga. Adipati ini mempunyai hubungan khusus dengan pemerintah pusat,
seperti halnya saat ini bupati berhubungan dengan gubernur, kemudian gubernur
berhubungan dengan pejabat pemerintah yang lebih tinggi, yaitu pemerintah
pusat.
Namun
Majapahit juga pernah ingin menguasai suatu daerah, yaitu Tanah Pasundan yang
saat itu dikuasai oleh Pajajaran. Dalam hal ini Majapahit ingin menguasai
karena Sumpah Palapa akan terselesaikan dengan bergabungnya Pasundan ke
Majapahit. Di sinilah sifat manusiawi Gajah Mada muncul, yaitu tamak dan tidak
sabar. Ia tidak sabar karena hanya kurang satu wilayah untuk menyelesaikan
sumpahnya. Maka kemudian terjadilah Pemusnahan Bubat (penulis menggunakan
istilah pemusnahan karena saat itu prajurit Pajajaran tidak melakukan persiapan
untuk berperang). Persitiwa itulah yang sangat dikenang oleh rakyat Pasundan.
Hal ini dapat dibuktikan bahwa di Jawa Barat tidak ada nama jalan yang
menggunakan nama yang berhubungan dengan Majapahit. Peristiwa ini kemudian
memberi petunjuk tentang kehidupan dan kematian Gajah Mada. Dalam sumpahnya,
Gajah Mada berkata bahwa ia tidak akan bersenang-senang
sebelum menyatukan Nusantara, dan hasilnya memang Tanah Pasundan tidak pernah
menjadi wilayah Majapahit.
Bersenang-senang
bisa diasumsikan sebagai pesta, makan-makan atau hura-hura. Akan tetapi, jika
merunut kehidupan masa lalu, dimana manusia masih berperan sebagai manusia,
maka bisa diartikan bahwa Gajah Mada tidak mempunyai istri. Bersenang-senang di
sini menurut penulis adalah berhubungan intim, karena konon rasa sejati dapat
didapatkan ketika berhubungan intim, dan konon pula kegiatan tersebut sangat
menyenangkan. Maka, atas dasar itulah, penulis lebih setuju dengan pendapat
yang menyatakan bahwa Gajah Mada moksa setelah gagal mewujudkan sumpahnya.
Sementara
tentang bukti fisik keberadaan Majapahit yang kurang meyakinkan karena hampir
tidak tersisa, nampaknya ketidakyakinan itu segera hilang, karena kolam yang
mengelilingi Kraton Majapahit telah ditemukan dan dilakukan penggalian. Bukti
fisik lainnya adalah bahwa beberapa kelompok masyarakat mengaku keturunan dari
masyarakat Majapahit yang berpindah. Penduduk Bali asli adalah mereka yang
tinggal di tepi Danau Batur, Trunyan. Sementara yang lain adalah sisa-sisa
Majapahit yang mengungsi sewaktu Majapahit diserang Demak. Di Nusa Tenggara
Timur juga terdapat sekelompok masyarakat yang mempunyai ciri-ciri masyakarat
Majapahit, yaitu ikatan rambut gulung keeling dan pakaian khas Majapahit.
Bahkan lontar Kitab Negarakertagama disimpan oleh seorang tokoh masyarakat
daerah itu.
Selain
itu, banyak sekali keturunan Brawijaya V, raja terakhir Majapahit. Ambillah
contoh yang bisa dilihat saat ini, yaitu Raja-raja di Kasultanan Surakarta
Hadiningrat dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, juga Puro Mangkunegaran
dan Puro Pakualaman. Mereka adalah keturunan langsung dari raja terakhir
Majapahit, yaitu dari Brawijaya V yang menurunkan Raden Bondan Kejawan kemudian
menurunkan Ki Ageng Getaspendawa, lalu sampai Ki Ageng Sela, kemudian Ki Ageng
Ngenis, lalu Ki Gede Pemanahan, kemudian Panembahan Senopati, lalu Sultan Agung
dengan trah Mataram hingga saat ini. Selain itu banyak pula tokoh-tokoh lain
yang menjadi cikal bakal berbagai daerah di Jawa, bahkan Malaysia (menurut Babad
Tanah Jawi, Brawijaya V mempunyai 117 keturunan).
Napak
tilas mungkin akan menambah referensi tentang Majapahit, jika menginginkan
bukti fisik. Dari Madura, Mangir, Mataram (Yogya-Solo), Sedayu, Demak, Tingkir,
Lamongan, Semarang, adalah beberapa tempat yang bisa digunakan untuk mencari
tentang eksistensi Majapahit. Akan tetapi jika menginginkan bukti fisik berupa
bangunan, bertanya pada arkeolog mungkin akan lebih memuaskan.
Meskipun
begitu, banyak yang bisa dipetik dari sejarah Majapahit, diantaranya: sifat
pantang menyerah dari Patih Gajah Mada, yang berjuang dari Bekel sampai menjadi
Mahapatih Majapahit. Cita-citanya yang menginginkan penyatuan Nusantara,
meskipun pada akhirnya ia terpeleset untuk melakukan pembunuhan masal. Yang
bisa dijadikan pelajaran adalah usahanya untuk mencapai cita-citanya. Kemudian,
kesalahan Patih Gajah Mada yang tidak mendidik atau menyiapkan pengganti
dirinya. Dari sini dapat ditarik pembelajaran bahwa apa yang ada pada manusia
tidak akan bisa abadi selama masih ada di dunia, baik itu harta ataupun
kekuasaan. Maka sifat tamak harus dihindari. Ketika tidak ada orang yang
menyamai kehebatannya, maka Majapahit langsung mengalami kemunduran setelah
Gajah Mada moksa. Bahkan mengalami perang saudara perebutan kekuasaan sepeninggal
Hayam Wuruk.
Itulah
gunanya sejarah, dan kadang pertanyaan-pertanyaan seperti itu diperlukan untuk
melakukan penyelidikan lebih lanjut, karena jika sejarah mengalami kekeliruan,
maka akan membentuk suatu pemahaman yang keliru akan sejarah. Akhirnya,
mengutip kalimat dari Presiden Sukarno, “Jangan sekali-kali melupakan sejarah!”